Sweet Psycho

Sweet Psycho
14


__ADS_3

Esok hari, Michell sudah rapih dengan pakaiannya. Dia memakai dress bermotif bunga bunga. Cantik sekali. Meskipun begitu, Sebenarnya ia tidak ingin menggunakan pakaian itu. Alasannya, saat dia kabur nanti, pasti dirinya kerepotan karena dress nya itu.


Ya mau bagaimana lagi. Itu pilihan samuel. Sepertinya pria itu menyukai perempuan yang menggunakan dress. Buktinya saja dari kemarin Michell hanya diberi dress.


Setelah berdandan cantik, dia di bawa oleh viola menuju ruang makan. Seperti biasanya, samuel sudah tiba duluan disana.


Michell membuang muka saat samuel menatapnya. Ia berjalan angkuh dan duduk di dekatnya.


“Selamat pagi, tuan Kim dan nona Michell.” Sapa julio yang baru datang.


Michell mengerutkan dahinya. Rasanya Michell pernah melihat pria itu. Tapi siapa…


Michell berusaha mengingat ingat wajahnya.


Aaah. Rupanya Dia pria sipit itu! Pria yang menodongkan senjata kepadanya beberapa hari lalu.


“Ck. ngapain dia kesini?” Batin Michell menatapnya dengan sinis.


“Apa kabar?” Tanya dia sembari duduk di samping samuel.


“Cih” Michell membuang muka.


“Sikapnya itu seolah tak terjadi apa apa.” Kata Michell dalam hati.


Julio yang merasa dikacangin, langsung tersenyum kikuk. Sedangkan Michell dan samuel mulai menyantap makanannya.


Menu sarapan yang Michell makan pagi ini adalah roti dengan selai coklat. Sedangkan samuel, memilih steak untuk dijadikan sarapan.


“Tuan leo mengundang pertunjukan balet, nanti malam.” Ucap julio.


“Kamu ikut?” Tanyanya.


Michell yang mendengar itu langsung mendongak.


“Gak.” Jawab samuel.

__ADS_1


“Why?”


“Masih berani nanya?” Tanya samuel balik. Nadanya terdengar dingin dan ketus.


Julio terkekeh sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Saya pikir kamu mau. Soalnya, nanti malam jadwalmu kosong.”


“Engg, bagaimana dengan mu? Kamu mau ikut?” Tanya julio menatap Michell.


Michell tersenyum. Baru saja ia ingin menjawab, samuel sudah lebih dulu menyelak.


“Berhenti bicara dan makan!” Perintah samuel yang mulai kesal dengannya.


Padahal julio tau sendiri, samuel tidak suka menonton pertunjukan seperti itu. Dia pun tidak akan mengijinkan Michell untuk pergi kesana tanpa dirinya.


Akhir akhir ini, julio memang menyebalkan. Sejak ada Michell, julio menjadi sering bicara. Padahal sebelumnya, julio itu sama saja dengan dirinya. Sama sama membuka mulut- kalau ada hal penting yang ingin dibicarakan.


Apa jangan jangan… ah sudahlah.


Michell yang mendengar itu langsung cemberut. Padahal, ia ingin sekali menonton pertunjukan balet. Itu salah satu keingiannnya yang belum tercapai.


“iissh!”


Tanpa berlama lama, samuel langsung menyuapi Michell dengan makanan miliknya.


Michell menatap samuel dengan sebal sambil mengunyah daging yang ia berikan.


“Aaa..” samuel menyuruh Michell untuk membuka mulutnya.


Michell pun nurut saja. Dia membuka mulut dan kembali mengunyah daging itu. Rasanya terlalu enak untuk ditolak.


“Sok sokan makan pake roti. Kamu Mau mati?” Kata samuel.


Hal itu membuat Michell tercengang.


“Ka-kamu..!”

__ADS_1


Belum selesai Michell berbicara, samuel sudah lebih dulu memasukan daging terakhir ke dalam mulutnya.


“Saaaam…!!”


Samuel hanya acuh tak acuh. Dia mengambil seikat roti yang ada di atas meja lalu melemparnya. “Buang!”


Salah seorang pelayan yang menjaga disana langsung mengangguk. “Ba-baik.” Dengan tubuhnya yang bergetar setengah mati, ia memungut roti tersebut kemudian menghilang dari sana.


Michell yang melihat itu langsung menggeleng geleng. “Pria ini benar benar…”


“kamu nggak seharusnya ngebuang makanan!” Protes Michell. Berbeda dengan julio yang sudah terbiasa melihat samuel melakukan itu. Jadi, dia santai saja.


Samuel menoleh kemudian tersenyum miring. “Kenapa?”


“Kamu nanya kenapa, huh? Itu makanan. Kamu nggak bersyukur banget.”


“Itu cuma roti. Apa yang harus disyukurin?” Ucapnya tanpa merasa ada beban sedikit pun.


Michell tak habis pikir. “Iya Bener. Nyawa aja ngga berharga bagi kamu. Apalagi roti.”


Samuel yang tadinya tersenyum langsung menatap Michell dengan tajam. Wajahnya terlihat sangar.


Dia berdiri dan mendorong tengkuk leher Michell agar mendekat. “Kalo nyawa itu nggak berharga, maka seharusnya kamu udah mati sejak awal kita bertemu.”


“Kamu harusnya tau posisi kamu disini. Kamu nggak bisa sembarangan ngomong.” Kata samuel dengan nada serius.


Julio yang mulai khawatir buru buru memisahkan mereka berdua.


“Udah, udah.”


“Kita kapan berangkat? Udah telat nih.”


Samuel hanya diam. Dia melirik julio sekilas lalu pergi dari sana tanpa berbicara sepatah kata pun.


Michell langsung bernafas lega sekepergiannya. Samuel benar benar menakutkan. Itu membuat Michell semakin yakin untuk pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2