Sweet Psycho

Sweet Psycho
30


__ADS_3

Di saat semua orang sudah pergi, Michell hanya menonton tv. Walau sebenarnya Michell tidak mengerti dengan bahasa yang di ucapkan. Tapi mau bagaimana lagi? Tak ada yang bisa ia lakukan lagi selain menonton tv.


Berkali kali Michell mengganti saluran, tapi tak ada satu pun yang menarik.


“Pffftt… lama lama bosen juga ya. Michell juga gak ngerti sama bahasanya.” Keluhnya.


Ia menoleh pada pintu. Ingin sekali dia keluar. Tapi, apakah boleh…?


Michell bangkit dari sofa. Kakinya melangkah mendekati pintu. “Michell, nggak kemana mana. Michell cuma mau liat di luar ada apa.” Batinnya.


Setelah itu, Michell membuka pintu. Ia memandang tabjuk pada karpet yang menjadi alas lantai.


“Kok Michell baru sadar ya.”


Perlahan kakinya menginjak karpet tersebut. Michell tersenyum saat telapak kakinya terasa dingin setelah bersentuhan dengan benda itu.


Ia berjalan pelan menyusuri lorong. Terdapat lima pintu dalam lorong itu. Bernomor 789, 790, 791, 792, 793.


Dan kamar yang Michell tempati bernomer 793. Letaknya paling pinggir, menghadap ke arah lift. Sedangkan kamar yang lain, berhadapan satu sama lain.


Rasa ingin tau Michell semakin membara. Dia nekat mendekati lift dan hendak menekan tombol disana. Namun sedetik kemudian, ia tersadar.


Ia buru buru kembali ke kamar hotelnya. Saat ia ingin membuka pintu tiba tiba…


“Loh? Kok nggak bisa?” Tanya Michell panik.


Rupa rupanya, Kartunya tertinggal di dalam. Seberapa keras usaha Michell untuk membuka pintu, tetap tidak akan bisa. Sebab, ia harus menggunakan kartu untuk bisa mengakses kamar tersebut.


Mau tidak mau, Michell harus terkunci di luar.


Michell yang semakin panik, hanya bisa menangis sembari berusaha membuka pintu.


“Ini kenapa. Kenapa Michell nggak bisa masuk. huaa… pintunya rusak atau gimana sih?”


“Gimana kalo samuel pulang. Nanti Michell ketauan.. yaampun ini Michell harus ngapain…”


Michell menggedor gedor pintu, berharap pintu itu bisa terbuka sendirinya.

__ADS_1


“Kekunci ya?” Tanya seseorang.


Michell langsung menengok ke belakang. Ia mendapati sosok lelaki yang pernah ia temui sebelumnya.


“I-iya.” Jawab Michell gugup.


Lelaki itu mendekat. “Memang, di dalam ada siapa?”


Michell menggeleng. “Nggak ada siapa siapa.”


“Terus kenapa kamu ketok pintu?” Tanyanya.


Michell yang tidak tau harus menjawab apa Hanya bisa diam.


“Kamu butuh kartu untuk masuk ke dalam.” Ucapnya.


“Kartu apa?” Tanya Michell kebingungan.


“Seperti ini.” Lelaki itu menunjukan sebuah kartu dari dalam sakunya.


“Kalau begitu, lakukan.” Ucap Michell dengan polosnya.


Lelaki tersebut tersenyum kemudian menggeleng. “Enggak. Kartu ini berbeda. Kartu ini cuma bisa di gunakan untuk kamar ku.”


Michell mengigit bibirnya. Ia berfikir keras, berusaha memahami sesuatu.


“Jadi, gimana caranya buat dapetin kartu itu?”


Lelaki itu sempat terdiam sambil berfikir. “Setiap orang sudah di beri kartu sejak mereka menginap di sini.”


“Tapi, michell nggak punya kartunya. Michell cuma keluar sebentar, bahkan nggak ada lima menit. Tapi pas Michell mau masuk, tiba tiba pintunya kekunci kaya gini.”


“Apa nggak ada cara lain?” Sambungnya.


Hmm, baiklah. Ia mengerti sekarang. Kartu miliknya tertinggal di dalam.


“Aku bisa membantumu. Tapi dengan satu syarat.”

__ADS_1


“Apa itu?” Michell bertanya.


Lelaki tersebut tersenyum puas. Ia mendekat dan membisikkan sesuatu padanya.


“Deal?”


Michell mengangguk lalu menjabat tangannya. “Deal.”


….


Setelah mereka berdua menuju pihak resepsionis, akhirnya Michell berhasil mendapatkan kartu chip miliknya.


Michell sempat terpesona saat melihat lelaki tersebut berbicara dengan bahasa Rusia. Dia terlihat sangat berwibawa. lelaki itu berpengetahuan luas dan….


Tampan.


Michell sangat berterima kasih padanya.


“Makasih ya. Kalo nggak ada kamu, mungkin Michell bakal kedinginan di sini.”


Lelaki itu mengangguk.


“Oh ya, kamu dari Indonesia ya?” Tanya Michell.


“Bukan.” Jawabnya.


Seketika Michell shock. “Terus, kok kamu bisa ngomong pake bahasa Indonesia.”


Lelaki itu terkekeh. “Ibuku orang Indonesia. Aku belajar darinya.”


“Oooo..” Michell mengangguk angguk.


“Yasudah. Kalau begitu Michell masuk duluan. Sampai besok..”


“Eehh…” belum sempat lelaki itu melanjutkan perkataannya, Michell sudah lebih dulu menutup pintu.


“Humm..”

__ADS_1


__ADS_2