
malamnya, samuel sudah rapih dengan pakaian serba hitamnya. tak lupa dia juga membawa belati kesayangannya.
samuel melirik layar ponsel dan membuka pesan text yang berisi biodata hana. lengkap beserta alamat rumahnya.
sudut bibirnya terangkat ke atas. yap. hana yang akan menjadi targetnya malam ini. gairahnya semakin menjadi. ia sangat nafsu dan menggila, tak sabar melihat wajah hana. akankah dia ketakutan dan memohon ampun?
tempat berganti saat samuel sudah tiba di depan gedung perusahaan AcRcompany. tak lain perusahaan milik ayahnya.
banyak karyawan yang sudah keluar dari gedung. tatapan samuel mengarah pada halte. wajahnya terlihat gelisah di balik masker yang sedang ia kenakan.
"sialan!" pekik samuel.
dia terlambat. bus sudah jalan duluan dengan hana di dalamnya. mengingat dirinya tak membawa kendaran, mau tak mau, sam menunggu selama 45 menit lamanya untuk pemberangkatan selanjutnya.
samuel duduk di kursi halte sambil memainkan ponselnya. ia merasa jenuh sekali. ditambah lagi, samuel paling tidak suka menunggu.
tak lama, seorang gadis berseragam sekolah, duduk disampingnya. harum semerbak lavender langsung masuk ke dalam indra penciumannya. membuat samuel menoleh.
hidungnya terlihat mancung dari samping. bulu matanya lentik. rambutnya diikat menjadi satu. dia gadis yang cantik. bahkan samuel dibuat terpesona dalam sedetik. ia bahkan tidak bisa mengalihkan pandangannya.
sayangnya, itu tidak berlangsung lama. gadis itu langsung bangkit saat bus tiba.
__ADS_1
samuel ikut masuk ke dalam bus. dia duduk di belakang sedangkan gadis tersebut duduk di depan. selama perjalanan, pria itu selalu memperhatikannya. bus sangat sepi. hanya ada 4 orang disana, membuat samuel bisa dengan mudah mendengarkan percakapannya saat ia sedang menelfon seseorang.
tanpa disadari, mereka sudah sampai pada pemberhentian terakhir. pak sopir pun sudah berteriak didepan sana.
"makasih pak!"
"iya sama sama. hati hati ya neng."
samuel turun setelah gadis itu turun. tatapannya berubah menjadi seekor seringala yang sedang kelaparan. dia menatap mangsanya dengan penuh nafsu. "Saya ingin gadis itu. dia terlihat lebih menarik dari pada hana." batinnya.
"bu vivi. ayo jalan bareng"
"iyalah. kita kan tetangga. gimana sih kamu?"
JLEP
hancur harapan sam ketika mendengar itu.dia menggerutu kesal di dalam hati. "ini diluar dugaan. kok mereka bisa saling mengenal? sedangkan di dalam bus tadi mereka seperi orang asing yang mendok bicara."
"aduh. bener juga ya. michell lupa"
"masih muda udah pelupa"
__ADS_1
"yang muda juga tetep manusia"
"iya..iya.."
"kamu tumben banget pulang jam segini? ada acara di sekolah?"
samuel mengendus sambil menatap kedua orang itu yang mulai menjauh. "yasudahlah. mau bagaimana lagi?" ucap dia acuh tak acuh.
dengan berat hati, samuel berjalan menuju rumah targetnya semula. hana bianka.
setibanya disana, samuel langsung menatap rumah yang ada di hadapannya. menurutnya rumah itu sangat kecil dan jelek. sam memiringkan kepalanya "cih. rumah macam apa ini?" ledeknya meremehkan.
pria tersebut mulai mencari celah agar bisa masuk ke dalam. ia mengecek pintu depan, jendela, juga mutar ke belakang. merasa aman, samuel pun memilih untuk masuk melalui pintu belakang.
untung saja, dalam rumah itu bersih dan wangi. perabotan di tata dengan rapih. juga dihias seindah mungkin. memang benar apa yang pepatah katakan. "jangan menilai buku dari sampulnya."
samuel berjalan dengan mengendap endap. kamar pertama yang dia datangi, adalah kamar milik seorang nenek. dia sudah tertidur nyenyak di atas kasur.
saat merasa hana tidak ada didalam, ia pun keluar dan mendatangi kamar kedua. samuel melihat pintu kamar itu, sedikit terbuka. sehingga dia bisa mengintip ke dalam.
"nggak bisa dipercaya..."
__ADS_1