Sweet Psycho

Sweet Psycho
22


__ADS_3

Saat mereka bertiga memasuki pesawat, mereka disambut dengan baik oleh para pramugari. Mereka di tunjukan ke bagian first class dan langsung dimanjakan dengan berbagai makanan, minuman, juga hiburan.


Samuel dan Michell duduk bersebelahan, Sedangkan julio berada di belakang.


Sampai saatnya pesawat mulai meninggalkan landasan, dan dengan perlahan Michell merasa terbawa terbang.


Pesawat semakin tinggi dari permukaan.


“Jadi ini rasanya naik pesawat.” Batin Michell sambil memejamkan matanya.


“Takut naik pesawat?” Tanya samuel tiba tiba.


Michell membuka matanya lalu menggeleng. “Michell nggak takut. Cuma ini kali pertama Michell naik pesawat, jadi sedikit deg degan.”


“Sedikit? Cih.” Lirih samuel.


Entah bisa dikatakan sedikit atau tidak saat melihat tangan Michell yang bergetar tidak karuan.


“Sam..” panggil Michell.


“Hm?”


“Berapa jam penerbangan kita untuk sampai ke Sana?” Tanya Michell penasaran.


“Sepuluh jam.” Jawab samuel seadanya.


“Haaah..” Michell terkaget saat mendengar itu.


“Setau Michell, biasanya butuh tiga belas jam atau enggak delapan belas jam. Kok cepet ya?”


“Ya, aku pilih penerbangan tercepat. Kira kira 900 km/ jam.” Jelas samuel.


“Berati mahal dong.” Tebak Michell.


“Iya”

__ADS_1


“Berapa?”


“Nggak tau, bukan aku yang mesen.”


“Terus siapa?”


“Ada, orang.”


“Oooo.” Michell langsung mengangguk angguk.


“50 juta ada nggak?”


“Lebih.”


“Waahh mahal juga ya.”


“B aja.” Jawab samuel dengan datar. Ya, 50 juta itu tidak ada apa apanya dibanding dengan kekayaannya saat ini yang mencapai triliunan.


“Itukan menurut kamu. Kalo menurut Michell itu mahal.”


“Hmm.” Samuel hanya berdehem, menanggapi itu.


“Kita transit dulu gak?”


“Hmmm.” Sepertinya samuel sudah mulai sebal dengan pertanyaan yang Michell berikan.


Dia ingin baca buku tapi tidak jadi jadi karena Michell terus bertanya.


“Michell mau baca buku juga, kaya kamu.” Pinta Michell.


Seketika samuel langsung mengingat percakapannya dengan julio. Dimana, julio mengatakan kalau Michell ini sangat bodoh dan harus melanjutkan pendidikannya.


Mengingat, Michell tidak pernah masuk sekolah semenjak samuel membawanya.


“Emang kamu ngerti sama buku yang aku baca, huh?”

__ADS_1


“Coba liat dulu.”


Samuel pun menyerahkan buku tersebut.


Michell menerimanya dan mulai membuka lembaran demi lembaran. Huft, lihatlah apa yang ada di hadapannya ini.


Hanya berupa grafik dan juga angka angka yang membuat Michell pusing.


Seketika Michell menutup buku tersebut lalu menyerahkan kembali kepada pemiliknya.


“Nggak jadi deh. Michell nggak ngerti.”


Samuel menarik nafas dengan dalam. Dia jadi kepikiran, dewasa nanti Michell jadi apa.


Dia tidak yakin, akan terus menahan Michell di sisinya. Entah nanti, samuel akan merasa bosan, atau menemukan yang lebih menarik. Dan di saat itulah samuel akan membuangnya.


Sejujurnya, samuel tidak mau itu terjadi. Tapi, tidak ada yang tau perasaannya di masa depan.


Ya, benar. samuel harus mendidik Michell agar dia tidak menjadi gelandangan setelah berpisah dengannya nanti.


“Apa cita cita kamu?” Tanya samuel tiba tiba.


“Em, Michell mau jadi dokter.”


Samuel mengangguk pelan. Dalam hatinya berkata, “mau jadi dokter, tapi itung itungan masih salah.”


“Kenapa nanya?”


“Gak. Cuma penasaran.”


“Ohhh.” Michell mengangguk angguk.


“Cita cita kamu, mau jadi apa?” Tanya Michell polos.


“Beraninya nanya balik..!” Geram samuel yang mengira Michell ini sedang meledeknya.

__ADS_1


“Ma-maaf. Michell kan penasaran juga sama cita cita kamu.” Jawabnya tanpa dosa.


“Tch”'


__ADS_2