
disisi lain, michell sedang menjalankan rencananya. setelah berusaha mati matian untuk menyuruh viola dan natasya agar tidak lagi mengikutinya, michell pun berlari menuju pintu utama. sebelum itu, dia harus melewati ruangan demi ruangan, kemudian menuruni tangga yang sangat panjang.
butuh perjuangan untuk bisa sampai di sini. bahkan nafasnya pun ngos ngosan. untungnya dia membawa alat kecil penyelamat hidupnya. jangan lupakan kondisinya saat ini. dia tetap nekat berlari meskipun masih merasakan sakit dibagian sensitifnya, diperut, juga di paha.
michell memastikan tidak ada orang. kebetulan tidak ada seorang pun yang menjaga disana. setelah itu dia mendekati pintu yang besarnya tak main main. ukuran raksasa dan terlihat mewah. michell yakin, harga pintu itu setara dengan sebuah mobil.
dengan perlahan, dia membuka pintu tersebut. karena tubuh michell kecil ia pun bisa keluar tanpa harus membuka pintu dengan lebar.
FANTASTIS!
michell berasa seperti di dalam film. shock rasanya, ketika tau dirinya berhasil keluar dari rumah besar ini. rasanya seperti mimpi.
dia merentangkan tangannya sambil menatap halaman yang ada di depannya. tidak aneh rasanya saat melihat luas halaman itu. dihiasi oleh air mancur, patung, tanaman, bunga bunga dan masih banyak lagi.
michell tersenyum bahagia, menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. rambutnya pun bergoyang ke sana kemari. "inilah happy ending yang sesungguhnya." kata michell penuh bangga.
padahal, dia baru saja keluar dari pintu. ia harus melewati gerbang, dimana penjagaannya sangat ketat. aku tidak yakin, michell berhasil lolos dari gerbang itu.
"aaahh.... akhirnya aku bebas!!!" teriak michell.
"ehem"
"hah?!" michell menjolak kaget saat mendengar itu. kepalanya menengok perlahan ke samping. dua bodyguard sedang menatapnya dengan garang.
seketika tubuh michell melemas. apalagi, ketika kedua pria itu mendekatinya dan menahan lengan michell.
setelah itu, tubuhnya dibawa masuk kedalam. tepatnya kekamar. sementara itu, michell sudah meronta ronta agar dilepaskan.
"AAAAAAAAAAHHHHHHH!!!!" teriak michell frustasi.
"sebaiknya nona tetap berada didalam sampai tuan kim datang." ucap salah seorang dari mereka.
__ADS_1
"enggak!" ketus michell.
"kalau begitu, jangan heran saat tuan kim pulang, dia marah besar. kita tidak yakin, nyawa nona aman malam ini." tambahnya.
"apa??!!!"
bukannya menjawab, mereka justru keluar dan meninggalkan michell sendirian dikamar.
"hih! barusan dia mengancamku?!!!" ucapnya dengan sebal.
"aishh!! bodoh! bodoh! ini akibatnya karena kamu terlalu cepet merayakan kemenangan, micccheeelll!" maki michell pada dirinya sendiri.
"huffttt... tenaaangg. tenang michell, tenang, kamu masih ada plan ke dua. buktikan kalo kamu bisa keluar dari sini!" bisiknya.
…
Saat hari sudah malam, samuel pulang bersama dengan julio disisinya. Berhubung mereka berdua belum makan, samuel dan julio memilih untuk pergi menuju ruang makan.
“Michell udah makan?” Tanya samuel saat bi endang meletakan sepiring nasi goreng seafood di atas meja.
Bi endang tersenyum manis. “Udah tuan.”
Ia sendiri merupakan pelayan terlama dan tertua di mansion tersebut. Dialah yang paling mengenal samuel lebih dari siapapun.
Samuel mengangguk saat mendengar itu. Dia menatap santapan malamnya yang sangat menggoda kemudian beralih pada julio yang terus menatapnya.
Samuel mengangkat alis sebelahnya sambil bertanya. “Apa liat liat?”
Julio masih setia menatap bosnya itu tak lama kemudian dia tersenyum jahil. “Kamu suka sama Michell ya?”
“Cih.” Samuel membuang mukanya dan menyuap suapan pertama kedalam mulutnya.
__ADS_1
“Hmm, saya semakin curiga.” Bisik julio melihat reaksi samuel.
“Aku memang suka dia, karena itu aku membawanya kesini.” Balas samuel.
Julio mengendus sebal. “Nggak, maksud saya, sebuah perasaan yang berbeda untuk Michell.”
Samuel menyerit. “Kamu ngomong apasih?”
Julio terdiam beberapa saat, menatap makanannya. “Baru pertama kali, saya liat kamu peduli banget sama perempuan.”
“Karena aku nanya dia udah makan atau belum, kamu sebut itu peduli banget?”
Kini gantian julio yang menyerit. Dia kebingungan dengan jawaban samuel. “Loh, kok?”
“Y-ya. Itu termasuk juga. Tapi, bukannya ini pertama kali kamu bawa perempuan ke kamar?” Sambung julio.
Samuel meneguk air minumnya. Dia berfikir sejenak. “Hanya sebuah Kecelakaan. Nggak lebih.” Jawabnya santai.
“Maksudnya?”
“Waktu itu dia nge berontak. Kebetulan kamar ku paling deket sama tangga. Yaa, Mau nggak mau, aku harus bawa dia kekamar.”
“Ooo.” Julio mengangguk angguk.
“Iyain aja deh.”
“Kamu nggak percaya toh?” Samuel bertanya.
“Eee, Percaya kok.”
“Bagus.”
__ADS_1