Sweet Psycho

Sweet Psycho
27


__ADS_3

Sedari tadi Michell hanya berdiam diri sambil menatap keluar melalui jendela. Pikirannya terbang kemana mana.


Sungguh, Michell sangat merindukan oma dan juga kakaknya. Ingin sekali ia memeluknya. Namun jarak, menghalangi itu. Michell tak tau dimana keberadaan omanya sedangkan kakaknya sudah berbeda alam.


Michell merasa bersalah karena memilih ikut pergi ke sini hanya demi menonton pertunjukan balet. Ia rela tunduk pada samuel, orang yang sudah membunuh kakaknya.


Tapi di balik itu, Michell akan menggalih informasi lebih dalam. Ia akan bertahan lebih lama untuk mencari Alasan mengapa samuel membunuh kakaknya itu.


Tak lupa, Michell juga akan mencari dimana keberadaan omanya. Setelah berhasil bebas, Michell bersumpah akan membawa oma pergi sejauh mungkin.


“Duh, laper. Ada makanan gak ya?” Kata Michell sembari mengelus perutnya yang keroncongan.


Michell menggeledah seluruh ruangan berharap ada sesuatu yang bisa di makan.


“Yaampun. Gimana ini. Nggak ada makanan sama sekali. Kalo Michell mati kelaparan gimana?” Pikir Michell panik.


“Samuel masih lama nggak sih…?”


Sial. Ia tidak tau harus bagaimana sekarang. Ponsel pun tak ada. Itu semua karena Samuel yang sudah membuang benda itu. Katanya, ponsel itu terlalu kuno, Merusak pemandangan saja!


Michell menghembuskan nafasnya dengan kasar. “Tidur. Satu satunya cara untuk mengatasi kelaparan.”


Mau tidak mau, Michell beranjak ke kasurnya. Membaringkan diri disana. Ia mencoba untuk tidur, tapi matanya enggan menutup.


Seketika ia mengingat ucapan samuel tadi pagi.


“Kenapa sam ngomong gitu ya? Apa maksudnya, pria kasar dan baik?” Tanya Michell pada dirinya sendiri.

__ADS_1


“Seumur hidup, aku nggak pernah sex dua kali dengan orang yang sama. Tapi hanya denganmu, aku ingin melakukannya berkali kali.”


Tanpa sengaja, Michell tersenyum saat memikirkan itu. “Apa aku orang yang spesial?”


Sedetik kemudian Michell buru buru menggeleng. Menepis pikiran kotor itu dari otaknya.


“Aishhh. Michell sadar. Kamu itu cuma dimanfaatin bukan di istimewa in.”


“Tuhkan! Jadi kesel sendiri. Udahlah Michell tidur aja.” Michell mengubah posisi tidurnya.


“Oh ya. Kalo di pikir pikir, temen temen Michell sadar nggak ya kalo Michell ilang? Pasti salah satu dari mereka udah ada yang lapor polisi.”


“Tapi, ini udah mau 2 minggu. Kenapa polisi belum ada yang nemuin Michell.” Pikirnya.


Niat Michell untuk tidur malah gagal akibat overthinking nya itu. Rasa lapar pun tidak ada lagi.


“Jadi kau belum tau dimana keberadaan mereka sekarang?” Tanya Manuel setelah mendengar penjelasan anak buahnya.


“Ya, tuan. Jejak tuan samuel sama sekali tidak terlihat. Dia seperti menghilang begitu saja.”


“Alah!” Manuel menghentak anak buahnya.


“Alasan macam apa itu?!”


“Maaf tuan.” Katanya sambil membungkukan badan.


“Tiga hari. Kau punya waktu tiga hari untuk menemukan keberadaannya. Aku tau kau tidak akan mengecewakan ku.” Kata Manuel.

__ADS_1


“Baik tuan.” Setelah itu, anak buahnya langsung keluar. Bertepatan dengan masuknya salah satu anak dari Manuel.


Dia alvaro. Anak lelaki paling muda di keluarganya. Meskipun usianya masih belasan tahun, dia punya pemikiran yang dewasa.


Cita citanya adalah, duduk di kursi itu. Ya, kursi kebanggaan ayahnya. Kursi kepemimpinan perusahaan.


Alvaro sangat ingin menggantikan jabatan ayahnya. Tapi tampaknya, Manuel tidak berfikir demikian. Dia malah ingin samuel lah yang menjadi penerusnya.


Hal itu membuat alvaro kesal setengah mati. Dia menaruh dendam pada kakaknya itu.


“Ada apa ayah?” Tanya alvaro dengan lembut.


Manuel tersenyum melihat kedatangan anaknya.


“Ada yang perlu alvaro bantu?”


Manuel menggeleng. “Kenapa kemari, nak?”


“Entah. Alvaro cuma mau bantu ayah aja.” Jawab alvaro.


“Ayah sangat berterima kasih dengan tawaranmu itu.”


“Kemarilah. Ada beberapa berkas yang perlu kau urus.” Tambahnya.


Alvaro tersenyum lebar. Ini sebuah kesempatan untuk membuktikan pada ayahnya kalau dia pantas duduk di kursi itu.


“Dengan senang hati, ayah.”

__ADS_1


__ADS_2