Sweet Psycho

Sweet Psycho
2


__ADS_3

“Ahh…” ringis michell. Ia meraba punggungnya pelan pelan.


Rasanya masih sangat perih. Hal itu sangat mengganggunya. Ia kesulitan bekerja, bahkan tidur sekalipun. Ia harus tengkurap setiap malam.


Michell menghela nafas. Tak ada waktu untuk mengeluh. Ia harus menyelesaikan tugasnya sebagai seorang pembantu di mansion pribadi milik kim samuel.


“Bertahanlah untuk sementara waktu. Sudah saatnya aku cari dimana letak kelemahan rumah ini.” Batinnya.


Setelah merapihkan kamar milik tuannya, michell langsung menjelajahi mansion tersebut.


“Setiap sudut ruangan terpasang CCTV. Berarti, Aku harus mencari dimana ruang keamanan.”


Gadis itu melewati seluruh ruangan dengan penuh waspada. Ia tak mau terlihat mencurigakan.


“Aissh… udah satu jam aku keliling. Tapi, Kenapa aku nggak bisa nemuin dimana ruang keamanan.”


Akhirnya Michell memilih duduk sebentar untuk beristirahat.


Entah mengapa, akhir akhir ini tubuhnya cepat sekali lelah. Mungkin karena kejadian malam itu. Dimana samuel menyiksanya tanpa perasaan.


“katanya dia mau memberi aku cambukan setiap hari. Tapi, ini udah dua hari sejak aku menginjakkan kaki di rumah ini, belum pernah sekali pun dia menyiksaku.”


“Semoga aja kedepannya begini terus.”


“Hikss… hikss…”


Michell menoleh setelah mendengar suara isak tangis. Ia berdiri dengan rasa penasaran.


Dia mencari dari mana suara itu berasal.


“Hikss… hikss…. Hiks…”

__ADS_1


Suaranya semakin terdengar jelas. Michell yakin suaranya berasal dari balik pintu yang ada di hadapannya. Pintu ruang basement.


Gadis itu menyentuh gagang pintu dengan hati hati. Ia kembali mengingat akan perintah samuel.


“Saya melarang kamu untuk masuk ke dalam basement. Apapun kejadiannya, kamu tidak boleh memasuki ruang itu. Bahkan hanya sekedar mendekatinya.”


“Kamu akan menyesal setelah masuk kedalamnya.”


“Haruskah aku—“


Michell menarik nafas dalam dalam. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


Sedetik sebelum ia membuka pintu, tiba tiba seorang penjaga datang. Tubuhnya besar dan kekar. Hal itu membuat michell merinding setengah mati.


“Hei!” Bentaknya dengan Suaranya lantang.


Michell menunduk ketakutan.


Michell menggeleng panik. “Ma-maaf. Aku baru dua hari disini, dan aku tersesat.”


“Cih.” Orang itu tersenyum meremehkan michell. “Pelayan baru, huh?!”


“Iya..”


“Ckckck.. Pantas saja. Kalau tuan tau hal ini, habis kamu!”


Michell mendongak lalu menggeleng cepat. “Jangan beri tau tuan. Kumohon…”


“Aish, yasudah sana.”


“Te-terimakasih. Terimakasih banyak.” Michell buru buru pergi dari sana.

__ADS_1


Demi apapun jantungnya berdetak cepat.


“Kalau samuel tau, aku pasti disiksa tanpa ampun.” Batinnya.


“Gak lagi deh aku ke tempat itu. “


.


.


.


“Dari mana aja kamu?!” Tanya kepala pelayan yang terkenal akan kegalakannya.


“Aku habis merapihkan kamar tuan..”


“Yasudah, tuan pulang jam 9 malam nanti. Ingat, sambut dan layani dia dengan baik. Kamu adalah pelayan pribadinya. Jangan buat dia marah, atau nyawa taruhan mu.” Nasihat kepala pelayan dengan lembut.


Michell mengangguk mengerti. “Aku akan mengingat itu.”


“Kamu boleh beristirahat sejenak.”


“Baik, terimakasih.” Michell membungkuk hormat, kemudian berjalan menuju kamarnya.


Kepala pelayan menatapnya dengan kasihan. Sebelumnya, dia tidak pernah selembut ini kepada para pelayan.


Namun, wajah michell mengingatkannya pada anaknya yang sudah meninggal 15 tahun yang lalu.


“Masa depannya suram. Dia akan menua dan meninggal di tempat ini.” Bisik wanita itu.


Kamar michell sama dengan kamar pelayan yang lain. Rasanya seperti tinggal di asrama. Satu kamar berisi 4 orang.

__ADS_1


Untungnya, kamar nya luas, lebar dan nyaman. Ya mungkin, karena pemiliknya merupakan orang kaya. Tidak mungkin ada kamar kumuh, kecil dan kotor di mansion sebesar dan semewah ini.


__ADS_2