
Samuel langsung melangkah menuju kamar Michell. Ia melihatnya sedang tertidur pulas.
Samuel merangkak ke atas kasur kemudian menciumnya. Mulai dari rambut hingga ke lehernya.
Michell yang terasa terganggu, langsung membuka matanya perlahan.
“Sam?” Panggil Michell dengan suara seraknya.
Samuel tidak menjawab. Dia masih sibuk mencium Michell dengan rakus.
“Nggh, Kamu ngapain sih? Michell masih ngantuk.”
“Wake up, honey. Let’s make a baby.” Bisik samuel dengan suara beratnya.
“Huh?” Michell yang belum sepenuhnya sadar, hanya bisa kebingungan.
Samuel membuka baju Michell dengan perlahan. Dia meraba raba perut Michell, membayangkan seorang bayi yang akan keluar dari perutnya.
“Seumur hidup, aku nggak pernah sex dua kali dengan orang yang sama. Tapi hanya denganmu, aku ingin melakukannya berkali kali.”
Michell menatap manik samuel dengan lekat. Dia menyentuh dahinya dengan gerakan lambat.
“Nggak panas.”
Samuel meraih tangan Michell lalu mengecupnya.
“Aku bisa jadi pria kasar dan pria baik. Itu semua tergantung pada sikapmu.” Samuel berbisik. Nadanya terdengar serius sekali.
Michell hanya diam pada posisinya. Dia semakin dibuat kebingungan oleh sikap samuel di pagi pagi buta seperti ini.
“Kamu kenapa sih? Kok tiba tiba ngomong gitu.”
“Entahlah.” Jawab samuel seadanya.
Dia langsung menyentuh tekuk leher Michell lalu mencium bibirnya.
Saat pukul 09.00 Michell baru saja bangun. Mau di rumah atau pun tidak, samuel pasti bangun lebih awal darinya. Buktinya, tidak ada tanda tanda kehadiran samuel disana.
__ADS_1
Michell menyapu wajahnya dengan kasar setelah mengingat kejadian pagi tadi. “Ahh, dia memang gila.”
Saat Michell ingin beranjak dari kasurnya, tiba tiba samuel datang dengan wajah tak bersalahnya itu.
“A-apa? Kenapa kamu kesini?!” Tanya Michell panik. Pasalnya ia tidak mengenakan sehelai kain pun.
“Aku bantu kamu.” Ujarnya.
“Bantu apa?” Michell bertanya.
“Membersihkan diri.” Lirih samuel menahan malu.
“KKYAAAA!!!!” Michell langsung menggeleng geleng.
“Michell bisa sendiri, kamu keluar aja sanaa…!”
Samuel pun ikut panik saat mendengar jeritan Michell. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Padahal niatnya hanya ingin membantu.
Dia takut Michell kesulitan berjalan karena aksinya tadi pagi yang bisa dibilang cukup brutal. Tapi hal ini tidak ada apa apanya dibanding hari itu.
Apa jangan jangan…
“Pakek nanya…!”
“Emang Apa yang harus dibikin malu? Aku udah liat setiap bagian tubuh kamu kok. Nggak ada yang terlewat sedikit pun.”
Michell yang mendengar itu langsung mengambil bantalnya lalu melemparnya tepat ke arah samuel.
“KELUAR..!” Teriak Michell marah.
“Y-yaudah.” Samuel buru buru keluar dari sana. Entah kenapa dia jadi gugup seperti ini. Oh, bahkan dia menuruti perintah Michell.
Apa karena samuel terpesona dengan kecantikan Michell? Sepertinya begitu. Michell terlihat semakin cantik dari hari ke hari. Bahkan dadanya berdebar cepat saat melihatnya tadi.
Michell menghembuskan nafasnya dengan lega. “Dia itu kenapa sih?!”
Ia menyentuh pipinya yang memerah.
__ADS_1
“Iiihh…” Michell menggeleng geleng, menahan malu.
“Awas aja..”
….
Kini saatnya Michell keluar kamar untuk makan. Sama seperti biasanya dia memakai dress. Bedanya, dress kali ini lebih tebal dan panjang hingga ke betis. Ia juga memakai jaket untuk menghangatkan tubuhnya.
Merasa tidak punya keahlian untuk berdandan, ia pun hanya memakai bedak lalu membiarkan rambutnya di gerai.
Ia berjalan keluar, menuju tempat dimana samuel berada.
“Michell mau makan.” Ucapnya.
Samuel yang sedang sibuk pada laptop nya langsung menoleh. Padahal dia baru saja ingin menghampirinya ke kamar. Eh dia sudah datang sendiri.
“Hm.” Samuel menutup laptop nya kemudian berjalan mendekat.
Bertepatan dengan itu julio datang. Samuel langsung menatapnya dengan mata elangnya itu.
“Kenapa pake syall?” Tanya samuel. Sebenarnya, dia sendiri tau alasannya. Tapi, dia ingin memanas manasi julio.
Michell menyentuh syall nya sambil berfikir.
“Mau nutupin bukti, aksi kita tadi pagi, hm?”
“Ish!” Michell memukul pelan lengan samuel kemudian melirik julio.
“Udah tau ada orang lain..” bisik Michell sebal. Samuel yang mendengar hanya terkekeh.
“Ya, biar aku gak kedinginan. Gimana sih kamu.” Kata Michell.
“Ooo.” Samuel hanya mangut mangut tidak jelas.
“Udah, ayo kita makan.
“Ok.”
__ADS_1
Sedangkan julio, hanya bisa menahan kecemburuannya dalam diam.