
Sesampainya di rumah, Michell langsung berkeliling. Mencari titik celah untuk bisa keluar dari rumah besar itu. Dia juga mencari dimana saja CCTV di pasang dan mengamati para penjaga yang sedang bertugas.
Sambil menenteng kantong plastik berisi snack yang diberikan oleh julio, ia masuk ke rumah bagian belakang. Tempat dapur kotor juga kamar para pelayan.
Kamarnya sangat luas. Seperti asrama yang terdapat kasur berjejer. Perabotan pun ditata dengan rapih.
Michell berani masuk ke sana saat tidak melihat orang lain di ruangan itu.
“Hmm, enak juga tidur disini.” Batinnya sambil melihat lihat.
“Astaga, nona!”
Michell terkejut dan menoleh ke belakang. Dia melihat viola yang baru saja masuk.
“Nona ngapain ke sini?” Tanya dia panik.
“Emm, Michell nyasar.” Jawabnya berbohong.
“Yaampun. Saya kira kenapa. Ayo sini saya anterin ke kamar.” Balas viola.
Michell hanya tersenyum kemudian berjalan mengikuti viola.
“Oh ya, nama kamu siapa? Michell lupa.” Tanya Michell.
“Nama saya viola. Kalau yang satu lagi natasya.” Jawabnya.
“Ooo.” Michell mengangguk angguk.
“Kamu udah kerja disini berapa lama?” Tanya Michell lagi.
__ADS_1
“Emm, kira kira 3 tahun.”
“Emang kamu kuat kerja disini?” Tanya Michell.
“Kuat kuat aja sih. Soalnya saya dibantu sama yang lain. Jadi, kerjaannya nggak terasa berat banget.”
“Maksudnya, bukan itu.” Kata Michell. Rupanya viola salah tangkap dan tak mengerti dengan apa yang Michell katakan.
Viola menghentikan langkahnya dan menatap nonanya itu. Begitu juga dengan Michell yang ikut berhenti dan menatap viola.
“Emangnya kamu kuat, ngehadepin samuel?”
Viola langsung tersenyum. “Saya mah kuat aja. Soalnya gajinya gede. Hehehe” viola terkekeh dengan ucapannya sendiri.
“Emang berapa gaji kamu?” Tanya Michell penasaran.
Michell tercengang kaget. “Kamu serius?”
Viola mengangguk dengan bersemangat.
“Gede kan? Tapi kerjaannya juga berat. Trus sebelum kerja disini harus di wawancara dulu kaya lagi mau lamar kerja kantoran.” Jelas viola.
“Enak juga ya. Michell pasti bisa cepet kaya kalo kerja disini.”
“Aish jangan. Nanti tangan nona kasar lohh..” kata viola mengingati.
“Ahahaha kamu ini bisa aja.”
Viola tersenyum kemudian mengajak Michell kembali ke kamar.
__ADS_1
Setibanya Mereka disana, Michell kembali membuka mulut. “Kamu keliatan buru buru banget.”
Viola terkekeh kemudian mengangguk. “Saya pengen ke toilet.”
“Oalaa. Dari tadi kamu nahan buang air ya?”
“I-iya” viola menggaruk kepalanya meskipun tidak gatal.
“Yaudah sana. Jangan ditahan.”
“Ya. Saya izin ke toilet dulu ya.”
Michell mengangguk sebagai jawaban. Setelah viola pergi, Michell justru ikut keluar dari kamar.
Masih dengan menenteng kantong plastiknya, dia melangkah masuk ke dalam perpustakaan pribadi samuel. Karena sejak awal dia menginjakkan kaki di rumah ini, ia belum pernah kesana.
Betapa terkejutnya dia saat melihat isi ruangan itu. Dia merasa seperti berada di alam mimpi.
Ini surga buku!
Rak rak berjejer di bagian kanan dan kiri. Ditengahnya terdapat sepasang meja dan kursi.
Rak rak tersebut sangatlah besar. Bahkan diperlukan tangga untuk meraih buku di bagian atas.
Michell berlari masuk ke dalam. “Waaaaaaahhhh….!!” Teriak Michell tabjuk.
Dia berjalan dari rak ke rak yang lainnya. Terdapat banyak buku disana. Ada buku dongeng, buku novel, buku non fiksi pun lengkap disana.
“Ini ruangan favorite Michell. Michell bakal betah di ruangan ini… aaaaaa”
__ADS_1