Sweet Psycho

Sweet Psycho
17


__ADS_3

Hilang sudah niat michell untuk melarikan diri dari kantor samuel. Boro boro kabur, keluar dari ruangan samuel saja, Michell tak mau. Apalagi dia harus melewati sel sel dan juga lorong gelap itu.


Bay bay deh.


Hanya ada cara terakhir untuk melarikan diri. Yaitu kabur dari rumah atau….


Kabur dari mobil.


Saat ini dia berada dalam perjalanan pulang bersama dengan julio. Dilirik pria itu dengan hati hati.


“Haruskah…?” Batin Michell.


Dia bisa saja membuka pintu dan loncat keluar. Tapi, bagaimana jika ada kendaraan lain yang melintas? Bisa bisa tubuhnya terlindas.


Michell melirik spion mobil. Memastikan kendaraan di belakangnya. Cukup ramai bahkan hampir padat.


Itu bagus! Dengan begitu Michell bisa lebih mudah melarikan diri dari kejaran julio.


“Ya. Michell bakal pergi dari sini.” Batinnya.


Saat berada di lampu merah, Michell sudah bersiap siap. Ia melirik julio dan hendak membuka pintu.


“Satu…. Dua… tiga….”


Loh? Loh kok?!


Michell kebingungan sendiri saat pintu itu tidak bisa terbuka. Dia masih berusaha membuka sedangkan julio tak mampu menahan senyumnya.


“Sampai kapanpun pintu itu nggak bakal ke buka.” Ucap julio.


“Hm, Kenapa..?” Tanya Michell menatap julio penasaran.


Julio hanya diam beberapa saat sampai akhirnya Michell sadar dengan ucapannya.


Michell menggeleng. “Enggak. Michell nggak mau buka pintu kok. Itu… tadi Michell cuma-“


“Emm,, Michell cuma-“

__ADS_1


Julio tersenyum. “Tenang, Saya nggak bakal laporin kamu kok.”


Michell melipat tangannya sambil membuang muka. “Emang enggak kok. Michell nggak mau kabur.”


“Emang siapa yang bilang kamu mau kabur?” Tanya julio sambil terkekeh.


Michell menoleh dan menatap julio dengan kesal. “Ish. Diem deh. Kamu nyetir aja, nanti ketabrak aja, baru tau..!”


“Saya udah nyetir mobil dari umur 15 tahun. Dan sampai sekarang belum pernah tuh, saya tabrakan.” Julio membanggakan diri.


“Musibah mana ada sih yang tau.” Kata Michell sembari menatap jalanan.


“Contohnya Michell. Hidup Michell mulus mulus aja. Nggak pernah nyari masalah sama orang. Tapi tiba tiba Michell di culik sama tuan kamu itu.”


“Apa coba salah Michell sampe ketemu sama manusia kayak dia.” Dumelnya.


Julio hanya bisa tersenyum. Yah, mau bagaimana. Ia tidak bisa menyangkal hal itu. Tapi sebenarnya ada rahasia dibalik semua itu. Dan tampaknya julio akan tetap merahasiakan dan biar waktu yang membongkarnya.


“Omong omong, umur kamu berapa?” Tanya Michell.


“Berarti udah 15 tahun kamu bisa naik mobil ya.” Kata Michell dengan wajah polosnya itu.


Julio yang mendengar itu hanya bisa menggeleng geleng. Michell ini sudah sma tapi hitung seperti ini saja masih salah.


“Kalau samuel, berapa umurnya?” Tanya Michell lagi.


“Dua tiga.”


“APAAA…?!!!” Michell shock mendengar itu. Seolah tak percaya dengan apa yang julio katakan.


“Dua tiga? Kamu serius?” Michell memastikan lagi.


“Ya. Saya berkata jujur. Kamu nggak percaya?” Tanya julio balik.


“Y-ya.” Sedetik kemudian dia menggeleng. “Ehh- enggak. Michell percaya.”


“Huftt… Pantes aja dia keliatan muda. Tapi, Michell masih nggak nyangka dia udah punya rumah sebesar itu di usia 23 tahun.” Bisiknya.

__ADS_1


“Kakak saja yang umurnya nggak beda jauh, belum bisa membeli rumah. Aishh, ngomong apa aku ini.” Batinnya.


“Eemm.. samuel itu, keluarganya kaya ya?” Tanya Michell sekali lagi.


“Ya. Meskipun begitu, dia udah mulai kerja dari usia 14 tahun.” Jawab julio.


Michell mengangguk angguk. “Keren juga ya. Michell di umur segitu lagi main masak masakan.”


“Terus, samuel udah… emm.. udah ngebunuh orang dari umur berapa?” Tanya Michell ragu ragu.


Julio hanya diam tak menjawab.


“Kayaknya Michell terlalu penasaran..” bisik Michell merasa bersalah.


“Lebih baik kamu tanyakan langsung.” Kata julio.


Michell mengangguk. “Ya. Akan ku tanya nanti. Itu pun kalau berani.”


Julio terkekeh.


“Saya mau ke minimarket. Kamu mau nitip apa?” Tanyanya.


Michell berfikir sejenak. “Entah. Apa saja. Michell mau snack.”


Julio mengangguk kemudian memarkirkan mobil di depan minimarket.


“Jangan coba coba kabur. Kalau kamu sampai keluar dari mobil, habis nyawamu.” Ancam julio.


Michell menelan ludahnya susah payah.


“Denger?” Tanyanya.


“Y-ya. Michell nggak kabur.”


“Bagus.” Setelah itu, julio keluar dari mobil.


Michell menatap kepergian julio kemudian bernafas lega. “Apa apaan dia. Ancamannya menakutkan sekali.”

__ADS_1


__ADS_2