Sweet Psycho

Sweet Psycho
20


__ADS_3

Satu kesalahan besar dalam hidup Michell adalah, menganggap sepele tentang siapa itu Kim samuel sebenarnya.


Dia terlalu percaya diri dan yakin bisa keluar sini. Padahal, dia sendiri sudah berada di dalam lingkarannya. Akan terasa sangat sulit untuk lepas dari samuel.


Ditambah dengan Tingkah laku Michell yang berbeda itu menimbulkan rasa ketertarikan sendiri. Semakin Michell bertingkah, Samuel semakin penasaran dan ingin menjinakkannya. Ia ingin Michell tunduk padanya.


Sayangnya, Michell terlalu kecil untuk memahami itu semua. Dia pikir, dengan menunjukan keberaniannya, samuel tak akan merendahkannya.


Pagi ini, Michell terbangun tanpa busana. Tubuhnya terasa sangat lelah. Samuel sangat brutal semalam, melebihi hari dimana kesuciannya hilang.


Seperti biasa, viola dan natasya membantunya untuk membersihkan diri. Dia sudah tidak canggung lagi saat kedua orang itu melihat tubuhnya. Yah, mau bagaimana lagi.


Setelah itu, michell disuruh memilih dress apa yang ingin dia kenakan hari itu.


“Michell mau yang kanan.”


“Yang kanan? Yang hitam ini kah?” Tanya viola memastikan.


Michell mengangguk lemah sebagai jawaban.


“Baiklah.” Viola tersenyum.


Setelah Michell mengenakan dress tersebut, dirinya di bawa ke meja rias. Rambutnya ditata dengan rapih dan wajahnya di dandani secantik mungkin.


“Waahh, cantik yaa..” puji natasya.


“Makasih.” Balas Michell seadanya.


“Pagi ini, nona keliatan lemes banget. Nona sakit ya?” Ceplos natasya.


Viola yang mendengar hal itu langsung menyenggol lengannya.


“Dia ini pura pura tidak tau ya? Jelas jelas Nona kelelahan karena semalam. Bahkan suaranya saja masih terdengar sampai jam 2 malam.” Batin viola sebal.


“Michell nggak papa kok.” Ia tersenyum tipis kemudian berusaha berdiri dari kursinya.


Dengan cepat, viola membantu Michell. “Biar saya bantu ya. Nona mau sarapan kan?”


Michell terdiam, menatap viola selama beberapa detik. Tak lama dia mengangguk sambil tersenyum.


Viola ikut tersenyum melihat itu.

__ADS_1


Mereka mulai berjalan meninggalkan kamar. Saat natasya ingin ikut, tiba tiba viola melototinya.


“Kamu yang Bersihin kamar.” Ucapnya tanpa bersuara. Hanya tercetak di mulutnya saja.


“Loh kok aku sih?!” Jawab natasya sambil berbisik.


“Udah sana.”


“Nggak mau. Gantian dong!”


“Tch, naaat!”


Michell menoleh. “Kenapa?”


Viola langsung menggeleng geleng seolah tidak terjadi apa apa. “Enggak kok.”


“Ohh.”


Mereka berdua langsung menuruni tangga dengan sangat berhati hati. Berharap, Michell tidak terjatuh disana.


Sedangkan natasya sedang menggerutu di dalam kamar. “Enak banget ya kamu, viola. Kalau cuma nganterin nona ke bawah, aku juga bisa. Ish liat aja nanti.”


Viola sempat ragu. Dia takut Michell terjatuh. Namun pada akhirnya, viola pamit dari sana.


Saat pintu terbuka, Michell kembali berjalan, menghampiri sang pemilik rumah yang sedang menunggunya. Dalam hatinya Michell berkata, “baru kemarin bisa jalan, eh udah kaya gini lagi aja. Apesss apess..”


“Lemes banget.” Ledek samuel sembari tersenyum jahil.


Michell memutar bola matanya ke atas lalu duduk di hadapannya. Dia langsung menyantap makanannya tanpa menghiraukan tatapan samuel.


“Seminggu lagi, aku akan pergi ke luar negri, untuk pekerjaan.” Ucap samuel di tengah tengah kegiatan sarapan itu.


“Baguslah.” Jawab Michell acuh tak acuh.


“Ada dua pilihan. Kamu bisa tetap disini atau ikut denganku.”


“Nggak tertarik. Michell tetep disini.”


“Kamu yakin?”


“Apa menurut kamu, Michell nggak yakin?” Tanya Michell balik.

__ADS_1


“Aku hitung sampai tiga. Kamu bisa ngerubah keputusan kamu, Selebihnya enggak.”


“Satu….dua…tiga….” Sambungnya.


Michell hanya diam. Dia benar benar tidak tertarik. “Untuk apa Michell ikut. Paling nanti Michell disuruh ngeliat dia ngebunuh orang lah. Kerjaan dia kan begitu, ih amit amit Michell ngeliat kaya gituan lagi” batinnya.


“Oke lah.” Samuel berdiri setelah menyelesaikan sarapannya.


“Aku akan pergi ke Moskow, Rusia.” Tambahnya.


“Lalu?” Tanya Michell.


“Akan ada pertunjukan balet terbesar disana. Tadinya aku ingin mengajakmu, Tapi kamu nggak mau. jadi yasudah. Akan ku buang tiket itu.”


“Aapaa?!!!” Michell melotot tidak percaya. Dia lupa, seminggu lagi ada pertunjukan besar besaran di sana. juga ada idolanya disana.


“Tunggu!!” Michell berteriak saat samuel hendak pergi.


“Aku ikut.” Tambahnya.


Samuel tersenyum penuh kemenangan. Sudah dia duga rencananya itu akan berhasil.


“Sayang sekali, kesempatan kedua itu nggak ada.”


“Ahh…” Michell jadi kesal sendiri. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian itu.


“Kyaaa!” Michell kembali berteriak saat samuel ingin pergi.


Dia menarik nafas dengan dalam. “Michell nggak bakal ngelawan lagi. Michell bakal nurutin perintah kamu. Michell nggak bakal mau kabur lagi.”


“Apapun Michell lakuin, asal Michell ikut.”


Samuel menahan senyumnya. Hahaha! Ternyata semudah ini membuat Michell tunduk. Dia harus berterima kasih pada julio atas sarannya ini.


“Janji?” Tanya samuel.


Michell mengangguk. “Janji!”


“Aku pegang janji kamu, honey.” Setelah mengatakan itu, samuel langsung berjalan keluar dari sana.


“Maaf, untuk yang kali ini Michell nggak bisa tahan. Ini kesempatan dalam hidup yang cuma terjadi satu kali” ucap Michell pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2