Sweet Revenge

Sweet Revenge
Chapter 1 : Prologue


__ADS_3

"Wow, kau benar-benar ahli, gorgeous."


Wanita muda berambut cokelat pendek itu tertawa kecil sambil terus membolak-balikan botol di tangannya; jika saja ia tidak sedang bekerja, ia akan memutar bola matanya tidak tertarik akan godaan murahan pria di depannya ini; ia kan seorang bartender jadi jelas ia ahli, mungkin godaan itu hanya usaha pria tua itu untuk bisa diajak pulang 'bermain-main'.


Mimpi... ah, dalam mimpi pun takkan terjadi.


Lihatlah rambut pria itu yang telah memutih! Tidak malu kah? Menggodanya? Apakah karena merasa memiliki banyak uang maka semua wanita akan bertekuk lutut... ? Takkan terjadi padanya, bobo.


Wanita muda itu pun melanjutkan pekerjaannya, menuangkan isi botol ke dalam gelas yang dipegang pria tua itu, dan di saat itu juga tangan pria itu menyelinap ke dalam rok mini-nya yang dipakainya, memberikan remasan penuh nafsu di bokongnya, ia lantas menegakan lagi tubuhnya, pipinya merona dikarenakan amarah. "Apa yang anda lakukan!?"


Pria tua itu tidak mengindahkan protes justru semakin berani. "Ayolah, kau pasti sering menerimanya, tidak usah malu,"


Wanita muda itu mengepalkan tangannya.


'Tidak ada yang bisa mempermainkan, Gaea!'


Gaea bersiap untuk menampar tangan tersebut namun sudah keburu oleh tangan lain yang menghentikannya, ia menoleh melihat siapa yang menolongnya, dan dadanya berdegub kencang mengetahui penolongnya adalah pria yang dikaguminya.


"Tuan Eryk..."


Eryk tersenyum manis. "Aku rasa kau sudah kelewatan, ada aturan tidak ada yang boleh menyentuh pekerja wanita di sini," katanya ramah, "Mengerti?" tanyanya, bahkan ia memberikan remasan kencang di tangan pria tua itu sebagai tanda peringatan.


"Ugh," pria tua itu merintih kesakitan. "B-baiklah,"


Eryk melepaskan cengkeraman tangannya, seketika itu juga pria mesum tersebut lari pergi keluar klub, mata birunya beradu pandang dengan mata hijau Gaea.


Gaea sebisa mungkin bersikap senormal mungkin; ditatap seperti itu membuat hatinya meleleh, dan jangan lupakan aksi heroik barusan; ia merasa seperti di film romantis. "Terima kasih," katanya malu.


Eryk tidak menjawab, langsung berbalik, berjalan menuju lantai atas sambil menelepon seseorang.


Gaea masih terpana; meskipun ucapannya tak dijawab, tak apa; ia asyik memandang punggung Eryk dalam kekaguman, terbayang-bayang adegan tadi; hari ini pun Eryk masih terlihat tampan, dengan setelan jas hitamnya seperti biasa serta tidak lupa rambut pirang yang disisir ke belakang, menyisakan poni yang di style ke samping.


"Haaah~ Tuan Eryk memang lelaki idamanku,"


Gaea mengangguk dengan polosnya. "Iya,"—tanpa keraguan.


Hening...


"L-Lola!?" seru Gaea tersadar dari fantasi liarnya.


Wanita muda berambut hitam panjang itu tersenyum manis; baru sadar? "Aww... sayang sekali aku tidak membawa ponsel, akan menyenangkan jika direkam~" godanya sambil mengedipkan matanya jahil.


Pipi Gaea merona seketika. "Jangan bercanda!"


"Aku tidak~"


Gaea memutar bola matanya, sambil menahan malu, ia kembali ke tempat barnya; kenapa juga ia berteman akrab dengan Lola? Karena ia sering minta tolong. "Kau kembali bekerja," katanya.


Lola masih asyik menggoda. "Baiklah, Nyonya Enzo,"


"Lola cukup!" seru Gaea marah, meskipun hati kecilnya berbunga-bunga membayangkan dirinya menjadi nyonya Enzo. "Ugh," ia menepuk keningnya, tak habis pikir dengan sahabatnya; otaknya kenapa membayangkan kata-kata Lola juga? "Kau mau membuatku kehilangan pikiranku, hah?"


"Aku tidak," sahut Lola cepat, sedetik kemudian mata birunya berubah jahil lagi. "Tapi Tuan Eryk mungkin mau,"


Kata-kata tersebut sukses membuat otak Gaea berpikir tujuh belas tahun ke atas.


Dasar Lola.


Serius.


Mau sampai kapan Lola terus menggodanya? Inilah sebabnya ia enggan bercerita mengenai perasaannya pada Lola.


Ketika Lola mengetahuinya, dia takkan berhenti menggodanya.


Gaea menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu mabuk hingga tanpa disadari mengutarakan hati kecilnya akan cinta terpendamnya pada Eryk ke Lola sewaktu pesta kecil-kecilan di apartemennya.


"Lola, aku dan Eryk takkan berhasil," kata Gaea serius, membenahi gelas-gelas kosong dan menaruhnya di bak cuci piring di dapur.


Lola tertarik kini, ia duduk di kursi bar. "Dari mana kau tahu Gaea? Kita takkan tahu jika belum mencoba kan?" tanyanya penasaran.


"Lola..." kata Gaea enggan; harus berapa kali ia bilang? Dan juga harus berapa kali kata-katanya sendiri seperti tamparan keras baginya? "Simple. Lihatlah Eryk, terus lihat aku."


"Hm..." Lola bertopang dagu berpikir. "Eryk lelaki dan kau wanita," katanya polos. "Dia punya pen—"


"Hentikan!" potong Gaea kali ini benar-benar malu. "Lola, kembalilah bekerja, tinggalkan aku sendiri," pintanya.


"Tapi—"


"Please?"


Lola mengalah akhirnya, sambil menghela napas, ia berjalan menuju panggung, dan mulai menari lagi.


Gaea juga kembali bekerja, memenuhi pesanan dengan cekatan, dan dalam hatinya ia berterima kasih pada Eryk sebab lelaki yang memesan minuman tidak lagi berbuat macam-macam dengannya.


Eryk memang tak banyak bicara atau tepatnya tidak pernah memerhatikan dirinya, ayolah lihat kenyataan, ia hanyalah bartender biasa sementara Eryk pengusaha yang sukses, jadi mana mungkin pria sematang itu mau melihatnya, lagi pula terkadang Eryk suka membawa wanita ke klub—menghancurkan harapannya.


Gaea hanya bisa mengagumi dari jauh, menyedihkan bukan? Ia tahu, namun hatinya tetap tidak bisa berhenti berdegup kencang untuk bosnya itu.


Masochist? Maybe.


Gaea mengembuskan napasnya sembari meletakan gelas yang baru dibersihkannya ke dalam rak, menatap kosong Lola yang sedang berdansa seksi, yang sesekali memberikan melayangkan kecupan atau kedipan manja saat ada seseorang melemparkan uang ke arahnya.


Haruskah ia tetap seperti ini? Menjadi seorang bartender? Ia sudah tidak sabar untuk segera lulus kuliah dan berkecimpung di dunia penelitian.


Gaea terkadang ingin mencari pekerjaan lain, menjadi bartender memiliki banyak resiko meski keamanannya memang top hingga nama mereka dirahasiakan demi keamanan, hanya saja karena perasaan cintanya pada Eryk membuatnya bertahan.


Gaea tahu tidak ada harapan dengan Eryk tetapi tetap bertahan selama ini.


Bodohnya...


'Mungkin aku harus mencari pekerjaan ba—'


"Aahhh!"


Gaea terkejut mendengar suara teriakan yang diyakini berasal dari Lola, mata hijaunya kembali ke tempat terakhir kali Lola menari dan tidak ada; ada kerumunan di sana, ia keluar dari bar, dan segera berlari menuju panggung, dan terkesikap melihat sahabatnya terduduk sembari memegangi pergelangan kakinya; tanpa berpikir panjang, ia langsung menuntun Lola perlahan ke ruang ganti wanita sebelum situasi semakin ramai. "Apa yang terjadi?" tanyanya.


"Saat aku mau turun, seseorang berusaha memegang bokongku, aku jadi kehilangan keseimbangan, dan terjadilah ini," kata Lola kemudian merintih kesakitan.


Gaea mendudukan tubuh Lola di kursi panjang hitam. "Aku akan mengambilkan es—"


Suara pintu dibuka secara kasar hingga membuat Gaea berhenti bicara untuk menoleh ke arah 'pelaku' yang baru saja membuka pintu dengan kasar itu.


Seorang wanita muda berambut cokelat muda berdiri dengan napas terengah-engah seakan sehabis berlari jauh. "Apa yang terjadi dengan Lola!?" seru wanita muda itu panik.


Lola tertawa patah-patah. "Ha, ha, aku tergelincir, cerobohnya aku,"


"Oh," Gaea tanpa sadar mata hijaunya tertuju pada plastik yang dipegang oleh wanita muda berambut cokelat tersebut. "Ava, kau membawa apa?"


"Oh, ini?" Ava mengangkat plastik yang dibawanya. "Aku membeli minum untuk istirahat kita," katanya riang. "Dan juga dim sum buatanku~"


Gaea menepuk keningnya; ia tahu Ava memang wanita yang baik, terlalu baik malahan tetapi bukan seperti ini. "Klub menyediakan makanan, kau tahu kan?"


"Oh," Ava bergumam kecewa; ia tidak mengetahui karena ini hari pertamanya bekerja; usahanya sia-sia.


"Aku akan mengambilkan es," kata Gaea.


"Sebelum itu," Ava menghentikan langkah Gaea untuk keluar. "Siapa yang akan menari di ruang VIP?"


"Ruang VIP?"


Ava mengangguk. "Aku mendapat perintah dari Ferdinand untuk meminta Lola menari di ruang VIP," jelasnya gugup. "Tetapi Lola..." mata cokelatnya terarah ke kaki Lola lalu meringis; pasti sakit.


Gaea melirik pergelangan kaki sahabatnya yang mulai memerah; melihat tadi Lola merintih kesakitan ketika ke sini sudah jelas sahabatnya itu takkan bisa menari dan jika tidak bisa menari berarti dikeluarkan.


Lola berusaha berdiri, "Aku bis—" kata-katanya terpotong oleh rasa sakit di kakinya sehingga membuatnya duduk lagi di kursi panjang. "Ugh," rintihnya pelan.


"Jangan memaksakan diri, Lola." kata Gaea.


"Iya," Ava menyetujui.


"Tetapi siapa yang akan menari jika bukan aku—?" kata Lola frustasi.


Gaea tidak menjawab.


Memang ada penari lain, hanya saja yang diperintah kan Lola, dan ia tahu betapa perfeksionisnya Eryk akan pekerjaan, jika pria muda itu tahu perintahnya tak dituruti maka siap-siap angkat kaki dari sini.


"Bagaimana denganmu saja Gaea?" Ava memberi ide, yang bisa dikatakan gila.


"Bagaimana apanya?"


"Kau menggantikan Lola," kata Ava polos.


"Tunggu sebentar," kata Gaea. "Kau ingin aku menari menggantikan Lola?" tanyanya tak percaya.


Ava mengangguk dengan kepolosannya.


"Kau gila ya!?" seru Gaea. "Ferdinand akan langsung tahu kalau itu aku!"


Ava menggelengkan kepala. "Tidak jika kau memakai wig."


"Wig!?"


"Aku pikir itu ide yang bagus," Lola menyetujui ide Ava, memang terdengar gila namun mereka tidak ada pilihan lain, "Tolonglah aku kali ini, Ge," pintanya memelas.


Gaea tidak bergeming. "Kenapa harus aku? Kenapa tidak kau saja Ava?" tanyanya, itu kan bukan idenya, untuk apa ia mengambil resiko sebesar itu?


"Aku mau tetapi aku kan baru hari ini masuk jadi tidak bisa karena mau mengurus ID Card-ku," sahut Ava.


Ava ada benarnya, dan lagi ialah yang paling mendekati tubuh Lola dari segala hal, hanya ada satu hal yang beda. "Tapi dadaku..." katanya merona merah; satu hal berbeda yang selalu membuatnya cemburu yaitu dada Lola yang lebih besar.


"Kau tahu kan kekuatan busa," kata Lola ambil memutar bola matanya. "Lagi pula, dadamu kan tak jauh berbeda denganku,"—kenapa menjadi permasalahan? Apakah Gaea menganggap itu sebagai saingan? Bahkan soal tubuh sekalipun? Konyol. "Gaea, kau paling cocok, dan kau tahu resikonya jika membuat pelanggan menunggu lama, kan?"


Gaea terkesikap; tentu ia mengetahuinya namun menari seksi dihadapan pria asing tetap membuatnya malu. "Aku tidak bisa menari!"


"Bullshit," kata Lola memutar bola matanya. "Kalau kau tidak mau katakan saja," katanya, "Selamat tinggal pekerjaanku..." katanya sedih, dan mulai terisak kecil.


Gaea menepuk keningnya.


Mulai lagi Lola dengan sisi sensitifnya atau bisa dibilang terlalu mendramatisir sesuatu.


Serius.


Kenapa Lola pandai sekali berakting hingga ia sulit membedakan mana yang asli dan yang palsu? Dan membuatnya merasa bersalah sekali.


Gaea menepuk keningnya, "Baiklah," katanya mengalah.


"Kau memang sahabat terbaik," kata Lola dengan senyum semanis mungkin. "I love you so much,"


Gaea mulai jijik; dan jangan lupakan Lola seorang yang pintar membual. Ia memutar bola matanya. "Berikan aku wig-mu,"


Senyum Lola semakin melebar, ia menyodorkan kunci kecil perak pada Ava. "Bisa tolong ambilkan Ava~?"


Ava mengangguk, dan membuka loker Lola.


Gaea memutar bola matanya lagi; terkadang ia berpikir apakah Lola terlalu pintar memanipulasi orang-orang untuk menuruti kata-katanya.


"Ini,"


"Thanks," Gaea menerimanya dengan senang hati.


Gaea sedikit syok melihat Lola sampai membawa hair net segala ke klub. "Kau merencanakan ini ya?" tanyanya terheran-heran.


"Mana mungkin," kata Lola jengkel; buat apa merencanakan ini? Sampai ia harus jatuh hanya ingin melihat Gaea berpenampilan seperti dirinya? "Cepat sini!"


"Ugh," Gaea menggerutu namun menurut, duduk di samping sahabatnya membiarkan Lola mengerjakan 'magic' pada rambut pendek cokelatnya.


"Hm~hm~hm~" Lola bersenandung sambil memakaikan hair net di kepala Gaea; memang benar kata orang, ada hikmah dibalik setiap musibah. Setelah pasti terpasang sempurna, ke langkah selanjutnya memasang wig dan memakai penjepit di setiap sisinya. "Selesai! Memang kencang tetapi jangan sampai kau mengibas-ngibaskan rambutmu, oke?"


Gaea memutar bola matanya. "Kenapa juga aku harus melakukannya?"—dan kemana juga rintihan sakit itu!?


Lola menyingkirkan helaian rambut hitamnya penuh percaya diri ke balik telinganya. "Kali saja kau akan menyukai pelanggan ini, Ge."


Oke, itu mulai kelewatan. "Mana mungkin!" sanggah Gaea, ia kan mencintai lelaki lain meskipun hanya bertepuk sebelah tangan.


Lola memutar bola matanya. "Ayolah, seperti kata pepatah, masih banyak ikan di lautan! Kau tidak bisa berpaku hanya pada Eryk," katanya. "Meski kuakui Eryk memang 'daddy material', tetap saja perasaan dia padamu berbeda."


Gaea tidak bisa membantahnya; bagaimana bisa? Itulah faktanya; ia tidak menghiraukan, memilih membuka bajunya, menyisakan pakaian dalamnya, ia merasa tidak nyaman, seakan dirinya telanjang.


"Ge, jangan menutup dirimu, ya?" kata Lola lembut; terkadang ia cemas akan Gaea yang terlalu cinta pada Eryk hingga menolak lelaki lain selama ini, meski Gaea selalu beralasan jika para lelaki itu bukan tipenya, tetap saja.


"Aku mencoba," Gaea menyahut setengah hati, memakai jaket panjang untuk menutupi tubuhnya.


"Aku serius!"


Gaea memilih tidak menghiraukan ucapan sahabatnya lagi, berjalan keluar menuju lantai atas sambil memakai topeng matanya; mata hijaunya mulai mencari sosok Ferdinand, lantai atas jauh lebih luas dari lantai bawah, ada kasino khusus orang-orang kaya atau yang memiliki bisnis dengan Eryk selalu di sini, dan ada bar lebih besar juga, membuat ia berharap bisa bekerja di sana namun ia masih belum lama di sini, hanya yang berpengalaman yang bekerja di lantai atas sementara ia masih amatir.


Gaea melirik ke dalam kasino, iseng mencari Ferdinand mungkin berada di sana; bibirnya tidak bisa berhenti berdecak kagum melihat begitu banyak uang di meja kartu, para pelayan di sini pun jauh lebih seksi, jika di lantai bawah hanya mengenakan rok mini, di sini hanya mengenakan kostum 'sexy bunny' dan tak lupa stocking hitam serta dasi kupu-kupu yang memberikan kesan nakal.


Mata hijau Gaea mengerjap; apa yang dilakukannya? Tidak seharusnya ia di sini! Kembali ke tujuan utama lagi yaitu mencari Ferdinand, yang ternyata nihil, ia memutar bola matanya; tentu saja takkan ada.


Langkah kakinya kembali bergerak, menyisir ruangan VIP, Gaea baru ingat betapa besarnya lantai atas, ia hampir jarang kemari, bekerja menjadi bartender tidak membuatnya sebebas Lola atau Ava padahal Eryk sering ke atas.


Mungkin ini memang sinyal mereka berdua tidak dapat bersama...


Gaea menggelengkan kepalanya kuat-kuat; bukan saatnya merasa kasihan akan kehidupan cintanya, ia harus mencari Ferdinand! "Ah!" mata hijaunya tidak sengaja menangkap rambut bermodel 'berdiri' di ujung tangga menuju atap gedung. Ia segera berlari kecil ke tempat Ferdinand berada sebelum pria muda itu hilang dari pandangan matanya.


Tunggu sebentar! Ia memang sudah berdandan seperti Lola tetapi kan suara mereka tidak sama!


Apa yang harus dilakukannya!?


Sebelum Gaea sempat memecahkan masalahnya, Ferdinand menyadari keberadaan dirinya, dan melangkah mendekati.

__ADS_1


Gaea sendiri seketika membatu, otaknya kini blank, berpikir bagaimana caranya untuk mengobrol dengan Ferdinand; jika saja ia memiliki dasi kupu-kupu yang bisa mengubah suara di manga detektif yang dibacanya.


"Lola? Kau baik-baik saja?" Ferdinand menaikan alisnya heran. "Kau masih di sini? Cepat ke ruangan VIP tujuh, Tuan Eryk sudah menunggumu,"


Gaea tersadar dari syoknya; syukurlah Ferdinand memberitahu nomor ruangan yang harus ditujunya tanpa ia harus berbicara. Tanpa basa-basi, ia mengangguk dan berjalan riang menuju ruangan tujuh.


Bagaimana ia tidak bahagia?


Ferdinand bilang Eryk menunggunya di sana~


Menunggunya berdansa seksi~


Seksi—eh?


Gaea akhirnya tersadar, langkahnya terhenti.


Eryk menunggunya—? Maksudnya apa dengan ucapan Ferdinand? Apakah Eryk yang meminta dansa khusus bukanlah rekan bisnis seperti biasa?


Gaea mulai dilanda cemburu; ia mulai bertanya-tanya apakah Lola pernah melakukan dansa seksi pada Eryk tanpa sepengetahuannya; jika itu Lola mungkin takkan berani cerita untuk menjaga perasaannya.


"Rose?" tanya salah seorang bertubuh kekar.


Gaea mengembuskan napasnya; hanya ada satu jawaban. "Y-ya,"


"Silahkan masuk," kata pria bertubuh kekar itu sambil membukakan pintu perlahan.


Gaea ragu sejenak, sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam, lalu menutup pintunya dengan halus.


Hening...


Gaea tahu pada momen ia menginjakan kakinya ke ruangan, seluruh mata orang yang berada di dalam tertuju padanya, namun ia belum bisa memberanikan dirinya menatap, takut kecurigaannya benar jika ada sepasang mata biru yang menatapnya.


"Mau berapa lama kau berdiam berdiri di situ?"


Gaea terhenyak dari lamunannya, dan melanjutkan lagi langkahnya dengan perasaan campur aduk.


Tadi itu suara Eryk, yang memastikan memang benar dugaannya, Gaea menjadi bimbang; sudah berapa lama Lola merahasiakan ini dari dirinya? Ia yakin panggilan ini bukan pertama kalinya; hatinya mulai terbakar api cemburu; di saat ia putus asa akan cintanya pada Eryk, di belakangnya sahabatnya memberikan tarian seksi pada pria muda itu? Ia akan membicarakan soal ini pada Lola setelah pekerjaan mereka selesai.


Gaea berhenti tepat di depan Eryk yang memandangnya—tepatnya tubuhnya secara intens yang membuatnya merasa tidak nyaman; ia berharap pria muda itu tidak menyadari bila ia bukanlah Lola.


"Buka." perintah Eryk datar.


Gaea yang masih belum nyaman, menuruti perintah; meskipun ia memakai pakaian dalam di depan Eryk tetap tak mengubah hatinya; di sampingnya ada orang lain, yang mungkin rekan bisnis Eryk—tunggu, Gaea mengenal pria berambut hitam itu, seingatnya adalah Rainer, teman Eryk.


Rainer jarang ke klub hingga ia hampir tidak mengenalinya; tubuhnya pun terlihat lebih ramping dari terakhir kali kemari, mungkin terlalu sibuk bekerja—? Ia ingat Rainer juga rekan kerja Eryk.


Rasanya aneh berdiri di antara kedua pria muda itu, penampilan mereka begitu bertolak belakang, style Rainer jauh lebih simple mengenakan sweater biru tua dilapisi jaket hitam dari pada Eryk yang elegan mengenakan jas.


Fisik mereka juga berbeda, seingatnya Rainer keturunan Jepang sementara Eryk lebih ke Amerika; keduanya tampan di arah yang berbeda.


Jika ini sebuah drama romantis mungkin para penonton wanita akan iri padanya.


Tunggu, kenapa ia memikirkan itu? Style Eryk begitu karena tuntutan pekerjaan, berbeda dengan Rainer yang lebih santai... mungkin?


Eryk bertopang dagu di bahu sofa. "Tunjukan keahlian yang terbaikmu pada dia, Rose."


Gaea mengembuskan napas lega—di luar dugaan Eryk tidak menyadari penyamarannya; ia harusnya senang kan? Ia pun mendekati pria berambut hitam tersebut dan mulai berdansa; meski kecewa, ia tidak menyangkal sedikit merasa nyaman Eryk berada di sini sebab ia yakin pria muda itu akan melindunginya dari tangan kotor para lelaki di sini, meski ia tak yakin Rainer akan berbuat yang macam-macam dengannya.


"Sesuai kesepakatan, kau berikan aku informasi terlebih dahulu, Rainer," Eryk mulai membuka pembicaraan.


Informasi?


Gaea merasa tertarik; informasi sepenting apa hingga harus dibayar? Apakah Eryk melakukan kejahatan!? Ia memang pernah mendengar gosip-gosip murahan kalau bosnya terlibat penyelundupan barang ilegal atau lainnya namun buktinya kurang kuat.


"Mana imbalanku?" tanya Rainer tenang.


Alis mata Eryk menyatu, jengkel. "Alex,"


Pria muda berambut cokelat yang sejak tadi diam di samping Eryk, mengeluarkan sebuah koper hitam, meletakan di meja dan membukanya, memperlihatkan uang lembaran dollar di dalamnya.


Mata hijau Gaea melebar; informasi sepenting apa hingga membutuhkan uang sebanyak itu? Ia yakin nilainya mencapai jutaan dollar.


Mata hitam Rainer melirik sesaat ke dalam koper tersebut, sebelum kembali lagi ke Eryk. "Itu bukan imbalan yang aku inginkan."


"Lalu apa?" tanya Eryk, terdengar mengejek.


Rainer menutup mata hitamnya. "Kau tahu itu,"


"Jangan seperti anak kecil," sahut Eryk datar. "Kau tidak bisa terus-terusan melihat masa lalu, 'kawan'."


Hening...


Gaea menghentikan tariannya, merasa suasana semakin menegang; ia tidak tahu hubungan Eryk dan Rainer, apa yang membuat masa lalu lebih berarti dari uang?


"Semua orang bisa berubah, aku tahu," kata Rainer tenang. "Tetapi jika berubah menjadi lebih buruk, bukankah sebagai 'kawan' perlu mengingatkan mereka untuk menoleh ke belakang betapa baiknya mereka dulu?"


"Katakan. Informasi. Yang. Kau. Dapatkan. Rainer." perintah Eryk, menekankan setiap kata-katanya; ia tidak ada waktu untuk berbicara tidak penting.


Rainer mengembuskan napas kecil; usahanya gagal lagi namun ia tetap takkan menyerah. "Aku sudah mencari informasi sesuai perintahmu, dan sesuai dugaanmu, dia kemungkinan datang di acara lelang minggu depan,"


"Kemungkinan?" Eryk terdengar tidak puas. "Aku membayar bukan untuk kemungkinan, 'kawan',"


Gaea terkejut; untuk pertama kalinya ia melihat Eryk emosi, dan segera mencatatnya di kepalanya untuk jangan pernah membuat pria muda itu emosi; Rainer juga terlihat tenang sekali, mungkin ini bukan pertama kalinya mengingat mereka berteman.


"Aku akan memberitahu lagi jika dia berubah pikiran," kata Rainer. "Meng-hack data tanpa meninggalkan jejak tidak semudah yang kau kira Eryk."


Gaea tersanjung; meng-hack? Ia tahu betapa sulitnya itu, ia pernah mempelajarinya sekali, dan memerlukan waktu yang lama untuk mengerti.


Rainer pasti pria yang jenius, dan kenapa orang sejenius dia masih bekerja pada Eryk? Mungkin untuk keamanan data perusahaan? Mengingat Eryk pebisnis yang tengah naik daun, pasti banyak yang ingin menjatuhkan Eryk.


"Aku harusnya tahu ini hanya sia-sia," kata Eryk. "Sistem mereka terlalu ketat, aku kesulitan melacak karena 'dia' sering juga berpindah-pindah," lanjutnya. "Aku mulai bosan bermain tikus dan kucing."


"Dia memang yang terbaik, kan?" kata Rainer dengan tenangnya seakan itu hal yang biasa. "Kau yakin mau terus berurusan dengan dia?"


"Setelah dia berani menyentuh keluargaku, kurasa itu sesuatu yang wajar,"


Gaea syok; keluargaku—? Eryk memiliki keluarga!? Seingatnya bosnya itu yatim piatu, atau Eryk sudah menikah? Tidak, ia tidak bisa berspekulasi ke sana dulu, mungkin Eryk memiliki saudara yang tidak diketahui olehnya; pria muda itu kan begitu menjaga privasinya apalagi memiliki keluarga pasti akan menjari skandal yang besar hingga ia mengetahuinya, kan?


Gaea merasa ragu.


Bagaimana jika Eryk menikah diam-diam?


Membayangkannya saja membuat hatinya sakit.


"Jika itu maumu," kata Rainer acuh tak acuh, mata hitamnya kembali fokus ke tubuh Gaea lalu beranjak ke atas, dan melebarkan matanya melihat sesuatu yang janggal sebelum kembali tenang seperti biasa. "Permisi, aku mau menikmati ini dulu."—ia ingin memastikan sesuatu.


Gaea berusaha dengan sebaik mungkin untuk tidak merasa jijik; inilah kenapa ia tidak mau menjadi penari, ia tidak tahan akan pikiran dan ucapan kotor para lelaki yang menyewanya, sampai sekarang ia tidak mengerti kenapa Lola mau melakukannya. "Hey!" ia menghentikan tariannya ketika merasakan tangan Rainer menyentuh punggungnya.


"Ayolah, ini sesuatu yang wajar bagimu, kan?" tanya Rainer dengan senyum manisnya; dugaannya benar.


Gaea naik pitam: beraninya mengatakan itu, dan lagi kenapa tiba-tiba Rainer merasa tertarik padanya? Tadi kan Rainer sama sekali tidak memandangnya, tertarik pun tidak! Kenapa berubah begini? "Aku memang penari, tetapi aku bukan wanita murahan!"


Apapun itu Gaea kecewa.


"Kau? Haha..." Rainer merasa kata-kata Gaea adalah hal yang terlucu yang pernah didengarnya. "Gurauanmu bagus juga, Rose." lanjutnya menahan tawanya. "Dan kenapa juga denganmu, hm~? Aku menyentuhmu seperti itu kan sudah biasa."


Biasa? Jadi ini bukanlah pertama kalinya bagi Lola?


Rainer bangkit berdiri, berjalan mendekati Gaea. "Ada apa dengan tarianmu juga, kau seperti amatiran."


Gaea melangkah mundur; karena percakapan mereka begitu mengasyikan, menyita perhatiannya, tariannya jadi terkesan amatiran... tidak, menari seksi bukanlah keahliannya.


"Kau menari amatiran untuk memancingku?" tanya Rainer, mata hitamnya mengerling mengejek. "Wow, begitu kau menginginkan sentuhanku, Rose~?"


"Tidak," Gara mulai jijik sekarang, mengambil jarak lagi, jika ada seseorang yang mau diajaknya pastilah Eryk. "Ugh," ia melangkah mundur lagi, hingga kaki kanannya menyentuh sesuatu.


Rainer tertawa kecil; begitu menyenangkan menggoda Gaea.


"Ahhh..." Gaea sedikit terpana akan tawa lepas Rainer yang begitu manis? Sehingga ia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke belakang, "Uh—?" kenapa bokongnya tidak merasakan sakit? Ia menoleh, wajahnya merona hebat mendapati ia ternyata duduk di pangkuan Eryk. "Maaf!"


Eryk sendiri merasa jengkel, jika saja itu bukan Lola, sudah pasti ia memberikan kata-kata 'manis'; tubuh wanita muda itu sedikit berat; tidak mau berlama-lama, ia segera menyingkirkan tubuh Gaea dari atasnya namun mata birunya tanpa sadar mendapati sesuatu yang menarik. "Huh?"—matanya tidak sedang berhalusinasi kan? Penasaran, ia menyentuh punggung Gaea pelan.


Gaea sendiri menahan napasnya, berusaha untuk tidak mendesah; ia tahu ini salah namun yang menyentuhnya adalah bosnya Eryk—pria yang disukainya—ia tidak bisa berbuat apa-apa. "Eep—!" ia terkesikap ketika merasakan tangan Eryk mengangkat rambut hitamnya cuma sesaat sebelum mengembalikannya ke semula.


"Berdiri," kata Eryk dingin.


"Um—?" gumam Gaea masih belum sepenuhnya sadar jika Eryk marah.


"Aku bilang berdiri, 'Orchid'!"


Mata hijau Gaea terbuka sepenuhnya, dengan cepat berdiri.


Tidak salah dengarkah ia barusan?


Eryk memanggilnya Orchid bukan Rose—?


Eryk memerhatikan sekali lagi Gaea tepatnya tubuh wanita muda itu dari atas hingga bawah sebelum akhirnya ikut berdiri, ekspresi wajahnya kini marah. "Aku ingin kalian berdua keluar, ada yang ingin aku bicarakan dengan Orchid." perintahnya dingin, menekankan kata Orchid—sedikit emosi.


Gaea terkesikap; Eryk ternyata tahu penyamarannya dan murka; apa yang harus dilakukannya? Ini salah Lola.


Alex menurut tanpa berkata apa-apa, berbeda dengan Rainer yang memerhatikan Gaea sejenak, bersimpati, sebelum kemudian berjalan keluar.


Gaea sedikit terkejut saat tangan Rainer menepuk bahunya ketika melewatinya—seakan memberikan semangat ataukah ia terlalu berpikir jauh, apa pun artinya ia sedikit berhibur.


Setelah suara pintu tertutup menandakan Rainer telah pergi, ruangan begitu hening, Gaea tidak berani menatap Eryk sebab ia yakin pria muda itu marah sekali.


"Kau ingin menjadi penari?" Eryk membuka percakapan datar.


"Tidak,"


"Lalu beri aku alasan kenapa kau menyamar sebagai Rose?" tanya Eryk se-profesional mungkin.


Bagaimana ia harus menjelaskannya? Ia ingin tetapi tatapan mata biru Eryk yang terlalu mengintimidasi itu membuat bibirnya tertutup rapat.


Eryk mengembuskan napas kecil; bagus, satu lagi karyawan yang tidak bisa membela diri sendiri dan parahnya itu Gaea di antara semua karyawan wanitanya. "Sudahlah, aku takkan menerimanya juga," katanya. "Kau tahu resikonya kan? Untunglah Rainer tak menyadarinya. Jika saja dia protes soalmu..."


"Aku tidak punya pilihan!" seru Gaea tidak terima. "Kaki Rose terkilir jadi dia memintaku menggantikannya!"


"Tentu saja..." kata Eryk, lebih ke arah meremehkan; kenapa tidak? Semua orang selalu memakai alasan menyedihkan termasuk Gaea.


Gaea tidak menyangka ini, ia ikut kesal. "Apa kau pernah mendengar 'persahabatan'?" tanyanya jijik; memang ucapannya kelewatan tapi ia tidak peduli sebab ia yakin akan dikeluarkan.


Pertemanan yang ditunjukan Eryk pada Rainer tadi terlihat bukanlah sesuatu yang dekat, bisa dinilai dari Eryk yang merendahkan Rainer dengan sarkas-sarkas 'manisnya'.


"Aku tidak percaya sahabat, atau hal sampah lainnya," kata Eryk dingin.


Tangan Gaea terkepal, menahan untuk tidak memukul wajah tampan bosnya; untuk pertama kalinya ia melihat sisi buruk Eryk, ia memang pernah mendengar gosip bahwa bosnya memiliki lidah tajam karena pikiran logis namun ia tidak menyangka akan seburuk ini, ia berpikir mungkin Eryk bersikap lebih lembut terhadap wanita mengingat pria muda itu suka membawa wanita ke klub ternyata sama saja, sekarang masuk akal Eryk sering bergonta-ganti wanita karena mungkin saja mereka tidak tahan dengan ucapan 'logic' pria muda tersebut.


Suara nada dering, memecah ketegangan mereka berdua.


Eryk mengambil ponsel di sakunya, melihat siapa yang meneleponnya, wajahnya yang semula marah berubah sedikit ceria mengetahui nama 'Katherine' yang tertera di ponselnya. "Aku harus mengangkatnya, kau tetap di sini, aku akan segera kembali." katanya tanpa memandang, lalu pergi keluar.


Gaea memutar bola matanya.


Eryk bahkan tidak menunggu jawaban darinya; bicara soal mengontrol orang lain; apa yang harus dilakukannya selama bosnya itu pergi?


Gaea memandang sekelilingnya, sekarang si Eryk pergi membuatnya bisa lebih memperhatikan ruangan ini; ruangan ini lebih luas dari terakhir kali ia kemari, apa mungkin ruangan ini bukan kamar VIP melainkan ruang kerja Eryk? Ia melihat ada meja yang berisikan buku serta dokumen—? Di sana bahkan ada laptop serta satu bingkai foto. "Hm..." ia penasaran siapa yang ada di foto itu, mata hijaunya melirik ke belakang memastikan lagi jika Eryk benar-benar pergi, setelah di rasa aman, baru ia melangkah menuju meja itu, melirik isi foto tersebut; ada seorang pria paruh baya berambut hitam merangkul pemuda berambut pirang tak lupa cengiran lebar yang mengindikasikan bahwa mereka dekat.


Gaea mengenal pria paruh baya itu, Xander, lelaki yang mengadopsi Eryk.


Jika dipikir-pikir, Eryk sama sekali tidak memiliki latar belakang yang pasti, hanya lelaki yang diadopsi oleh keluarga yang kaya, Enzo memiliki perusahaan di bidang periklanan, ia tidak mengerti kenapa Eryk menolak meneruskan usaha itu, mungkin karena status adopsi? Ia tidak tahu.


Mata hijau Gaea kini terpaku pada laptop yang terbuka; tidak, tidak seharusnya ia menyentuh barang yang bukan miliknya kan? Perkataan dingin Eryk kembali melintas di kepalanya; siapa yang peduli? Pada level ini ia yakin akan dikeluarkan, kenapa harus cemas? Ia pun menekan tombol 'power' dan mendengus kecewa mengetahui ada kode keamanannya.


'Mungkin kodenya 'aku terhebat' atau semacamnya, atau mungkin 'brengsek',' Gaea mengumpat dalam hatinya.


Gaea bisa meng-hack tetapi ia tidak membawa apa pun, "Huh?" mata hijaunya melihat sesuatu yang tidak wajar di layar laptop tersebut. "Simbol ini—" ia berhenti berucap setelah melihat di sekitarnya secara tiba-tiba ada asap. "Huh—!?" dari mana asap ini berasal? Dan lagi kenapa tubuhnya terasa berat serta mengantuk? Ia kan sudah tidur dengan cukup tadi siang?


Gaea tidak dapat mengontrol tubuhnya dan terjatuh, di tengah kesadarannya yang mulai menghilang, ia melihat sepasang kaki jenjang sebelum akhirnya pingsan.


"Lihat ini, kau benar-benar tidak beruntung, Rose."


 


.#.#.#.#.#.


 


"Ba... ng... un..."


Huh?


"Bang... un..."


'Aku bermimpi—?'


"Bangun, woy!"


Mata hijau Gaea terbuka seketika itu juga, "Uh..." erangnya lemah. "Apa yang terjadi—?"


"Kau tertidur nyenyak sekali," sahut Eryk. "Puas?"


"Ah!" Gaea seketika bangun detik itu juga, mata hijaunya menyapu ruangan; tidak ada siapa-siapa, tidak ada asap juga—? Hanya Eryk yang memandangnya heran; apa ia bermimpi? Namun itu terlalu nyata untuk sekedar mimpi saja. "Ah, ya! Laptopmu!"


"Ada apa dengan laptopku?"


"Laptopmu di hack!" seru Sakura panik.


Mata biru Eryk melebar sesaat sebelum kembali normal. "Kau terlalu banyak tidur,"


"Aku tidak bohong," kata Gaea meyakinkan.

__ADS_1


Eryk berpikir sesaat. "Cukup. Sekarang kau pulanglah,"


"Huh!?" kenapa Eryk begitu tenang, dan lagi, pulang? Ia harus bekerja lagi kan?


"Ini sudah pagi," kata Eryk seolah tahu apa yang dipikirkan Gaea.


"Apa!?" seru Gaea syok; pagi? Ia tertidur selama itu? Dan jika diperhatikan ruangan ini bukan seperti ruang VIP di klub lebih mirip kamar tidur—? Mungkinkah kamar tidur Eryk—?


Eryk mengembuskan napasnya. "Haruskah kau berteriak sepagi ini?" tanyanya sedikit kesal; sudah tidur di kamarnya, mengambil semua bagian ranjangnya hingga membuatnya tidur di sofa, beginikah Gaea membalas kebaikannya?


"Maaf,"


Setidaknya, Gaea mengerti posisinya, atau karena efek baru bangun tidur dari tidur indah; Eryk pun memaklumi. "Pulanglah, Alex akan mengantarmu."


Mengantar? Sekarang Eryk bersikap baik padanya? Apa yang terjadi? Ia mulai bertanya-tanya akan sikap dingin pria muda itu semalam nyata atau mimpi juga.


Gaea menepuk keningnya. "Baiklah," tanpa perlawanan, ia berjalan keluar.


"Oh, sebelum itu," Eryk teringat sesuatu.


Gaea berhenti, sebelum ia sempat berkata Eryk sudah berada di depannya, mata biru Eryk yang memancarkan aura intimidasi membuatnya refleks melangkah mundur—hingga punggungnya menyentuh tembok abu-abu tua di belakangnya.


Eryk sedikit menarik sudut bibirnya; ia suka melihat ekspresi Gaea saat ini, memancarkan ketakutan—sepertinya keberanian wanita muda itu tadi malam sudah hilang; ia menambahkan dengan meletakan kedua tangan di sisi kepala Gaea. "Dengarkan aku Orchid, lupakan apa yang kau dengar tadi malam."


Mata Gaea sedikit melebar; tadi malam—? Jadi memang bukan mimpi?


"Jika kau mengatakannya pada orang yang kau anggap sahabat..." Eryk menghentikan kata-katanya, jemari telunjuk serta tengah menjepit helaian rambut cokelat Gaea. "Bersiaplah kau tidak bisa bertemu dengan mereka lagi, paham?"


Otak Gaea masih blank, mencerna kata demi kata.


"Dan lain kali, tutupi tato bunga anggrekmu sebelum menyamar."


Tidak menceritakan pada siapa-siapa atau ia tidak bisa bertemu dengan temannya lagi—?


Tidak bisa bertemu—


Gaea akhirnya mengerti dan darahnya mendidih seketika; dengan kekuatan yang ada, ia menendang area pribadi Eryk keras, benar-benar keras hingga membuat pria muda itu terjatuh ke lantai sambil memegangi kebanggaannya.


Gaea melipat tangannya di dadanya, tidak menyesal sama sekali melihat bosnya yang merintih kesakitan. "Tidak ada yang bisa memerintahku selain aku sendiri. Ingat itu, Enzo."


"Wha—!" beraninya wanita muda itu padanya, namun sebelum sempat berkata yang lain, Gaea sudah pergi.


Eryk berusaha bangun, sambil merintih, ia duduk di ranjangnya lalu mengerang lagi.


Pukulan Gaea masih kuat seperti saat terakhir kali ia merasakannya...


Damn it.


 


.#.#.#.#.#.


 


Gaea menyandarkan kepalanya di lokernya.


Ia sudah tertidur hingga pagi tetapi kenapa tubuhnya terasa berat? Apakah karena obat bius semalam?


Gaea mengembuskan napas.


Itu kan cuma mimpi, bukan kenyataan, setidaknya itulah yang dikatakan Eryk.


Gaea sendiri yakin kejadian yang dialaminya bukanlah mimpi, ia bahkan melihat sepasang kaki! Ia yakin kaki itu yang memberinya obat bius, dari kelihatannya, pemilik kaki tersebut seorang wanita, bisa dilihat kakinya yang mulus dan mungil, dan juga dari warna cat kukunya yang berwarna biru tua; tentu ada lelaki yang memakai cat, namun ia tetap yakin itu wanita.


Gaea penasaran kenapa wanita misterius itu harus membiusnya, mungkin ada hubungannya dengan Eryk? Ruangan VIP nomor tujuh kan khusus untuk tamu pria muda itu, dan jangan lupakan dengan percakapan soal menyewa hacker untuk membobol rahasia data orang lain.


Mungkin ia hanya mengenal Eryk sedikit, masih banyak yang belum diketahuinya.


Gaea menepuk keningnya.


Memikirkan Eryk takkan ada habisnya, hanya membuat kepalanya pusing, lagi pula ia sudah memperingatkan pada bosnya jadi terserah mau percaya atau tidak.


Gaea melepas jaketnya, di saat itulah ada sesuatu yang jatuh ke lantai, mengeluarkan bunyi yang keras di ruang ganti yang sunyi ini, "Huh?" suara apa itu tadi? Matanya mencari ke lantai, benda apa yang jatuh barusan, dan ia menemukannya akhirnya setelah ia berjongkok di lantai untuk melihat di bawah bangku panjang yang diduduki oleh Lola, ia pun mengambilnya, dan takjub mengetahui itu adalah sebuah cincin dengan berlian berwarna pink cerah.


Gaea bertanya-tanya apakah cincin tersebut milik Lola, namun berlian yang begitu besar membuatnya sedikit ragu. "Hm... ?" mungkin ia perlu mengetesnya?


Gaea meniupkan udara ke bagian berlian pink tersebut dan terkejut ternyata tidak berembun, ternyata memang berlian asli, ia membatu syok.


Berlian sebesar ini, dari mana Lola mendapatkannya? Apakah dari profesinya sebagai penari seksi? Gaea memang suka mendengar Lola membanggakan diri ketika mendapatkan banyak uang.


Mungkin Lola itu memang mengumpulkan uang untuk membeli cincin pink ini.


Apa pun itu, Gaea tidak mau mengambil resiko, ia mengeluarkan sapu tangan di loker miliknya dan membungkus cincin itu dengan sapu tangan tadi, ia tahu ini cara yang salah; namun ia tidak memiliki pilihan, dan Alex pasti marah sudah menunggunya terlalu lama.


Segera, Gaea meletakan cincin yang berbalut tisu itu ke dalam tasnya, dan segera mengganti bajunya...


 


.#.#.#.#.#.


 


"Kau tahu, untuk seseorang yang mengaku pernah jatuh cinta padanya, kau cukup menyebalkan."


Eryk memutar bola matanya bosan, ia memilih mengacuhkannya, dan membuka topik lain. "Aku ada permintaan, aku ingin Rainer memeriksa keamanan di ruang kerjaku di klub,"


"Kenapa?" tanya Alex terheran-heran; ia juga lelah tadi harus balik ke klub dulu karena Gaea mau mengambil barang-barangnya.


"Normalnya, aku tidak peduli," kata Eryk; mengingat Gaea begitu keras kepala hingga berani melawannya, ia pikir tidaklah buruk menerima pendapat wanita muda itu. "Aku ingin tahu apa ada sesuatu yang aneh, Alex."


"Ok," sahut Alex singkat.


"Gaea aman?" tanya Eryk.


"Ya, aku mengantar hingga pintu apartemen dia," sahut Alex. "Sampai Gaea kesal denganku," lanjutnya jengkel mengingat betapa berisiknya wanita muda itu.


"Kau tidak melihat hal aneh?" Eryk masih belum puas.


"Tidak," kata Alex, lalu wajahnya berubah jahil. "Kau sudah memenuhi janjimu, kenapa masih berusaha melindungi dia? Kau masih suka sama dia?"


Mendengar kata 'suka' membuat Eryk sedikit tersinggung walaupun sebentar ia tenang kembali. "Apa kau pernah dengar peraturan keamaan di perusahaanku?" tanyanya balik. "Oh iya, aku lupa kau kan terlalu sibuk merayu pengunjung wanita agar mau memenuhi hasratmu."


Kini giliran Alex yang kesal; Eryk tidak salah, hanya saja cara bicara teman semasa kecilnya itu begitu menyebalkan. "Terkadang, aku bingung kenapa wanita begitu tergila-gila padamu."


Eryk memutar bola matanya; jangan percakapan ini lagi. "Apa kau masih belum puas? Lebih baik simpan omong kosongmu dan kerjakan yang aku suruh, baru aku akan mendengar keluhanmu itu."


Eryk tidak dalam mood baik, mungkin ia mendorong percakapan terlalu jauh? Mereka berbicara soal masa lalu yang Eryk benci lagi pula; Alex pun menurut. "Ya," sahutnya, barulah pergi keluar.


Eryk mengambil napas dalam, mengambil kopi di meja kerjanya, dan berjalan menuju jendela besar kamarnya, memandang kosong di sana.


Melihat pepohonan serta suara burung berkicau di halaman belakang rumahnya tidak membuatnya tenang, Eryk juga tidak mengerti. Ia merasakan ada yang salah, namun tidak tahu apa, membuatnya sedikit frustasi.


Apakah rasa frustasi ini karena malam ini akan ada acara lelang? Karena ini pertama kalinya ia menjadi pendonor lelang? Ia takut semua tak berjalan sesuai dengan rencananya?


Apa pun itu sudah terlambat, tidak ada kata mundur.


Eryk juga tidak bisa menunggu lebih lama lagi, sudah cukup ia bersabar, Rainer masih terus bersikap seperti ini, jadi ia memutuskan bertindak sendiri.


Tuhan tahu betapa berbahayanya, Kervyn.


Eryk menghirup aroma kopinya, menenangkan diri teringat akan 'sahabatnya', kemudian meminumnya; tidak ada yang lebih enak dibanding meminum satu cangkir kopi, "Hm," gumamnya.


Jika saja Katherine ada di sampingnya, akan jauh lebih sempurna, kenapa juga wanita muda itu menolak dijemput olehnya? Lebih memilih berjalan kaki kemari.


Wanita memang misterius dan rumit.


Mata birunya tertuju pada kopi di tangannya, kemudian tersenyum kecil.


Setidaknya tidak dengan kopi...


Suara nada dering menghentikan aktifitasnya.


Eryk meletakan kembali cangkir kopinya, dan mengecek ponselnya. "Oh..."


**From : Aizawa-sama


Eryk-kun, selamat pagi.


Ada beberapa yang harus kita diskusikan, bisakah kita bertemu hari ini?


Dan jangan lupa untuk membawa barangnya**.


Eryk memikirkan sesaat, sebelum mengetik balasan untuk partner-nya.


**To : Aizawa-sama


Selamat pagi juga, Tuan Aizawa.


Tentu saya memiliki waktu kosong, bagaimana ketika jam makan siang? Saya memiliki restoran rekomendasi Jepang yang bagus**.


Dan Eryk menekan tombol 'send', tak butuh waktu yang lama, ponselnya kembali bergetar.


**From : Aizawa-sama


Jam makan siang? Tentu saja bisa, dan Eryk-kun, sudah kubilang panggil aku Aizawa-san**.


Eryk sedikit menarik bibirnya ke atas setelah selesai membaca email dari Aizawa; sungguh pria paruh baya yang baik hati; ia begitu beruntung bisa bertemu dengan Aizawa, hampir semua orang yang melakukan lelang tak mempercayainya karena ia masih muda dan terbilang baru, untunglah di saat kesepiannya meminum wine di luar kapal pesiar mempertemukan mereka berdua.


Eryk memberikan waktu janjian mereka, dan mulai berganti baju untuk bersiap-siap.


 


.#.#.#.#.#.


 


Eryk kembali ke klub setelah mendapat email dari Rainer untuk kemari, ia sejujurnya tak mau mengingat ia masih harus bersiap mau bertemu dengan Aizawa, akan tetapi kata 'darurat' membuatnya mengalah.


Eryk melepaskan mantel hitam tebal dari tubuhnya, menyerahkannya pada Alex, dan berjalan menuju ke lantai atas tempat ruang kerjanya berada.


Eryk sebisa mungkin tenang, darurat dan tidak bisa dibicarakan lewat ponsel bukan berarti berita buruk.


Sebelum membopong Gaea yang tidak sadarkan diri keluar klub, ia memerintahkan Ferdinand untuk berjaga-jaga, tidak ada yang patut dicemaskan. Tidak ada.


Eryk membuka pintu kerjanya, di sana ada Rainer yang berdiri menunggunya.


"Eryk," panggil Rainer tidak semangat.


Eryk dapat menangkap sesuatu yang tidak beres dari suara Rainer. "Ada apa?" tanyanya.


"Aku sudah melakukan perintahmu," kata Rainer, ia mengecek ponselnya lagi, mata hitamnya kembali meredup. "Aku pikir ada yang salah..."


"Maksudmu?" tanya Eryk.


Rainer tidak percaya akan mengatakan ini. "Gaea mungkin meng-hack laptop milikmu,"


Mata biru Eryk melebar. "Apa!?"


Rainer juga sama terkejutnya ketika mengetahuinya namun rekaman kamera serta waktu hacking-nya sama jadi mana mungkin ada kebohongan, ia juga tidak mau memercayainya, namun bukti berkata lain.


"Aku tidak percaya ini," kata Eryk; bagaimana bisa Gaea yang meng-hack laptopnya sementara wanita muda itu juga yang memberitahunya untuk mengecek laptopnya? Itu tidak masuk akal. "Kau yakin?" tanyanya meyakinkan.


Rainer membuang mukanya; seingin apapun ia berkata 'tidak', ia tidak bisa. "Ya,"


"Aku pikir ada yang kau lewatkan." Eryk masih tidak mau percaya. "Kau yakin sudah memeriksa semuanya?"


"Aku memang sudah," kata Rainer, sedetik kemudian ia teringat sesuatu. "Meski sedikit aneh, rekaman setelah Gaea menyentuh laptopmu itu hilang..."


"Kau tidak bisa menemukannya?"


Rainer menggelengkan kepalanya.


Eryk duduk di kursi kerjanya, dan mulai menyalakan laptopnya, berharap ada petunjuk lain. "Kau tahu apa yang dicari Gaea?"


"Well," Rainer harus bilang apa? "Mengejutkannya, Gaea tidak mencari apa-apa, kurasa dia cuma mau membobol sandi laptopmu."


"Hanya membobol sandi, huh...?" Eryk bergumam pelan, memainkan kursinya ke kiri dan kanan; itu aneh, sungguh aneh... sedetik kemudian otaknya teringat akan sesuatu. "Kecuali... !" Eryk dengan sigap menarik laci bawah meja kerjanya dan mendecih ketika mengetahui sensornya tak menyala, lalu mengambil koper yang terdapat dalamnya, berbeda, kode keamanan di kopernya masih aktif, dan menekan sandinya lalu 'enter', terdengar suara kecil yang menandakan bahwa sandinya terbuka.


'Please,' gumam Eryk dalan hatinya.


Eryk membuka koper tersebut perlahan... dan murka mengetahui isinya kosong.


'Gaea... !'


 


Bersambung...


 


Halo, perkenalkan saya nona_g :)


Saya baru di sini, jadi mohon kritik dan sarannya.


Jika kalian mau tahu soal update atau saya, kalau mau ya, kalian bisa cari nona_g_blue di IG, itu juga akun baru sih haha...


Mengenai update, mungkin 1-2 minggu sekali atau bisa cepat tergantung kesibukan saya di dunia nyata :)


Btw, saya belum bisa membuat cover novel perdana ini :( karena saya masih belum menemukan seorang design art yang cocok, tapi secepatnya akan saya update :)


Thanks for reading... :)

__ADS_1


__ADS_2