Sweet Revenge

Sweet Revenge
Episode 17 : Party


__ADS_3

Mata biru Eryk melebar.


Hening...


Gaea menyadari apa yang baru saja dikatakannya fatal. "Eryk?" panggilnya.


Eryk masih tidak menjawab, masih syok akan pengakuan Gaea yang tiba-tiba.


Gaea jadi malu sendiri. Ucapannya pasti begitu tiba-tiba hingga Eryk sampai membeku seperti es begitu.


Pikir.


'Pikir sesuatu untuk menyelamatkan dirimu!'


"Kau jangan terlalu syok begitu, Eryk." kata Gaea dingin. "Itu yang dikatakan Aizawa-san padaku."


Eryk akhirnya tersadar dari syoknya. "Apa...? Aizawa...!?"—otaknya yang masih blank tidak bisa mencernanya.


"Dia menggodaku, Eryk," kata Gaea. "Dia meminta aku untuk menciumnya." lanjutnya gugup—dalam hati berharap Eryk percaya.


"Dia..." sekarang Eryk mengerti, darah mulai mendidih di kepalanya. "Aku tahu ada yang aneh padanya saat dia ingin melihatmu, aku tidak menyangka akan separah ini," jelasnya jijik. "Permisi, ada yang harus aku urus, Ge."


Gaea langsung menghentikan Eryk dengan menghalangi jalan; ia kenal sekali tatapan mata biru dingin itu, Eryk sungguh-sungguh murka. "Tidak Eryk. Jangan buat kegaduhan."


Jika Eryk berbicara pada Aizawa makan habis sudah harga dirinya, pasti ia akan menjadi bahan ejekan Eryk selama beberapa minggu ke depan.


"Aku harus, Gaea." kata Eryk.


"Tidak," Gaea juga tidak mau mengalah bahkan ia membentangkan tangannya dengan berani.


Eryk mengembuskan napasnya. "Baiklah aku tidak." ia akhirnya mengalah juga; masih ada pesta nanti walaupun ia tidak yakin Aizawa akan berani menampakan diri di sana karena ulahnya berani menggoda tunangannya. "Aku harus pergi, mau mengecek daftar tamu yang datang."


Gaea lega sekali Eryk lebih mudah dibujuk sekarang. "Baiklah," katanya.


Aneh sekali seorang Eryk mengecek daftar tamu yang datang, apakah lagi menunggu seseorang? Ia harap bukan Katherine. Ia masih belum siap menghadapi kekasih Eryk sesungguhnya.


Sebelum Eryk pergi, ia berkata. "Kau diam di sini, aku akan panggilkan Alex."


Gaea mengembuskan napas.


Sendirian lagi.


"Kau punya cara merayu yang... unik ya?"


Gaea terkejut mendengarnya.


Rainer tiba-tiba sudah berada di depannya.


"Kau dari mana?" tanya Gaea sedikit jengkel.


"Mengerjakan tugasku," sahut Rainer santai.


"Aku hampir membongkar identitasku." kata Gaea frustasi.


"Aku tahu," sahut Rainer masih santai.


Gaea tentu saja terkejut mendengarnya. "Kau tahu?" sekarang ia marah besar. "Lalu kenapa kau tidak menolongku?"


Rainer berpikir sesaat. "Kalau begitu aku tidak bisa tahu motif sebenarnya lelaki itu."

__ADS_1


"Lelaki itu?" Gaea tidak mengerti awalnya, ia baru mengerti saat Rainer menunjuk ke arah keramaian. "Oh," tentu, Rainer tidak bisa jujur karena banyak orang. "Kau mendapatkan apa yang kau inginkan?" sindirnya halus. Ia tidak percaya Rainer lebih memilih pekerjaan dari pada keselamatan dirinya. Dan ia juga tidak percaya Aizawa masih berada di sini.


"Tidak terlalu," kata Rainer. "Tetapi sekarang kita tahu bahwa dia tertarik dengan identitas dirimu," jelasnya. "Aku memiliki kesimpulan lelaki itu bekerja pada orang lain."


"Semacam bawahan?" Gaea menebak, ketika itu juga Rainer mengangguk. "Kepalaku rasa ingin meledak! Aku tidak mengerti! Aku kan hanya wanita biasa saja kenapa lelaki itu bisa tertarik padaku..."


Itu tidak masuk akal—kecuali lelaki itu termasuk komplotan pelaku yang telah membunuh kedua Orang Tuanya.


Hanya satu hal yang tidak di mengerti olehnya, Aizawa orang Jepang, sementara Orang Tuanya sama sekali tidak pernah terlihat memiliki teman orang Jepang, bagaimana bisa Aizawa terlibat? Mungkin soal bisnis atau apalah yang tidak ia tahu.


Yang pasti, Gaea merasa tidak aman berada di kota New York.


"Haruskah aku pindah lagi?" tanya Gaea sedih.


Pindah keluar kota berarti tidak bertemu dengan teman-temannya termasuk Eryk. Memikirkannya sudah membuatnya ingin menangis.


"Apa yang kau bicarakan? Aku dan Eryk akan melindungimu." kata Rainer. "Kau jangan deh berasumsi yang tidak-tidak tanpa bukti yang jelas, Gaea."


Benar, tetapi Gaea tentu memikirkannya, ini mengenai keselamatannya juga, sepertinya ia tidak memiliki pilihan, sekarang ini menaruh kepercayaan kepada Eryk dan Rainer adalah yang paling penting.


"Kau mau menonton atau kembali ke ruangan? Aku yakin lelaki itu sudah pergi." kata Rainer.


"Tidak," Gaea menjawab dengan cepat. "Aku mau menonton saja."


Ada Rainer di sampingnya, dan Eryk di depannya, tentu melihat lelang takkan membosankan lagi kan?


***


Gaea menguap lebar.


Ia tarik lagi kata-katanya dua jam yang lalu, lelang ini sungguh membosankan, ia hanya menonton peserta memamerkan kekayaan mereka, ia terheran-heran apa enaknya juga membeli berlian hanya dijadikan koleksi saja bukan dijual kembali.


Gaea tak mengerti kesenangan seorang Kolektor.


Gaea melirik Eryk yang berdiri di samping podium, tidak menunjukan rasa bosannya sama sekali, tetap tenang, ia berpikir mata biru Eryk melihat ke mana, keramaian atau seseorang? Apakah Eryk bisa melihat ia dan Rainer di keramaian?


Gaea memutar bola matanya.


Tentu saja Eryk takkan peduli ia berada di mana, yang ada dipikiran Eryk hanya uang, bagaimana cara menjadi lebih kaya.


"Terjual lima puluh miliar dollar!"


Mata Gaea membulat lebar mendengar angka nominal yang baru saja disebut itu, ia tidak menyangka berlian semahal itu pernah ada di tangannya, pernah jatuh juga. Sekarang ia mengerti kenapa Eryk begitu marah ia tidak memperhatikan perawatan berlian tersebut.


Bagaimana bisa ia memperhatikan? Pada dasarnya ia belum pernah memiliki berlian, paling mahal bisa mempunyai cincin emas.


Di sini Gaea tersadar betapa jauh kehidupan Eryk dengan dirinya sendiri.


Eryk mengambil alih, berdiri di podium. "Terima kasih sekali sudah mengikuti lelang malam ini. Aku harap kalian menikmati pesta setelah acara lelang ini." katanya dengan penuh wibawa.


Gaea dengan polosnya ikut bertepuk tangan.


Semua peserta di sini merupakan Partner kerja Eryk?


Tepuk tangan saja lebih cocok.


"Eryk tidak mengumumkan tentang kami?" Gaea berbisik pada Rainer yang berada di sampingnya setelah melihat Eryk kembali berdiri di tempatnya semula, diganti oleh Pemilik Toko berlian tadi.


"Eryk tidak pernah mencampur urusan bisnis dengan urusan pribadinya," sahut Rainer kalem. "Dia akan mengumumkannya di pesta, kau sudah lupa tadi?"

__ADS_1


Gaea tertawa malu, ia lupa, salahkan Aizawa yang membuatnya tegang malam ini.


Rainer menyeringai kecil. "Aku harap kau siap menjadi pusat perhatian pesta, Gaea Silva..." bisiknya menggoda.


Gaea merona mendengarnya; mendengar bisikan Rainer untuk pertama kali membuat ia sedikit panas...? Namun, ketika sadar ia akan menjadi pusat perhatian membuatnya panik luar biasa.


"Aku butuh minum lagi..."


***


Gaea sudah minum, merapikan gaunnya, memastikan semuanya sempurna. Matanya memandang kerumunan peserta yang lagi berbincang-bincang sambil minum.


Mereka semua hampir Gaea kenali namun, yang menarik perhatiannya adalah pemilik perusahaan incarannya juga hadir di sini, ia sudah mengirim lamaran ke perusahaan itu tetapi masih belum ada tanggapan mungkin karena ia belum lulus dan ia mengambil kelas karyawan.


Universitasnya memang sedikit berbeda, yang masuk kelas biasa, ketika lulus dicarikan oleh Universitasnya, berbeda dengan kelas malam, harus mencari sendiri, ia tidak menyerah toh nilainya tinggi, ia optimis bisa mewujudkan mimpinya.


"Kau tenanglah." kata Eryk.


Gaea tertawa mendengarnya.


Tidak salah dengar? Eryk memintanya tenang? Tenang?


"Aku hanya memperkenalkanmu bukan melakukan sesuatu yang membahayakan." kata Eryk. "Yang terbaik, kau hanya perlu bicara jika ada yang bertanya padamu, aku yang mengurus semuanya."


Gaea tidak puas mendengarnya. "Kau sadar kan aku ini bukan boneka?"


Eryk menatapnya tak percaya. "Tentu saja, aku melakukannya agar kau tidak mempermalukan dirimu sendiri." katanya. "Dan aku juga sebab kau masuk keluarga Enzo sekarang."


Gaea terkejut mendengarnya.


Keluarga Enzo.


Sudah berapa lama ia ingin menjadi bagian keluarga Enzo? Tepatnya kekasih Eryk, tapi Gaea sama sekali tidak senang justru sedih sebab bukan seperti ini yang ia mau bukan karena paksaan.


"Aku mengerti." kata Gaea.


Eryk mengulurkan tangannya, tanpa protes apa-apa lagi, Gaea meraihnya, mereka jalan menuju para peserta lelang berada, menuruni tangga selangkah demi selangkah, semakin ke bawah, mata para peserta tertuju padanya, obrolan mereka pun mulai meredam hingga akhirnya sepi setelah ia dan Eryk sampai di bawah tangga.


Eryk tersenyum. "Terima kasih sudah datang malam ini, aku harap tuan dan nyonya menikmati pesta malam ini," katanya sopan. "Selain itu aku juga ingin membagikan kabar kebahagiaan malam ini." ia melirik Gaea yang berada di sampingnya, memberikan isyarat untuk tersenyum melalui senyumannya.


Gaea otomatis membalas senyum, senyum terbaiknya, palsu terbaiknya.


Begitu menyedihkan dirinya.


"Aku pikir, ada di antara kalian yang mengetahui video mengenai aku tadi pagi." kata Eryk dengan nada candaan. "Tapi aku ingin tetap mengumumkan bahwa aku, Eryk Enzo dan yang berada di sampingku sekarang ini, Gaea Silva, kami resmi bertunangan..." lanjutnya dengan tatapan mata serius, yang disambut tepuk tangan meriah dari para tamu.


Gaea merasa mual dengan ini semua, ia ingin cepat-cepat pulang lalu tidur, melupakan ini semua.


Gaea bahkan tidak bisa menatap orang-orang karena hatinya dirundung rasa bersalah yang besar.


Ia dan Eryk baru saja membohongi seluruh orang di sini—tidak, mungkin seluruh penduduk Amerika mengingat Eryk pebisnis yang sedang naik daun jelas mata tertuju pada Eryk.


Gaea yang sejak awal hanya menunduk, dikagetkan dengan Eryk yang memutar pelan tubuhnya agar mereka bisa berhadapan, ia menatap bingung pria muda itu, berikutnya, ia membeku ketika merasakan bibir Eryk mendarat di bibirnya namun, hanya sebentar saja, sebuah kecupan singkat yang bahkan ia belum sempat meresponnya.


Ciuman tadi, Gaea tidak merasakan apa-apa, dingin, mungkin seperti itulah perasaan Eryk padanya sekarang.


Eryk sedikit melemparkan senyum misterius ke Gaea sebelum kembali memandang para rekan kerjanya. "Terima kasih sekali lagi..."


Note :

__ADS_1


Tolong tinggalkan like, komentar agar novel ini semakin maju :)


Jika berkenan silakan mampir juga ke novel kedua saya The Lovely One itu temanya ringan, soal sekolah SMA :)


__ADS_2