
"Princess!?"
Alex mengangguk. "Sejujurnya tidak,"
"Apa?" Gaea tidak mengerti.
"Aku bukanlah peri, tapi Eryk menyuruhku melakukan 'magic' padamu." kata Alex. "Dia itu lupa apa 'magic' yang aku maksud soal wanita bukanlah make up tapi lebih ke arah yang lain. Memuaskan, baby."
"Terlalu banyak informasi." kata Gaea jijik, ia tidak mau mendengar kehidupan pribadi Alex, apa gunanya juga, ia sudah sering melihatnya di bar dan terkadang menjadi hiburan setiap kali Alex ditampar oleh wanita karena terlalu agresif.
"Aku tidak setuju Gaea masuk."
"Eh?"
Rainer mendekati mereka berdua. "Gaea tidak ada hubungan dengan ini semua, Eryk harus tahu itu, dia tidak bisa seenaknya memerintah orang seenaknya."
Kenapa Rainer bertingkah terlalu melindungi begini? Padahal belum lama pria muda itu bersikap tidak peduli padanya. Rainer itu pria yang sulit ditebak jalan berpikirnya.
"Aku setuju, Gaea memang polos." kata Alex. "Tapi kau tahu sendiri Eryk bagaimana Rainer jika sudah menyangkut Kervyn."
Rainer tidak bergeming. "Dan kau tahu juga aku bagaimana jika sudah menyangkut orang yang tidak bersalah." katanya tegas bahkan ia menarik lembut Gaea ke belakang tubuhnya, melindungi. "Katakan pada Eryk."
Alex menatap Rainer sesaat sebelum berbalik. "Whatever, man." ia sudah melakukan apa yang harus dilakukan.
"Rainer." panggil Gaea pelan setelah Alex pergi. "Kau tidak harus melakukan ini semua, kau tahu?" tanyanya. "Aku tidak mau menjadi alasan perpecahan kalian berdua."
Rainer menggelengkan kepalanya. "Aku sudah seperti ini sejak dulu, Gaea." katanya. "Percayalah, kau akan menyesal jika masuk ke dalam kehidupan Eryk." mata hitamnya menerawang ke atas. "Aku tidak ingin kau menjadi sepertiku."
Eh?
Gaea terkejut, tidak ingin menjadi seperti Rainer? Di luar dugaan tampaknya pria muda itu peduli padanya. tetapi apa yang membuat ia menyesal jika masuk ke kehidupan Eryk? Ia kan sudah masuk, bukan? Ia bersyukur Rainer peduli padanya, itu manis.
Pintu ruangan kembali terbuka, membuat percakapan mereka terputus.
"Rainer." panggil Eryk tajam. "Jangan ikut campur."
Rainer tidak mengindahkan peringatan Eryk bahkan tetap melindungi Gaea yang berada di belakangnya. "Kau tahu akibat dari ini, kan?"
"Aku tahu," sahut Eryk lantas ia mencoba untuk memegang tangan Gaea bermaksud untuk membawanya. "Jangan membuatku melakukan apa yang tidak aku mau lakukan Rainer."
"Terus jangan lakukan ini." kata Rainer tak kalah dingin. "Sudah berapa orang kau ajak ke dalam masalahmu?"
"Kau," kata Eryk tajam. "Kau tidak tahu apa-apa."
Gaea yang sejak tadi hanya diam, merasa tidak enak melihat kedua teman bertengkar demi dirinya. "Rainer, tak apa, aku baik-baik saja." katanya sambil berdiri di tengah Eryk dan Rainer.
"Kau dengar dia." kata Eryk. "Kau bukanlah siapa-siapa dia, jadi dia berhak memutuskan pilihan dia sendiri."
Rainer mengambil napas. "Aku melakukan yang terbaik buatmu." katanya sendu.
"Aku tahu," karena itu Gaea tidak mau melihat keduanya bertengkar. "Tetapi aku juga tahu keputusanku."
"Kau tidak Gaea," kata Rainer frustasi. "Dunia Eryk lebih dari yang kau bayangkan."
"Aku masih di sini, hey jenius." sindir Eryk. "Dan aku bukan seorang kriminal jadi kenapa kau seakan menganggapku berbahaya?"
"Karena kau memang seperti itu," sahut Rainer tanpa beban.
"Apa!?" Eryk naik pitam, berani-beraninya menganggapnya seperti itu.
Gaea buru-buru memisahkan mereka lagi dengan kedua tangannya. "Sudah cukup! Baiklah aku akan pergi. Jangan bertengkar lagi, tolong."
Eryk dan Rainer terdiam namun mata mereka masih memandang tajam satu sama lain.
__ADS_1
Gaea menatap Rainer dengan senyum manis di bibirnya. "Aku akan baik-baik saja. Kau tidak usah cemas."
Rainer memandang Gaea sesaat seakan berkata: kau yakin?
Gaea mengangguk.
Rainer mengembuskan napas, dan kembali lagi duduk di kursinya; ia sudah berjuang tapi jika Gaea tetap memilih Eryk, ia bisa apa?
"Uh..." Gaea jadi merasa tidak enak.
"Kita tidak punya waktu lagi." kata Eryk sambil menarik tangan Gaea pelan. "Rekan bisnisku sudah menunggu lama karena pertengkaran tidak berguna tadi."
Dan juga Gaea jadi tidak memiliki persiapan, tetap mengenakan pakaian santai bukan gaun formal seperti yang diinginkan olehnya.
Eryk sempat berpikir untuk membawa Gaea ke lantai bawah untuk mengambil gaun yang inginkan olehnya tetapi karena keterbatasan waktu serta ia tak yakin gaun Katherine akan muat membuatnya kembali berjalan menuju ruangan dimana Aizawa berada.
"Jangan berkata begitu!" seru Gaea kesal. "Rainer hanya mencoba melindungiku."
"Dia terlalu banyak berspekulasi, aku hanya mau memperkenalkanmu bukan mengajak berbuat kriminal." keluh Eryk.
"Memperkenalkan apa?" Gaea bertanya penasaran.
Eryk membuka pintu sambil bergumam. "Kau akan tahu." katanya.
Gaea sedikit menjauh saat merasakan tangan Eryk berada di pinggangnya berusaha melepaskan tetapi justru semakin erat hingga membuat tubuh mereka bersentuhan.
"Maaf dengan keterlambatan ini." kata Eryk, mata birunya tertuju pada Gaea. "Gaea agak malu, jadi sedikit sulit."
Gaea membeku di tempatnya berdiri; apa? Tunangan? Tunangan? Hanya itu yang ada dipikiran kecilnya.
"Jadi ini tunanganmu?"
Mata Gaea seketika tertuju pada seorang pria berambut hitam dengan sedikit helaian abu-abu, berjalan mendekati dengan senyum lebar di bibirnya, namun entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang aneh dari senyum tersebut.
"Siapa namamu, hime?" tanya Aizawa.
"Ah, nama yang bagus. Senang bertemu denganmu." kata Aizawa menyambut uluran tangan wanita muda itu dengan hangat. "Eryk begitu bangga denganmu yang ingin menjadi seorang sekretaris pribadi tunanganmu, betul?"
Apa? Apa Gaea tidak salah mendengar? Sekretaris pribadi? Yang benar saja!
Mata hijaunya lantas tertuju pada Eryk namun pria muda itu tidak mau menatapnya, yang membuatnya sedikit frustasi, dengan senyum palsunya ia menyahut. "Ya, aku tidak ingin jauh-jauh dari Eryk. Aku hanya menginginkan dia sepenuhnya sendiri."
Eryk sedikit terkejut mendengarnya sebelum normal lagi. "Tunanganku memang sedikit egois makanya di pertengkaran sebelumnya dia sampai ingin ke Shanghai karena aku terlalu sibuk bekerja."
Tentu saja Eryk akan membuat citra diri sendiri menjadi baik sedangkan ia buruk, tidak tahukah ia kesulitan memerankan tunangan palsu ini?
"Begitukah?" tanya Aizawa. "Akan lebih baik kita membicarakan ini sambil makan jika Gaea-san tidak keberatan dengan ajakanku."
"Oh tidak," Gaea menggelengkan kepalanya. "Dengan senang hati aku menerimanya."
"Arigatou," kata Aizawa, lalu ia kembali ke tempat duduknya.
Eryk dengan gentleman menarik kursi di sampingnya agar Gaea bisa duduk, barulah ia sendiri.
Gaea sedikit bersyukur makanan kali ini bukanlah makanan Perancis atau apa pun yang harus menggunakan pisau dan garpu, untunglah rekan bisnis Eryk orang Jepang yang cara makannya menggunakan sumpit sebab ia belum mahir menggunakan pisau untuk memotong daging.
Gaea begitu berterima kasih pada Ava yang dengan sabar mengajarinya menggunakan sumpit.
"Jadi berapa lama kalian saling mengenal satu sama lain?" tanya Aizawa penasaran.
"Aku dan Gaea bertemu di kafe dekat kampus dia belajar ketika aku mau makan siang," kata Eryk. "Dia wanita termanis di sana, membuat aku dan rekan kerjaku berpikir untuk meminta nomornya.
Gaea sendiri bertanya-tanya kenapa Eryk berbohong, apakah strategi atau memang malu mengakui ia hanya bartender yang bekerja di klub milik pria muda itu.
__ADS_1
Dan lagi Eryk memakai drama cinta pada pandangan pertama, apakah tidak terlalu mencurigakan? Ia tahu terkadang cinta bisa datang dengan cara yang tidak masuk akal tetapi ini? Bisakah Eryk tidak mendramatisir omong kosong ini?
"Aku menolaknya tentu saja," Gaea membuka suaranya. "Dia terlihat begitu sombong jadi mana mau aku dengannya." lanjutnya sambil memutar bola matanya; plot twist, eh? Mana mau ia membiarkan Eryk bersenang-senang tanpanya?
"Walaupun akhirnya kau tergila-gila juga padaku." kata Eryk tidak mau mengalah.
"Tentu saja," kata Gaea. "Kau juga tergila-gila padaku hingga melakukan lamaran itu."
Mata mereka saling beradu pandang tajam.
"Itu..." Aizawa kebingungan ingin berbicara apa. "Menarik jika dilihat dariku."
Gaea lupa jika ada Aizawa di sini, rasa kesalnya membutakan matanya sehingga menbuatnya lupa sekelilingnya.
"Kau sungguh wanita yang berbeda, Gaea-san." puji Aizawa sambil sekali menepukan tangannya. "Boleh aku kita berfoto bersama?"
"Eh?" Gaea sedikit terkejut.
"Bersama Eryk-san tentunya," Aizawa menambahkan.
Dengan Eryk?
Gaea tentu tidak keberatan, yang jadi masalahnya tinggal di Eryk sendiri, matanya melirik pria yang berada di sampingnya itu.
Eryk tidak menjawab.
Gaea bingung; kenapa Eryk begitu lama menjawab tawaran Aizawa, mereka kan partner bisnis bukankah hal seperti ini membuat ikatan mereka kuat?
Setelah berdiam diri cukup lama, mempertimbangkan. Eryk menjawab singkat. "Baiklah," katanya. "Bisa kau tolong fotokan kami, Alex?" pintanya.
Alex menerima ponsel milik Aizawa, dan mulai membidik arah kamera pada mereka bertiga.
Gaea tanpa curiga sedikit pun langsung berpose dua jari hingga ketika tangan Eryk melingkari pinggangnya membuatnya agak gugup tetapi ia memutuskan tidak menolak sebab mereka saat ini 'bertunangan' akan aneh jika ia menolak disentuh.
Alex mengambil gambar beberapa kali, memastikan Aizawa bisa memiliki banyak pilihan sebelum menyerahkan lagi ponsel milik pria paruh baya itu. "Sudah selesai." katanya.
Aizawa menerimanya dengan senang hati. "Oh," mata hitamnya melihat notifikasi dari telegram, lalu membukanya. "Ah, maaf ya, Eryk-san. Ada klien menungguku." sesalnya.
"Tidak apa-apa," kata Eryk.
"Aku harus pergi," kata Aizawa. "Kita bertemu di lelang nanti sore."
Eryk mengangguk, dan mereka berjabat tangan lagi sebelum Aizawa keluar dari ruangan. "Aku kira kita harus membuat rencana baru."
"Aku tidak percaya dengan dia juga." kata Alex.
"Apa yang membuatmu berpikir begitu?" tanya Eryk.
"Aku pikir itu jelas? Dia tidak membawa siapa-siapa untuk menemaninya bertemu kita." kata Alex.
Eryk juga melihat keanehan tersebut. "Apa dia melakukan negosiasi ganda?" tanyanya.
Alex menggelengkan kepalanya. "Coba lihat rekaman yang Rainer buat apakah ada yang aneh."
Eryk mengangguk dan mereka berdua segera menuju tempat Rainer berada.
Gaea ragu sesaat, sebelum akhirnya mengikuti.
Kenapa berbisnis begitu menyulitkan begini? Saling menusuk satu sama lain.
Bersambung...
Like, Favorit dan Komentar...
__ADS_1
Jika berkenan Vote jika mau novel ini maju...
Thanks for reading...