
Gaea segera membersihkan tubuhnya yang bau alkohol bercampur parfum Eryk karena semalam. Setelahnya ia mengganti baju, agak dilema apakah Eryk akan membawanya lagi ke tempat aneh-aneh tetapi mengganti baju santai juga.
Eryk akan kemari jika ada urusan di luar rumah lagi pula.
Gaea memeluk kucing peliharaannya Bintang yang seharian sendirian di kamarnya, ia juga menyadari adanya mangkuk khusus hewan di dalam kamarnya, ia tersentuh.
Meski Eryk alergi bulu kucing dan kemarin berkata untuk mengusir Bintang, Eryk tetap menyuruh pelayan untuk memberi makan kucingnya.
Gaea keluar dari kamarnya untuk melihat situasi, ia mengintip ke lantai bawah, tidak ada tanda-tanda keberadaan Eryk, Rainer atau Alex hanya pelayan sedang membersihkan ruangan.
Gaea berpikir mungkin Eryk sudah berangkat kerja? Menjadi pemilik perusahaan memang sibuk, kan? Bahkan di tempat kerjanya, Eryk hanya terlihat beberapa kali datang.
Gaea tertawa jahat, jika Eryk pergi, ia bisa mengambil makanan di kulkas sepuasnya, tanpa basa-basi, ia segera menuruni tangga dan menuju ruang makan. "Wah..." kulkas Eryk besar sekali memiliki dua pintu pula! Ketika ia membukanya isinya penuh! Kebanyakan buah dan sayuran, ada jus bervarian warna juga.
'Loh?'
Setelah diteliti, semuanya makanan sehat lima sempurna, tidak ada minuman soda atau junk food lainnya.
Keluarga Enzo sungguh memperhatikan asupan gizi mereka.
Gaea menutup pintu kulkasnya lesu, ia hanya mengambil jus berwarna merah yang dikiranya jus stroberi. "Aku maunya makanan normal bukan diet!" protesnya entah kepada siapa.
"Apakah ada seseorang yang berkata diet?" Alex mengintip di balik dinding ruang dapur.
"Alex!?" pria muda itu muncul tiba-tiba layaknya hantu. "Kau punya makanan yang manusiawi untukku?" tanyanya, kemudian menengguk jus yang dikiranya stroberi, dan terbatuk mengetahui itu jus tomat. "Apaan!? Siapa yang minum jus tomat!?"
Alex tertawa mendengarnya. "Tidak lain dan tidaklah bukan, tunanganmu sendiri, babe," godanya. "Dia tidak suka makanan manis, dia bukan sweet tooth, bukan penyuka makanan cepat saji juga." jelasnya.
"Eryk baru saja kehilangan kesenangan duniawi!" seru Gaea; bagaimana bisa Eryk hidup tanpa makanan manis atau junk food? "Aku harus bikin Eryk menyukainya sebelum benar-benar terlambat!"
Alex tertawa lagi, "Percaya deh, kami semua sudah mencobanya bertahun-tahun, takkan berhasil." lalu berpikir sesaat, sebuah ide jahil muncul di kepalanya. "Kecuali kau menjadi istri dia mungkin bisa berhasil memaksa Eryk makan sosis atau burger..."
Gaea terbatuk memikirkannya; menjadi istri Eryk masihlah jauh baginya, sudah bisa jadi tunangan sudah bersyukur sekali meskipun bohongan. "Ngomong-ngomong ke mana dia dan Rainer? Kerja?" ia mencoba mengalihkan pembicaraan.
Wajah Alex berubah drastis. "Aku rasa ada baiknya kau tidak bertemu Eryk hari ini,"
"Eh? Kenapa?" tanya Gaea heran.
Alex berpikir sesaat, haruskah ia memberitahu mengenai hubungan cinta Eryk dan Katherine. "Eryk mendapat kabar buruk soal Katherine jadi dia berdiam diri, bermain boxing di ruang olahraga keluarga." katanya.
"Boxing!?" tidak henti-hentinya keluarga Enzo membuatnya terkejut, mereka punya tempat olahraga pribadi di rumah, jika diingat-ingat, Ferdinand bertugas sebagai Bodyguard Eryk tapi kenapa semalam tak kelihatan? Bukanlah urusannya kenapa harus dipikirkan? "Boleh aku lihat?"
Wajah Alex berubah jahil lagi. "Tentu saja, melihat Eryk bermandikan keringat begitu sexy," godanya.
Gaea seketika membayangkannya, pipinya langsung merona hebat; kenapa ia memiliki otak yang mudah membayangkan sesuatu? "Kau tahu? Aku lebih baik minum jus saja sambil nonton televisi." katanya.
"Sungguh?" pancing Alex sama sekali tak percaya. "Aku bisa lihat tadi kau benci makanan sehat Gaea, lebih menyenangkan melihat Eryk bermain boxing daripada bergelut di depan televisi."
__ADS_1
Gaea memutar bola matanya; ia tidak mau diejek ketika menonton Eryk tetapi ia juga tidak mau makan-makanan sehat ini bukan karena benci, hanya tidak sedang mood saja.
Ini seperti memilih memakan tomat atau jus tomat. Kedua-duanya tidak disukainya.
"Kalau kau mau menonton, aku sarankan diam menuruti Eryk, dia sedang bad mood," kata Alex. "Aku bahkan tidak mau di dekat Eryk sekarang, babe."
Gaea jadi semakin penasaran, apa yang menyebabkan Eryk sampai bad mood begitu, tidak mungkin masalah pertunangan mereka kan? Tadi Eryk baik-baik saja bahkan masih sempatnya mengerjainya, pastilah bukan soal tunangan. "Aku mau menonton."
Seringai Alex kian melebar. "Aku tahu kau takkan membiarkan kesempatan emas ini berlalu, babe."
Gaea memutar bola matanya. "Sudah tunjukan saja gedung olahraganya."
"Aye-aye, captain!" sahut Alex, kemudian berjalan menuju belakang rumah.
Gaea mengikuti dari belakang sedikit heran kenapa harus ke belakang? Bukankah hanya ada kolam renang saja? Udara dengan lembut mengenai wajahnya ketika ia keluar, ia terus berjalan melewati kolam renang tanpa protes, ketika sudah melewatinya, berjalan di tengah rerumputan kecil, ia sadar ada gedung kecil tak jauh dari mereka. "Alex apakah ini?"
Tanpa menoleh Alex mengangguk. "Ini tempat khusus olahraga kami."
Gaea berhenti ketika mereka sampai di depan gedung besar bercat putih tersebut. "Biar aku tebak, boxing bukan satu-satunya yang ada di dalam kan?"
"Kau pintar, babe." Alex memuji. "Kami memiliki boxing dan beberapa alat olahraga di dalam. Kau bisa mencoba ke sini kalau kau tak mau berenang."
Gaea ternganga, berapa banyak uang yang terbuang demi membeli semua itu? Ia yakin tak selalu setiap hari mereka olahraga, ia kan tinggal di sini jadi takkan ia sia-siakan. "Ada alat lari tidak?" tanyanya.
Alex mengangguk. "Kau bisa meminta bimbingan Ferdinand, dia rajanya di sini, Gaea."
Alex mengangguk, sebelum membuka pintu, ia kembali memperingati. "Gaea, menurut ya? Eryk sedang bersedih."
Gaea mengangguk, ia juga malas berdebat dengan Eryk pagi-pagi begini.
Alex tersenyum samar, akhirnya membuka pintu. "Ladies first." katanya dengan tubuh membungkuk sopan.
Gaea membalas tersenyum juga barulah masuk ke dalam, di sana sesuai ucapan Alex, banyak alat olahraga, dari treadmill, sepeda statis bahkan dumbell yang kecil pun ada, benar-benar seperti di gym.
"Ayo Eryk!" seru Alex.
Eryk langsung memukul samsak tinju di setiap sisinya dengan sekuat tenaganya, mengeluarkan semua emosinya.
Gaea yang melihatnya terkagum dan takut bersamaan, melihat samsak tinju yang dipukul Eryk sampai berayun-ayun begitu pasti tenaga pria muda itu besar ataukah emosinya yang besar mengingat Alex bicara Eryk sedang bad mood? Ia mencari tempat duduk dan menemukannya, ada Rainer juga di sana. Ia segera menghampiri. "Bolehkah aku duduk?"
Rainer melirik sebentar sebelum kemudian mengangguk, dan menutup matanya lagi, ia sudah mau tertidur tadi.
Gaea duduk setelah mendapat persetujuan Rianer dan kembali menonton Eryk yang masih fokus olahraga, di luar dugaan tidak membosankan malah asyik.
Gaea jadi berpikir untuk mencoba boxing juga melihat Eryk keren sekali di matanya saat ini.
"Huh?" Gaea merasakan bahu kanannya terasa berat, ia melirik dan mendapati wajah Rainer hanya beberapa inci dari wajahnya, ia langsung membuang muka; Rainer bersandar di bahunya, tertidur.
__ADS_1
'Apa yang harus aku lakukan? Rainer terlihat lelah. Haruskah aku bangunkan?' Gaea bertanya-tanya dalam hatinya.
Tetapi...
Gaea melirik Rainer lagi, dan memutuskan untuk membiarkan saja kali ini, melupakan kekesalannya membiarkan pria muda itu bersandar meskipun degub jantungnya sudah berdebar kencang sekarang ini, ia beranikan diri melirik lagi, memperhatikan dengan seksama wajah Rainer—bulu matanya yang panjang, hidungnya yang mancung—lalu ia tertunduk lagi malu.
'Aku mencintai Eryk tetapi kenapa saat bersama Rainer hatiku—'
"Wow, kau menikmati bersandar di bahu tunangan saudaramu sendiri?"
Gaea terkejut, karena sibuk memerhatikan Rainer, ia tidak menyadari Eryk menghampiri mereka, ekspresi pria muda itu terlihat kesal. "Rainer bekerja sampai larut malam, biarkan dia,"
"Dari mana kau tahu dia bekerja hingga larut?" Eryk bertanya dingin.
"Aku..." Gaea kehilangan kata-katanya.
Rainer akhirnya bangun, ia berhenti bersandar di bahu Gaea, wajahnya jelas jengkel. "Kalian hanya tunangan bohongan, kau itu mencintai Katherine tapi berusaha memonopoli Gaea? Lelaki macam apa kau Eryk?" sindirnya tak kalah dingin.
Eryk melipat tangannya di depan dadanya. "Kau tidak perlu mengguruiku, Rainer. Aku tahu tindakanku."
"Tentu kau tahu," sindir Rainer sambil menguap lebar, kemudian bangkit berdiri. "Aku mau istirahat, aku akan kembali saat kepalamu sudah dingin."
"Apa!?" Eryk mengepalkan tangannya emosi.
Gaea yang sejak tadi melihat memberanikan diri berkata. "Sudah Eryk jangan serius begitu seperti bukan dirimu saja, haha..." candanya berusaha mencairkan suasana.
"Aku pikir kau menikmatinya juga, hah?" tanya Eryk.
Gaea tentu terkejut, ia merasa tersinggung dengan ucapan Eryk. "Kau ini kenapa!? Aku ingin tenang bersamamu tapi kau selalu ada saja yang ingin diperdebatkan denganku!"
Eryk terkejut, dan termenung, perasaan frustasinya akan Katherine nampaknya mempengaruhi mood-nya hingga ia pun menyerang Rainer dan Gaea. "Maaf,"
Gaea mengembuskan napasnya. "Tak apa," katanya.
Eryk mengangguk. "Karena kau sudah ada di sini, aku ingin kau latihan bela diri, Gaea."
"Aku!?"
"Ya," sahut Eryk kalem. "Aku ingin kau bisa melindungi dirimu jika sewaktu-waktu aku, Rainer atau yang lain tidak bersamamu."
"Tetapi kenapa?" tanya Gaea kebingungan, ia hanya wanita biasa, meskipun bagus juga ia belajar ilmu bela diri sebagai pertahanan jika ada penjahat.
Eryk mengembuskan napasnya. "Bukankah jelas?" mata birunya menatap lurus mata hijau Gaea, "Aku tidak bisa kehilanganmu..." katanya serius.
Pengakuan Eryk membuat Gaea membeku.
Tidak bisa kehilangan dirinya—?
__ADS_1