
Aizawa tersenyum. "Gaea-san." panggilnya lagi.
Gaea mengembuskan napasnya lega, ia kira siapa hanya Aizawa dan siapa yang berada di samping pria paruh baya itu? Bodyguard? Tak hanya itu Bodyguard itu membawa dua gelas berisi cairan berwarna merah gelap. "Ya?"
"Aku hanya berpikir kenapa kau di sini? Tidak bersama Eryk-san?" Aizawa bertanya. "Lelang sudah di mulai."
"Maaf, aku tidak suka menjadi pusat perhatian," kata Gaea. "Uh, Aizawa-san sendiri kenapa tidak ikut?"
"Aku hanya ingin melihat jalannya lelang," kata Aizawa.
Gaea berpikir; itu aneh bukankah tadi Aozora akan mendiskusikan mengenai lelang? Apa hanya berdua dengan Eryk? Harus hati-hati. "Begitukah? Kalau begitu mau minum dengan aku? Rainer sedang mengambilnya."
"Ah, Rainer-san," kata Aizawa. "Aku tadi bertemu dengan Rainer-san, dia menitipkan minuman untukku. Richard berikan wine tadi pada Gaea-san."
Gaea sekarang mengerti kenapa Bodyguard bernama Richard itu membawa gelas yang ternyata minuman alkohol. Ia agak ragu-ragu menerimanya.
Pernah mendengar jangan menerima apa pun dari orang asing, kan?
Itulah yang dirasakan Gaea sekarang, Aizawa mungkin partner kerja Eryk, ia juga sempat membela Aizawa tetapi bukan berarti ia akan menurunkan pertahanannya, ia mengambil gelas itu, menghirup aromanya yang seperti buahan.
Tidak salah lagi ini adalah wine, sama dengan pesanannya pada Rainer, pria muda itu mengambil dua kemungkinan untuk diminum bersamanya atau bila ia kurang jadi tak perlu bolak-balik.
Yang jadi pertanyaannya, Rainer kemana sampai mau menitipkan minuman pada Aizawa? Ia tahu Rainer bukan pria yang mudah percaya dengan orang bahkan pada dirinya pun tidak.
Positif, Aizawa merencanakan sesuatu, pria paruh baya itu salah memanfaatkan Rainer untuk melaksanakan aksinya. Atau Aizawa tidak memiliki waktu banyak menyelidiki sifat dan sikap Rainer? Menarik.
Gaea harus mengulur waktu hingga Rainer kembali, dan juga bersikap biasa agar Aizawa tidak curiga dan melakukan yang tidak-tidak, tetapi pertama... ia segera membuka jendela, membuka celah supaya bisa membuang wine tersebut, cukup besar agar tidak menempel di jendela ketika ia hendak membuangnya.
Aizawa mengambil gelas yang satunya lagi, menyuruh Richard keluar ruangan, barulah berjalan mendekat ke tempat Gaea berada. "Bersulang?"
Gaea tersenyum, ia mendapat kesempatan. "Tentu,"
Mereka mengadu gelas pelan.
Gaea memanfaatkan kesempatan ini dengan sedikit bersandar pada daun jendela, lalu ia mendekatkan gelas ke bibirnya ketika Aizawa menenggak minumannya di situlah ia dengan cepat membuang wine melalui bahunya, dan memasang senyum polosnya. "Ini sungguhan membuat tubuhku rileks,"
Aizawa berpikir sebentar. "Alkohol memang bisa menghangatkan tubuh, rasa wine tidak buruk tetapi aku masih suka sake."
"Sake?"
Aizawa mengangguk. "Gaea-san juga harus mencoba sake, tidak kalah enak juga."
"Mungkin nanti," Gaea tidak yakin dengan ucapannya; sake dari Jepang yang pasti ia harus ke restoran khas Jepang supaya bisa mencoba rasa sake, tentu saja jawabannya tidak, lebih baik untuk membeli makanan yang jauh lebih murah.
"Aku dengar Gaea-san seorang Bartender?" tanya Aizawa.
"Ya, tapi aku masih belajar, aku bekerja pun ada yang menemani," sahut Gaea.
"Aku jadi ingin melihatnya dan mencoba sedikit." kata Aizawa. "Walaupun Gaea-san lebih cocok menjadi model."
"Model!?" Gaea sungguh-sungguh tidak menyangka topik percakapan akan ke sana.
__ADS_1
"Sejujurnya aku ingin menawarkan Gaea-san menjadi model di iklan yang perusahaanku buat." kata Aizawa. "Perusahaanku bekerja di bidang periklanan."
"Oh," Gaea merasa tersanjung dirinya dipuji cocok menjadi model, mungkin efek make-up yang dikenakannya jadi Aizawa tertarik? Ia menjadi merasa bersalah sudah mencurigai pria paruh baya di depannya ini.
Ataukah tidak? Aizawa tengah berakting? Seperti dirinya?
'Rainer cepatlah kemari.' kata Gaea dalam hatinya.
"Aku tidak bisa, Eryk pasti tidak setuju," kata Gaea sedih. "Dia begitu peduli mengenai privasiku, dia mungkin berkata: urus saja aku, jangan pedulikan yang lain," candanya.
Aizawa tertawa. "Eryk-san terdengar begitu mencintaimu, Gaea-san."
Gaea tidak menjawab, "Ya,"—begitu berat ia mengucapkannya. "Eryk memang,"—dengan Katherine.
"Apakah Gaea-san tidak tertarik selain menjadi Bartender?" tanya Aizawa.
"Aku sejujurnya ingin menjadi Ilmuwan," sahut Gaea.
Sudit bibir Aizawa tertarik sedikit. "Ilmuwan? Gaea-san pasti wanita yang jenius..."
Gaea tersipu mendengarnya. "Ya keturunan, Orang Tuaku seorang Ilmuwan juga." katanya.
"Oh, my." informasi yang bagus. "Ilmuwan? Memangnya Gaea-san nama keluarganya apa? Siapa tahu aku mengenal Orang Tua Gaea-san."
"Nama keluargaku?" Gaea ragu-ragu sesaat, sebelum akhirnya ia tersadar akan sesuatu. "Nama keluargaku Silva."—tidak mungkin ia mengatakan nama asli keluarganya.
Dan apa ini yang dirasakannya?
Gaea awalnya sedih terpikir Orang Tuanya lagi, sebelum kemudian menggelengkan kepalanya mencoba berpikir lurus lagi.
Gaea merasa Aizawa sedang mendalami informasinya? Ataukah ia terlalu negatif? Barusan kan ia merasa bersalah karena sudah berpikir ke sana pada Aizawa...
Gaea terkesikap.
Ataukah Aizawa sedang mempermainkan perasaannya, mencari celah dari perasaannya itu untuk mendapat informasi tersebut? Jika benar, Aizawa orang yang licik dan hati-hati.
Gaea tidak bisa bersama Aizawa berdua begini, jika berlama-lama, ia akan terperdaya lagi dan menyampaikan informasi yang tidak boleh diberikan seperti nama keluarganya.
Panggil ia paranoid, ia tidak peduli. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
"Maaf, tetapi aku ingin melihat Eryk, dia bilang mau menunjukan berlian lain yang jadi lelang malam ini." kata Gaea.
"Bukankah Gaea-san tadi tidak suka jadi pusat perhatian?" tanya Aizawa polos.
Gaea mengepalkan tangannya menahan kesalnya.
Memang benar Aizawa orang yang licik, memakai ucapannya agar ia tetap di sini?
"Eryk lelaki yang tidak suka menunggu lama." kata Gaea. "Aku di sini hanya minum supaya bisa rileks sebentar."
"Baiklah," kata Aizawa. "Senang berbincang denganmu, Gaea-san."
__ADS_1
Semau apa pun Gaea ingin menjawab dengan ketus, ia tidak bisa, dengan senyum palsunya ia menjawab. "Aku juga, Aizawa-san. Permisi, ya," katanya lalu keluar dari ruangan, di sana ada Richard yang berdiri menjaga pintu luar. Tidak peduli, ia berjalan meninggalkan ruang itu.
Aizawa yang masih berada di ruangan, berjalan menuju jendela, matanya melirik keluar jendela, mencari sesuatu di sana, menyeringai kecil setelah menemukannya, sebuah cipratan berwarna merah.
"Sepertinya kau bukanlah wanita yang berwajah cantik saja, Gaea-san..."
***
Gaea kembali ke tempat terakhir kali Eryk dan Aozora pergi, sebuah ruangan yang kini ramai dipenuhi peserta lelang.
"Aku tidak tahu mereka ke mana, mungkin aku harus mencari Rainer?" gumam Gaea.
Padahal Aizawa bilang acara lelang sudah di mulai tetapi kenapa tidak ada tanda-tanda Eryk atau Aozora di depan podium lelang?
Gaea mengepalkan tangannya.
Kecuali itu memang disengaja agar ia yang memang tidak suka keramaian bisa berdiam diri?
Gaea menepuk keningnya, ia merasa kecewa akan dirinya sendiri, haruskah ia bercerita tentang percakapan Aizawa tadi pada Eryk? Ia menggelengkan kepalanya, tidak bisa, ia tidak bisa bercerita sekarang, Eryk pasti akan kehilangan fokusnya, ia takkan membiarkan itu terjadi, ini kan lelang pertama yang dibuat Eryk.
'Lelah sekali menjadi tunangan Eryk.'
Gaea berjalan ke lorong yang sedikit sepi, bersandar di dinding, mengembuskan napas kecil. Setidaknya ia harus berusaha tidak sendirian sampai lelang ini berakhir. Ia mengambil ponselnya hendak menelepon Rainer sampai suara berat menghentikannya.
"Kau masih di sini?"
Gaea menengadahkan kepalanya, wajah Eryk yang heran menyambutnya. "Eryk!?"
"Kau tidak ke ruangan? Mana Rainer?" Eryk bertanya lagi, melirik ke sana kemari mencari saudaranya.
Gaea begitu lega benar-benar lega melihat Eryk, entah apa yang dirasakannya, ia langsung menghambur ke dada pria muda itu, memeluknya erat.
Eryk tentu terkejut dipeluk tiba-tiba seperti itu namun, ia tidak melepaskannya karena ada beberapa orang yang melewati mereka. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya pelan.
"Bisakah kau bilang, kerja yang bagus Gaea?" pintanya pelan, tanpa beranjak sama sekali.
Ia butuh semangat meskipun usaha tadi sedikit gagal.
Dan semangat Eryk yang ia paling butuhkan saat ini.
"Permintaan macam itu?" tanya Eryk heran.
"Please?" Gaea meminta sekali lagi, kali ini memandang mata biru Eryk memelas.
Eryk tidak menjawab, memerhatikan Gaea apakah ini sebuah gurauan, dan menyadari bahwa tubuh wanita muda itu gemetaran seperti ketakutan? Ia mengerti bawah wanita muda itu tidak sedang mempermainkannya, ia berkata pelan. "Kerja yang bagus, Gaea..." sambil membelai lembut rambut wanita muda itu, yang seketika membuatnya teringat sesuatu. "Kau cantik sekali hari ini..."
Mata hijau Gaea melebar.
'Eryk memujiku? Eryk—?'
Tetapi ekspresi Eryk sama sekali tidak main-main, serius, sentuhan pria muda itu juga lembut sekali di rambutnya.
__ADS_1
"Kalau begitu cium aku..."