Sweet Revenge

Sweet Revenge
Chapter 63 : The Truth (Rainer Part 2)


__ADS_3

Gaea mengeratkan cengkeraman tangannya di jaket Rainer memberikan isyarat untuk tak meladeni cemooh Ethan. Ia sendiri juga kesal mendengar Rainer diejek, memang benar jika Rainer memiliki tubuh yang lebih kurus dari Eryk, namun bukan berarti Rainer berbeda.


"Aku terkesan kau memperhatikanku hingga sedetail itu, aku akan catat di kepalaku untuk menjadi lelaki sejati," kata Rainer kalem. "Oh, mungkin dimulai dengan membatasi ucapan omong kosong sepertimu tadi."


Gaea tertawa kecil mendengarnya.


Ethan mengepalkan tangannya emosi.


"Sudah, sudah. Kau lagi, Ethan! Jangan cari masalah dengan tamu kita," kata Lily tajam, berdiri di antara kedua pria muda itu. "Aku harap kau tidak tersinggung Rainer, Ethan memang sedikit posesif dengan siapa Gaea bergaul apalagi lelaki."


Rainer mengangguk paham, "Sebuah ucapan maaf tidak masalah bagiku."


Lily melirik Ethan dan berkata, "Kau dengar tamu kita?"


Ethan membuang mukanya, "Lebih baik aku membersihkan halaman daripada meminta maaf."


Rainer berpikir sebentar, "Ide yang bagus. Halaman rumah Bu Lily banyak tumpukan salju besar kulihat tadi, jadi membersihkan tumpukan boleh juga."


"Karena semalaman salju turun lebat jadi tidak heran," kata Lily, "kau bersihkan itu setelah makan, Ethan."


"Apa!?"


"Kau mau membersihkan tumpukan atau bilang menyesal padaku?" tanya Rainer tanpa beban. "Pilihlah, aku dengan senang hati menerimanya."


Ethan tidak tahan lagi dan melepaskan pukulan ke wajah Rainer yang sekarang begitu menyebalkan di matanya, tersenyum puas melihat pria itu terhuyung mengenai Gaea hingga mereka berdua jatuh ke lantai kayu cokelat tua.


"Ethan!" seru Lily penuh emosi. "Kau sudah salah malah memukul juga!? Tidak ada makan malam buatmu! Bersihkan halaman sekarang juga!"


"Tapi Buβ€”" Ethan hendak membela diri.


"Sekarang juga!" Lily memotong tajam.


Ethan segera berlari keluar rumahnya, diikuti Lily, mau mengamatibpekerjaan anaknya itu benar atau tidak, sebelum pergi, ia bergumam maaf pada Rainer.

__ADS_1


Gaea merintih pelan memegangi pinggangnya yang sakit tidak kuat menahan tubuh Rainer yang jauh lebih berat dan besar, ia duduk di lantai sambil berkata, "Kau tidak apa-apa?"


Rainer tidak menyahut, merasakan nyeri di sudut bibir kirinya, pukulan tadi keras sekali dan tiba-tiba hingga ia tidak sempatkan diri mengelak karena efek lelah dan jet lag, segera ia mengambil di atas meja ruang tamu dan menempelkannya di pipinya, mengerang pelan melihat ada darah merah segar di sana, "Sialan," umpatnya.


Dihiraukan, Gaea memberanikan dirinya menyentuh pipi Rainer, mengecek keadaan pria itu, meringis melihat sudut bibir Rainer mengalami luka sobek walaupun terbilang kecil, "Harus cepat diobati," katanya.


Rainer hanya diam, menerima bantuan Gaea memindahkannya duduk di kursi ruang tamu, bersandar di kepala sofa dan merintih lagi sementara Gaea pergi mengambilkan kotak obat yang berada di lemari.


Gaea senang melihat ibunya masih suka menyetok kapas, alkohol dan obat antiseptik. Ia mengambilnya beberapa helai kapas dan botol berwarna biru bertuliskan hydrogen peroxide, melepas sarung tangan wol yang dipakainya, membersihkan tangannya dari kemungkinan bakteri atau virus bisa masuk ke luka ketika sedang mengobati, setelah selesai, ia kembali ke tempat Rainer berada, membuka tutup botolnya dan menuangkan cairan bening itu ke dalam kapas, "Ini akan sedikit perih, tahan, iya?"


"Aku mencoba," Rainer menyahut sekenanya, dan Gaea pun menempelkan kapas tersebut ke sudut bibirnya yang terluka, rasa perih bercampur dingin membuatnya meringis tanpa sadar, "Aww ...."


Gaea tidak menghiraukan, terus melakukan pekerjaannya, "Kau lelaki, masa hanya luka segini, merintihnya seperti anak kecil?"


Rainer merasa tersinggung dengan nasihat Gaea apalagi ini separuh akibat menuruti kemauan wanita itu, "Cobalah berada di posisiku, rasakan sensasi ini."


"Iya, iya, aku salah," kata Gaea disela-sela membersihkan luka Rainer. "Kau tidak merasakan hal lain, 'kan? Seperti napas mu sesak? Coba sentuh gigimu dengan lidah, apakah ada yang goyang atau patah."


"Hm," Gaea mempercayainya kalaupun Rainer berbohong, pasti ketika berbicara, darahnya sudah keluar kemana-mana. "Iya selesai, tinggal memasang plester supaya tidak infeksi."


Rainer memperhatikan Gaea yang sepertinya menikmati diri menjadi suster dadakan, "Kau ahli soal ini, iya?"


Gaea tertawa disela-sela membubuhkan cairan antiseptik ke dalam plester putih yang berukuran sebesar telunjuknya, "Aku dulu suka bermain menjadi dokter bersama ...," ia berhenti berkata, tersenyum pahit mengingat kedua temannya yang telah pergi selama hampir sebelas tahun.


"Bersama?"


"Itu tidaklah penting," kata Gaea, meletakan plester di sudut bibir Rainer secara perlahan, menekannya lembut agar menempel.


Rainer menyentuh tangan Gaea yang masih berada di pipinya, menatap lurus mata hijau di depannya, "Kalau tidak penting, kau pasti melanjutkannya."


Gaea terpana sesaat sebelum kemudian tertunduk sedih setelahnya, "Bersama Rey dan Rai, orang yang paling aku rindukan hingga sekarang ...," katanya pelan.


Rainer pun ikut tertunduk sedih.

__ADS_1


Siapa sangka Gaea masih merindukan dirinya dan Eryk.


Rainer mengira Gaea sudah lupa, mengingat ia pernah memberikan petunjuk sewaktu di taman, tapi Gaea merespon alot.


Dulu, setelah kepergian ayah angkatnya, Rainer ingin berkunjung ke tempat Gaea sekedar menghibur diri sebab senyuman wanita itu menjadi penyembuh depresinya akan kepergian orang tua kandungnya, tapi Eryk tidak mengijinkan bahkan bilang akan mengeluarkannya dari rumah jika berani berkunjung ke tempat Gaea lagi.


Rainer yang tidak memiliki kekuatan hanya bisa menurut, menghabiskan waktunya di kamar sendirian hingga tanpa sengaja saat mencari materi tugas sekolahnya di internet, ada sebuah artikel menarik soal pekerjaan Hacker yang bertugas membobol sistem keamanan seperti kamera CCTV. Otaknya seketika teringat ada kamera pengawas di taman bermain kepolisian.


Rasa rindunya terhadap Gaea tidak terbendung lagi, dan ia pun memutuskan mendalami dirinya mempelajari cara membobol sistem keamanan, membutuhkan waktu cukup lama memang, tapi berhasil juga, ia bisa melihat wajah Gaea lagi, yang saat itu sudah berubah murung tidak mau bermain dengan anak lain, menyendiri mengayunkan ayunannya, mungkin karena ia dan Eryk sudah tidak berkunjung.


"Soal Rai dan Reyβ€”"


"Maaf menunggu lama," kata Lily memotong ucapan Rainer, melirik wajah pria itu, sadar ada plester di sudut bibirnya. "Ah ... lukanya sudah diobati, baguslah. Kau yang melakukan itu, sayang?"


Gaea mengangguk penuh rasa bangga, "Menunggu Ibu lama, bisa-bisa luka Rainer infeksi duluan."


"Oh, maaf iya," kata Lily sambil membuka sepatu boot miliknya, meletakannya di atas rak sepatu, "Ibu harus melihat pekerjaan Ethan," ia melirik keluar ke Ethan yang masih sibuk membersihkan tumpukan salju, lalu tersenyum lebar. "Kalian pasti lapar! Ibu ambilkan makan malamnya, iya!"


Sejujurnya Gaea masih kenyang karena sandwich tadi, tapi melihat ibunya yang begitu riang dan antusias membuatnya mengangguk semangat juga, "Tentu, Bu! Menu makan malamnya apa, iya?"


"Kau ini seperti tidak tahu saja!" kata Lily. "Tentu saja menunya kebanggaan kota kita, kepiting Alaska!"


***


Tou-san : Ayah


Kaa-san : Ibu


Akhirnya masa lalu Rainer terungkap sampe kenapa dia jadi Hacker, mungkin kisah Rainer yang paling menyedihkan di antara karakter lain sejauh ini, saya memberi nama 'Rain' bukanlah tanpa alasan 😊


Jangan lupa ya like dan komentar mengenai novel saya ini 😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2