Sweet Revenge

Sweet Revenge
Episode 10 : Little Break (2)


__ADS_3

"Pet shop!?" Rainer nampak terkejut sebelum berubah menjadi cemas. "Kenapa kita harus ke sana?"


"Aku mau berlibur di rumah Ava jadi aku menitipkan kucingku di sana," jelas Gaea semangat.


"Oh," Rainer mengerti, ia sendiri tidak memiliki masalah dengan kucing, di sisi lain ada seseorang yang mungkin akan panik. "Poor Eryk." gumamnya pelan.


"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Gaea.


Rainer menggelengkan kepalanya, mata hitamnya tetap tertuju pada jalan aspal.


Gaea bersumpah bila Rainer mengatakan sesuatu entah itu umpatan, keluhan atau senang? Ia pun mengangkat bahu tak acuh dan kembali melihat keluar jendela untuk memastikan gedung pet shop tak terlewat.


"Ah, itu dia, Rainer." Gaea menunjuk sebuah gedung kecil yang diapit oleh gedung pencakar langit, di atas pintu terdapat sebuah plang bertuliskan: Lunatic Pet Shop.


Rainer mencari tempat parkir karena toko tersebut tak menyediakan lahan parkiran, ia terpaksa parkir di bahu jalan yang telah disediakan, lalu mengambil tiket parkir di mesin. "Aku harap kita tidak lama karena hanya diperbolehkan parkir selama sejam saja." jelasnya.


Gaea mengangguk paham. "Aku hanya mau mengambil saja, takkan lama kok."


"Hm... ?" Rainer menyahut sekenanya, mengambil ponselnya di sakunya, mengecek apa ada sesuatu yang baru.


Gaea berpikir sejenak, meninggalkan Rainer sendirian di sini tidaklah baik. "Bagaimana kalau kau ikut?"


"Aku?" Rainer terkejut bukan main.


Gaea mengangguk. "Aku rasa melihat binatang yang lucu lebih baik daripada bermain ponsel sendirian," bujuknya, tersenyum semanis mungkin.


"Aku tidak terlalu suka dengan binatang," Rainer menolak namun suaranya terdengar tidak tegas seakan ada hal yang disembunyikan.


Gaea memutar bola matanya bosan akan sikap Rainer yang terlalu memasang tembok tinggi di antara mereka; ia lantas mengaitkan tangan mereka, "Kau akan menyukai ini. Aku yakin." katanya sambil menarik Rainer agar mau mengikutinya.


Rainer tidak berkutik, tangan Gaea begitu erat memegang lengannya, memastikan ia tidak protes, ia hanya pasrah saat mereka memasuki gedung pet shop.


"Selamat datang di Lunatic." kata seorang wanita muda berambut hitam menyambut sopan, matanya langsung melebar melihat Gaea masuk bersama Rainer. "Kenapa kau di New York, Gaea?"


"Aku membatalkan keberangkatanku dan memilih merayakan natal di sini, Nadine," sahut Gaea.


"Ah!" Nadine teringat sesuatu. "Kau kan baru saja dilamar, tentu saja." katanya manja. "Aku pun takkan mau ke luar negeri jika yang melamarku setampan itu."


Gaea terbatuk; dari mana Nadine tahu soal lamaran itu? Apakah ada yang merekamnya? Apakah mereka tak tahu privasi? Dan tentu teman-temannya langsung tahu bila wanita yang ada di video itu dirinya.


Kenapa Eryk tidak bilang padanya?


"Berikan aku kucingku saja, Nadine." pinta Gaea pelan.


Nadine mengangguk. "Tunggu sebentar ya." katanya.


Gaea mengangguk.


Gaea tahu berita ini cepat atau lambat akan tersebar di teman-temannya hanya saja melihat wajah polos mereka yang begitu bahagia dengan lamaran palsu ini membuatnya merasa bersalah.

__ADS_1


"Gaea, kupikir akan lebih baik jika kau tetap menaruh kucingmu di sini." Rainer membuka suara, nada bicaranya cemas.


"Kenapa aku harus?" tanya Gaea heran. "Aku sudah sendirian di sini, membawa kucingku pasti boleh kan? Ini bukanlah masalah besar."


Rainer menggaruk belakang lehernya gugup.


Gaea dapat melihat raut kecemasan di wajah Rainer. "Kenapa memangnya?" tanyanya.


Rainer lebih memilih diam.


Gaea memutar bola matanya; tipikal Rainer, selalu memberikan pesan yang ambigu. "Aku akan membawa Bintang tidak peduli kau suka atau tidak."


"Bintang?" Rainer heran dengan nama tersebut, terdengar asing di telinganya, tetapi ia suka nama itu karena unik; ia penasaran berapa bahasa yang dikuasai Gaea.


Gaea mengangguk kecil. "Nama kucingku Bintang, kau tahu Nadine, dia dari Bali, dia yang mengajariku bahasa Indonesia." jelasnya semangat. "Bintang berarti star kau tahu?"


"Oh, Bali ya..." Rainer mengetahuinya, Eryk pernah ke sana untuk bisnis, namun ia mengira selama ini Bali adalah sebuah negara. "Tapi Indonesia? Aku baru tahu Bali termasuk Indonesia."


"Hei! Jangan salah ya, Bali termasuk Indonesia." kata Gaea sedikit menaikan nadanya. "Walaupun aku juga baru tahu dari Nadine juga." lanjutnya malu.


"Siapa yang merasa malu sekarang?" kata Rainer sedikit mengejek.


"Oh, diamlah." kata Gaea tajam namun pipinya masih merona karena malu.


"Ini Bintang," suara Nadine mengakhiri percakapan mereka berdua.


Gaea menatap kucing kecil berbulu putih dengan corak berwarna oranye itu penuh cinta, padahal ia baru meninggalkan Bintang beberapa jam yang lalu namun ia sudah merasakan rindu. Dengan semangat ia mengangkat Bintang, menggendongnya, menghadap Rainer lagi, memperlihatkan kucing miliknya pada pria muda itu. "Dia begitu imut, kan?" tanyanya.


Gaea tahu pujian itu bukanlah untuknya namun ia tetap merasa tersentuh, dan lagi kenapa juga mata Rainer saat mengatakan hal tersebut tertuju padanya bukan pada kucingnya? Ia jadi berpikiranan lain. "Kau ingin menggendongnya?" ia menawarkan.


"Aku rasa tidak perlu," Rainer menolaknya halus; jika ia menyentuh Bintang, ia yakin pasti akan kena marah Eryk juga.


"Jangan malu begitu, Rainer." Gaea tidak menyerah. Ia mengangkat Bintang hingga sejajar dengan wajahnya. "Bintang akan tinggal bersamamu juga, jadi aku mau kau berteman akrab dengan dia."


"Dia hanya seekor kucing." keluh Rainer, dan ia lebih masuk tipe yang suka ******.


"Jangan berbicara seperti itu!" seru Gaea. "Kau menyakiti perasaan Bintang, Rainer."


Rainer memutar bola matanya. Sekarang wanita muda di depannya ini terlalu mendramatisir keadaan, ia tentu tahu jika hewan memiliki perasaan hanya saja kali ini yang akan disentuhnya seekor kucing, musuh abadi Eryk. "Hm," matanya secara bergantian menatap wajah Bintang serta wajah Gaea yang antusias, dan akhirnya ia mengulurkan tangan kanannya.


Gaea sejak tadi yang antusias akan respon Rainer berubah terkejut saat tangan pria muda itu terulur bukan untuk menyentuh Bintang akan tetapi justru ke dagunya, memberikan belaian lembut di sana, yang sukses kembali memunculkan rona merah di kedua pipinya.


'Apa yang baru terjadi?' tanya Gaea di dalam hati.


Tubuhnya tidak bergerak bahkan hingga Rainer mengakhiri sentuhan di dagunya dan beralih mengambil Bintang dari kedua tangannya.


Sentuhan Rainer memang singkat tetapi terlalu lembut untuk sekedar lelucon, dan itu memberikan petunjuk misterius lagi baginya.


Rainer membelai kepala kucing tersebut dengan lembut. "Dia tipe yang jinak ya?" tanyanya.

__ADS_1


Gaea tersadar dari lamunan, "Oh, uh, ya." ia merutuk dalam hatinya akan jawaban yang gugup itu. Ia lantas berdehem untuk menormalkan degub jantungnya. "Benar, Bintang tipe kucing yang mudah percaya pada seseorang. Jika kau memperlakukan dia dengan benar, tentu saja."


"Kau tidak membicarakan dirimu sendiri kan?" goda Rainer.


"Hey!" sahut Gaea tidak terima.


Rainer tertawa kecil, yang membuat Gaea juga ikut tertawa.


"Maaf jika aku menyela pembicaraan manis kalian." kata Nadine. "Tapi siapa dia, Gaea?"


"Oh," Gaea lupa jika ada Nadine di sini. "Rainer, dia temanku," jelasnya. "Dan sahabat dekat Eryk," ia menambahkan agar terdengar masuk akal.


Nadine mengembuskan napas lega. "Aku pikir dia selingkuhanmu karena kalian terlihat mesra." katanya. "Aku kan mendukungmu dan Eryk."


"Huh!?" Gaea tidak menyangka Nadine menilai obrolan mereka seperti itu, ia merasa obrolannya dengan Rainer biasa saja, atau mungkin terlihat mesra karena tadi pria muda itu menyentuh dagunya, ia lantas melirik diam-diam Rainer yang berada di sampingnya, wajah pria muda itu terlihat tidak nyaman.


"Aku pikir sudah cukup kita di sini..." Rainer bersuara akhirnya, mengembalikan Bintang ke Gaea. "Kita pulang, Gaea."


Gaea tidak menjawab.


Ya, bisa dipastikan Rainer merasa tidak nyaman.


"Sedang bertemu denganmu, Nadine." kata Rainer sopan, mengulurkan tangannya.


Nadine membalasnya dengan senang hati. "Aku juga,"


Rainer menarik kembali tangannya, mundur selangkah baru berbalik dan mulai berjalan keluar.


"Terima kasih sudah menjaga Bintang ya Nadine." kata Gaea.


"Tentu saja demi pelanggan setiaku," sahut Nadine. "Dan selamat atas pertunanganmu juga ya," godanya.


Gaea nyengir, dan menyusul Rainer, ia berlari kecil hingga akhirnya sampai di belakang pria muda itu. "Kau tak perlu memikirkan ucapan Nadine, dia hanya bergurau saja Rainer."


"Tidak," kata Rainer tanpa menoleh. "Aku hanya menyadari aku terus melanggar apa yang aku buat saat bersamamu."


"Huh?" Gaea tidak mengerti sama sekali; melanggar apa? Melanggar mengobrol dengannya? Itu tidak masuk akal, ia kan bukan seorang kriminal.


"Lupakan aku mengatakan itu." kata Rainer, walaupun ucapannya sekarang tajam, ia masih bersikap gentle dengan membukakan pintu mobil untuk Gaea.


"Hm," Gaea bergumam murung, ia masuk ke dalam mobil, diikuti Rainer. "Kita mau ke mana sekarang... ?" tanyanya memecah keheningan.


"Kau bergurau ya? Tentu kita kembali ke tujuan utama, apartemenmu," kata Rainer dingin.


Gaea memandang murung Bintang yang berada di pangkuan pahanya.


Ya, Rainer kembali menjadi dingin lagi.


Gaea memang sudah bertanya soal ini, namun ia ingin memastikan sekali lagi. "Memang bisa? Aku yakin bakal banyak Polisi." katanya. "Dan berbicara Polisi... kenapa kita tidak dimintai keterangan?"

__ADS_1


Ia merasa aneh sampai sekarang tidak mendapat telepon dari Polisi, ia dan Eryk kan korban.


"Itu karena Eryk tidak memanggil mereka,"


__ADS_2