
"Tidak!"
Gaea dan Lily melirik ke arah Rainer yang barusan berteriak layaknya anak kecil.
Menjadi pusat perhatian, pipi Rainer mulai berhiaskan rona merah samar, "Apa hanya kepiting?"
"Hanya ada salad calamari dan kue keju sebagai makanan penutup," kata Lily.
"Aku klaim itu," kata Rainer cepat.
Gaea melongo mendengarnya, kemudian tertawa tertahan melihat tingkah Rainer. Sejujurnya ia bisa memisahkan makanan khusus pria itu, namun melihat tingkah Rainer yang seperti ini menyenangkan juga.
"Kau takkan kenyang, Rainer," kata Lily. "Ibu yakinkan masakan kepiting buatan ibu enak sekali."
Rainer menggaruk belakang lehernya gugup, merasa bersalah melihat antusias Ibu Gaea, ia ingin sekali mencobanya, tidak bagus juga menolak makanan, tapi alerginya menahan keinginannya.
"Rainer alergi kepiting, Bu," kata Gaea, "aku baru mengetahuinya tadi jadi tidak sempat bilang ke Ibu, maaf iya."
"Begitu, padahal Ibu sudah menyiapkan kepiting yang paling besar untuk hari ini," kata Lily kecewa.
Hati Rainer jadi tidak enak pada Ibu Gaea, ia yakin masakan tersebut dibuat dengan penuh cinta sembari memikirkan akan seperti apa responnya dan Gaea ketika mencobanya.
Alergi yang dideritanya tidak pernah tidak mengecewakannya.
Kenapa juga makanan khas di sini harus kepiting?
"Bu, masih ada aku dan Ethan loh." Gaea mencoba menghibur. "Aku yakin pasti habis!"
Senyum sumringah muncul di bibir Lily lagi, "Ibu lupa memiliki anak yang doyan makan."
Gaea mengeluarkan tawa yang kikuk, kehidupannya yang sederhana serta ibu angkatnya yang selalu mengajarkan untuk tidak membuang-buang makanan, mengalir di dalam darahnya sekarang.
Gaea juga diajari menawar makanan yang begitu membantu ketika tinggal di New York apalagi saat krisis tanggal tua, trik makan sampel makanan di supermarket sampai dilakoninya hanya demi mengganjal perut hingga jam makan siang.
"Ibu ambilkan sebentar iya?"
Gaea mengikuti ibunya, membantu menyiapkan makan malam, mengambil tugas mengangkat piring berisi kepiting steam yang begitu menggoda di matanya, meletakannya di meja makan, lalu balik lagi menuju dapur setelahnya, mengambil piring bulat berwarna putih susu berjumlah empat, meletakannya di masing-masing satu depan kursi. Tanpa kenal lelah, ia melanjutkan menyiapkan sisanya, meminta ibunya untuk berhenti menghukum Ethan agar dapat makan malam bersama.
Walaupun Gaea akui akan jauh lebih baik tanpa Ethan, rasa simpatinya menang dari kebenciannya, lagipula sudah berlalu juga, hatinya sudah memaafkan hanya otaknya akan terus mengingat perbuatan itu.
Gaea tersenyum kecil saat mengambil tempat duduk di samping Rainer, "Apa bibirmu akan baik-baik saja?"
Rainer menempelkan gelas berisi air ke bibirnya yang tertutup rapat, membuka belahan bibirnya pelan-pelan, dirasakan tidak memberikan efek apa-apa, ia pun memberanikan diri melebarkan lagi, baru meneguknya hingga habis, "Tidak apa."
"Kau harusnya mencoba makan bukan minum," Gaea memprotes kecil, belum puas.
Rainer tidak menyahut, menatap kepiting yang berada dihadapannya gugup, aroma daun herbal menyeruak memasuki indera penciumannya, ia tidak memiliki masalah dengan aromanya malah baginya tercium harum, melihat kepiting utuh Alaska itulah yang membuat wajahnya pucat dan merasa mual di perutnya.
Alerginya memang terbilang cukup parah, hanya melihat begitu berpengaruh kepada tubuhnya.
Tidak tahan, Rainer membuang muka ke arah lain sambil bertopang dagu menutupi hidung mancungnya.
Gaea memiringkan kepalanya, "Rainer?" Seketika, ia mendengar kursi di sampingnya berbunyi, dan melirik siapa yang duduk di sana, matanya melebar mengetahui itu Ethan bukan ibunya. Ia mengambil napas dalam, meyakinkan dirinya bahwa takkan terjadi apa-apa selama makan malam ini.
"Baiklah," kata Lily.
__ADS_1
Mereka berdo'a bersama-sama, barulah mengambil sedikit demi sedikit hidangan yang tersaji.
Gaea sendiri tanpa ragu langsung mengambil bagian kepiting Alaska, sudah tidak tahan ingin mencobanya apalagi ini buatan ibunya. Ia membuka cangkang kaki kepiting dengan menggunakan gunting yang sudah disiapkan tadi, membelah menjadi dua memperlihatkan daging empuk berwarna merah, takjub sesaat baru memasukannya ke dalam mulutnya.
Rainer mengambil salad yang terpisah dari hidangan utama, melahapnya juga menahan rasa mual di perutnya. Ia tidak bisa penuh menikmatinya, salad kan tidak memiliki rasa yang khas cuma mayonaise penolongnya. Ia buru-buru menghabiskannya dirasa perutnya semakin memburuk, "Permisi."
"Eh?" Gaea berhenti memasukan daging kepitingnya melihat Rainer bangkit dari duduknya, berlari menuju keluar rumah tanpa menoleh sama sekali. "Kenapa iya?" gumamnya cemas.
"Kenapa kau tidak melihat saja, sayang?" tanya Lily.
Gaea melirik makanan yang masih tersisa di piringnya dilema, ia masih ingin makan, tapi ia juga cemas akan keadaan Rainerโhingga sentuhan di pahanya membangunkan semua kesadarannya. Ia terbatuk, melirik ke bawah meja, benar dugaannya bahwa pelakunya itu tangan, tepatnya tangan Ethan bergerak naik turun di pahanya, menggodanya.
Tubuh Gaea membeku, kenangan masa lalunya menghuni pikirannya, membuat jalur napasnya bergerak cepat.
Tidak.
Ternyata Ethan tetap sama, tidak berubah setelah empat tahun lamanya.
Kriminal tetaplah kriminal.
Gaea tersadar merasakan tangan Ethan bergerak naik dan ketika sampai di bagian sensitifnya, ia melawan ketakutannya, dan memaksakan tubuhnya bangkit dari duduk. Dengan rona pipi merah yang nyata, ia berkata gugup, "A-aku mau menyusul Rainer."
"Tapiโ"
Gaea tidak memperdulikan, yang ada dipikirannya hanyalah kabur dari sini, dari sentuhan Ethan yang menyakitkan. Tanpa dicari, ia menemukan Rainer berjongkok di teras depan, "Kau baik-baik saja?"
Rainer melirik Gaea sekilas, barulah bangkit berdiri, "Iya, kurasa."
Gaea memperhatikan wajah Rainer yang pucat pasi seakan habis melihat hantu, "Hm, wajahmu tidak bisa berbohong, Rainer. Kau sakit?"
Gaea menggaruk lengannya, benar adanya ia menginginkan melanjutkan makannya, tetapi mengingat kembali makan akan membuatnya mendapat sentuhan Ethan di pahanya, selera makannya hilang sedetik kemudian.
Gaea tidak ingin kembali ke rumah, tidak sampai Ethan dan ibunya selesai makan.
"Hey, Rainer."
"Hm?"
"Bagaimana kalau kita menonton kembang api tahun baru di luar?"
Rainer berpikir dalam. Udara se-dingin ini, ia tidak mengerti kenapa Gaea mau merayakan di luar padahal mereka bisa menonton di atas atap mengingat rumah ibu Gaea bertingkat dua.
"Please?" Gaea menambahkan dengan ekspresi puppy eyes andalannya.
Rainer mendengus jengkel, ekspresi seperti itu mana mungkin ditolaknya, "Baiklah."
Gaea bertepuk tangan riang, "Ayo."
Rainer mengikuti dari belakang dengan malas.
***
Begitu banyak tempat strategis menonton kembang api di Sitka bahkan di jalan pun bisa sebab sudah banyak yang mulai memasang petasan maupun kembang api.
Gaea meniupkan tangannya yang tidak berbalut sarung, menghantarkan napas hangatnya ke tangannya yang sudah dingin membeku, salahnya tadi langsung pergi tanpa melakukan persiapan sama sekali hanya meminta ijin pada ibunya.
__ADS_1
Rainer menarik tangan Gaea, melepaskan satu sarung tangannya, memasangkannya di tangan wanita itu, "Dengan begini adil."
Gaea memutar bola matanya, memang harus bersyukur Rainer memberikan bantuan, hanya saja apakah harus sebelah sarung saja? Tidak bisakah Rainer bersikap seperti lelaki gentle di banyak drama yang ditonton olehnya? Pikirannya terputus ketika tangan yang tidak bersarung, digenggam oleh Rainer lalu memasukan tangan mereka ke dalam saku jaket tebal pria itu.
"Puas?" tanya Rainer dengan rona di pipinya.
Melihat tingkah Rainer yang malu-malu, membuat Gaea merona merah juga, tertunduk membenarkan rambutnya gugup. Ide Rainer cukup bagus sebab tangannya tak lagi kedinginan, kepalanya mengangguk sebagai jawaban.
Mereka berjalan dalam keheningan yang canggung, pikiran mereka berkecamuk satu sama lain, berpikir untuk membuka topik pembicaraan.
"Jadi tujuannya?" tanya Rainer.
"Oh," Gaea teringat akan tujuan awalnya, dilihatnya papan petunjuk jalan, menghela napas lega mengetahui jalan yang diambil mereka benar adanya.
"Gaea," panggil Rainer tidak sabar.
"Kau ini, berbicara sopan sedikit kenapa," kata Gaea.
"Aku akan jika kau tidak diam layaknya orang patah hati," kata Rainer.
Gaea tidak memperdulikan, sibuk mengecek nama jalan agar mereka tidak tersesat.
"Sudah sampai," kata Gaea.
Rainer melirik ke sekelilingnya, dan tertawa kecil mengetahui itu pinggir pantai, ia tertawa sebab tidak merasa heran Gaea akan membawanya ke tempat seperti itu. Ia duduk di kursi yang terbuat dari semen dan batu bata, memandang takjub setiap kembang api yang meramaikan langit hitam di atas mereka.
Gaea ikut duduk, "Cantik bukan?"
"Hm ...."
"Di sini juga bisa melihat aurora loh," kata Gaea semangat. "Aku suka melihatnya dulu."
"Pasti menyenangkan bisa melihatnya, iya?"
Gaea menganggukkan kepalanya, "Tentu saja, temanku di sini bahkan menghormati aku tak seperti keluargamu yang memperlakukanku seperti boneka."
Rainer mengerutkan alis hitam tebalnya jengkel, "Apa maksudmu berpikir begitu? Kami hanya menuruti perintah Eryk."
"Iya, Eryk."
"Dan aku melihatmu sebagai wanita," kata Rainer serius.
"Eh?" mata Gaea melebar tidak menyangka mendapat pengakuan yang tiba-tiba begini.
"Wanita yang spesial bagiku," Rainer menambahkan, matanya menatap lurus mata hijau Gaea.
"Rainer ...."
***
Jangan lupa ya like dan komentar kalian mengenai novel saya ini ๐
Beri vote juga ya ๐ novel ini udah bisa masuk ranking loh ๐ vote ๐ฅบ
๐๐๐
__ADS_1