Sweet Revenge

Sweet Revenge
Chapter 31 : The Dream


__ADS_3

Mereka kembali ke rumah tanpa ada percakapan sama sekali di dalam mobil.


Gaea sendiri tidak keberatan Eryk belum bicara dengannya, ia menilai itu baik sebab Eryk berpikir mengenai ucapannya dan Rainer tadi.


Yang Gaea cemaskan adalah Lola, ekspresi wajah apa yang harus ia pasang ketika mereka tanpa sengaja berpapasan di rumah?


Sedih? Datar? Jijik?


Semuanya buruk, mungkin Gaea mengurung diri saja di kamar hingga malam baru keluar.


Gaea tersenyum jahat.


Ide yang cemerlang, ia bisa melakukan itu, lalu tengah malam bisa nonton film yang belum sempat diselesaikan olehnya tadi.


Gaea berpikir haruskah mengajak Alex? Mengingat tadi mereka menonton bersama.


Mungkin di antara semua keluarga Enzo, Alex yang paling dekat dengannya setelah Lola.


Mobil berhenti, Gaea segera membuka pintu dan keluar berlari ke dalam rumah, di sana untung tidak ada Lola, hanya Alexander dan Alex di dalam.


"Aku pulang," Gaea menyapa hangat di tengah larinya menuju kamarnya.


"Selamat datang kembali, babe—eh?" Alex yang hendak menyapa syok Gaea hanya melewati dirinya. "Hati-hati, babe!"


Gaea terus berlari hingga sampai ke kamar miliknya, membukanya, dan menguncinya dari dalam.


"Meong~"


Gaea tersenyum lebar, membawa Bintang ke pelukannya, seharian ini ia takkan kesepian di dalam sebab ada kucing peliharaannya.


***


Eryk melepaskan bajunya, hanya menyisakan celananya, ia merebahkan tubuhnya di kasur.


Ucapan Gaea dan Rainer kembali melintas di pikirannya.


Eryk sungguh tersentuh akan kepedulian mereka berdua padanya, mungkin memang benar adanya ia harus membawa seseorang bersamanya, tapi siapa yang cocok?


Kepalanya mulai pening memikirkan itu.


Eryk pun menutup mata birunya perlahan.


***


Dalam Mimpi


***


Eryk membuka matanya perlahan, mendapati dirinya berada di sebuah padang rumput hijau asing tanpa ada siapa-siapa selain dirinya.


"Halo?" Eryk berkata, berharap ada yang menjawab sayangnya tidak ada. Ia pun mulai berjalan untuk mencari orang lain di sini. Mata birunya melirik ke sana ke mari tetapi hanya ada hamparan rumput hijau yang luas.


Kakinya mulai kelelahan hingga akhirnya membuatnya terjatuh di rerumputan dengan napas yang memburu.


"Eryk."


Eryk segera menoleh ke belakang, tempat arah suara itu berasal, tidak jauh darinya, Gaea dan Katherine berdiri berdampingan dengan tangan mereka berada di belakang.


"Kenapa kalian di sini?" Eryk bertanya-tanya, ia mencoba untuk bangun namun kakinya yang lelah menolak menuruti perintahnya. "Ayolah, mereka ada di depanmu." ia menyemangati dirinya masih mencoba bangun hingga ia merasakan tepukan di bahunya.

__ADS_1


"Eryk, Eryk."


Mata biru Eryk melebar mendengar suara dingin tersebut.


Kervyn tersenyum lebar. "Kau tetap lelaki yang tidak berdaya." ejeknya.


"Kau berbicara pada dirimu sendiri?" Eryk membalas balik ketus, masih mencoba lagi menggerakan kakinya; kenapa begitu berat?


Kervyn menghampiri Gaea dan Katherine yang masih belum bergerak. Ia berdiri di belakang mereka. "Kau hanya lelaki lemah Eryk."


"Apa yang kau lalukan!?" seru Eryk.


Senyum Kervyn kian melebar, ia mengeluarkan dua pistol di sakunya. "Kau takkan bisa menyelamatkan mereka berdua, seperti kau tidak bisa menyelamatkan Ayah kita..." katanya dingin yang kemudian dua pistol di tangannya ia arahkan ke punggung Gaea dan Katherine. "Jadi, pilih adikku yang menyedihkan. Cinta atau kesetiaan?"


Eryk tidak menjawab, dengan sekuat tenaga ia bangkit memaksakan kakinya bergerak—dan berhasil juga ia berdiri, tinggal berjalan ke tempat Gaea dan Katherine, menghentikan Kervyn.


Kervyn mulai kehilangan kesabarannya. "Jadi? Katherine atau Gaea?" tanyanya lagi, kali ini sambil menarik pelatuk pistolnya.


Eryk tidak menjawab.


Siapa yang harus ia selamatkan? Dengan kaki yang seperti orang lumpuh begini.


Eryk mencoba melangkah, yang gagal lagi.


Kenapa langkah begitu berat!? Tadi baik-baik saja!


"Hmph," Kervyn mendecih. "Tipikal Eryk, tidak mau memilih huh? Kau menyakiti hati mereka kau tahu?" tanyanya dengan raut wajah yang sedih hanya sebentar sebelum kembali berubah ekspresinya dingin lagi. "Aku rasa kau suka mereka terluka, huh?"


Mata Eryk melebar. "Tunggu! Aku akan memilih—!"


Kervyn menyeringai, dan menekan pacu pistolnya. "Katakan good bye..."


***


***


"Hentikan!" seru Eryk keras.


Hening...


Eryk melihat ke seluruh ruangan, tidak pernah sekali pun ia merasa senang sekali bisa berada di kamar tidurnya, ia menatap kosong dinding kamarnya.


"Mimpi... ?" gumamnya disela-sela napasnya yang memburu.


Mimpi itu terasa nyata sekali.


Eryk bangun dari tidurnya, dan menyalakan pendingin ruangan untuk menghentikan keluarnya keringat yang begitu banyak dari tubuhnya.


Mimpi tadi apakah sebuah pertanda?


Eryk mengembuskan napasnya, berjalan menuju jendela.


Jika benar, membawa Gaea ke pesta adalah suatu yang fatal.


Normalnya ia tidak percaya hal tersebut, namun membawa Gaea ke sana juga buat apa? Hanya akan mengganggu konsentrasi dirinya untuk mencari Kervyn.


Eryk melirik meja lampu sebentar, berpikir haruskah ia melakukannya?


Ekstra tidak ada salahnya kan?

__ADS_1


Eryk menghampiri meja lampunya dan membuka laci di bawahnya yang berisi pistol di dalamnya, membawanya keluar kamar, berjalan menuju kamar Gaea berada, ia mengetuk pintu kamar wanita muda itu.


Tok. Tok. Tok.


Eryk sedikit menjaga jaraknya teringat Gaea memelihara kucing di kamarnya.


Cklek.


Gaea membuka pintunya lengkap dengan Bintang dipelukannya.


Hidung Eryk seketika gatal. "Hatchi! Hatchi!"


Gaea tidak menyangka itu Eryk yang mengetuk pintunya, ia segera memasukan Bintang ke kamarnya dan menutup pintunya. "Kau ini! Setidaknya bersuara saat mengetuk jadi aku tidak perlu membawa Bintang."


"Ganti baju." kata Eryk sambil menjepit hidungnya agar bulu Bintang tidak masuk.


"Hah?"


"Ganti bajumu, Gaea." Eryk mengulangi dengan nada memerintah kali ini.


Gaea yang lelah bertengkar, menurut saja, mengganti bajunya dengan baju tidurnya toh ia memang berencana tidur sampai malam. "Puas, Tuan?" sindirnya halus.


Eryk yang melihatnya, perlahan menurunkan tangannya dari hidungnya, memastikan ia menghirup dengan dalam, reaksinya sudah tidak bersin lagi. "Aku ingin memberikanmu ini." katanya sambil menyerahkan pistol yang tadi dibawanya.


Gaea terbelalak melihat pistol berada di tangannya lagi. "Kenapa aku harus punya!?"


Tadi pagi belum jelas bahwa ia belum bisa memegang pistol?


"Aku tidak memintamu memakainya langsung, aku hanya ingin kau menaruhnya buat berjaga-jaga," Eryk menjelaskan. "Kau kan berada di rumah selama aku tidak ada, Gaea."


Gaea tertunduk. Jadi ia tidak terpilih ya? Tentu saja jika Eryk yang menentukan akan kecil baginya dipilih, seharusnya ia sudah tahu itu.


Gaea saja yang masih berharap walau kecil.


"Apakah sudah menentukan dengan siapa kau pergi?" tanya Gaea sekalem mungkin.


Eryk bertopang dagu, berpikir. "Antara Alex dan Rainer. Aku butuh Alex karena dia yang paling hebat bernegosiasi, dan Rainer... kau tahu sendiri bagaimana kemampuan dia."


Gaea mengangguk paham.


"Simpan di tempat yang menurutmu aman, selama aku pergi, kau bisa latihan bersama Ferdinand." Eryk menjelaskan sebelum ia merenggangkan ototnya. "Baiklah aku mau berendam di air hangat, aku membutuhkan itu sekali."


Gaea terhenyak dan baru menyadari Eryk hanya mengenakan celana lagi.


Eryk sungguh tidak berbohong ketika berkata suka tidak pakai baju di rumah...


***


Note :


Mimpi tadi ga saya italic karena takut kayak bab sebelumnya muncul simbol * 😣


Silakan mampir ke novelku yang lain


The Lovely One


Menikah Kontrak


Tinggalkan like, komentar dan vote ya biar semakin semangat saya buatnya 😊

__ADS_1


💕💕💕


__ADS_2