Sweet Revenge

Sweet Revenge
Episode 22 : Return To The Past (2)


__ADS_3

Begitu sampai di ruangan kerjanya, Eryk langsung mengerjakan dokumen yang menumpuk akibat seharian tidak dipegang karena mengurus acara lelang, mengecek dengan teliti pengeluaran dan pemasukan perusahaan miliknya.


"Hm ..." Eryk bergumam sambil menggerakan kursi yang didudukinya ke kiri dan ke kanan; penjualan dari awal hingga pertengahan bulan cenderung stabil, angka penjualan naik drastis ada saat ia mengundang penyanyi kenalannya selama seminggu, "Mungkin aku harus mengundang kenalanku yang lain, kali ini ... DJ?"


Seminggu ini Eryk terlalu sibuk dengan pekerjaan serta insiden Gaea sampai tak sempat bermain dengan teman Artisnya. Ponselnya juga penuh dengan pertanyaan kenapa ia tidak lagi main ke bar langganan mereka.


Tok. Tok. Tok.


"Masuk." kata Eryk sambil bertopang dagu.



Pintu terbuka, memperlihatkan wanita muda berambut pirang panjang membawa beberapa dokumen di tangannya, "Ini laporan dari hotel yang kau minta, Tuan Eryk."


"Letakan di meja, Clara." kata Eryk, ia memang memiliki satu hotel miliknya, itu merupakan kerja kerasnya berusaha mengambil kembali apa yang harus menjadi miliknya. Seketika muncul wajah dengan senyum yang begitu dirindukannya. Ia menghela napas kecil, dan bangkit dari kursinya untuk menatap kosong pemandangan di luar jendela.


'Seandainya kau masih di sini, Ayah.'


***


Flashback


***


"Tuan Eryk, kau tidak bisa menjalankan bisnis jadi fokuslah ke sekolahmu, semua kekayaan Tuan Xander akan disita untuk sementara waktu."


Eryk membulatkan matanya, "Bagaimana bisa disita!? Aku sudah dewasa! Mengerti tidak!?" serunya penuh emosi.


"Kau masih empat belas tahun Tuan Eryk, belum legal untuk berbisnis meskipun kau anak Tuan Xander," kata Sebastian kalem, "karena belum mampu itu bisnis Ayahmu akan dipegang oleh orang yang memiliki saham terbesar yaitu Pamanmu."


Emosi Eryk memuncak mendengar kata 'Paman', "Dia bukan Pamanku! Jangan sebut dia lagi di depanku, Sebastian!"


Sebastian tertunduk menyesal, "Iya Tuan Eryk." katanya.


Eryk mengembuskan napasnya menenangkan emosinya yang meledak-ledak sekarang ini, "Maaf iya aku membentakmu, Sebastian. Kau tahu hidupku sekarang ini sungguh hancur ..."


Sebastian terdiam, wajahnya berubah sedih melihat Eryk yang begitu kuatnya tak menangis ketika pemakaman Ayahnya, kini mulai meneteskan air matanya.


Eryk memukulkan tangan ke pahanya. Ia masih tidak percaya dengan semua yang menimpa dirinya, dan di antara semua itu Kervyn yang paling dibutuhkannya justru dalang dari ini semua.


"Tuan Eryk, kau bisa mengaku bahwa yang membuat Tuan Xander tidak ada adalah Tuan Kervyn," kata Sebastian, "memberitahu itu akan membuat kerja Polisi lebih cepat dan Tuan Kervyn bisa segera ditangkap, dan tentu saja Tuan Xander bisa beristirahat tenang."


Eryk menggertakan giginya frustasi, "Jika ada orang yang harus menangkap dia adalah aku bukan yang lain."


"Tetapi Tuan Eryk, kau baru bisa mendapatkan hak kekayaanmu lagi setelah umurmu menginjak dua puluh tahun, waktu yang lama, di waktu selama itu Tuan Kervyn ada kemungkinan sudah keluar negara." kata Sebastian berusaha membujuk, ia sungguh tidak senang akan keputusan Eryk yang tidak mau jujur, terbutakan oleh dendam.


Eryk berpikir sesaat, ada benarnya apa yang dikatakan Sebastian tetapi bara apa dendam sudah terlanjur menguasai di tubuhnya, "Aku akan membiarkan dia bersenang-senang dan di saat itu aku melakukan tugasku, dia akan merasakan apa yang aku rasakan selama ini." katanya dingin.


"Tuan Eryk."


***


Flashback Selesai


***


"Tuan Eryk?"


Eryk menoleh dan menaikan sebelah alisnya mengetahui Clara masih di sini tidak kembali bekerja, "Ada yang mau kau laporkan padaku lagi?" tanyanya.


Clara menggelengkan kepalanya, "Sesungguhnya aku ingin mengucapkan selamat atas pertunangan Tuan Eryk tadi malam."


"Ah ..." Eryk baru ingat Clara tidak hadir di acara semalam dengan alasan sakit, "Ada lagi?" tanyanya; ia tidak ingin membuang waktu, waktu adalah uang, pertunangan itu juga bukan asli.

__ADS_1


Clara memainkan sepatu heels-nya malu-malu, sebelum akhirnya memberanikan diri mendekati Eryk, "Aku hanya berpikir, aku ingin mentraktir Tuan Eryk untuk merayakan pertunangan Tuan mengingat aku tak datang kemarin."


Eryk menaikan alisnya lagi; bukankah justru sebaliknya? Yang bertunangan yang membeli makanan? Kebingungannya terjawab ketika jemari Clara menyentuh dadanya, memainkan dasi hitamnya dengan menggoda, ia otomatis menatap mata cokelat sekretarisnya itu.


"Kita bisa minum bersama," kata Carla dengan tatapan yang menggoda, "atauโ€”" sebelum ia dapat menyelesaikan ucapannya, Eryk sudah melangkah mundur menjauhinya.


"Kembalilah bekerja." kata Eryk dingin.


Clara mengepalkan tangannya, "Aku tahu Tuan tidak mencintai dia, pertunangan kalian terlihat jelas palsu sekali di mataku, akuโ€”"


"Jangan berbicara seperti kau tahu kehidupan pribadiku, Clara," Eryk memotong dingin, "dan jangan menjelekan Tunanganku, kau tak tahu apa-apa mengenai Gaea."


Clara terkejut mendengarnya.


Eryk yang tidak tahan membalikan tubuhnya agar tidak bisa melihat ekspresi wajah Clara yang sedih, ia tak berniat melakukannya tapi sekretasinya itu memaksanya melakukannya, "Kembalilah bekerja. Sekarang." perintahnya.


Untuk sementara keheningan mengisi ruang kerjanya sebelum akhirnya beberapa menit kemudian Eryk dapat mendengar langkah sepatu yang cepat seperti berlari.


Eryk mengembuskan napasnya; sudah berkali-kali ia menolak tetapi Clara tetap saja mengejarnya bahkan ketika ia bertunangan masih tidak mengerti penolakan.


Eryk jadi bersyukur Gaea bukanlah wanita seperti itu, ia tidak bisa membayangkan Gaea merayunya seperti itu.


Eryk terkejut, kenapa ia justru terpikir Gaea bukan Katherine? Katherine juga bukan wanita seperti itu biasa saja seperti Gaea.


Ada apa dengannya? Tadi sewaktu berhadapan dengan Gaea, ia juga tidak fokus seperti bukan dirinya.


Eryk kembali ke tempat duduknya, mengecek lagi dokumen yang dibawa Clara, berharap pikirannya soal Gaea hilang. Matanya tertuju pada sebuah surat dari perusahaan rekan kerjanya, "Aku belum menghubungi perihal kerja sama ..." penasaran ia segera membuka surat tersebut dan terkejut itu merupakan isi undangan tes bekerja. "Gaea!?"


Undangan tes kerja untuk Gaea.


Eryk terlalu pusing akan sifat keras kepala Gaea hingga lupa bahwa wanita muda itu memiliki otak yang jenius, sewaktu melamar di tempat kerjanya, ia terkejut dengan nilai sekolah Gaea. Ia melirik lagi surat tersebut, "Kerja di sini bagus tetapi dengan nilai kuliah sebagus itu aku akan merekomendasikan di perusahaan lain yang lebih baik." gumamnya.


Lebih baik?


Menjadi Bodyguard...


***


Flashback


***


Eryk tiduran di sofa menunggu Ayahnya pulang kerja, sesuai kesepakatan seharian penuh ia menjadi Bodyguard Gaea, "Hm ..."


Mobil apa yang harus ia minta? Ferrara? Lamborghana?


Eryk segera bangkit berdiri begitu mendengar suara mobil di depan rumahnya, ia berlari ke luar, "Ayah, selamat datang."


Xander keluar dari mobilnya, "Eryk? Kau sudah pulang?"


Eryk mengangguk, "Aku sudah mengerjakan tugas Bodyguard membosankan itu, jadi aku sudah bisa mendapat mobilnya!?" tanyanya penuh semangat.


Xander tidak menjawab justru melirik ke dalam mobil, "Keluarlah, tidak apa-apa."


"Eh?" Eryk ikutan melirik ke dalam mobil penasaran dengan siapa Ayahnya berbicara, ia tidak dapat melihat dengan jelas karena kaca mobil berwarna hitam.


"Rainer," Xander memanggil kali ini. "Tak apa, kau aman di sini."


"Rainer ..." gumam Eryk, sebelum kemudian mata birunya melebar. "Tidak mungkinkan Ayah ..."


Seseorang yang bernama Rainer itu akhirnya keluar dari mobil, menatap Xander kemudian Eryk, sebelum tertunduk muram.


Xander meletakan tangannya di bahu Rainer, "Eryk, kenalkan dia saudara barumu, Rainer."

__ADS_1


Eryk melirik Rainer yang tengah menatapnya dengan tatapan yang kosong, sebelum kemudian menatap lagi Ayahnya jengkel, "Serius. Mau sampai kapan kau mengadopsi orang-orang, Pak Tua?"


Eryk lelah setiap kali melihat Ayahnya pulang kerja selalu membawa orang untuk diadopsi, rumahnya kan bukan penampungan.


"Eryk bahasamu!" kata Xander memperingatkan.


Eryk memutar bola matanya, "Selamat datang, Rainer semoga kau betah di sini." katanya ketus sebelum kemudian kembali ke dalam.


"Eryk!" seru Xander sebelum kemudian menghela napas tak habis pikir dengan sikap anaknya. "Rainer tak apa Eryk memang sedikit kesal tapi takkan lama, aku yakin kalian akan berteman baik."


Rainer melirik Eryk yang tengah duduk di sofa sambil melipat tangannya di dadanya, ekspresi jengkel terlihat sekali di wajah Eryk.


"Ayo masuk, aku kenalkan dengan yang lainnya." kata Xander lembut, menuntun Rainer masuk ke dalam rumah namun, berhenti karena ucapan Eryk.


"Sebelum itu bagaimana kita bicara masalah kesepakatan kita, Ayah." kata Eryk.


"Tentu," sahut Xander. "Kau berhasil sehari tetapi Ayah memintamu sampai trauma Gaea baikan."


"Apa?" Eryk baru mendengar ada syarat seperti itu. "Ayah kan hanya meminta menjadi Bodyguard."


"Itu karena kau sudah pergi tanpa mendengar penjelasan Ayah, Eryk." kata Xander disertai tawa kecilnya, "benarkan Sebastian?"


Sebastian yang sejak tadi diam mengangguk. "Ya benar, Tuan."


Eryk mengepalkan tangannya, "Jadi Ayah ingin aku menemani anak kecil itu? Tidak cukup satu hari saja, aku tidak tahan."


"Mobilnya tidak jadi kalau begitu," kata Xander santai. "Perjanjian batal."


"Ayah jangan seperti itu! Aku rela bersikap kekanakan karena ini, hargai jerih payahku." kata Eryk jengkel.


Xander berpikir sebentar, "Bagaimana kalau bersama Rainer? Kalian berdua seumuran jadi kau takkan bosan."


"Bersama Rainer?" Eryk mengira itu bukanlah ide yang buruk, Rainer juga baru jadi takkan mengejeknya seperti Kervyn, Alex atau Lola, "Baiklah, aku setuju."โ€”demi mobil barunya.


Xander kali ini memandang Rainer, "Bagaimana denganmu Rainer? Kau mau menjadi Bodyguard bersama Eryk?"


Rainer mengangguk tanpa protes, menjadi Bodyguard bisa membuatnya keluar dari rumah ini juga.


***


Flashback Selesai.


***


Tok. Tok. Tok.


Eryk tersadar dari lamunannya mendengar ada yang mengetuk pintu kantornya, ia pun kembali duduk di kursinya, "Masuk."


Orang yang mengetuk adalah Ferdinand.


"Bagaimana?" tanya Eryk sambil bertopang dagu.


Ferdinand menyerahkan beberapa lembar foto di atas meja Eryk, "Kau takkan senang dengan ini, Eryk."


Eryk yang mendengarnya segera mengambil foto tersebut, mata birunya melebar, "Ini ..."


Note :


Bab 21 itu flashback saya pakai italic atau garis miring, ternyata pas lolos jadi ilang sampe ada banyak ikon * jadi maaf jika kalian


terganggu :(


Silakan mampir ke novelku yang lain The Lovely One soal anak SMA, dan Menikah Kontrak soal ya menikah sesuai judulnya :)

__ADS_1


๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•


__ADS_2