
Sweet Revenge 14
Gaea duduk dalam diam sementara para pelayan perempuan melakukan make up wajah serta mencat kukunya.
Pilihan apa yang didapatnya? Tidak ada.
Ia sendiri yang memilih ini, jadi tentu tidak ada gunanya berdebat bahwa ia tidak ingin ikut ke acara lelang.
Butuh dua orang untuk bermain tango, kan?
Gaea mengembuskan napasnya.
"Tolong jangan banyak bergerak, Nona Gaea."
Gaea pun menurut bak kucing yang baru diberi makan, ia membenci setiap detik saat ini. Ia sudah bilang untuk tidak melakukannya, ia itu bisa make-up sendiri namun Eryk yang memang perfeksionis jelas tidak setuju.
'Bagaimana bisa Katherine tahan dengan sifat Eryk yang suka mengontrol begini?' kata Gaea terheran-heran di dalam hatinya.
"Selesai."
Gaea mengecek tangan terutama jarinya yang dicat, ia terkagum akan keahlian pelayan Eryk.
"Make up-nya juga sudah selesai."
Gaea berdiri untuk melihat hasil dari polesan pelayan-pelayan Eryk, make-up yang dipakai natural hanya bibirnya diberikan lipstik merah yang kontras dengan cat kukunya.
"Silakan pilih gaun yang Nona Gaea suka."
Gaea melirik dan terbelalak dengan gaun yang dipegang oleh ketiga pelayan itu, mereka juga sama-sama memegang satu gaun.
Tiga gaun bermodel berbeda: sheath dress, maxi dress, dan mini dress. Warna dress-nya juga berbeda, merah, hitam, dan hijau muda.
Gaea sudah memastikan seratus persen takkan memakai mini dress berwarna hijau itu karena terlalu pendek, dan terbuka di bagian dadanya, membuat ia teringat pada gaun yang dikenakan Lola. Sheath dress menunjukan sekali bentuk lekuk tubuhnya. Sementara yang terakhir maxi dress berwarna hitam walau panjangnya hingga sekakinya, ada belahan di bagian samping kiri sampai atas pahanya.
"Ini seperti memilih makanan yang aku tak sukai." keluh Gaea.
Selera Eryk terlalu tinggi...
"Um, maksudnya Nona 'sukai'?" tanya salah seorang pelayan.
__ADS_1
Gaea menyadari ia terlalu keras berkata. "Ya, kau benar." katanya gugup; cepat ganti topik. "Eryk yang memilihnya?" tanyanya.
"Ya, Tuan Eryk yang memilih gaun untuk Nona kenakan,"
Gaea tidak mengerti apakah Eryk mengerjai dirinya atau tidak dengan gaun tersebut. Ia sudah cukup bersyukur Eryk tak ikut campur memilih gaun hanya memberikan tiga pilihan untuk dipakai. "Aku memilih gaun yang hitam saja," katanya; dengan begitu menjadi mudah ia berbaur di kerumunan tamu sebab ia yakin banyak yang mengenakan gaun hitam kecuali mereka senang perhatian akan memilih warna yang mencolok.
Gaea tidak seperti itu walaupun menjadi tunangan Eryk akan membawanya menjadi pusat perhatian juga. Setidaknya kabur akan lebih mudah dengan gaun berwarna hitam.
Gaea mengikuti instruksi pelayan lagi ketika memakaikan gaun tersebut ke tubuhnya. Ia membolak-balik tubuhnya di cermin melihat gaun yang sudah menempel di tubuhnya tak ada yang salah.
"Tinggal merapikan rambut Nona."
Gaea menepuk keningnya, namun tetap menurut dengan wajah tidak suka.
Karena rambutnya yang pendek, mereka hanya menyanggul rambutnya, dan memberi hair pin perak berbentuk bunga sakura kecil.
"Kau sungguh cantik Nona Gaea." puji seorang pelayan yang juga disetujui oleh pelayan lain dengan anggukan kepala.
Gaea bagaimanapun tidak merasa tersanjung, sebab gayanya seakan berteriak Lola daripada dirinya. "Terima kasih atas kerja keras kalian, aku senang dengan hasilnya." walaupun jujur bukan gayanya, mereka patut diacungi jempol.
Mereka membungkuk dengan penuh hormat barulah pergi keluar kamarnya.
"Akhirnya," gumam Gaea lega tidak lagi harus berakting bak bidadari di depan pelayan Eryk. "Mm," haruskah ia membawa dompet? Ia kan cuma ke pesta, tapi apa salahnya? Mungkin ia butuh touch up make up-nya. Akhirnya ia pun memutuskan membawa dompetnya, barulah berjalan keluar kamar dan menuruni tangga setelah memakai high heels tentunya.
"Ah, Nona Gaea." kata Sebastian yang baru saja tiba di ruang tamu langsung menyadari keberadaan Gaea, ia mengulurkan tangannya.
Gaea menyambut uluran tangan Sebastian saat sampai di bawah tangga. "Terima kasih." katanya, matanya kembali ke keluarga Enzo, dan menggaruk lengannya gugup menyadari semua mata mereka tertuju padanya. "Jadi... bagaimana penampilanku?" tanyanya.
Hening sesaat...
"Wow, you're really gorgeous. Glow up, babe." Alex-lah yang pertama kali memecah keheningan. "Kalau saja kau bukan tunangan Eryk mungkin aku sudah mengajakmu kencan." pikirnya.
Starla tersipu malu memegangi pipinya. "Thanks,"
"Kau memang," Rainer menyetujui komentar Alex. "Sedikit miris kecantikanmu harus tersia-siakan oleh Eryk." lanjutnya, ia menyikut Eryk yang sejak tadi diam. "Ya, Eryk?"
Eryk yang sejak tadi memerhatikan Gaea, merespon kalem. "Hm?" matanya masih tidak lepas dari wanita muda itu. "Kau bisa menjadi Princess juga, huh?" katanya sambil memutar bola matanya.
"Ugh!" Gaea paling menanti komentar Eryk tetapi yang ada hanya sarkas yang keluar. Serius, ia mulai mempertanyakan hatinya kenapa masih berdegub cepat bila berada dekat dengan pria muda itu padahal kerjaan Eryk hanya membuatnya naik darah. "Sudah kita pergi saja..." keluhnya, semakin cepat ia sampai dan semakin cepat ia menyelesaikan akting tunangan palsu ini.
__ADS_1
"Bicara pada orang yang protes." kata Eryk.
"Kau ingin mencari ribut?" tanya Gaea.
"Aku hanya bergurau." sahut Eryk, lalu berbalik pergi keluar. "Ayo."
Gaea menepuk keningnya. "Dia itu menyusahkan sekali."
Alex tertawa. "Itulah Eryk, biasakan dirimu, Gaea."
"Aku mencoba," jawab Gaea memutar bola matanya. "Hentikan aku jika mulai kehilangan kesabaran dan mulai menyerang Eryk, oke?"
"Oh?" Alex merasa tertarik. "Aku justru takkan menghentikan, pastilah menarik melihatmu merobek pakaian Eryk. Passion or lust, babe?"
Gaea terbatuk mendengarnya. "Bukannya itu maksudku, Alex!" serunya marah, menghapus pikiran dewasanya akibat perkataan 18+ Alex.
"We'll see about that, babe," sahut Alex dengan polosnya, sebelum Gaea dapat membalasnya, ia langsung kabur keluar.
"Serius. Keluarga Enzo sungguh-sungguh ingin membuatku tua sebelum waktunya," keluh Gaea, lantas keluar tanpa semangat sama sekali. "Um," ia ragu memasuki mobil melihat Eryk berada di kursi penumpang.
"Apa?" Eryk menatap Gaea polos. "Masuklah, tadi kau ingin cepat ke acaranya?" tanyanya kalem.
Gaea masih ragu. "Kenapa kau tidak di depan?
Eryk tertawa sinis, mendengar ucapan Gaea memang membuatnya terhibur, sekaligus bertanya-tanya dengan nilai sempurna Gaea di sekolah. "Sungguh Gaea? Dari sekian banyak, ini yang kau cemaskan? Akan aneh bila aku duduk di depan sementara kau di belakang bersama Rainer, darling." katanya semanis mungkin. "Atau kau belum puas berduaan dengan Rainer di apartemen, hm?"
Gaea menahan segala amarahnya, dan duduk di samping Eryk dengan tangan yang terlipat di dadanya, matanya memandang kosong ke depan.
Rainer sendiri masih memainkan ponselnya sama sekali tidak terpancing kata-kata Eryk.
Alex yang melihat kedua insan yang saling menjaga jarak satu sama lain, berkomentar. "Passion or lust... ?" godanya. "Passion and lust... ?"
"Alex!" seru Gaea kesal Alex masih memakai gurauan tadi, ini mulai terdengar tidak lucu.
Alex tertawa kecil.
Eryk mengembuskan napasnya kecil melihat keakraban Gaea dan Alex; ia juga melipat tangannya jengkel. "Jalankan tugasmu Alex." perintahnya dingin.
Tanpa berkata-kata, cukup puas menggoda Gaea dan Eryk, Alex menjalankan mobilnya keluar rumah.
__ADS_1
Gaea melambaikan tangannya pada Sebastian yang berada di depan rumah, dan kembali lagi memandang kosong ke depan.
'Aku harap lelang ini berjalan lancar.'