Sweet Revenge

Sweet Revenge
Episode 11 : Little Closer


__ADS_3

"Excuse me?" Gaea tidak percaya Eryk tidak mengambil tindakan keamanan mengenai hal berbahaya seperti ini. Ia tahu betul bosnya itu bukanlah orang yang bertindak sembarangan; Eryk tipe bos yang mementingkan keamanan para pekerjanya, lantas kenapa tidak meminta bantuan Polisi soal pembobolan apartemen miliknya? Ia kan masih karyawan.


Atau... mungkin ia sudah dipecat? Mana mungkin kan? Jika demikian pasti ia takkan tinggal serumah dengan Eryk.


"Aku tidak mau kembali." kata Gaea. "Kenapa tidak mengambil pakaian di koperku saja?"


"Kopermu berada di pesawat sekarang, Gaea," sahut Rainer datar.


"Oh!" tentu saja, kopernya tadi sudah masuk ke bagian pemeriksaan, bagaimana bisa ia lupa? Ironis sekali, pakaiannya berada di Cina sementara pemiliknya di New York. "Kau yakin aman?" tanyanya cemas.


"Tentu saja," sahut Rainer. "Kau mungkin tidak tahu, Eryk kembali mengecek apartemenmu Gaea, memastikan bahwa semuanya aman."


Gaea mengembuskan napas lega; jika Eryk mengecek ulang, ia bisa sedikit tenang, tapi tetap harus waspada.


"Jangan cemas, aku akan melindungimu apa pun yang terjadi." kata Rainer serius.


Kata-kata tersebut sukses membuat pipinya merona, Rainer mulai lagi menunjukan sifat hangatnya, walau ia tidak bisa melihat wajah pria muda itu ia bisa merasakan keseriusan dari nada bicaranya, dan entah kenapa Gaea merasa spesial di mata Rainer sekarang.


"Kau punya mood seperti roller coaster ya?" keluh Gaea.


Sesaat Rainer akan membuat hatinya berada di atas awan, kemudian menjatuhkan hatinya ke tanah dengan keras.


Gaea mulai lelah dengan sikap Rainer, ia bukanlah masochist yang suka disiksa, ia memiliki perasaan yang sensitif.


Siapa yang suka diperlakukan seperti ini? Ia yakin tidak ada yang mau.


Gaea juga akan mengerti bila memang Rainer memiliki trauma dengan wanita, ia takkan menilai jelek sebab setiap orang kan memiliki kelebihan serta kekurangan.


Seperti kata pepatah, tidak ada manusia yang sempurna.


Rainer tidak menjawab.


"Sekarang contohnya," kata Gaea sambil memutar bola matanya.


"Kau sudah selesai?" tanya Rainer datar.


Gaea menurut tanpa mengatakan apa-apa, tidak ada gunanya lagipula, ia pikir sudah cukup hatinya dipermainkan seperti ini.


Gaea mengelus pucuk kepala Bintang yang berada di pahanya, kemudian tersenyum, hanya melihat kepolosan kucingnya sudah membuatnya merasa lebih baik.

__ADS_1


'Setidaknya Bintang tidak bermuka dua.' kata Gaea dalam hatinya.


Gaea mengembuskan napasnya, memandang kosong keluar jendela.


.#.#.#.#.#.#.#.


Tidak ada yang banyak dibicarakan oleh Rainer dan Gaea semenjak turun dari mobil bahkan ketika menaiki lift pun tidak ada satu pun dari mereka yang membuka percakapan.


Gaea sendiri tidak keberatan sebab Rainer tipe lelaki pendiam.


Gaea mengembuskan napas, semakin dekat dengan lantai tempat kamarnya berada semakin cepat degub jantungnya berdetak. Ia tahu ini, ia sedang dilanda perasaan panik dan takut.


Tidak bisa dipungkiri traumanya kembali mengguncang tubuhnya.


"Rainer." panggil Gaea pelan.


"Hm?" Rainer merespon singkat.


Gaea tahu ide di kepalanya memiliki kemungkinan kecil diterima namun tidak salahnya mencoba; ia masih syok dengan kejadian tadi. "Bisa aku menunggu di luar saja?" pintanya.


"Apa?" sekarang Rainer menatapnya, heran. "Aku tidak bisa membereskan pakaianmu. Hint, hint. Baju dalam."


"Oh..." tentu saja, Rainer mungkin masih mau mengemas pakaian miliknya tetapi pakaian dalamnya tentu masalah lain lagi; nilai plus ternyata Rainer seorang gentleman. "Jujur... aku takut," ia mengakuinya.


"Rainer, aku trauma..." sahut Gaea tanpa berpikir panjang, tak habis pikir dengan ide Rainer.


"Kau... bisa memegang tanganku kalau mau," Rainer tahu ini ide yang aneh namun ia sudah kehabisan akal, situasi ini pertama kalinya ia menghadapinya, biasanya ia menyerahkan hal seperti ini pada orang lain contohnya ke Eryk.


Gaea terkejut mendengarnya, dan bertanya-tanya bisa dapat ide dari mana jika memegang tangan bisa menurunkan traumanya. "Hm..." kalau dipikir-pikir ide Rainer tidak buruk, hampir sama dengan apa yang dilakukan Eryk sewaktu ia syok tadi, sentuhan lembut Eryk yang menenangkan dirinya meskipun efeknya muncul sedikit lama. "Kau tidak apa?" ia memastikan apa Rainer setuju.


Tidak ada salahnya mencoba, dan lagi ini ide Rainer bukan dirinya.


Rainer mengangguk. "Dan bila mau, kau bisa berjalan di belakangku juga, Gaea. Lakukan apa saja yang bisa membuatmu tenang."


Gaea tidak merasa itu ide yang bagus. "Kau tidak keberatan?"


Rainer menggelengkan kepalanya, dan di saat itu juga pintu lift terbuka, ia pun mengulurkan tangannya. "Aku tahu kau wanita yang kuat." ia menyemangati.


Ucapan yang sama dengan Eryk.

__ADS_1


Gaea mengembuskan napasnya beberapa kali, sebelum akhirnya menerima uluran tangan Rainer, saat itu pula ia merasakan Rainer mengaitkan jari-jari mereka dengan lembut.


'Bagus, sekarang aku gugup.' keluh Gaea dalam hati.


Tangan Rainer di luar dugaan ternyata tidak kasar.


Gaea heran hanya dengan sentuhan kecil bisa membuatnya berdegub kencang, ini bukan pertama kali baginya berpegangan tangan dengan lelaki, kenapa reaksinya seperti ini pada Rainer? Ia kan menyukai Eryk, ataukah perasaannya berubah?


Gaea tidak ingin mengambil pusing, mengikuti Rainer dari belakang dalam diam, sesekali ia menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri memastikan situasi aman, hingga akhirnya langkah mereka berhenti di depan pintu apartemennya. Ia maju satu langkah untuk mengecek sidik jarinya, setelah sukses ia baru membuka pintu dengan kuncinya.


Gaea tersadar bahwa Eryk tidak meminta kunci kamarnya; mungkin Eryk meminta kunci cadangan dari pemilik apartemen.


Rainer yang pertama masuk ke dalam dan menyalakan lampu kamar.


Gaea mengecek sekelilingnya lagi; tidak ada yang berubah dari terakhir kali ia kemari. Ia mengembuskan napas lega dan mulai berkemas, mengambil koper cadangan di tempat penyimpanan barang.


Rainer membantu dengan merapikan kebutuhan untuk mandi sementara Gaea mengurus pakaian pribadinya.


Gaea bersyukur dibantu oleh Rainer, pekerjaan menjadi lebih cepat.


"Di saat seperti ini kau menjadi dirimu sendiri." kata Gaea disela-sela kegiatan melipat roknya.


"Aku selalu menjadi diri sendiri," Rainer tidak menyetujui.


"Sungguh?" Gaea meletakan roknya ke dalam koper, barulah menarik resleting untuk menutup kopernya. Ia berdecak pinggang, puas akan hasilnya. "Tingkahmu kan ambigu." keluhnya.


"Kau sungguh-sungguh keras kepala ya?" tanya Rainer, merasa terganggu.


"Aku hanya berkata jujur," kata Gaea. "Aku tak mengerti kenapa, dan mungkin karena hal ini kau masih sendiri." sindirnya halus.


Rainer sudah mencapai batas kesabarannya. "Kau yang meminta ini." katanya datar.


"Apa maksudmu sih?" tanya Gaea kebingungan, namun sebelum ia dapat bernapas, Rainer mendorong tubuhnya hingga punggungnya menyentuh dinding kamarnya bukan hanya itu, tangan pria muda itu juga berada di sisi kepalanya, mengurungnya agar tidak kabur. Degub jantungnya otomatis kembali bergerak cepat lagi.


Untuk pertama kalinya ia melihat wajah Rainer sedekat ini, dan menyadarkannya lagi bahwa pria di depannya ini tampan sekali, dan ia juga mengetahui ada tahi lalat berukuran kecil berada di bawah alis sebelah kanan Rainer. Ia merasa itu imut.


Semua yang ada pada Rainer menarik kaum hawa bahkan parfum beraroma mint, buah bergamot dan entah bahan apalagi diterima baik oleh indra penciumannya.


"A-apa yang kau lakukan?" tanya Gaea gugup.

__ADS_1


"Kau ingin aku membuka diri padamu, kan?" tanya Rainer.


Gaea tidak menyangkalnya namun bukan seperti ini caranya.


__ADS_2