
"Apa yang kau katakan? Bisa kau ulangi?" Gaea memastikan, tidak percaya apa yang baru didengarnya, ia ingin mendengarnya lagi, mendengar Eryk berkata tidak bisa kehilangan dirinya.
Eryk mengembuskan napasnya. "Aku tidak bisa kehilanganmu." ia mengulangi dengan senang hati.
"Huh?" ini perasaan Gaea ataukah ucapan Eryk tadi berbeda dari yang pertama? Lebih ke arah mengejek daripada tadi yang serius sekali.
Eryk menyeringai. "Apa? Gaea, kau penting bagiku, kau tunanganku, aku sudah gagal melindungi Katherine jadi jelas aku tidak mau kehilanganmu juga."
Gaea mengepalkan tangannya; jadi semua ini karena efek Katherine juga? Bodohnya dirinya tadi berharap Eryk mungkin mulai menganggapnya sebagai wanita bukan alat. "Aku keluar." katanya ketus.
Eryk menahan Gaea dengan tangannya. "Kau harus latihan dulu—huh?" ia merasakan hidungnya mulai gatal, ia tahu apa ini dan segera menjauh dari Gaea. "Kau menyentuh makhluk itu sebelum ke sini?"
Gaea bengong; di saat begini ribut soal kucingnya? "Bintang? Tentu saja dia kan hewan peliharaanku."
"Hachi!" Eryk bersin seketika itu juga yang membuat Gaea otomatis menjauh.
"Hey! Kau harusnya menutupi bersinmu dengan tisu atau bersin di siku dalammu, Eryk! Bagaimana kalau kau menularkan virus!?" kata Gaea panik.
"Aku sehat, ini kan juga karena kau menyentuh makhluk itu," Eryk membela diri, menutupi hidungnya dengan bajunya mau tak mau hingga memperlihatkan otot perutnya.
Gaea histeris melihatnya. "Apa yang kau lakukan!? Turunkan bajumu, Eryk!" serunya malu.
Eryk tertawa getir mendengarnya, di saat krisis begini Gaea malah cemas akan otot perutnya? "Kalau kau mau aku menurunkan bajuku, cepat keluar dan bersihkan dirimu dari bulu makhluk itu." katanya dingin.
Gaea tanpa basa-basi keluar, membersihkan bulu Bintang yang masih menempel di baju, barulah kembali, segara mengganti topik agar tidak diejek Eryk bahwa ia lemah melihat tubuh pria muda itu. "Aku sudah belajar bela diri, Tuan Muda jadi bisakah kau melepaskan aku?" sindirnya.
"Sungguh? Aku ingin lihat kemampuanmu, Tuan Putri," Eryk membalas menyindir, ia menurunkan bajunya untuk menghirup apa masih ada bulu kucing itu; sudah tidak jadi ia menepati ucapannya, menurunkan bajunya.
Gaea mengambil napas, tenang, hanya sebentar takkan lama. Ia mengikuti Eryk. "Siapa lawanku?" tanyanya gugup.
"Siapa lagi? Kau melihat siapa?" Eryk balik bertanya, ingin mengetes perasaan Gaea, ia memang berpikir waktu cium itu hanyalah terbawa perasaan tetapi siapa tahu ia bisa melihat dari sini.
Melihat?
Mata hijau Gaea tertuju pada Eryk yang seketika itu juga seringai muncul di bibir pria muda itu, ia langsung mengalihkan matanya ke Ferdinand yang berada di samping Eryk. "Ferdinand... bisa bantu aku?" tanyanya.
"Tentu," Ferdinand menjawab singkat, berdiri dihadapan Gaea.
Gaea bersiap-siap, tetapi seketika itu juga Eryk menghalangi tubuh Ferdinand. "Apa yang kau lakukan!?"
Masih dengan seringainya, Eryk berkata. "Kau tidak butuh Ferdinand, kau langsung dilatih oleh tunanganmu sendiri, Tuan Putri." godanya.
"Aku kan inginnya Ferdinand." kata Gaea.
"Matamu berkata lain, Gaea." Eryk membalas kuat, "Berikan pukulan terbaikmu itu juga kalau kau bisa menyentuhku," pancingnya.
"Kau yang memintanya, Tuan Muda." kata Gaea benar-benar naik darah, ia kembali ancang-ancang, memilih mana dulu yang harus diserangnya, karena Eryk banyak bicara tadi, ia memutuskan menyerang tenggorokan pria muda itu.
__ADS_1
Eryk sendiri terkejut tetapi bisa menghindar, hanya kulit mereka bersentuhan sedikit. Ia menatap Gaea dalam, menganalisa jurus apa yang tadi dilancarkan Gaea.
Gaea sendiri frustasi tidak berhasil, kemudian menyerang lagi kali ini tujuannya mata biru Eryk yang disukainya.
Eryk yang tidak siap, terkena pukulan Gaea hingga membuatnya mundur selangkah, ia memegangi matanya, namun sebelum sempat memproses apa yang terjadi, Gaea sudah menyerang lagi kali ini ulu hatinya. "Fu—"
Gaea sendiri bangga dengan dirinya. "Masih mau lagi? Kurang?" tanyanya; masih berani bilang tidak bisa disentuh? Apakah harus ia membanting Eryk biar pria muda itu diam?
"Ugh," masih memegangi ulu hatinya, Eryk menegakan tubuhnya. "Kurasa kau cukup bisa menanganiku."
Gaea tertawa bahkan sudah babak belur begitu masih sok keren. "Kau kalah, Tuan."
"Sejujurnya, kau habis babak belur Eryk." Ferdinand mengomentari dengan tawanya. "Aku tidak tahu ada apa denganmu sampai tidak fokus begitu, tetapi melihatmu babak belur menyenangkan juga, hahaha..."
Gaea ikut tertawa bersama Ferdinand. "Dia itu sombong sekali."
"Ya, ya, tertawakan saja sampai kalian puas." sindir Eryk sambil merebahkan tubuhnya di kursi, ia meringis lagi. "Kau belajar jeet kune do dari mana?"
"Belajar?" Gaea bertanya balik.
"Ya, belajar." kata Eryk mengulangi.
"Uh... Ava?" kata Gaea gugup; sejujurnya ia belajar dari Polisi khusus ketika ia berada di perlindungan hukum karena kasus kedua orang tuanya; mereka berpikir mengajarkan teknik jeet kune do adalah sesuatu yang tepat mengingat saat itu Polisi belum menemukan pelaku pembunuhan orang tuanya.
'Sampai sekarang.' kata Gaea dalam hatinya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ferdinand.
Gaea mengangguk lemah.
Eryk bangkit berdiri. "Aku kira sudah cukup, sekarang aku ingin kau belajar menembak."
Mata Gaea melebar syok. "Menembak?"
Eryk mengangguk. "Aku memastikan kau sungguh-sungguh siap melindungi dirimu sendiri."
"Tidak! Tidak! Dan tidak!" kata Gaea jengkel; takkan mau ia belajar menembak, ada banyak alasan ia tidak mau, pertama karena pistol senjata pembunuh orang tuanya, kedua ia tak memiliki ijin memegang senjata, ketiga ia kan hanya wanita biasa dengan kehidupan biasa jadi untuk apa belajar menembak?
Eryk mengembuskan napasnya, ingatkan ia bahwa Gaea lebih keras kepala dari Lola. "Aku mengerti kau masih belum ingin, jadi aku menyiapkan cadangan buatmu, kau berlatih memanah."
"Memanah?" lebih aneh lagi.
"Memang pistol dan memanah berbeda tetapi mereka memiliki kesamaan yaitu melatih ketajaman dan konsentrasi, kau cocok sekali, atau mau boxing saja?" Eryk berpikir-pikir apa yang cocok dengan Gaea.
"Tidak, tidak, dan tidak!" Gaea menolaknya mentah-mentah. "Aku wanita biasa bukannya seorang agen rahasia atau semacamnya, kau terlalu paranoid Eryk."
"Kau terlalu polos Gaea, kita tidak tahu apa yang kita hadapi nanti jadi jelas aku mencemaskanmu, kau pasti ingat soal insiden apartemenmu. Apakah kau masih menganggap kau wanita biasa?" kata Eryk sedikit menyindir, Gaea ini terlalu positif dengan sesuatu harus ada yang menyadarkan Gaea dan ialah yang akan melakukannya.
__ADS_1
"Itu hanya kebetulan, kita keburu datang, kan?" Gaea masih tidak mau kalah.
Eryk mulai kehilangan kesabarannya. "Aku sudah tahu kejadian sebenarnya antara kau dengan Aizawa." pancingnya.
Gaea terkejut; Eryk sudah tahu? Kalau begitu soal ciuman yang dikarangnya pasti Eryk juga sadar hanyalah kebohongan darinya belaka; ingin rasanya menghilang dari sini sekarang juga.
"Aku sudah memberimu pilihan." kata Eryk merasa puas bisa membuat Gaea terdiam. "Dan jawabannya paling lambat besok."
"Besok!?" seru Gaea tidak percaya; terlalu cepat.
"Aku tidak punya waktu untuk perasaan gundahmu, aku banyak pekerjaan." kata Eryk habis ini pun ia mau melacak pengirim surat soal Katherine belum dokumen yang harus ditanda tangani olehnya. "Kalau kau sudah setuju silakan menghubungiku."
Gaea tertunduk, kenapa Eryk selalu memaksanya melakukan hal yang tidak disukainya, dan apa masalah apa lagi ini dengan Katherine? "Sebelum itu aku ingin protes!" serunya.
"Apa lagi?" Eryk berharap itu bukanlah hal tidak penting lagi mengingat ini Gaea yang memintanya.
"Aku mau makanan normal bukan makanan diet, Eryk." Gaea memprotes. "Kau juga lagi, cobalah cokelat atau soda, kau pasti suka..."
"Kau makanlah apa yang ada," Eryk menolak menuruti, sudah diduganya Gaea akan meminta hal yang tidak penting. Junk food itu tidak penting.
Gaea menggembungkan pipinya jengkel. "Kalau begitu aku kembali ke apartemen." ancamnya.
"Kau berani menginjakan kaki ke sana? Ayo coba aku, Gaea." Eryk mengancam balik.
"Kalau begitu berikan aku makanan normal." Gaea tidak mau menyerah. "Makanan normal atau aku pergi."
Hening...
Mereka berdua saling menatap tajam satu sama lain.
Detik demi detik berlalu, tetap tidak ada yang mau mengalah.
"Turuti saja dia, Eryk." Ferdinand yang tadinya hanya menonton, lelah juga melihat mereka bertengkar setiap saat, awalnya seru tetapi kelamaan membosankan juga.
Eryk mengembuskan napasnya dalam. "Baiklah," katanya menyerah juga akhirnya.
Gaea bertepuk tangan penuh kemenangan.
Eryk menepuk keningnya dan berjalan lesu keluar ruangan olahraga. "Kenapa dia selalu menang dariku?" gumamnya pelan.
Note :
Please, like, komentar dan vote untuk mendukung novel ini 😊
Sambil nunggu ini update, kalian bisa cek novel saya yang satunya lagi, The Lovely One, ceritanya lebih ringan dibanding ini 😊
💕💕💕
__ADS_1