Sweet Revenge

Sweet Revenge
Chapter 42 : For My Friend


__ADS_3

Gaea tidak berani keluar meskipun sudah tidak lagi mendengar Ferdinand, ia akan tetap menunggu hingga bantuan datang ke tempat latihan olahraga mengingat tadi ada suara sirine mobil polisi.


Tok. Tok. Tok.


"Apakah ada orang di sini? Kami Polisi."


Gaea segera bangkit berdiri, dan menyingkirkan kursi yang menghalangi pintu, "Ada! Aku!" ia membuka pintunya mendapati sepasang petugas Polisi di luar. "Syukurlah, aku senang."


"Tenang Nona, kau aman sekarang," kata salah satu Polisi pria.


"Ikutlah dengan kami, petugas kami akan memeriksa kesehatan anda," kata Polisi wanita.


Gaea mengangguk dan menurut, kembali memasuki rumah Eryk, ketika sampai di kolam renang, sudah tidak ada Lola hanya ada Alex itu juga para petugas hendak mengangkat pria muda itu ke tandu, "Bisa kalian beritahu dimana Lola!? Dia yang mendapat luka tembakan di sini," katanya sedih.


"Dia langsung dibawa ke rumah sakit terdekat mengingat kondisinya cukup parah," kata Polisi yang wanita.


"Bisakah aku melihatnya!?" seru Gaea panik. "Aku tidak bisa tenang sebelum dia baik-baik saja!"


"Pertama, kami harus mengecek anda dulu, Nona," kata Polisi yang pria.


Gaea menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "Aku baik-baik saja, aku ingin melihat Lola, please?"


Kedua Polisi itu saling menukar pandangan satu sama lain, memberikan isyarat lewat anggukan apa diperbolehkan atau tidak.


"Baiklah, Nona. Kami akan mengijinkanmu ke rumah sakit," kata Polisi yang pria.


"Tapi aku akan menemanimu ke sana sebab kami butuh keteranganmu mengenai kejadian ini," kata Polisi yang wanita. "Dan ganti baju dulu."


Gaea mengangguk, ia tidak masalah mengenai itu, dipikirannya hanya keselamatan Lola saat ini, ia hendak berbicara terpotong oleh suara Polisi lain.


"Ada satu korban, dalam kondisi tidak sadarkan diri, seorang pria paruh baya."


Gaea terkejut, "Itu pasti Sebastian. Tidak ada luka atau macamnya kan!?" tanyanya cemas.


Ferdinand mengakui tidak mau melukai orang lain, namun siapa tahu pria muda itu berbohong tadi untuk membuatnya keluar.


"Tidak ada luka. Tetapi kami belum memastikan sebab masih diperiksa oleh Dokter."


Gaea mengangguk.


"Gaea?"


Gaea menoleh namanya dipanggil, tak jauh darinya ada Alex yang sudah siuman, berjalan dibantu oleh petugas medis, ia pun segera menghampiri juga, memeluk Alex, "Untunglah kau baik-baik saja."


"Seharusnya aku yang berkata seperti itu," kata Alex, "Ada kejadian apa hingga ada Polisi segala?" tanyanya.


Gaea melepaskan pelukannya, "Ferdinand yang membuatku melakukan ini."


Mata Alex melebar, "Apa? Ferdinand?"


"Aku akan ceritakan nanti, kau tidak apa-apa, kan?" Gaea merasa Alex masih belum sepenuhnya sadar jadi lebih baik nanti menceritakan masalah ini, dan ia juga tak tahu harus bagaimana memberitahu Alex bahwa Ferdinand mengkhianati mereka.


Alex mengangguk, dan mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu, "Tubuhku masih berat."


"Itu karena kau kemungkinan minum obat tidur dalam dosis tinggi," jelas tenaga medis yang membantu Alex berjalan tadi. "Kami juga menemukan botol kecil bertuliskan GHB atau gamma hydroxybutyrate di tong sampah dapur, kemungkinan itulah yang dipakai oleh pelaku."


"Sekarang kau membuat kepalaku pusing akan nama obat rumit ini," kata Alex sambil memegangi kepalanya.


Gaea tidak bisa menahan diri untuk tertawa kecil, "Intinya itu obat tidur, obat ini tidak memiliki rasa mencolok, jadi mudah untuk mengelebui kita."


"Oh, perutku sekarang mual," kata Alex.


"Lebih baik kita ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut, kau bisa mengobrol lagi nanti," kata petugas medis itu, merangkul Alex lagi membantu berdiri.


Gaea langsung teringat dengan tujuan pertamanya, segera berlari ke atas, dan mengganti bajunya cepat-cepat tanpa berpikir bagus tidaknya, lalu kembali turun ke bawah, saat itu juga ia melihat Sebastian dibawa oleh tandu juga, "Sebastian?" ia memegang tangan pria paruh baya itu.

__ADS_1


"Kami harus membawanya ke rumah sakit, kondisi tubuhnya lemah, ada kemungkinan juga Tuan Sebastian minum obat tidur," kata salah satu Dokter.


"Begitu ...," kata Gaea murung.


"Ada apa ini?"


Gaea menoleh ke arah sumber suara, melihat Eryk dan Rainer berjalan ke dalam, terpancar kebingungan di wajah mereka, ia mau berlari tetapi terhenti ketika melihat seorang wanita muda berambut hitam berjalan di samping Eryk, mengalungkan tangan mesra ke pria muda itu.


"Apa yang terjadi?" Eryk bertanya lagi setelah dekat dengan Gaea, cemas. "Kau baik-baik saja?"


Gaea melirik wanita muda berambut hitam itu sekali lagi sebelum menatap Eryk, "Aku akan ceritakan nanti."


"Tidak usah, aku tahu dari wajahmu saja," kata Eryk kalem. "Jadi siapa orangnya? Lola atau Ferdinand?"


Gaea membuang mukanya, "Aku harus ke rumah sakit untuk melihat keadaan Lola dan Sebastian," katanya pelan kemudian berjalan ke mobil polisi.


Eryk menghela napas, "Ferdinand ...."


***


Gaea diam selama diperjalanan, was-was akan keadaan Lola dan Sebastian. Ia tertunduk dalam.


Ini salahnya, jika saja ia tidak berlari ke kolam untuk meminta pertolongan pada Lola hal ini takkan terjadi.


Gaea mengepalkan tangannya erat di pahanya.


Salahnya, seharusnya ia yang berada di posisi Lola saat ini. Ferdinand yang menginginkan dirinya hingga membuat Lola menjadi korban.


Gaea merasakan tangan yang besar dan hangat menggenggam tangannya, ia menengadahkan kepalanya untuk melihat siapa, ternyata Rainer. "Sejak kapanβ€”"


"Sttt," kata Rainer. "Tenanglah, jangan berpikir yang tidak-tidak," ia membelai punggung tangan Gaea dengan jempol tangannya lembut, "jangan menyalahkan dirimu sendiri yang terpenting."


Gaea menatap Rainer sesaat, membalas genggaman tangan pria muda itu lembut juga, ia bersyukur masih ada yang peduli padanya di situasi seperti ini, "Arigatou." (terima kasih)


Mereka saling melempar senyum tipis satu sama lain.


"Kita sudah sampai." kata Polisi wanita tadi.


Gaea dan Rainer mengangguk dan keluar dari mobil.


Ketika Gaea keluar, ia bertanya, "Kau langsung masuk ke dalam? Aku tidak menyadarimu tadi."


"Aku tidak seperti Eryk yang harus mengetahui kejadian secara rinci, aku hanya akan melihat dan berpikir sendiri," kata Rainer kalem.


Dan di saat itulah Gaea tersadar Eryk tidak bersama mereka, sepertinya masih di rumah mengurus polisi yang masih di sana meminta keterangan mengenai kejadian ini.


Gaea memutar bola matanya.


Siapa yang peduli, Eryk pasti sedang sibuk juga di sana. Ia pun harus fokus dengan Lola dan Sebastian.


Gaea masuk ke dalam rumah sakit, ia dan Rainer menunggu sementara Polisi tadi yang menanyakan Lola dimana, apakah ke ruang gawat darurat atau ruang lain.


"Pasien bernama Lola Enzo sedang berada di ruang operasi," kata salah satu suster yang menjaga.


Gaea mengangguk dan berjalan lagi. Ia sudah menduga hal ini, sudah pasti ke ruang operasi mengingat luka Lola adalah tembakan.


Rumah sakit.


Sudah lama Gaea tidak kemari hingga ia tidak ingat kapan kemari, ketika kepergian kedua orang tuanya? Sejak itu ia jadi takut dengan orang berjas putih dan rumah sakit membuat otak kecilnya dulu teringat kondisi kedua orang tuanya yang mengenaskan bahkan ia juga enggan mengeluarkan suaranya karena terlalu trauma.


Gaea jadi teringat dengan Rey dan Rai.


Mereka teman bermainnya ketika di masa terpuruknya walaupun terpaut jauh, mereka begitu baik padanya hingga membuat trauma dalam dirinya perlahan hilang. Ketika ia mau mengungkapkan rasa sayangnya, mereka juga pergi dari kehidupannya tak kembali hingga sekarang.


Gaea berpikir bagaimana keadaan Rey dan Rai sekarang.

__ADS_1


Apakah baik-baik saja? Apakah mereka berhasil menjadi polisi sesuai apa yang mereka ceritakan?


Terutama Rey, yang begitu peduli padanya hingga menuruti semua ucapannya, sabar menghadapinya, menemaninya di ruang interogasi. Ia tidak bisa melupakan mata biru langit indah Rey, yang anehnya sedikit mirip dengan Eryk. Salah. Begitu mirip.


Tanpa sadar, Gaea sampai di ruang operasi, di luar sana ada beberapa Dokter sedang berbicara dengan ekspresi wajah yang serius.


Sayup-sayup Gaea menangkap percakapan tersebut.


"Stok darah B negatif tidak ada."


"Bagaimana ini? Kita butuh karena pasien sudah kehilangan banyak darah."


"Permisi Dokter, aku apakah yang di dalam pasien bernama Lola Enzo?" tanya Gaea sopan.


Salah satu Dokter yang berwajah paling tua menjawab, "Nona siapanya pasien, iya?"


Gaea lupa privasi seorang pasien begitu ketat di sini.


"Aku Rainer Enzo, saudara dari Lola," Rainer menjawab kalem bahkan menunjukan kartu identitasnya tanpa buang-buang waktu.


Dokter itu mengeceknya dengan seksama sebelum mengembalikan kartu identitas pada Rainer lagi, "Iya, pasiean di dalam bernama Lola Enzo. Aku ... Dokter Harry yang akan memimpin operasi ini."


Rainer melirik plat ruang operasi yang tidak menyala, "Kenapa belum dimulai? Apakah ada kendala, Dokter?"


Kedua Dokter saling memandang satu sama lain, mempertimbangkan.


"Sejujurnya, kami kehabisan stok darah B negatif dan O negatif, sementara operasi ini harus cepat dilaksanakan," Dokter yang lebih muda menjawab.


Mata Gaea dan Rainer terbelalak.


Kehabisan stok darah sementara Lola kehilangan banyak darah. Nyawa Lola sedang dalam bahaya!


"Aku AB apakah bisa, Dokter?" tanya Rainer penuh harap.


Sayangnya kedua Dokter tersebut menggelengkan kepalanya.


"Golongan darah B hanya bisa menerima donor dari golongan darah B dan O, dan itu juga terbagi dari negatif dan positif," kata Dokter Harry. "AB hanya bisa mendonorkan darah ke AB juga, tetapi uniknya darah AB bisa menerima donor darah lain."


"Oh, begitu," kata Rainer sedih.


Gaea menggaruk lengannya, "Tadi Dokter bilang golongan darah Lola B negatif? Aku B negatif Dok, dan aku sehat, bolehkah aku mendonorkan darahku untuk Lola?"


Sejujurnya Ibunya memberikan wasiat berupa larangan untuk mendonorkan darahnya, namun kondisi Lola yang sudah parah dan ini karenanya terpaksa ia melanggarnya.


'Maafkan aku Ibu, sahabatku sedang berjuang di sana karena aku.' kata Gaea dalam hatinya.


"Kita harus memeriksa terlebih dahulu. Nona tidak memiliki tato yang belum berumur satu tahun?" tanya Dokter Harry.


Gaea memiliki tato bunga anggrek di punggungnya, tato yang didapatnya ketika bekerja di tempat Eryk; ia berpikir, menghitung sudah berapa lamanya, "Sudah lebih sedikit Dokter," katanya semangat.


"Baiklah ikut denganku, Nona um ...."


"Gaea, namaku Gaea Silva, Dokter!" kata Gaea semangat, ia senang bisa berguna bagi Lola saat ini.


"Baiklah, ikut denganku, Nona Gaea," kata Dokter Harry.


Gaea mengangguk, melirik Rainer, "Aku pergi sebentar iya?"


Rainer mengangguk kecil.


***


Jangan lupa like, komen dan vote ya 😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2