Sweet Revenge

Sweet Revenge
Chapter 48 : New Partner


__ADS_3

"Menyembunyikan aku?" Gaea mengulangi.


"Ini yang terbaik untuk kita berdua," kata Eryk, "Untuk waktu yang tidak dapat aku ditentukan kita harus berpisah."


Berpisah?


Hanya mendengar saja sudah membuat tubuh Gaea lemas, tidak bertemu Eryk tanpa batasan waktu tepat, namun ia tahu ini sudah dipikirkan matang-matang, pilihan apa yang didapatkannya memiliki darah langka begini?


Tidak bertemu Eryk ....


Gaea langsung berlari ke kamarnya tanpa peduli teriakan orang-orang, mengunci pintu kamarnya, kemudian duduk di ranjangnya termenung.


Kenapa hidupnya seperti ini? Di saat semua mulai membaik selalu ada yang membuatnya kembali ke titik semula?


Di saat ia memiliki teman baru bahkan bisa dekat dengan Eryk.


Gaea merasa marah pada ibunya karena menyembunyikan ini semua darinya, jika saja ibunya jujur mengenai ini setidaknya ia bisa donor darah diam-diam bila tujuan ibunya itu memang ingin melindungi dirinya.


Gaea tidak mengerti jalan pikiran ibunya.


Apakah ada rahasia yang belum diketahuinya?


Mungkin ini juga caranya Tuhan memberitahunya bahwa ia dan Eryk memang tidak ditakdirkan bersama.


Tok. Tok. Tok.


"Gaea?" suara Rainer memanggil dari luar.


Gaea sedang tidak ingin ada orang lain jadi ia berkata, "Pergilah Rainer."


"Aku tidak mau karena kau berjanji akan mengganti mengompres tanganku." kata Rainer.

__ADS_1


Gaea lupa akan janjinya.


Raine memang mengalami patah jari ketika di pesta, baru ketahuan oleh setelah diperiksa oleh Dokter ortopedi hingga harus diperban untuk sementara waktu dan pemberian obat berkala.


Gaea akhirnya mau membuka pintunya malas; janji adalah janji, harus dipenuhi.


Rainer tersenyum kecil ketika masuk ke dalam, ia bahkan sudah membawa satu bungkus kain berisi bongkahan es.


Gaea menggelengkan kepalanya sambil duduk di bawah ranjang agar bisa bersandar, "Kau ini, untunglah patah jarimu tidak parah, kalau tidak, kau harus dioperasi, hati-hatilah lain kali berjalan di lantai basah." omelnya.


"U-huh." Rainer menjawab singkat, menyerahkan kain berisi es kepada Gaea.


Gaea menerimanya sambil menggerutu, "Kau dengar tidak? Aku cemas pa—eh?" ucapannya terhenti saat Rainer membaringkan kepala di atas pahanya, "Apa yang kau lakukan?"


"Tiduran," Rainer menjawab singkat, ia meletakan tangannya yang diperban di atas dadanya. "Silakan."


Gaea memutar bola matanya, dan mulai mengerjakan tugasnya mengompres bagian punggung tangan Rainer yang membengkak, ia meringis melihatnya.


Gaea yakin ini bukanlah terpeleset biasa, takkan mungkin bisa parah begini, ia bukan wanita bodoh, ia bisa membedakan, ia agak kecewa Rainer tidak mau jujur dengannya, melihat faktanya mereka sekarang teman dekat.


Apakah ia juga tidak bisa bertemu Rainer?


Memikirkannya membuat air mata keluar dari pelupuk matanya.


"Jangan menangis." kata Rainer sambil menghapus air mata yang membasahi pipi Gaea.


"Huh?"


"Keputusan Eryk memang tiba-tiba, tetapi dia memikirkan kebahagianmu juga." kata Rainer.


"Bagaimana bisa Eryk berpikir bahwa berpisah dengan kalian itu merupakan kebahagiaanku?" tanya Gaea sedih.

__ADS_1


"Bukankah sejak awal kau tidak mau menjadi bagian Enzo? Bukankah kau maunya ke Shanghai menghabiskan waktu dengan Ava?" tanya Rainer balik, memancing.


"Aku ..." Gaea tidak bisa menjawab; tentu saja ia berpikir begitu, namun setelah menghabiskan waktu bersama, ia menerima jalan yang ditempuhnya sekarang.


"Aku hanya bergurau Gaea," kata Rainer. "Eryk yakin kau akan kesepian jadi kau tentu takkan sendirian bersembunyi seperti sebelumnya, kau akan mendapat teman seperti Lola dulu."


"Eh?" ia tidak sendirian? "Dengan siapa aku bersembunyi?" tanyanya penasaran.


Gaea tentu saja berharap bisa dengan Eryk, namun mengingat Katherine nampaknya takkan mungkin, jikalau bisa pasti Katherine akan ikut juga.


Lola sedang dirawat jadi harus ada orang yang menjaganya hingga pulih. Ia takkan bisa mengingat ia yang pergi.


Jadi antara Alex dan Sebastian yang kemungkinan akan menemaninya. Rainer tidak mungkin karena sedang terluka dan perlu cek berkala ke Dokter ortopedi.


Gaea tidak memiliki masalah dengan mereka bertiga, terutama Alex, akan menjadi teman yang menyenangkan. Sebastian tidak buruk juga, namun lebih menyenangkan bersama Alex.


Rainer bangun dan duduk di depan Gaea, "Siapa yang terpikir olehmu?" tanyanya balik.


"Alex dan Sebastian ...?" Gaea menebak sambil menganggukkan kepalanya yakin bila mereka yang menemaninya.


Rainer tertawa kecil.


"Apanya yang lucu!?" tanya Gaea heran.


"Maaf mengecewakanmu Gaea Silva, tetapi rekanmu kali ini sudah berada di depanmu." kata Rainer menggoda.


Mata Gaea melebar seketika, "Rainer!?"


Oh, God ....


***

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar ya 😊


💕💕💕


__ADS_2