Sweet Revenge

Sweet Revenge
Episode 21 : Return To The Past (1)


__ADS_3

Bab ini dan bab depan fokus ke Eryk, kalian bisa intip perasaan dia...


Selamat membaca đź’•


***


Karena Rainer sedang istirahat, Eryk memutuskan untuk mengurus langsung masalahnya. Sebelum olahraga, ia sudah mengirim investigasi anak buahnya untuk memeriksa rekaman kamera pengawas di rumahnya dan beberapa di jalan umum menuju rumahnya.


Kesempatan Eryk berbanding lima puluh jika benar adanya yang menculik Katherine itu Kervyn mengingat saudara kandungnya itu mengetahui titik-titik kamera pengawas di rumahnya karena memang pernah tinggal di sini.


Eryk merapikan rambutnya dengan sisir secara lembut, setelah rapih, ia memakai kacamata hitam miliknya, lalu berjalan keluar kamarnya, ketika menuruni tangga, ada Gaea dan Alex yang semangat menerima pesanan pizza dan beberapa belanjaan junk food, mereka membukanya di ruang tamu.


Setelah bertahun-tahun menerapkan peraturan tidak boleh ada makanan siap saji, harus hancur karena seorang perempuan.


Eryk tidak percaya sama sekali.


"Aku tahu kau pasti bisa membujuk Eryk, Ge! Kau memang bisa diandalkan!" Alex memuji sambil memegang sepotong pizza.


Gaea juga mengambil sepotong pizza juga, melahapnya dengan raut wajah bahagia. "Aku sudah lama tidak makan pizza! Sungguh enak seperti terakhir kali aku mencobanya!"


Eryk mengembuskan napasnya melihat ekspresi Gaea yang begitu bahagia hanya karena sepotong pizza membuat otaknya memunculkan ingatan yang dipendamnya selama ini.


"Eryk, kau mau?"


Eryk terkejut melihat piring berisi satu potong pizza dihadapannya, ia melirik Gaea yang menatapnya dengan penuh harap. Lagi. Otaknya memperlihatkan sekilas kenangan tersebut.


***


Flashback


***


Eryk melipat tangannya di depan dadanya jengkel. Seharian ini ia hanya berdiam diri di bawah pohon memperhatikan gerak-gerik seorang gadis kecil berumur sembilan tahun yang hanya duduk di ayunan tanpa mau ikut bermain dengan anak yang lain.


Eryk masih tidak percaya Ayahnya, Xander menyuruhnya untuk menjadi Bodyguard atau jika perlu berteman gadis kecil itu agar traumanya hilang.


Eryk tentu tidak mau, kesepakatan dengan Ayahnya hanya menjadi Bodyguard bukan berteman. Ia berteman dengan anak kecil sebuah ide yang buruk, bagaimana bisa ia yang berumur empat belas tahun bermain ayunan, perosotan atau hal kekanakan lainnya? Mau ditaruh mana wajahnya bila Kervyn, Alex dan Lola melihatnya?


Eryk memang menyamar, rambut pirangnya dicat hitam dan ia selalu memakai masker menghindari dirinya dikenali oleh temannya atau keluarganya, tetapi ekstra tetap perlu, namanya juga berganti menjadi Rey, nama kebalikan dari nama aslinya, Eryk.


Eryk melirik lagi gadis kecil berambut cokelat panjang yang di kuncir dua itu masih duduk di ayunan dengan wajah tertunduk kosong.


Bohong jika Eryk tidak merasa simpati; masih kecil harus menghadapi kenyataan kedua orang tuanya dibunuh di depan mata, tentu pengalaman yang mengerikan, tubuh gadis kecil itu pasti tidak bisa menahan syoknya makanya meskipun sudah seminggu berlalu, gadis kecil itu tidak mau berbicara pada siapa pun termasuk dirinya.


Eryk menegakan tubuhnya ketika melihat gadis kecil itu berjalan menghampirinya dengan langkah pelan, ketika sampai gadis kecil itu memegang tangannya lembut. Sesuai ucapan Polisi yang mengawasi, memegang tangan merupakan petunjuk gadis itu ingin kembali ke kamarnya.


'Haruskah aku berbicara padanya?' kata Eryk dalam hatinya.

__ADS_1


Gadis kecil itu menarik tangannya memberitahunya untuk segera pergi.


Eryk mengembuskan napasnya, lalu menjajarkan wajahnya dengan gadis kecil itu. "Apakah kau mau tetap tidak berbicara padaku, Gaea?" tanyanya lembut.


Mata hijau Gaea yang sejak tadi hanya tertuju ke bawah, menatap mata biru Eryk untuk pertama kalinya, dengan penuh kepolosan di sana bukan lagi kesedihan.


Eryk sendiri terkagum akan mata hijau Gaea, untuk pertama kalinya ia melihat warna mata seindah itu, mata hijau seperti batu emerald—ia hanya melihat di buku, tidak menyangka akan lebih indah melihatnya langsung, "Memanggil namaku saja aku senang sekali Gaea." bujuknya lagi.


Tetapi gadis kecil bernama Gaea hanya melihatnya saja tanpa ada tanda-tanda ingin membuka bibir mungilnya.


Eryk masih tidak mau menyerah, "Kau lebih suka mematahkan hatiku, Gaea?" tanyanya pura-pura sedih.


Gaea menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu coba berkatalah, tidak menyebut namaku tak apa." kata Eryk.


Hening...


Eryk merasa benar-benar dipermainkan, "Baiklah kau sungguh-sungguh mematahkan hati rapuh Rey ini, aku pergi," katanya sambil melepaskan genggaman tangan mereka lalu berjalan ke dalam tapi dengan cepat dihalangi oleh Gaea dengan memegang tangannya lagi.


Gaea menatapnya dengan wajah penuh harap, tidak ingin ditinggalkan.


Eryk tersenyum samar, "Jadi?"—ia yakin Gaea akan menyebut namanya kali ini.


Gaea membuka bibir mungilnya membuat harapan Eryk semakin naik.


Detik demi detik berlalu.


Eryk mengembuskan napasnya, "Baiklah, kita kembali ke dalam," katanya.


Kenapa juga ia bersikap kekanakan hanya ingin namanya dipanggil oleh Gaea.


Eryk membimbing Gaea masuk ke dalam kantor Polisi tepatnya, ke ruangan yang disebut 'kamar', Gaea berlari kecil ke dalam. Ia mengembuskan napasnya.


Gaea lebih semangat kembali ke kamar dari pada mengobrol dengannya.


Eryk terkesikap; apakah ia baru saja kecewa dicampakan oleh Gaea?


Eryk segera berjalan menjauhi ruangan tempat Gaea berada, ingin cepat-cepat pulang sebelum otaknya berpikir yang tidak-tidak. Namun ketika mau keluar, ia diberhentikan oleh suara yang tak asing baginya.


"Eryk, kau sudah mau pulang?" kata salah satu Polisi yang sedang duduk di kursi.


Eryk menoleh, "Ah, iya, aku mau kembali, Chief Charles," dan Eryk berharap Ayahnya menepati janji akan membelikannya mobil karena sudah menjadi Bodyguard Gaea.


Chief bernama Charles mengangguk, "Bagaimana? Kau bisa membuat Gaea berbicara?"


Eryk menggelengkan kepalanya, "Kurasa Gaea masih trauma."

__ADS_1


"Mungkin kau terlalu memaksa dengan Gaea, Eryk." kata Chief Charles. "Kau bisa mencoba besok lagi."


"Tidak!" Eryk menolak keras. "Aku takkan mencobanya," lanjutnya, seharian saja cukup, memang menyenangkan bisa bolos sekolah tapi kalau hanya berdiam diri melihat Gaea duduk lebih baik sekolah saja.


"Kau sudah bicara pada Ayahmu soal ini?" Chief Charles bertanya.


"Aku akan setelah di rumah," sahut Eryk. "Hari ini menyenangkan tetapi bertugas sebagai Bodyguard tidak cocok untukku."


"Baiklah Eryk jika itu keputusanmu, kami akan mencari Bodyguard baru," kata Chief Charles sambil mengulurkan tangannya. "Senang bekerja denganmu, Eryk."


Eryk menyambutnya dengan senang hati, "Sama-sama, Chief," katanya. "Kalau boleh bertanya, hubungan Ayahku dengan Gaea apa ya?"


Semenjak Ayahnya menawarkan pekerjaan Bodyguard ini, Eryk tak henti-hentinya memikirkan hal tersebut, ia tahu Ayahnya orang yang baik hati, mengadopsi Lola dan Alex contoh dari itu. Namun, belum pernah satu kali pun Eryk melihat Ayahnya terlibat dengan keluarga ilmuwan. Ayahnya kan seorang pebisnis.


"Ayahmu dan Orang Tua Gaea merupakan kerabat dekat, hanya itu yang dapat kami beritahu padamu, Eryk." kata Chief Charles.


Eryk mengerutkan alisnya jengkel, sudah pasti orang-orang akan memperlakukannya seperti anak kecil, ia sudah dewasa, ia empat belas tahun! Ia mengembuskan napasnya, bila Polisi tidak mau memberitahu secara rinci, ia akan mencari tahu sendiri, setelah mendapat mobil tentunya, "Aku pulang, iya."


"Hati-hati Eryk."


"Selalu."


***


Flashback Selesai


***


"Eryk?" Gaea memiringkan kepalanya heran dengan keheningan Eryk yang tidak biasanya. "Kau baik-baik saja?"


Eryk menggelengkan kepalanya cepat, bisa-bisanya teringat itu. "Aku selalu baik-baik saja, Gaea," katanya dingin menyembunyikan perasaan malunya.


Gaea menyipitkan matanya. "Jadi? Mau tidak?"


"Kau bergurau ya? Mana mau aku, makanan yang hanya merusak tubuh indahku." kata Eryk dengan jijiknya menjauh.


"Ini nikmat loh." kata Gaea; apakah berdosa sesekali memakan makanan siap saja?


Eryk tidak menghiraukan itu, memilih berjalan keluar rumahnya, di sana sudah terparkir mobil pribadinya—di dalam ada Ferdinand duduk di kursi mengemudi. Ia berpikir sesaat. "Aku yang mengemudi."


Ferdinand terkejut. "Kau yakin, Eryk?"


Eryk mengangguk, dan Ferdinand keluar dari mobil untuk bertukar posisi di kursi samping kemudi, ia masuk ke dalam tanpa menoleh ke Gaea yang berada di luar, dan menjalankan laju mobilnya.


'Aku takkan membiarkan diriku terbawa masa laluku dengan Gaea.' kata Eryk dalam hatinya.


Eryk membuka kaca mobil agar bisa menghirup udara segar, juga menjernihkan pikirannya akan masalahnya.

__ADS_1


Sesuatu yang wajar ingat masa lalu jika mereka tinggal bersama, kan?


Tinggal bersama dengan cinta pertamanya...


__ADS_2