
Eryk sendiri tidak mempercayai akan diterima begitu saja tanpa usaha, ia sendiri bersyukur namun di sisi lain merasa ia itu disepelekan Kervyn seperti penembakan tadi pagi.
Eryk berterima kasih pada Johnny dan keluar untuk kembali ke tempat saudaranya berada, tak lupa saat di lift, ia menelepon Carla untuk mengurus sisanya.
Eryk menatap kosong lift; ia tidak tahu motif Kervyn apa menyerangnya, menculik Katherine dan sekarang membuka peluang lebar untuknya masuk ke tempat dia.
Eryk bisa saja menilai sebuah perangkap untuknya, tujuan Kervyn mungkin dirinya seorang, ia sendiri tak apa asalkan orang yang penting baginya tak terluka biarlah ia saja.
Mungkin di kapal pesiar ini akan menjadi pertarungan terakhirnya, ia harus menyiapkan diri matang-matang sebab ia yakin akan ada pemeriksaan senjata.
Jika benar targetnya dirinya mengingat ialah saksi pembunuhan yang dilakukan Kervyn, Eryk memutuskan untuk ke sana sendirian.
Masalahnya yang lain, bagaimana bila itu bukan dirinya? Melainkan orang lain?
Eryk segera membantahnya, tidak ada yang berpeluang besar selain dirinya di antara saudaranya, memang ada Gaea, tetapi dia kan hanya wanita muda biasa, Kervyn hanya bertemu sekali dengan wanita muda itu saat menyamar menjadi dirinya mengelabui Gaea yang masih kecil.
Eryk bahkan belum memastikan motif Kervyn menyamar menjadinya
***
Flashback
***
Kervyn bersandar santai di dinding setelah mereka mengantar Gaea ke kamarnya. "Jadi? Ada yang mau kau tanyakan, bro?"
"Kau untuk apa ke sini? Bagaimana bisa tahu?" tanya Eryk terheran-heran, ia sudah rapih dan teliti agar Kervyn dan yang lain tidak menyadari pekerjaan ini.
"Aw, aku hanya rindu bermain denganmu, kau bukanlah tipe yang mudah dekat dengan seseorang apalagi Rainer yang merupakan keluarga baru kita, jadi kurasa ada sesuatu yang membuat kalian terpaksa bermain-main bersama," jelas Kervyn sebelum tertawa lepas. "Aku kira sesuatu yang menyenangkan, nyatanya kau bertugas melindungi anak kecil haha... seorang Tuan Muda sepertimu main dengan gadis berumur sembilan tahun, jelas kau menyembunyikan itu dari kami, pasti itu melukai harga dirimu hey, Mister Enzo." ia menepuk bahu Eryk main-main.
Eryk segera menyingkirkan tangan Kervyn dari bahunya kasar, ia ikut menyandar ke dinding di samping saudaranya. "Pak Tua itu yang memintaku, aku melakukan ini demi mobil baru yang akan dia berikan padaku nanti."
Kervyn tertawa lagi. "Bukankah karena kau menyukai Gaea?" ia menebak yang sukses membuat rona merah di pipi Eryk. "Kau itu jelas sekali cemburu aku mendapat perhatian Gaea, dan apa pula membawa buket bunga segala untuk dia? Hahaha..."
"Hey! Aku bukan pedofil!" Eryk membantah keras. "Aku memberikan buket bunga anggrek karena kemarin berjanji akan membawanya, gadis kecil ini tidak mau pulang, ingin terus main di taman bunga, terpaksa aku berjanji padanya."
"Oh," Kervyn menjawab singkat. "Tetap tidak mengubah pikiranku bahwa kau cemburu, Mister."
Eryk mengembuskan napasnya. "Ya, ya, tertawalah, tertawa sepuasmu sebelum aku menutup mulutmu dengan sepatuku!"
Kervyn segera melenggang pergi. "Kau takkan bisa melakukannya, Eryk."
"Hey!" Eryk segera mengejar Kervyn, sebuah senyum samar terukir di bibirnya, ia sudah lama tidak bermain dengan Kervyn jadi jauh di lubuk hatinya, ia senang saudaranya itu kemari meskipun diejek, berarti ia berharga bagi Kervyn.
***
Flashback Selesai
***
__ADS_1
Eryk mengembuskan napas bersamaan dengan pintu lift yang terbuka, ia segera keluar, dan berjalan ke tempat ruangan tunggu tamu berada, mata birunya sedikit melebar melihat Rainer tertidur bersandar pada bahu Gaea, sementara wanita muda itu mengobrol pelan dengan Ferdinand, berbicara samar-samar mengenai film yang tertangkap di telinganya.
Bagaimana pun, bukan film yang Eryk pedulikan, fakta melihat Gaea membiarkan Rainer bersandar membuat darahnya mendidih, ia menghampiri wanita muda itu. "Bahumu pasti nyaman sekali ya? Sudah dua kali dia bersandar di sana, belum terpikirkan olehmu untuk membuatnya menjadi ladang bisnis, Ge?" katanya tanpa menyembunyikan nada sinis di suaranya.
Gaea dan Ferdinand tentu terkejut mendengarnya lalu terheran-heran dengan Eryk tiba-tiba datang dan berkata dengan kata-kata tajam seperti itu.
Ferdinand bangkit berdiri, meletakan tangannya ke kening Eryk sementara tangan yang lain ke keningnya sendiri. "Hm... kau tidak panas..."
Eryk segera menyingkirkan tangan Ferdinand di keningnya. "Kau apa-apaan sih?"
"Aku hanya memastikan apakah kau sakit atau kepalamu terbentur hingga berkata menyakitkan seperti itu," Ferdinand menyahut santai, memperhatikan Eryk lagi. "Jangan bilang padaku kau cemburu!?"
Eryk berbalik membelakangi Alex, berdecak pinggang jengkel. "Mana mungkin Ferdinand, aku hanya memberikan saran pada Gaea, dia itu seharusnya memanfaatkan situasi agar bisa mendapatkan uang lebih,"
Gaea marah sekali, ia menyingkirkan Rainer dari bahunya membuat pria muda itu bangun tiba-tiba, namun ia tidak peduli, mendekati Eryk. "Maaf ya Tuan Muda, tak semuanya itu bisa diuangkan. Kau tahu tidak kebaikan? Aku sedang melakukannya karena kau sudah membuat Rainer bekerja ekstra." jelasnya tak kalah tajam. "Eryk bodoh!" serunya berapi-api dan pergi dengan kaki dihentak-hentakkan.
"Apa yang terjadi di sini?" Rainer bertanya sambil memegangi kepalanya yang pusing akibat dibangunkan tiba-tiba.
Ferdinand melirik Eryk dengan pandangan penuh kekecewaan sebelum mengejar Gaea. "Tunggu aku!"
Rainer bangkit berdiri. "Bertengkar masalah apa lagi?"
Eryk memutar bola matanya. "Kauโ"
Raine langsung memotong. "Kau tahu Eryk? Lupakan aku bertanya tadi, aku mau istirahat lagi..." jelasnya, melenggang pergi dengan lesu.
Eryk mengembuskan napasnya. "Apa yang terjadi padaku... ?"
Tidak mungkin Eryk masih menyimpan sisa perasaannya pada Gaea.
Tetapi perilakunya saat ini hampir sama dengan dulu...
***
Flashback
***
Eryk memandang dari bawah pohon dua insan yang sedang asyik bermain ayunan bersama-sama.
Eryk tidak menyangka Rainer mudah beradaptasi dengan keadaan ataukah saudara barunya itu menyukai anak kecil?
Eryk melirik ponselnya.
Siapa yang peduli, dengan adanya Rainer, tugasnya semakin ringan sekarang walau Gaea belum mau mengeluarkan suaranya.
"Hahaha..."
Eryk kembali memfokuskan matanya ke mereka lagi setelah mendengar suara tawa perempuan, matanya melebar mengetahui itu dari bibir Gaea. Alisnya menyatu, marah.
__ADS_1
Eryk erusaha keras kemarin, tapi tidak membuahkan hasil sementara Rainer hanya dengan mengayunkan ayunan untuk Gaea selama beberapa jam bisa mengeluarkan tawa gadis kecil itu?
Tidak bisa dibiarkan.
Eryk mengantungkan ponselnya kemudian berjalan menghampiri mereka yang sedang bahagia seakan dunia milik berdua itu, dan menggeser Rainer yang mau mengayunkan ayunan Gaea lagi. "Kurasa sudah cukup kau, biarkan aku saja kali ini."
"Eh?" Rainer kebingungan; bukankah tadi bilang tidak tertarik bermain permainan anak-anak? "Kenapa kau berubah?"
Pipi Eryk lantas merona. "Aku hanya bosan! Juga kasihan kau sepertinya kelelahan, Rai."
Itu tidak benar, jadi Rainer berkata. "Sejujurnya aku tidakโ"
"Sudahlah istirahat saja," Eryk memotong ucapan Rainer dengan dingin kemudian ia tersenyum kecil pada Gaea. "Tak apa aku menggantikan Rai?" tanyanya lembut.
Gaea mengangguk dengan polosnya.
Rainer yang melihat respon Gaea pun tidak memprotes, berjalan ke tempat Eryk berdiri memperhatikan mereka.9
Eryk mulai mengayun dengan pelan, tidak ada respon, lantas ia menaikan sedikit lagi kecepatannya, dan Gaea mulai berseru riang yang sukses membuatnya merasakan sesuatu yang aneh pada hatinya.
***
Flashback Selesai
***
"Kenapa aku terpikir itu?" Eryk bertanya-tanya sebelum akhirnya mengejar Gaea dan saudaranya keluar gedung, di sana sudah ada mobil miliknya lengkap dengan mereka semua di dalam. Ia masuk juga ke dalam.
"Bisa kita tidak ke rumah dulu?" Gaea bertanya.
"Untuk apa? Kemana juga?" tanya Ferdinand.
Gaea tertunduk. "Terserah kemana, aku hanya sedang tidak ingin di rumah cepat-cepat."
Eryk berpikir sesaat, pasti ada hubungannya dengan Lola mengingat tadi Gaea keluar dari kamar Lola dengan ekspresi wajah sedih seakan mau menangis. "Kita ke tengah kota, Ferdinand."โini juga sebagai permintaan maafnya.
"Baiklah, tengah kota ke mana tepatnya?" Ferdinand bertanya.
"Pusat perbelanjaan,"
***
Note
Silakan mampir ke novel saya yang lain sambil nunggu ini up
The Lovely One
Menikah Kontrak
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, komentar dan vote biar novel ini maju dan saya semangat buatnya ๐
๐๐๐