
Gaea sedikit terkejut mendengar suara berat di sampingnya, dengan cepat ia menoleh dan tersenyum lega itu adalah Sebastian, "Semua, Tuan Sebastian?" tanyanya.
"Oh, jangan memanggilku Tuan, Nona Gaea. Panggil aku Sebastian saja," kata Sebastian sambil tersenyum kecil. "Iya, mereka semua anak angkat Tuan Xander."
Gaea menatap lagi foto tersebut, "Sungguh? Jadi Eryk memperkerjakan mereka?"
Sebastian mengangguk, "Bisa dibilang bisnis keluarga "
Gaea melirik lagi foto tersebut, mata hijaunya tertuju pada gadis kecil yang berdiri di tengah-tengah di antara para lelaki, ia merasa pernah melihat gadis kecil itu. "Jika tidak keberatan, boleh aku bertanya siapa anak perempuan ini?" tanyanya.
Sebastian melirik foto tersebut, kemudian tersenyum lembut bernostalgia dengan foto keluarga Eryk, "Ah ... anak perempuan ini bernama Lola."
Mata hijau Gaea melebar.
Lola?
Sebastian mengatakan gadis kecil itu bernama Lola!?
Lola?
Lola?
"Apa!?" seru Gaea syok. "Maksudmu Lola yang ini?" ia menunjukan layar ponselnya yang bergambar ia, Lola dan Ava, jarinya menunjuk foto Lola.
Sebastian melihat ponsel Gaea sebentar dan mengangguk, "Ya, itu Nona Lola," katanya, "Nona Lola tumbuh jadi wanita yang cantik sekali."
Bibir Gaea terbuka lebar; tidak percaya apa yang baru saja didengarnya bahwa Lola termasuk anak angkat keluarga Enzo dan juga saudara Eryk. Ia mengepalkan tangan di dadanya, frustasi.
'Kenapa Lola tidak memberitahuku rahasia sebesar ini?' Gaea bertanya-tanya dalam hatinya.
Gaea tidak tahu harus merespon apa mengenai ini, tentu saja ia menghargai privasi Lola yang menolak untuk memberitahunya mengenai status anak angkat keluarga Enzo namun di sisi lain ia jelas kecewa harus mengetahui hal sebesar ini dari mulut pelayan Eryk.
'Dia selalu berpikir bagaimana mencari uang yang banyak padahal dia sesungguhnya anak angkat dari keluarga Enzo.'
Dan lagi mereka sudah berteman sejak sekolah dasar, ia merasa Lola tidak cukup mempercayainya setelah semua yang mereka lewati bersama, ia bertanya-tanya apa Lola selama ini berakting di depannya dan Ava?
'Lola pasti punya alasan kuat.' kata Gaea menyemangati dirinya di dalam hatinya.
Gaea mengembuskan napasnya, dan kembali melihat foto keluarga Eryk lagi, dan kini mata hijaunya tertuju pada anak lelaki kecil berambut pirang dengan mata cokelat muda yang asing baginya, "Terus anak ini ...?" tanyanya sambil menunjuk anak kecil yang dilihatnya tadi.
"Oh, dia Tuan Kervyn." sahut Sebastian.
"Kervyn ..." Gaea sungguh asing mendengar namanya.
"Tuan Kervyn juga merupakan saudara kandung Tuan Eryk." kata Sebastian.
"Oh," Gaea menyadari jika memang ada kemiripan di antara mereka hanya saja warna mata mereka yang membedakan; kalau ia melihat mata biru langit Eryk membuatnya tenang entah kenapa mata cokelat muda Kervyn justru membuatnya tak nyaman. "Lalu dimana Kervyn ini?"
Sedikit aneh ia belum pernah mendengar nama Kervyn mengingat Eryk merupakan pebisnis muda yang tengah naik daun.
Walaupun Kervyn tidak memasuki dunia bisnis seperti Eryk, ia yakin Kervyn pasti disinggung karena kemiripan mereka.
__ADS_1
Sebastian mengembuskan napasnya, sedikit ragu untuk mengatakannya, "Tuan Kervyn sudah ti—"
"Kau di sini rupanya."
"Huh?" Gaea menolehkan kepalanya. "Rainer?" ia kira pria muda itu tengah tertidur?
Rainer berjalan mendekat, "Bukankah seorang tamu tidak boleh berkeliling tanpa ijin pemilik rumah?"
"Oh," Gaea menyadari yang dilakukannya salah; ia tidak bisa menahan diri hanya duduk menunggu Eryk pulang atau Rainer terbangun. "Kau tidur, aku bosan, jadi ...."
Rainer mengembuskan napas kecil, "Kembalilah ke ruang tamu."
Gaea tanpa berkata apa-apa, menurut, duduk di sofa dengan perasaan campur aduk; ia kan memang salah.
"Nona Gaea mau minum?" tanya Sebastian sopan.
"Teh iya ..." berbicara minum membuat kerongkongannya kering apalagi serangan di apartemen masih sedikit membuatnya lemas. "Tentu." katanya; menolak juga tidak baik.
Sebastian langsung pergi ke dapur setelah mendengar jawaban Gaea.
Gaea mendengar sofa di seberangnya berdecit kecil, ia melihat Rainer kembali duduk, satu hal yang disadarinya, pria muda itu tampaknya tadi berganti baju.
Rainer sekarang mengenakan kaus berlengan pendek berwarna putih serta celana jeans berwarna hitam, pakaian itu mengingatkannya dengan pakaian yang dikenakan Rainer sewaktu di mall kecuali tanpa jaket hitam.
Rainer menyilangkan kakinya, alisnya mengerut. "Kau sungguh tidak bisa diam ya?"
"Excuse me ...?"
Dari sekian banyak pertanyaan serta topik pembicaraan, Rainer memilih topik pembicaraan yang memancing emosinya?
Gaea menggigit bibirnya; kenapa Rainer begitu dingin padanya? Padahal tadi di restoran, pria muda itu begitu protektif padanya membuat hatinya tersentuh. Ia tidak mengerti jalan pikiran Rainer, jika Eryk tipe yang menggunakan kata-kata brutal untuk mengutarakan perasaannya, Rainer justru sebaliknya.
Gaea terkejut Eryk dan Rainer bisa berteman baik.
Dan lagi apa-apaan itu juga? Ia belum menjawab sudah diminta untuk diam?
Kemana perginya rasa peduli Rainer?
Berbicara peduli ....
"Kata-katamu di restoran tadi, apa maksudnya?" tanya Gaea, membuka percakapan.
"Kau benar-benar tidak mengerti kata 'sudah cukup', iya?" tanya Rainer balik.
Gaea mengepalkan tangannya kesal, "Bisakah kau berhenti bersikap hot and cold? Kau melakukan itu kan demi aku jadi bukankah aku memiliki hak untuk mengetahui alasan dari itu, Rainer?"
Rainer tidak menjawab.
"Rainer." kata Gaea tidak sabar.
"Aku melakukan apa yang harus aku lakukan sebagai temanmu, dan juga sahabat Eryk." kata Rainer.
__ADS_1
"Aku sudah mendengarnya," kata Gaea. "Lebih detail lagi."
"Aku dan Eryk bukanlah lelaki baik-baik." kata Rainer memandang lurus Gaea, serius. "Hanya itu yang bisa aku katakan." lanjutnya lalu bangkit berdiri.
Gaea merasa tidak puas dengan jawaban Rainer, baginya itu masih ambigu, bukan lelaki baik memiliki banyak arti, mereka berdua bukan baik dari segi apa? Itu yang jadi pertanyaan. Melihat Rainer kembali berjalan menuju tangga ke lantai atas itu mengisyaratkan pria muda itu tidak mau mengobrol lagi.
"Aku akan mengetahui soal kalian cepat atau lambat, kau tahu," kata Gaea. "Kau tidak perlu bersikap misterius begitu."
Rainer berhenti. "Aku tahu."
"Lalu kenapa Rainer!?" seru Gaea sedikit meninggikan nadanya. Tahukah Rainer bahwa ia tidak suka sesuatu yang penting dirahasiakan darinya? Apalagi itu juga berkaitan dengannya?
"Karena saat kau mengetahuinya, aku akan berkata padamu: sudah kubilang kan?" sahut Rainer, lalu melanjutkan langkah kakinya. "Nikmati saja menjadi 'tunangan' Eryk."
Gaea ingin mengatakan sedikit lagi perasaannya namun Rainer sudah terdengar dingin sekali, jadi ia pun menelan pahit perasaannya.
"Ini teh chamomile-nya."
"Eh ..." teh? Aroma bunga yang lembut menyentuh hidungnya ketika Sebastian meletakan cangkir di meja, membuatnya sedikit tenang. Matanya melirik cangkir yang berisi teh berwarna kuning muda terang itu.
"Sungguh menyenangkan bisa bertemu kembali denganmu Nona Gaea," kata Sebastian. "Nona terlihat semakin cantik dari terakhir kali kita bertemu."
"Apa?" Gaea kebingungan mendengarnya, ia belum pernah bertemu Sebastian, kenapa Sebastian berbicara seolah-olah mereka sudah? Ia yang lupa atau Sebastian? "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Oh," Sebastian teringat sesuatu. "Nona tentu belum mengingatnya karena dulu masih kecil."
"Oh." Gaea merasa itu masuk akal, saat masih kecil, ia belum memerhatikan orang di sekitarnya, ia terlalu trauma ditinggal oleh kedua orang tuanya kala itu sehingga harus pindah keluar kota demi keamanan hidupnya.
Walaupun pada akhirnya ia kembali lagi ke New York, namun ia harus mengganti nama keluarganya karena pelaku pembunuhan kedua orang tuanya belum tertangkap hingga sekarang.
"Tolong perhatikan Tuan Eryk." kata Sebastian.
"Eh?"
"Terkadang Tuan Eryk akan melakukan sesuatu yang di luar batas kemampuan dia," kata Sebastian. "Nona Gaea sebagai tunangan Tuan Eryk tentu bisa, kan?"
"Ha ... ha ... ha ..." Gaea tertawa canggung. mendengar Sebastian begitu menaruh rasa percaya yang besar kepadanya—orang yang baru dikenalnya seperti tusukan tak kasat mata di jantungnya; bagaimana bisa ia membohongi orang seperti Sebastian soal lamaran palsu mereka? Walau begitu ia berkata. "Aku mencoba."
Sebastian tersenyum lebar, senyum yang begitu tulus hingga membuat Gaea ikut tersenyum juga.
"Kau masih belum bersiap-siap, Gaea?" suara tenang Rainer memecah keheningan ruang tamu.
"Bersiap-siap?" Gaea bertanya-tanya.
Rainer mengecek ponselnya terlebih dahulu. "Aku lupa memberitahumu sepertinya."
"Soal?" tanya Gaea tidak sabar, ia masih belum memaafkan sikap dingin Rainer tadi.
"Kita kembali ke apartemenmu," sahut Rainer masih sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.
"Apa!?" mata hijau Gaea membulat seketika. "Kenapa harus ke sana?"
__ADS_1
Gaea tidak mengerti, bukankah Rainer tahu baru tadi ia dan Eryk diserang oleh orang yang hendak mencuri sesuatu di apartemennya jadi kenapa harus kembali? Ia tidak yakin polisi akan mengijinkan mereka masuk.
"Karena kau akan mulai tinggal di sini, Gaea."