Sweet Revenge

Sweet Revenge
Chapter 49 : Let it Go


__ADS_3

Gaea selesai mengemasi pakaiannya ke dalam koper, pikirannya kembali ke ucapan Rainer tadi, "Oh my God!" ia masih tak percaya yang menemaninya Rainer. Ia sejujurnya tidak ada masalah hanya saja nada ucapan pria muda itu tadi begitu menggoda jangan lupakan juga mereka berdua masih ada kencan yang belum terpenuhi karena sibuk mengurus Lola dan ia terlalu sedih karena Eryk.


Meskipun sejujurnya selama dua hari ini, Gaea akui mereka sering berdua karena Eryk menghindarinya.


Tinggal bersama Rainer, takkan terjadi apa-apa, kan?


"Kan ...?" Gaea bertanya pada dirinya sendiri ragu.


Apa yang dipikirkannya, sebelum ini ia sudah curiga Rainer menaruh hati padanya sekarang ditambah ini betapa canggungnya ia saat ini.


Rainer tipe pasif takkan mungkin melakukan yang tidak-tidak selama ini juga biasa saja hanya satu yang mesti dihindari jangan sampai dekat dengan Rainer ketika pria muda itu tertidur nanti dipeluk tiba-tiba lagi.


"Kan ...?" Gaea bertanya lagi pada dirinya sendiri. "Ah ... bagaimana ini!?" katanya frustrasi mengacak-ngacak rambutnya, ia kembali ke ranjang tidurnya, berbaring di sana, mengambil napas dalam setelahnya.


Sembunyi bukan berarti mereka akan bermesraan seperti sepasang kekasih, hanya teman yang tinggal bersama. Lagipula Eryk juga belum bilang akan kemana tujuannya, bisa saja Eryk berubah pikiran menambah orang lain contohnya Alex.


"Iya, tidak ada yang perlu dicemaskan." gumam Gaea, lalu terkesikap Bintang naik ke ranjangnya, tidur melingkar di kakinya, ia tersenyum kecil.


Bagaimana dengan Bintang?


Gaea akan membujuk Eryrk besok, jadi sekarang ia menutup matanya, mencoba untuk menangkap mimpi malam.


***


"Gaea ...."


Gaea terbangun mendengat ada yang memanggilnya sayup-sayup. Ia yang malas mengira itu hanya khayalan semata memutar posisi tidurnya. Tidak lama ia merasakan pipi kanannya dipegang-pegang membuatnya refleks menampar sesuatu yang dikiranya nyamuk itu, namun ketika mengenai apa pun itu yang mengganggu pipinya, ia menyadari bahwa itu bukan nyamuk tetapi sesuatu yang panjang, hangat dan keras.


'Tidak mungkin hantu kan.' kata Gaea dalam hatinya.


Gaea perlahan membuka matanya—betapa terkejutnya ia melihat wajah Eryk begitu dekat dengannya, refleks ia berteriak—"A—" yang bibirnya buru ditutup oleh tangan Eryk sebelum teriakannya selesai.

__ADS_1


"Diamlah." kata Eryk pelan.


Gaea mengangguk, lalu Eryk pun melepaskan kurungan tangan di bibirnya, "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya heran, bukannya Eryk alergi bulu kucing? Kenapa berani pria muda itu menginjakan kaki ke kamarnya ini diam-diam?


Gaea menyadari Eryk memakai masker untuk menutupi hidung sepertinya agar bulu Bintang tidak masuk dan membuat pria muda itu alergi. Pintar.


Eryk menegakan tubuhnya, tanpa memandang Gaea, ia menjawab, "Kau berangkat sekarang."


"Apa?"


Eryk menghela napas, mengatakan sekali lagi, "Kau berangkat sekarang. Bawa tasmu satu saja, kau bisa membeli sisanya nanti jika kau kekurangan sesuatu."


Gaea melirik jam yang berada di atas meja lampu, "Ini sudah malam, tidak bisa besok, Eryk?"


Eryk menggelengkan kepalanya, "Ini waktu yang tepat karena semuanya sedang tertidur termasuk Katherine."


Gaea tidak menjawab, tentu saja Eryk akan tetap memikirkan perasaan Katherine ketika bersamanya. Ia bangkit berdiri, menggaruk lengannya gugup.


Keadaan ini begitu aneh mengingat ia dan Eryk jarang akur.


"Aku ganti baju dulu." kata Gaea gugup.


Eryk mengangguk kecil, dan duduk di sofa sambil menutupi setengah wajahnya dengan tangannya berjaga-jaga bulu Bintang tidak masuk.


Gaea mengambil pakaian yang cukup nyaman, dan berjalan menuju kamar mandi, mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian baru, meletakan piyamanya di keranjang, lalu keluar kamar mandi tanpa peduli mengecek penampilannya.


Eryk bangkit berdiri, menghampiri Gaea, "Aku akan menemanimu hingga hotel."


"Hotel?"


Eryk mengangguk, "Jadwal keberangkatan pesawatmu besok sesungguhnya."

__ADS_1


"Sebenarnya aku mau kemana?" tanya Gaea tidak semangat sama sekali.


"Sitka, Alaska tempat tinggalmu dulu." kata Eryk.


"Dari mana kau tahu aku tinggal di sana?" tanya Gaea heran, sebelum ia ingat bahwa Lola dulu bersamanya juga tinggal di sana. "Lola?"


Eryk mengangguk, "Anggap saja kau berkunjung ke kampung halamanmu lagi. Aku yakin orang tua angkatmu juga rindu padamu."


Gaea teringat sudah seminggu lebih ia belum memberikan kabar pada orang tua angkatnya di Sitka, ia terlalu sibuk bekerja. "Kau berpikir untuk menyusul?" tanyanya penuh harapan.


Eryk terkejut, "Aku belum memikirkannya, ada hal yang harus aku selesaikan di sini. Aku mau memastikan sesuatu apakah itu benar atau tidak."


"Memastikan sesuatu?" tanya Gaea.


"Bisnisku." Eryk menjawab singkat.


"Eryk." panggil Gaea pelan.


"Hm?"


"Bisa aku memakai cincin ini sampai besok? Setidaknya sampai kau pulang mengantar?" kata Gaea.


Mereka belum sempat menyelesaikan ini, Gaea sudah pasrah dengan nasib percintaannya dengan Eryk jadi ia memutuskan setuju mengembalikan cincin tersebut.


"Baiklah." kata Eryk setelah berpikir cukup lama.


Gaea tersenyum kecil.


***


Jangan lupa like, komentar dan vote ya 😊

__ADS_1


💕💕💕


__ADS_2