
Gaea tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan melihat-lihat rumah Eryk yang tadi belum dilihatnya, di lantai dua juga banyak terdapat vas bunga serta foto-foto keluarga Enzo namun kebanyakan sendirian, mungkin karena lantai dua kebanyakan ruang pribadi anak angkat Xander.
Gaea sedikit sedih ketika melihat foto Lola, namun dengan cepat ia menghilangkannya dengan menggelengkan kepalanya.
Sebastian berhenti di depan pintu bercat putih, dan membukanya. "Ini kamar anda, Nona Gaea." katanya.
Gaea segera masuk ke dalam, dan takjub dengan isinya, bahkan ada kamar mandi pribadinya. Yang paling disukainya adalah warna catnya tidak seperti di ruang tamu yang berwarna abu-abu gelap, kamarnya kontras berwarna putih dan abu-abu muda.
"Aku suka kamar ini!" seru Gaea semangat. Tadinya sempat berpikir akan seperti kamar lelaki karena keluarga Enzo semuanya lelaki namun pikirannya berubah.
Gaea berpikir apakah ini kamar Lola sebelumnya, mengingat sahabatnya itu satu-satunya wanita di keluarga Enzo.
"Aku senang mendengarnya, Nona Gaea." kata Sebastian. "Jika begitu aku akan memberikan Nona Gaea untuk mengemasi barang-barang."
Gaea mengangguk, dan Sebastian pergi keluar, tak lupa menutup pintu kamarnya.
Gaea meletakan koper di atas ranjang barunya, dan membukanya. "Oh," ia segera berlari kecil untuk mengambil pet cargo yang tadi dibawanya dan melepaskan kucingnya. "Bintang, ini rumah baru kita." katanya sambil mengelus lembut pucuk kepala Bintang.
"Meow..."
Gaea tidak tahan dengan keimutan kucingnya, akhirnya memeluk erat sesaat baru ia kembali lagi ke urusannya yaitu kopernya.
"Hm," Gaea bergumam, memilih apakah ia harus merapikan pakaian ataukah peralatan mandinya; dan setelah perdebatan panjang dipikirannya, ia memilih merapikan peralatan mandinya karena lebih sedikit. Ia mengambil handuk dan sikat gigi, lalu berjalan ke kamar mandi sambil bertanya-tanya kenapa Rainer hanya mengemasi dua benda saja mengingat ada sabun scrub miliknya di apartemen.
Mungkin Rainer tidak mengerti kebutuhan wanita jadi hanya mengambilnya secara asal saja; sikat giginya juga memiliki inisial nama di bawah gagangnya makanya Rainer tidak salah membawanya.
Gaea meletakan sikat giginya di lemari kecil di samping westafel baru handuk di bagian jemuran kecil di samping pintu kamar mandi. "There." katanya tersenyum puas akan hasil kerjanya, ia sempatkan mengecek juga kamar mandi dan terkagum mengetahui ada bathtub berbentuk persegi panjang, di apartemennya hanya ada shower.
Gaea keluar setelah puas melihat-lihat, dan mulai merapikan pakaiannya ke dalam lemari pakaian yang telah disediakan satu per satu.
Tok. Tok. Tok.
"Hm... ?" Gaea menghentikan aktifitasnya, berpikir siapa yang datang ke kamarnya; yang pasti bukan Sebastian. "Siapa?"
__ADS_1
"Ini aku," suara dalam Eryk teredam di balik pintu. "Boleh aku masuk?" tanyanya.
"Oh," Gaea lantas membereskan sisa pakaian yang masih tersisa dengan cepat dan segera ke pintu untuk membukanya. "Ada apa?"
Eryk memutar bola matanya. "Serius, bisakah kau tidak terlihat kesal? Aku sudah bersikap baik padamu dan begini sikapmu?" keluhnya.
Perkataan Eryk tidak ada salahnya.
"Ada apa?" tanya Gaea sekali lagi, kali ini lebih tenang.
"Whatever," gumam Eryk; ia tidak butuh minta maaf lagipula. "Aku hanya ingin mengatakan untuk berhati-hati tidak memecahkan barang di sini. Hmph." selesai mengatakan itu entah kenapa hidungnya terasa gatal.
"Tentu Tuan Eryk, aku akan berhati-hati." dikira Gaea ada urusan penting apa sampai kemari sendiri segala, kalau hanya itu kenapa tidak menyuruh Sebastian saja? "Ada lagi yang lain yang harus aku patuhi, Tuan Muda?"
Eryk menghela napas, ketika Gaea berkata sarkas seperti ini membuatnya sebal, mungkin inilah perasaan orang-orang yang ditemuinya ketika ia mengatakan itu. "Cepatlah ganti bajumu... huh?" kata-katanya terputus saat merasakan sesuatu yang menggelitik hidungnya. Penasaran, ia pun ke dalam kamar, satu detik berikutnya ia terbatuk-batuk.
Perasaan ini...
"What the f—" Eryk bahkan tidak bisa melanjutkan ucapannya, ia sudah terbatuk lagi dan parahnya disertai bersin-bersin. Ia segera menutup hidungnya, mata birunya mencari penyebabnya dan terkejut melihat seekor kucing tengah 'membersihkan diri' di karpet bulu putihnya. "Kenapa ada kucing di sini!?" serunya syok.
"Aku tidak peduli nama kucingmu," kata Eryk, ia berusaha memasang tampang yang kesal namun bersinnya menghancurkan segalanya. "Serius, kenapa bisa Rainer membiarkan ini? Sebastian juga."
"Memangnya kenapa?" tanya Gaea heran.
"Kau serius menanyakan ini? Serius?" sindir Eryk, lalu terbatuk diikuti bersin; sudah begini ia menjadi malas berdebat. "Aku... alergi bulu kucing, Gaea..." katanya lemah.
"Oh," bagaimana Gaea bisa melupakan gejala yang dialami Eryk sejak tadi. "Tetapi aku tidak mau membuangnya." katanya. "Dan pet shop langgananku tutup lebih awal karena berlibur untuk merayakan natal besok lusa." jelasnya.
"Bagus." kata Eryk. "Aku tidak mau, uhuk..." sial. "Aku tidak mau dia ada di rumahku..."
"Apa!? Lantas aku harus menaruh Bintang dimana bila bukan di sini!?" seru Gaea.
"Terserah kau," sahut Eryk, tanpa mendengar jawaban dari Gaea, ia berjalan keluar sambil sesekali bersin. "Aku tidak mau makhluk ini berkeliaran di sekitar rumah, mengotori, uhuk, barang-barang dengan bulunya... hachi!"
"Ugh," Gaea berusaha menahan amarahnya.
__ADS_1
Eryk berhenti di depan pintu. "Dan... kau bersiap-siaplah, kau ikut denganku... hachi!"
"Apa!?" Gaea syok namun sebelum bisa berkata apa-apa, Eryk sudah pergi, menutup pintunya agar bulu kucing tidak keluar dari kamar. Ia menepuk keningnya frustasi.
Baru ketemu lagi, Eryk sudah bersikap seenaknya.
Dan juga Eryk mau membawanya kemana? Ia harus memakai baju biasa, formal atau gaun?
"Ugh," nampaknya Gaea harus menanyakan ini pada Eryk, namun ia tidak yakin apakah pria muda itu mau mendekatinya sebab ia yakin bajunya ada bulu Bintang. Tidak mau membuang waktu, ia ke bawah, di sana ia sedikit terkejut melihat Rainer tengah duduk di ruang tamu, tidak tertidur di kamar.
Rainer menyadari keberadaan Gaea, bibirnya mengukir seringai kecil. "Melihat wajah Eryk yang sembab begitu memuaskan, hahaha..." ejeknya.
Gaea heran Rainer sama sekali tidak bersimpati pada Eryk, padahal mereka saudara. "Kenapa kau tidak bilang Eryk memiliki alergi terhadap bulu kucing?"
"Dan melewatkan momen langka wajah tampan Eryk yang ternoda? Tidak maulah," sahut Rainer tanpa dosa dan tertawa lagi.
Gaea ikut tertawa, jujur ia juga menikmatinya, wajah Eryk yang merona serta matanya yang mulai sembab, mungkin itu menjadi pelajaran untuk Eryk karena sudah seenaknya padanya dan tentu Rainer.
Dan ia juga sedikit senang, karena ini juga Rainer tidak lagi bersikap dingin padanya.
"Aku tahu dia takkan marah padamu." kata Rainer. "Karena kau pasti akan memberikan Bintang sebagai pembelaan." lanjutnya.
"Ah!" sebuah ide seketika muncul di kepala Gaea. "Kau jenius, Rainer!" pujinya, bibirnya menyeringai lebar memikirkannya.
Mungkin ini terdengar curang namun ia bisa memakai Bintang untuk membalas Eryk jika pria muda itu bersikap semena-mena pada dirinya.
Ide yang licik namun bagus.
"Kau masih belum ganti baju?" tanya Rainer.
"Oh..." Gaea melirik tubuhnya, ia menggaruk lengannya gugup. "Sejujurnya aku tidak tahu pakaian yang harus aku kenakan,"
"Tentu saja, Eryk takkan bilang." gumam Rainer pelan, begitu pelan agar Gaea tak mendengar. "Kau akan ikut acara lelang malam ini sebagai tunangan resmi Eryk."
.#.#.#.#.#.#.#.
__ADS_1
Picture from Pinterest