
Gaea menghabiskan sisa roti yang berada di tangannya, ia mengakui rasanya enak dan teksturnya lembut apalagi ada cokelat yang meleleh di dalamnya. Namun, seenak apa pun ia tetap tidak menambah, ia masih harus tetap membuka mata lebar-lebar.
Mereka membawa kecurigaan ini jadi terpaksa Gaea harus memasang pertahanan yang tinggi.
Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan hanya obrolan biasa dengan Alex dan Lola terutama Lola, yang tadinya masih dingin, perlahan mulai mencair karena obrolan mereka, Alex membantu sekali dalam hal ini, ia sungguh berterima kasih.
Hanya Ferdinand lama sekali mengambil minuman di kulkas, Gaea menjadi curiga kepada pria bertubuh kekar tersebut, tak mungkin kan Ferdinand merencanakan sesuatu?
"Bintang kita datang, baby!" kata Alex.
Gaea melirik dan melihat Ferdinand berjalan kemari membawa box besar di tangannya.
Ferdinand membuka box tersebut yang berisi botol bir lalu melemparkannya ke arah Alex yang ditangkap sempurna oleh saudaranya.
Gaea kira kulkas Eryk menyimpan minuman sehat saja kemarin ataukah ia yang salah? Ia tidak mengecek pendingin yang atas karena ia yakin hanya ada es batu atau makanan beku lainnya atau bisa juga dari pesanan di toko roti.
Memangnya toko roti menyajikan bir? Mungkin pizza, namun pizza kan sudah dibawa Alex ke sini untuk apa Ferdinand memisahkannya?
Napas Gaea mulai tidak teratur.
Tidak mungkin.
"Ini Gaea." kata Ferdinand setelah meletakan satu botol bir serta gelas bening berisi es batu berbentuk kotak-kotak kecil di dalamnya.
"Kenapa kau memakai batu es? Bukankah akan menghilangkan rasa dari birnya?" tanya Gaea.
Ferdinand tertawa, "Kami memang suka minum dengan es batu, tepatnya kami suka memakan es batunya terutama Alex."
"Benar," kata Alex yang baru selesai mengunyah es batunya. "Jika kau tidak mau, kau bisa memberikan itu padaku, babe."
"Apakah gigimu baik-baik saja?" tanya Gaea merasa linu melihat Alex yang mengunyah bongkahan batu es seakan itu empuk.
"Gigiku sehat~ gigiku kuat~" Alex menjawab dengan nada bersenandung ria, mengambil botol bir yang lain, lalu meminumnya dan selanjutnya makan pizza.
Gaea tidak heran Eryk melarang menyimpan makanan cepat saji, melihat ketiga saudara makan dengan lahapnya membuatnya tidak napsu makan, "Kalian tenanglah." katanya.
Lola berhenti makan untuk menjawab, "Kita tidak tahu kapan Eryk kembali jadi aku mau cepat menghabiskan ini." katanya. "Gaea kau juga cepatlah makan, nanti keburu habis."
__ADS_1
"Siapa yang cepat dia dapat, babe!" kata Alex dengan dua pizza di tangannya.
Gaea memutar bola matanya, dan mengambil pizza dari box, ia melirik lagi ke temannya tak ada yang mencurigakan, mereka makan dengan lahapnya bahkan Ferdinand yang tadi sempat mencurigakan pun ikut makan dan minum. Ia mendekatkan potongan pizza ke bibirnya, memperhatikan lagi, dan di saat itu ia melihat Ferdinand dan Alex membuang es batu yang ada di gelas milik mereka mengisi dengan es batu yang baru.
'Bukankah tadi mereka suka memakan es batu?' kata Gaea dalam hati terheran-heran.
Gaea melirik bir yang berada di dalam gelasnya, es batunya sudah mencair karena ia tidak kunjung meminumnya, melirik mereka yang sibuk makan sambil mengobrol, dengan segera ia menyembunyikan gelasnya di balik punggungnya, menumpahkannya ke rumput hijau di bawahnya, dan meletakannya lagi ke meja, "Bir tadi tidak enak karena es batunya sudah mencair."
"Kau seharusnya menggantinya, babe." kata Alex.
Lola yang sudah selesai makan, sedang duduk di kursi panjang mendorong gelasnya ke Gaea memakai kipasnya, "Masih membeku tuh Ge, minum pakai gelasku saja," katanya sebelum kemudian tersenyum mengejek. "atau kau ini sekarang jijik denganku?"
"Tentu saja tidak," Gaea membantah keras, hanya saja jika ia meminumnya untuk apa tadi ia membuangnya? Dan lagi semua kini tertuju padanya. Terpaksa ia mengambilnya, menuangkan bir ke dalam gelasnya barulah memasukan bir ke dalam mulutnya, "Fermish sefbentwr." katanya dengan mulut masih dipenuhi bir, langsung berlari ke dapur untuk memuntahkan bir di mulutnya di wastafel. Ia membersihkan bibirnya dengan air keran.
"Jangan bergerak."
Gaea membeku di tempatnya berdiri merasakan sesuatu keras menempel di punggungnya; ia mengenali suara ini, suara yang tadi berpesta bersamanya, "Kenapa kau melakukan ini Ferdinand?"
Ferdinand tidak menjawab melainkan berkata dingin, "Ikut denganku dengan tangan di atas kepala, Gaea."
Ferdinand merintih kesakitan akan kekuatan pukulan tutup panci Gaea, ia menatap tajam Gaea sebentar kemudian berlari mengambil pistol yang jatuh di lantai tak jauh darinya.
Gaea juga berlari ke tempat pistolnya, sadar ia takkan bisa mengambilnya, ia langsung melempar tutup panci logam yang masih ada di tangannya ke Ferdinand yang membuat pria muda itu sukses mengerang kesakitan memegangi kepalanya . Ia segera memanfaatkan ini untuk mengambil pistol tersebut, tetapi sebelah kakinya ditarik oleh Ferdinand yang membuatnya terjatuh dan mereka berusaha memperebutkan pistol tersebut.
Gaea mempertahankan, sementara Ferdinand mencoba merebut dari atasnya.
"Aku tidak mau menyakitimu, Gaea," kata Ferdinand disela-sela kekacauan ini. "Kau membuat situasi ini jadi rumit."
Gaea tidak memperdulikan, tenaganya hampir habis untuk mempertahankan pistol tersebut, jika begini pistol itu akan berpindah tangan dan ia takkan bisa kabur! Tidak ada cara lain selain dengan cara itu! Dengan segenap kekuatan yang ia menendang kepribadian Ferdinand, yang kembali sukses membuat pria muda itu mengerang kesakitan memegangi kepribadiannya.
Gaea segera berdiri dan berlari halaman belakang tempat dimana Lola dan Alex berada, ia terkesikap melihat keduanya tertidur, Lola di kursi sementara Alex di rerumputan.
'Kenapa posisi tidur mereka tidak normal?' kata Gaea dalam hatinya.
Gaea segera berlari ke tempat Alex berada, mengguncangkan tubuh pria muda itu, "Alex! Alex! Bangun!"
Tidak ada jawaban.
__ADS_1
Gaea menyentuh leher Alex untuk memeriksa napas serta denyut nadinya, "Obat tidur ...?"
Dari mana? Jika diamati dosisnya pasti tinggi dari Alex yang sama sekali tidak merespon.
Gaea meletakan Alex lagi, ia sejujurnya ingin memindahkan, namun ia sedang bermain dengan 'waktu' bersama Ferdinand, ia segera ke tempat Lola, mengguncangkan tubuh sahabatnya itu juga, "Lola? Lola? Sadarlah!"
Mata biru Lola terbuka perlahan membuat senyuman di bibir Gaea mengembang.
"Lola? Syukurlah kau bangun." kata Gaea lega.
"Apa yang terjadi?" tanya Lola memegangi kepalanya. "Aku mengantuk sekali dan tak sadarkan diri ...?" katanya kikuk.
"Kau sungguh menyusahkan."
Gaea melirik Ferdinand yang sudah menyusulnya lengkap dengan pistol yang tertuju padanya.
"Ferdinand?" Lola yang masih belum sadar sepenuhnya, bingung kenapa Ferdinand membawa pistol dan lagi tertuju pada Gaea. "Apa yang kau ...?" ia tidak menyelesaikan katanya-katanya, Ferdinand menembakan peluru mengenai perutnya.
Gaea berteriak syok, "Lola!"βmelihat Lola yang kembali lemah ke kursi diserta di darah yang mulai keluar membuat amarahnya memuncak, ia segera mengarahkan pistolnya ke Ferdinand; fokus. Lalu menarik picunya, yang mengenai pistol milik Ferdinand membuat pistol terpental masuk ke kolam renang. Ia menarik picunya lagi sayangnya tidak ada peluru yang keluar membuatnya membuangnya ke kolam renang juga.
Mereka saling berpandangan satu sama lain tajam.
"Aku buat kau menyesali sudah melukai orang yang paling terpenting bagiku!" kata Gaea emosi.
Ferdinand tersenyum samar, "Kau pikir bisa mengalahkan aku dengan jurus jeet kune do milikmu?"
***
Note :
Jangan lupa tinggalkan like, komentar, dan vote ya π
Visual Gaea saya ambil dari model Amerika bernama Laneya Grace π lucu juga Grace itu nama keluarga karakter utama novel saya yang lain Menikah Kontrak π€£
πππ
__ADS_1