Sweet Revenge

Sweet Revenge
Episode 12 : Being Teased


__ADS_3

Sweet Revenge 12


Gaea menunggu aksi Rainer berikutnya, detik demi detik berlalu, dan Rainer tidak bergerak menyingkir atau pun berkata apa pun. Ia mulai merasa dipermainkan. "Kau menyingkirlah." perintahnya.


Rainer tidak bergerak sedikit pun. "Kau sendiri yang memintanya,"


Meminta dikurung seperti ini? "Aku tidak meminta ini," sahut Gaea tidak terima; ia meminta Rainer menjadi diri sendiri saat bersamanya.


"Kau tidak paham ya?" tanya Rainer. "Aku menjadi diriku sendiri sekarang," lanjutnya. "Kau kan begitu frustasi ingin melihatnya, benar?"


Mendengar Rainer menyindir mengenai keluhannya membuatnya merasa sedikit bersalah, yang ia inginkan hanyalah Rainer tidak bersikap terlalu dingin padanya.


"Aku selalu menjaga jarak pada sesuatu yang tidak bisa aku miliki." kata Rainer. "Dan itu pun berlaku padamu."


Gaea tidak dapat menangkap maksud Rainer, ia bukanlah milik siapa-siapa lantas kenapa Rainer mengatakan hal seperti itu? Dan lagi Rainer mengakui tidak bisa memilikinya? Apa maksudnya? Kepalanya pening memikirkan kata-kata tersebut.


Rainer menaikan dagu Gaea menggunakan telunjuknya agar mau menatapnya. "Taukah kalau kau itu seperti wine?"


"Wine?" tentu saja Gaea mengetahui minuman alkohol itu, ia seorang bartender lagipula yang tidak dimengertinya adalah apa hubungannya dirinya dengan wine? Dan, oh God, wajah pria muda itu begitu dekat, degub jantungnya naik lagi.


'Tenang. Berpikir jernih.'


Wine itu memabukan? Tidak mungkin Rainer mabuk melihatnya kan? Mustahil. Yang ada dirinya lah yang mulai mabuk dengan wajah tampan pria muda itu.


"Karena sekali melihatmu, aku terus meminta lebih," kata Rainer lagi. "Dan tanpa aku sadari, aku terus melanggar aturanku yang aku buat." jelasnya. "Kau sungguh-sungguh membuatku tidak berkutik, Gaea Silva." sambil berkata, ia memberikan belaian di pipi wanita muda itu.


Gaea lantas merona, ia tidak menyangka Rainer berpikir sedalam itu padanya, salahkah jika ia menilai bahwa pria muda di depannya ini menaruh perasaan padanya? Meski terdengar aneh sebab mereka hanya bertemu beberapa kali di klub tempatnya bekerja.


Gaea tentu percaya pada cinta pada pandangan pertama, perasaannya pada Eryk juga dimulai dari itu, namun rasanya lain jika Rainer, pria yang cenderung cuek bahkan saat berjalan selalu tidak melihat sekeliling hanya fokus ke depan.


Pertemuan mereka pun hanyalah dirinya yang memandang, tidak pernah sekali pun mereka saling beradu pandang, kecuali di malam saat ia pingsan di ruang kerja Eryk. Mungkinkah di saat itu?


Gaea tidak bisa berpikir lurus, situasi kali ini di luar dugaannya. Ia hanya bisa menatap mata hitam Rainer yang menatapnya begitu intens, seakan menunggu reaksi sekecil apa pun dari dirinya.


"Hmph... hahaha..."


Gaea terkejut mendengar suara tertawa Rainer. "Apa lagi ini sekarang?" tanyanya kebingungan.


Rainer melangkah mundur, melepaskan kurungan tangannya untuk memegangi perutnya yang sakit karena tertawa. "Kau," sahutnya dan tertawa lagi.


"Aku?" Gaea benar-benar bingung, menunjuk dirinya sendiri dengan polosnya.


"Kau benar-benar berpikir apa yang aku katakan itu serius, ya?" Rainer berhenti sejenak untuk tertawa lagi. "Aku ingin menggodamu lagi tapi karena ekspresi wajahmu yang kelewat serius seperti Einstein... haha... jadi aku tak tahan lagi."


"Apa?" Gaea memproses apa yang baru saja terjadi, dan setelah mengerti maksud ucapan Rainer, pipinya merona merah, bukan karena malu tetapi murka, tangannya terkepal keras di sisi tubuhnya.


Beraninya Rainer?


Beraninya mempermainkan perasaannya?

__ADS_1


'Tidak ada yang berani bermain-main dengan Gaea Silva!'


"Oh sungguh? Kau tahu apa yang lebih lucu?" Gaea bertanya datar.


"Apa?" Rainer yang tak tahu menjawab dengan polosnya.


"Melihatmu terjatuh di lantai!" seru Gaea, lalu dengan segala amarahnya ia memukul bagian vital Rainer.


Rainer tidak dapat menahannya karena kejadiannya begitu cepat, ia hanya bisa terduduk merintih sambil memegangi kebanggannya. "Uhh..."


"Itu pelajaran karena sudah mempermainkan aku." kata Gaea ketus, lalu mengambil koper serta pet cargo, tanpa melihat kondisi Rainer, ia pergi keluar apartemennya.


Gaea menggigit bibirnya, ia merasa seperti orang bodoh tadi, dan berpikir bahwa Rainer menaruh suka padanya hingga hatinya sedikit senang mengetahuinya benar-benar melukai perasaannya.


Kepala Gaea kembali mendidih ketika pintu lift yang tadinya hendak tertutup menjadi terbuka, memperlihatkan sosok Rainer. "Nyalimu besar juga berani menampakan diri, hm? Pretty boy." katanya ketus.


Rainer mengembuskan napasnya, ia masuk ke dalam lift. "Dengar, aku minta maaf sekali bila kata-kataku melukaimu." sesalnya seraya menggaruk belakang kepalanya.


Gaea hanya memutar bola matanya.


'Tidak semudah itu, pretty boy. Kau salah memilih orang untuk bermain-main.' kata Gaea dalam hatinya.


"Aku tahu yang aku lakukan salah tapi bukankah kau juga?" tanya Rainer.


"Aku?" sekarang Rainer menyalahkan dirinya? "Aku hanya bilang untuk tidak bersikap dingin padaku, aku menganggapmu sebagai teman, tenangkan dirimu." katanya kesal kemudian wajahnya berubah murung. "Aku juga memiliki perasaan, kau tahu?"


"Bagaimana bisa aku mengerti jika kau terus mendorongku menjauh!?" tanya Gaea emosi.


Hening.


Rainer memilih tidak menjawabnya, menunggu lift berhenti.


"Halo?" Gaea merasa tersinggung dicuekin.


Rainer tetap diam hingga akhirnya pintu lift terbuka perlahan, ia segera keluar dari lift, tapi sebelum melangkah ia berkata. "Pembicaraan ini selesai, Gaea."


Gaea sungguh-sungguh naik pitam.


Rainer menolaknya lagi.


Beraninya...


'Tetap tenang, tenang.' Gaea berkata dalam hati.


Gaea mengambil napas beberapa kali, ia berani bersumpah berurusan dengan Rainer jauh melelahkan daripada Eryk.


Jika Rainer tetap memasang akting 'cold and hot' maka ia juga bisa melakukannya.


Rainer pikir ia seorang wanita yang lemah?

__ADS_1


Setelah pikirannya jernih lagi, Gaea menyusul Rainer ke parkiran mobil.


.#.#.#.#.#.#.#.


Ketika sampai di rumah Eryk lagi, Sebastian sudah menunggu di depan rumah, dan menyambut mereka seperti biasa. "Selamat datang Tuan Rainer dan Nona Gaea."


Gaea segera keluar dari mobil sebelum sempat Rainer maupun Sebastian dapat membukakan pintu untuknya. "Senang rasanya bisa kembali." katanya mencoba terdengar seantusias mungkin.


"Biar aku bawa kopernya, Nona Gaea." kata Sebastian.


"Kau yakin?" tanya Gaea; kopernya berat dan bila dilihat dari rambut Sebastian jika pelayan Eryk itu sudah menginjak umur 50 tahun, ia merasa tidak enak karena ia masih muda dan lebih kuat.


Sebastian menganggukan kepalanya. "Ini tugasku, Nona Gaea. Tak apa,"


"Baiklah," Gaea akhirnya menyerahkan satu koper miliknya juga, ia pun mengambil pet cargo berisi Bintang di dalam mobil.


Sebastian penasaran dengan apa yang dipegang oleh Gaea. "Jika tidak keberatan, apa isi di dalam pet cargo yang Nona Gaea pegang?" tanya.


"Oh, ini?" Gaea mengangkat pet cargo di tangannya. "Ini kucing peliharaan aku,"


Mata hitam Sebastian melebar syok. "Pardon? Seekor kucing, Nona Gaea?" tanyanya memastikan jika apa yang didengarnya tidak salah.


Gaea mengangguk antusias. "Ya, namanya Bintang." katanya. "Dia kucing paling imut yang pernah kutemui."


Wajah Sebastian berubah cemas. "Tuan Eryk pastilah begitu mencintaimu Nona Gaea."


Kata-kata tadi terdengar seperti bukan pujian melihat betapa cemasnya wajah Sebastian di mata hijaunya. "Huh?"


Sebelum Sebastian dapat menjawab kebingungan Gaea, sebuah mobil datang yang membuat mata mereka sontak bersamaan tertuju ke mobil tersebut.


Eryk dan Alex keluar dari dalam mobil tersebut.


"Selamat datang kembali Tuan Eryk dan Tuan Alex." kata Sebastian sambil membungkukan tubuhnya penuh hormat. "Mauku buatkan kopi seperti biasa?"


"Hm..." Eryk menjawab sekedarnya. "Aku hanya ingin mengganti baju sebentar jadi tidak perlu," sahutnya.


"Baiklah,"


Eryk menyadari koper besar berwarna pink yang dipegang oleh Sebastian lalu matanya tertuju pada Rainer. "Sepertinya kau sudah menjalankan tugasmu, Rainer."


"Aku sudah," Rainer menjawab singkat. "Bisa aku tidur sekarang?" pintanya.


"Tentu Rainer, kau pantas mendapatkannya," kata Eryk tanpa berpikir panjang; yang penting baginya perintahnya sudah terlaksanakan. Ia lantas masuk ke dalam rumahnya buat ganti baju, diikuti Rainer serta Alex.


Gaea yang ditinggal sendirian, kebingungan. "Um, Sebastian, bagaimana denganku?"


"Oh, tentu saja." Sebastian teringat bahwa ada Gaea. "Aku akan menunjukan kamarmu, Nona Gaea."


Gaea mengangguk dan mengikuti Sebastian dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2