
Gaea segera melepaskan pelukan Rainer secara paksa hingga membuat pria muda itu terbangun.
"Apa... ?" Rainer berkata masih setengah sadar, lagi-lagi bangun dengan terpaksa.
Kenapa orang-orang suka mengacaukan tidurnya?
"Kau memelukku tadi tidur." kata Gaea.
Rainer mengembuskan napasnya, dan bangun dari tidurnya, "Biar aku tebak, Eryk marah lagi?"
Gaea tidak bisa menjawab mengenai itu jadi ia melirikkan matanya ke Eryk.
Eryk justru pergi menaiki tangga, tidak ada gunanya marah, Gaea bukanlah siapa-siapanya, meskipun mereka berciuman semalam, "Apa yang terjadi padaku ... ?"
Kejadian semalam tidak seharusnya terjadi.
Eryk baru bertemu dengan Gaea lagi setelah sekian lama menghindar, lupa kah ia soal kekesalannya dulu? Apakah hatinya menjadi lembut? Ia juga bukan tipe selingkuh, tapi perlakuannya semalam ke Gaea mematahkan itu.
Katherine membutuhkan waktu dua bulan untuk membuatnya jatuh cinta sementara Gaea ...
Eryk melirik tangannya, dengan perasaan bimbang, ia melanjutkan lagi langkahnya.
***
Setelah kejadian tadi, Gaea mengurung diri di kamarnya hanya bermain dengan Bintang, ia ingin menenangkan diri dari kedua pria yang membuatnya bingung, Eryk dan Rainer.
Gaea menyadari Rainer mulai berani mengucapkan rayuan atau candaan padanya padahal sebelumnya selalu memberikan sinyal 'menjauh darinya'.
Apakah Rainer memang menaruh perasaan padanya?
Gaea keluar dari kamarnya, sendirian memang bagus, tapi juga membuatnya banyak memikirkan hal tidak masuk akal, contohnya Rainer jatuh cinta padanya, ada apa dengan otaknya? Langkahnya berhenti.
Dengan siapa ia bermain atau sekedar mengobrol?
Alex takkan mungkin, Gaea pasti digoda habis-habisan mengenai tadi.
Lola? Masih ingin sendiri.
Eryk? Takkan mungkin, lihat saja ekspresi pria muda itu tadi seperti apa ketika melihat ia dan Rainer pelukan.
Rainer?
Gaea tidak memiliki masalah dengan Rainer hanya saja alasannya keluar karena tak mau memikirkan Rainer jadi kenapa ia harus?
Hening ...
Gaea kembali ke atas dan mengetuk pintu kamar yang ia yakini milik Rainer.
Tok. Tok. Tok.
Hening ...
Tidak ada jawaban.
Gaea mengetuk lagi, kali ini sambil memanggil, "Rainer? Ini aku."
Tok. Tok. Tok.
Tetap tidak ada jawaban.
Gaea kembali ke bawah dengan lesu.
Mungkin Rainer sedang tidur atau enggan menemuinya, di luar dugaan itu membuat hatinya sakit.
__ADS_1
"Baiklah." kata Gaea jengkel, jika seluruh keluarga Enzo tidak mau menemuinya, ia akan mencari kesenangannya sendiri, masa bodoh dengan mereka; tinggal masalahnya kesenangannya itu apa.
Gaea yakin Eryk takkan mengijinkan keluar jadi terpaksa mencari kesenangan di dalam. Matanya tertuju pada kolam renang, jika saja bukan musim dingin, ia akan dengan senang hati berenang. Ia berpikir lagi.
Menonton film? Takkan, ia takut terjebak, ada adegan dewasanya nanti disensor.
Olahraga juga sudah siang begini.
"Hm,"
Hanya ada satu yaitu latihan menembak, Gaea sejujurnya tidak ingin belajar lagi apalagi harus memegang pistol, tapi entah kenapa instingnya berkata ke sana. Ia pun keluar dari rumah dan berjalan menuju tempat latihan menembak, sedikit heran terdengar suara tembakan dari dalam, ia yakin Eryk pergi bekerja, lantas siapa?
Ferdinand? Alex?
Hanya ada satu jawaban.
Gaea membuka pintunya, terkejut ternyata itu adalah Rainer yang sedang berlatih sendirian saja. Ia melirik papan target dan terkagum hampir semuanya sempurna.
Rainer meletakan pistolnya, matanya melebar melihat Gaea berdiri di ambang pintu, "Kau mau belajar menembak juga?" tanyanya.
Gaea masuk ke dalam sambil menggelengkan kepalanya, "Aku tidak sangka kau mahir juga menembak."
"Sejujurnya sudah lama aku tidak memegang pistol, aku belajar lagi setelah Eryk memintaku ikut bersamanya nanti malam." Rainer menjelaskan disela-sela kegiatannya membuka kacamata.
"Oh ..." Gaea mengerti, ia sedikit bersyukur akhirnya Eryk mau mendengarkan idenya dan Rainer, "Hati-hati, iya?"
"Kau terlalu cemas Gaea, tidak apa." kata Rainer, "Kemungkinan ada adegan yang kau kira tembak-menembak itu kecil, terlalu banyak tamu di sana, aku yakin Kervyn tidak berani mengambil risiko sebesar itu."
Gaea harap juga begitu, "Aku selalu mencoba berpikir positif, kau tahu? Aku mungkin tidak terlalu dalam mengetahui kemampuan kalian berdua, tetapi aku yakin kalian berhasil dan selamat."
Rainer tersenyum samar, "Aku tahu, kalau begitu setelah ini selesai bagaimana jika kita berkencan?" tanyanya.
Gaea mengangguk-angguk saja.
Gaea mengangguk lagi, sebelum akhirnya tersadar apa yang terjadi, "Kencan!?" serunya panik.
Rainer hanya mengulas senyum lagi, dan bergerak pergi keluar.
Gaea memegang pipinya yang memanas. Pikirannya yang tadi berusaha dihilangkan jadi muncul lagi. Ia tidak mengkhayal kali ini, kan? Bukan asumsi saja.
Rainer mengajaknya kencan.
Gaea tidak tahu harus merespon bagaimana tentu ia melihat Rainers sebagai lelaki, namun sebagai seseorang yang lebih spesial, pikirannya blank; berbeda jika Eryk yang mengajaknya kencan. Ia mengerutkan alisnya, "Kenapa juga aku memikirkan dia?"
Gaea sudah merasa beruntung ada yang tertarik padanya walaupun itu Rainer.
Gaea kembali ke rumah untuk mencari Rainer, meminta penjelasan lebih detail mengenai kencan tersebut, sayangnya keberuntungan tidak berpihak padanya, ia tidak dapat menemukan pria muda itu.
"Mencari Eryk?"
Gaea menoleh, mendapati Lola berdiri di belakangnya sambil membawa botol yang mungkin berisi jus, "Rainer."
"Oh, dia bilang ada urusan," kata Lola kalem, "yang anehnya dia bilang padaku kalau kau mencari dia, aku disuruh berkata itu."
Gaea memutar bola matanya, ia kecewa dengan sikap Rainer yang terus-terusan memberikannya sinyal tak jelas.
Tadi Rainer membuatnya berpikir ia wanita yang spesial sekarang menjadi biasa lagi.
"Ada apa dengan kalian berdua memangnya?" tanya Lola penasaran.
Gaea tidak menjawab, ragu apakah harus bercerita atau tidak, normalnya tentu iya, Lola kan sahabat baiknya, sekarang Lola sudah berbeda, ia takut ucapannya menyinggung perasaan Lola.
Lola tertawa kecil, "Tentu saja kau takkan bercerita lagi padaku, aku sudah bukan lagi sahabatmu."
__ADS_1
"Tidak! Kau salah!" Gaea membantah keras. "Kau sahabatku Lola hanya saja aku juga kan butuh waktu menerima jati diri aslimu."
"Aku mengerti," kata Lola kalem.
Gaea mengangguk.
***
Karena tidak dapat menemukan Rainer, Gaea menghabiskan waktunya di kamarnya lagi, ia hanya keluar untuk mengambil makanan saja itu juga buru-buru takut ada Alex.
Tanpa disadari hari sudah sore, Gaea keluar dari kamar dan turun dari ke lantai bawah, duduk di sofa untuk menunggu kepulangan Eryk.
"Aku pikir kau takkan keluar dari tempat persembunyianmu." kata Rainer santai.
Gaea memutar bola matanya, "Aku kira kau takkan keluar dari tempat persembunyian juga."
"Aku harus mempersiapkan diriku, Gaea." kata Rainer kalem.
"Sungguh?" Gaea sama sekali tidak percaya. "Bukankah tepatnya lebih ke melarikan diri dariku?" tanyanya tajam.
Rainer tidak menjawab.
Gaean tertunduk frustasi, inilah yang tidak disukainya dari Rainer, terlalu misterius, mungkin ajakan kencan tadi hanya ilusinya semata.
Seorang Rainer menyukainya? Lelucon bagus.
Gaea seketika bangkit dari duduknya mendengar suara mobil dari luar, dan menghampiri arah suara tersebut.
Eryk keluar dari mobilnya dengan helaan napasnya.
"Selamat datang." Gaea menyapa hangat sambil melambaikan tangannya.
Eryk yang melihat Gaea menyapanya seperti seorang istri seketika teringat akan pikirannya lagi. "Bisa kau tidak menyambut aku jika tidak diperintah?"
"Eh?" Gaea menaikan alisnya, aneh sekali, kemarin juga ia begini kenapa baru sekarang Eryk protes?
Eryk bertingkah aneh hari ini sama seperti Rainer.
"Ada apa dengan kalian berdua?" kata Gaea.
"Siapa?" Eryk bertanya balik dengan polosnya.
"Lupakan." kata Gaea ketus lalu kembali ke dalam.
"Ada apa dengan dia lagi?" kata Eryk terheran-heran.
Sebastian dan Ferdinand hanya tertawa.
***
Note :
Sambil nunggu ini up silakan mampir ke novelku yang lain 😊
The Lovely One
Menikah Kontrak
Jangan lupa like, komentar, dan vote ya biar saya semangat buat kelanjutannya 😊
Bab depan mungkin saya bakal up visual gambar Gaea, ya pemeran utama cewe di sini 😍 sama kayak Rainer, Gaea itu terinspirasi dari tokoh ga nyata bedanya Gaea dari game 😊 saya ambil dari yang paling deketin dia, susah soalnya ga ada artis/model yg punya rambut cokelat pendek bermata hijau, kebanyakan saya nemu udah di atas 30 😅 tapi akhirnya ketemu juga 😍
💕💕💕
__ADS_1