Sweet Revenge

Sweet Revenge
Chapter 57 : Be My Boyfriend?


__ADS_3

Gaea menjadi berpikir bahwa Eryk menunggunya agar mereka bisa berbaikan, seperti yang diketahui Eryk bukanlah lelaki romantis, yang mengejar pasangan tanpa peduli sekitar.


Gaea masuk ke dalam kamar mandi, "Oh my ...," bahkan di dalam juga aroma parfum Eryk semakin kuat di sini sumber awalnya.


Benar adanya Eryk di sini sampai pagi.


Gaea menggelengkan kepalanya kuat-kuat, untuk apa bersimpati? Ini salah Eryk juga, ia tak salah di sini. Ia pun membuka bajunya dan mulai mandi, membiarkan air shower membasahi tubuhnya, pikirannya berkelana lagi.


Bagaimana jika benar?


Eryk bilang kan ingin buat kenangan yang indah ....


Gaea menggelengkan kepalanya lagi, dan melanjutkan membersihkan tubuhnya, setelah selesai ia keluar dengan handuk menutupi tubuhnya, mengambil pakaian di dalam kopernya, lalu memakainya. Ia duduk di ujung ranjang, menatap dirinya di cermin yang diambilnya juga di dalam koper.


Tidak ada senyuman di bibirnya bahkan bibirnya terlihat pucat dan sedih sungguh menggambarkan sekali perasaannya, ia jadi berpikir benar adanya ucapan Eryk dan Rainer bahwa ekspresinya mudah ditebak.


Gaea hanya memberikan sentuhan kecil di wajahnya berupa cc cream, ia tidak senang berdandan tebal, lalu menyapukan lip tint merah muda di bibirnya agar memberikan kesan segar pada wajahnya. Lalu menyisir rambutnya memberikan vitamin juga tidak lupa. Ia memandang dirinya lagi apakah ada yang kurang, setelah dirasanya cukup bagus, ia menaruh kembali peralatannya ke dalam koper dan berjalan keluar kamar.


"Sudah selesai?"


Gaea hampir saja menjatuhkan kunci kamarnya mendengar suara Rainer, ia melirik pria muda itu yang tengah bersandar santai di tembok tak jauh darinya, "Kau mengagetkan saja!"


"Kau yang harus mulai waspada, Gaea," kata Rainer menasihati.


Gaea tidak peduli, mengunci pintunya baru menghampiri Rainer. "Ayo," ajaknya.


"Ladies first."


Gaea memutar bola matanya, namun tertawa juga, berjalan menuju lift dan masuk duluan. "Oh, tanganmu masih butuh diperiksa, tetapi kenapa kau bisa ikut?"


"Aku mendapat surat mengenai data sakit aku agar bisa diperiksa di kampung halamanmu," kata Rainer.


"Oh."

__ADS_1


Berbicara kampung halaman, ia sudah menelepon ibu angkatnya, ibunya awalnya jelas marah karena sudah lama ia tidak memberi kabar, namun berubah senang saat mengetahui bahwa ia akan kembali.


Meskipun Gaea sedih, tetapi ia senang juga bisa bertemu dengan keluarga angkatnya, walaupun ada satu yang tidak disukainya yaitu kakak angkatnya, ia dan Lola pernah mendapat perlakukan tidak pantas dulu, ia harap kakak angkatnya berhenti melakukan hal tersebut mengingat kakaknya itu sudah memiliki kekasih seperti kata ibu angkatnya bilang di telepon.


"Rainer, kau mau kan berpura-pura sebagai kekasihku ketika di sana?" tanya Gaea.


Mata Rainer melebar. "Kenapa memangnya?"


Gaea menggaruk lengannya gugup, ia malu menceritakan pelecehan seksual yang pernah dialaminya dulu, itu seperti aib baginya, ia tak mau orang lain mengetahuinya, cukup Lola dan ia saja. "Supaya lebih lancar saja agar ibuku tidak terlalu banyak bertanya kenapa aku membawamu."


'Alasanku payah sekali.' kata Gaea dalam hatinya.


Rainer berpikir sesaat, menatap mata Gaea dalam-dalam mencoba mencari sesuatu di sana. "Kau sungguh suka sekali menjalin cinta bohongan, iya?" tanyanya menggoda.


Gaea menggembungkan pipinya jengkel. "Hey! Kau mau atau tidak?" tanyanya.


Rainer tertawa. "Baiklah, aku bersedia menjadi kekasihmu, Gaea. Apa pun yang kau rencanakan aku akan mengetahuinya nanti."


Kenapa jawaban Rainer terdengar seperti godaan? Seakan hal yang menyenangkan? Pikirannya jadi kemana-mana.


Pintu lift terbuka, mengakhiri percakapan mereka berdua.


Gaea keluar diikuti oleh Rainer, ia menghampiri meja resepsionis untuk mengembalikan kunci kamarnya, ia memanfaatkan kesempatan ini untuk bertanya. "Apakah Eryk sudah pergi?"


Mary menerima kunci kamar Gaea sambil menjawab, "Mister Eryk sudah pergi sejam yang lalu seperti yang aku bilang tadi Nona Gaea," katanya. "Oh iya, Mister Eryk juga sudah menyiapkan mobil untuk Nona Gaea dan Tuan Rainer jika mau berangkat."


"Begitu," gumamnya kecewa. Ia bertanya lagi hanya ingin meyakinkan dirinya, mungkin saja yang dimaksud Eryk pergi adalah bekerja di dalam hotel, masih ada kesempatan buat mereka berbaikan sebelum ia pergi, nyatanya Eryk pergi keluar hotel.


Eryk menyerah akhirnya sepertinya ....


"Eryk ... di sini?" Rainer bertanya-tanya keheranan.


Gaea seketika panik, ia lupa bahwa Rainer tidak mengetahui hal ini, ia segera menjawab sebelum Mary, "Dia di sini cuma sebentar kok! Sudah iya! Ayo pergi!"

__ADS_1


"Tapiβ€”"


Gaea mendorong punggung Rainer keluar hotel sebelum kembali protes, saat sampai baru dilepaskan.


Rainer membenarkan jaketnya yang sedikit kacau akibat ulah Gaea. "Kau tidak perlu kasar padaku yang cuma bertanya saja."


"Maaf iya," kata Gaea, ia hanya tidak mau rahasianya diketahui, bisa-bisa Rainer akan bertanya pada Eryk, dan Eryk akan menjawab ajakan memalukannya kemarin malam mengingat mereka suka mengejeknya.


Rainer tidak menanggapi lebih memilih mengecek ponselnya.


Gaea yang merasa diacuhkan hanya dapat tertunduk, berharap mobil yang disiapkan oleh Eryk cepat datang.


***


Hotel milik Eryk tidaklah jauh dari bandara jadi mereka tiba tanpa butuh waktu yang lama.


Di dalam perjalan Rainer tidak berkata banyak seperti biasa membuat Gaea sedikit bosan, menguap berkali-kali atau sekedar mengecek ponselnya mengetahui apakah ada pesan dari Ava mengingat ia baru memberi kabar juga pada sahabatnya satu itu.


Mereka keluar dari dalam mobil, dan Rainer memberikan tip kepada Sang Sopir, barulah menyusul Gaea yang memang sudah masuk ke dalam bandara.


Gaea berjalan menuju bagian pemeriksaan sambil bersenandung ria, yang seketika ia terhenti melihat pemandangan di depannya, seorang pria muda berambut pirang sedang duduk di ruang tunggu dengan sebuah buket bunga anggrek dipangkuannya.


'Tidak mungkin ...'


Rainer juga ikut berhenti untuk melihat apa yang membuat tubuh Gaea membeku begitu dan menemukan saudaranya menghampiri dirinya dan Gaea. "Eryk ...?"


Eryk berhenti tepat di depan mereka berdua, dengan senyum kecil di bibirnya, ia menyapa hangat, "Hey."


***


Jangan lupa tinggalkan like, komentar dan vote ya 😊


πŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2