Sweet Revenge

Sweet Revenge
Chapter 60 : Home Sweet Home


__ADS_3

Eryk menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


Kemanapun ia pergi, Gaea selalu mengikuti, huh?


"Ah ... sayang sekali," kata Dokter Harry.


Mendengar kekecewaan Dokter Harry membuat Eryk berpikir bahwa kabar ini ada kaitannya dengan Gaea, "Jadi apa yang ingin dibicarakan, Dokter Harry?"


"Kita bicarakan ini di dalam, Tuan Eryk," kata Dokter Harry, membuka pintu ruangan kerja. "Tapi maaf, aku hanya ingin berbicara empat mata saja." Ia melirik Katherine memberitahu maksudnya lewat isyarat.


Eryk mengerti tanpa perlu dijelaskan, ia melirik Katherine di sampingnya. "Kau tunggu di sini, iya?"


"Eh?"


"Tunggu di sini. Aku takkan lama," kata Eryk.


Katherine mengangguk kecil.


Eryk bersyukur Katherine tipe penurut, tidak membawanya ke banyak masalah maupun pertengkaran, sungguh berbeda dengan Gaea.


Lagi.


Membandingkan dua wanita.


Eryk segera masuk ke dalam ruangan Dokter Harry sebelum kepalanya mulai berpikir yang tidak-tidak mengenai Katherine, duduk di kursi besi yang ditempatinya beberapa hari sebelumnya. "Jadi ada apa Dokter?"


Dokter Harry mengambil napas dalam, baru mengatakan sesuatu yang membuat Eryk syok, "Maafkan kami Tuan Eryk, tetapi stok darah Nona Gaea ada yang mencurinya."


***


Gaea melangkah kakinya ke sebuah jembatan kayu, menghirup udara dalam-dalam baru ia membuangnya dalam juga, ditatapnya penuh nostalgia gunung-gunung yang mengelilingi kampung halamannya.


"Hm ...," Rainer juga memperhatikan kota tempat tinggal Gaea dengan seksama juga. "Aku kira kota ini besar ternyata kecil, iya?"



"Sitka memang kota kecil, penduduknya juga tidak sampai sepuluh ribu loh," kata Gaea.


"Hm ...," Rainer mulai mengerti kenapa Chief Charles memilih tempat ini sebagai tempat persembunyian Gaea selama tujuh tahun.


Kota yang begitu indah masih belum ada gedung pencakar langit di sini, udaranya masih bersih bahkan Rainer bisa melihat banyak penduduk lokal memancing ikan di pinggir pelabuhan tak jauh dari mereka nampaknya di sini sektor ikan yang maju.

__ADS_1


Gaea mencari sosok ibunya yang katanya akan datang menjemputnya.


"Kau masih ingat rumah orang tuamu, kan?" Rainer tiba-tiba bertanya.


"Pertanyaan macam apa itu, jelas aku masih hapal," kata Gaea.


"Kalau begitu kita jalan kaki saja, aku ingin melihat suasana di sini," kata Rainer.


"Oh!" Gaea lupa bahwa ini pertama kalinya Rainer kemari jelas pria itu penasaran mau lihat kota Sitka. Ia rasa tak apa juga, ia yakin ibunya akan mengerti. "Baiklah, sebentar aku kirim pesan pada Ibuku."


Rainer mengangguk, kemudian berjongkok untuk memeriksa apakah kopernya baik-baik saja tidak ada robekan atau semacamnya.


Gaea mengambil ponselnya dari dalam tas selempang kecil yang dibawanya, menekan tombol panggilan nomor ibunya.


Untuk beberapa saat terdengar nada sambungan tunggu biasa.


[Halo? Gaea sayang ada apa?]


"Ibu, aku mau bilang tidak usah menjemput di luar bandara, aku ke rumah sendiri saja iya," kata Gaea.


[Eh? Kenapa? Ibu sudah mau berangkat ini.]


[Oh! Teman? Berarti bukan Lola? Apakah tunangan mu yang tampan itu, sayang?]


"Iya, tunanganku yang tampan—eh?" Gaea menyadari bahwa yang dibicarakan adalah tunangan yang berarti Eryk. "Ibu tahu dari mana aku punya tunangan?"


[Sayang, Ibu memang tidak suka internet, tetapi kakakmu memberitahu video lamaran yang viral itu, Ibu jelas langsung mengenali jika itu kau, sayang. Oh, kau mendapatkan pria yang matang.]


Gaea terbatuk gugup, tak menyangka bahwa video itu akan sampai ke kotanya, ia menjadi cemas sebab yang bersamanya bukan Eryk melainkan Rainer. Rencananya mau memakai Rainer agar kakaknya tidak mengganggunya gagal dengan berita ini. "Sesungguhnya aku tidak membawa Eryk, Bu," katanya.


[Jadi nama calon suamimu Eryk. Nama yang bagus, sayang. Eh ...? Kau bilang bukan Eryk? Lalu siapa?]


Gaea mengambil napas, lalu berkata, "Rainer, dia kekasihku."


Hening ....


Gaea dapat mendengar suara ibunya di seberang telepon terkesikap syok.


[Gaea! Kau anak nakal! Kau berselingkuh?]


"Tidak Bu! Aku tidak selingkuh hanya saja aku—" Gaea tidak dapat meneruskannya, ia tak mau mengucapkan bahwa hubungannya dengan Eryk telah berakhir. Ia tidak mau. Ia sudah berencana memperkenalkan Rainer sebagai pacar tanpa mau menyinggung Eryk. Namun, situasi ini membuatnya sulit.

__ADS_1


Rainer mengambil ponsel yang berada di tangan Gaea, lalu menjawab apa yang harus dilakukan wanita itu sejak tadi, "Maaf, tetapi hubungan Gaea dan Eryk sudah berakhir dan akulah kekasih anak Anda sekarang."


[Oh! Siapa kau?]


"Maaf atas ke tidaksopanan ku, perkenalkan aku, Rainer," kata Rainer. "Jika diperbolehkan aku dan Gaea mau jalan-jalan sebentar."


[Oh, tentu saja boleh kok Rainer. Ibu tidak masalah, hanya jangan makan di luar dulu, iya, Ibu akan menyiapkan makan untuk kalian berdua.]


"Terima kasih pengertiannya," kata Rainer dengan senyum di bibirnya. "Kalau begitu, bolehkah aku mulai berkeliling?"


[Hati-hati, Nak Rainer.]


"Iya," sahut Rainer sopan, kemudian ibu angkat Gaea mengakhiri telepon merek, ia mengembalikan ponsel kepada pemiliknya. "Mudah."


Gaea yang syok kembali ke sadar. "Apa yang kau lakukan?"


"Aku melakukan apa yang tidak bisa kau lakukan," kata Rainer kalem, menatap mata Gaea dalam. "Mengakhiri hubungan kalian."


Gaea tersentak mendengar ucapan Rainer yang begitu dingin dan tertunduk sedih, memainkan cincin yang masih terpasang di jari manisnya. Memang benar ia tidak bisa berkata 'mengakhiri', takkan sebelum Eryk sendiri yang bilang.


Takkan sebelum Eryk mengambil cincin penghubung mereka berdua.


Gaea bingung kenapa kemarin Eryk tak menyinggung perihal cincin, mengingat itulah yang mereka perdebatkan kemarin lalu. Ia hanya berpikir positif bahwa Eryk masih mau mempertahankan hubungan palsu mereka.


Sebuah tangan berbalut sarung tangan biru tua menggenggam tangannya penuh kelembutan, ia menengadah untuk melihat siapa itu yang disambut senyum lebar terukir di bibir Rainer ketika mata mereka beradu.


"Aku tidak mau kekasihku memikirkan pria lain saat bersamaku," kata Rainer, "apalagi di kencan pertama kita."


"Kencan pertama kita!?" lagi, Gaea syok dibuatnya.


Sejak kapan mereka berkencan?


"Kau berjanji kencan, kan? Sekarang saatnya melunasinya," kata Rainer sambil mengaitkan jari-jari mereka kemudian membawa Gaea ke dalam kota Sitka.


***


Gambar : Haruma Miura


Saya rasa sesekali up foto mereka, biar kalian ga lupa inspirasi wajah Rainer


Jangan lupa like, komentar dan vote ya 😊

__ADS_1


__ADS_2