Sweet Revenge

Sweet Revenge
Chapter 61 : First Date


__ADS_3

Suasana kota Sitka begitu ramai, Gaea ingat bahwa sekarang hendak malam tahun baru, beruntung sekali dirinya masih ada pesawat yang kemari jika tidak, mungkin ia menginap lagi di hotel milik Eryk.


Sebetulnya Gaea bingung mau membawa kencan pertamanya dengan Rainer kemana sebab banyak toko favoritnya yang tutup untuk persiapan malam tahun baru.


Akhirnya selama melangkah semakin dalam ke kota, Gaea hanya melihat-lihat bangunan apa ada yang berubah setelah kepergiannya empat tahun yang lalu untuk kuliah di New York.


Gaea masih ingat betapa sedihnya ibu angkatnya melepaskan kepergiannya dan Lola di pelabuhan membuatnya tersadar betapa berharganya dirinya mengingat ia begitu ingin kembali ke New York karena tidak tahan dengan kakak angkatnya yang berusaha menyentuhnya.


Ketakutannya membuatnya buta akan kasih sayang dari ibu angkatnya.


"Mungkin seharusnya kita batalkan kencan ini," tiba-tiba Rainer berhenti dan berkata itu.


Tangan mereka yang menggenggam satu sama lain otomatis membuat Gaea berhenti juga, memiringkan kepalanya bingung, "Eh? Kenapa?"


"Sederhana, kan? Toko banyak yang tutup," Rainer menyahut dengan polosnya. "Aku juga yakin tempat wisata tutup. Jadi percuma, aku merasa dirugikan dengan kencan ini."


Gaea merasa Rainer begitu ketat dengan kencan pertama mereka padahal ini bukan pertama kalinya berdua, bedanya hanya sekarang bergandengan tangan saja, "Kau terlalu berlebihan Rainer, kita bisa kapan saja jalan bersama," katanya, mengingat mereka tinggal bersama dan berstatus sepasang kekasih walaupun bohongan.


Rainer menatap Gaea serius, "Kencan pertama harus berkesan itulah prinsip dariku apalagi aku berkencan dengan wanita spesial sepertimu."


"Eh?" Gaea terpana mendengarnya, dapat dirasakan pipinya memanas juga, ia yakin rona merah menghiasi pipinya sekarang.


Tentu saja, siapa yang siap dengan pengakuan Rainer? Selama ini kan pria itu selalu bersikap hangat dan dingin padanya, tiba-tiba bilang bahwa ia wanita spesial.


Rainer akhir-akhir ini begitu berani mengutarakan hatinya padanya, apakah karena tidak ada Eryk jadi Rainer mau mengantikan posisi saudaranya supaya ia tidak bersedih?


Gaea menggelengkan kepalanya, dan melanjutkan lagi melangkahkan kakinya yang berbalut sepatu boot cokelat muda, melangkahi trotoar yang tertutupi salju. Seketika ia teringat masih ada tempat favoritnya yang kemungkinan masih buka, jadi ia mengambil tangan Rainer tanpa berpikir panjang lalu berlari kecil ke jalan yang masih diingatnya.


"Kita mau kemana?" Rainer bertanya disela-sela berlarinya.


Gaea tidak menghiraukan, terus menuntun ke tempat yang berada di ingatannya, sampai di tengah kota, ia mengambil belokan ke kanan ke jalan bernama Lincoln st, dan akhirnya ia menemukan apa yang dicarinya yaitu sebuah truk makanan bernama Ashmo's yang paling membuatnya bahagia adalah masih dibuka tokonya.


"Hm," Rainer melihat arah pandangan Gaea ke sebuah lapangan yang hanya ada sebuah truk berwarna putih kecil di sana yang ramai dengan pembeli, pastilah itu tujuan mereka.


Gaea melanjutkan langkahnya, pembeli di tempat favoritnya masih ramai seperti terakhir kali membelinya sehari sebelum ia berangkat ke New York. Ia berhenti di bagian antrian, menolehkan kepalanya ke Rainer yang berada di sampingnya, "Kau suka tidak makanan laut?"


Wajah Rainer seketika berubah pucat mendengar kata makanan laut, ia berkata gugup, "Sejujurnya aku alergi kepiting."


"Yah ...," gumam Gaea kecewa, jelas saja karena itu ia tidak bisa mengajak Rainer ke tempat yang menyajikan hidangan laut. "Kau hanya alergi kepiting?"


Rainer berpikir sesaat, sebelum menjawab, "Sejauh ini hanya kepiting, aku biasa saja saat memakan sushi berisi berbagai ikan."


"Aku akan mengingatnya, di sini banyak hidangan laut sih, keunggulan di sini juga kepiting raja Alaska," kata Gaea.

__ADS_1


"Aku pernah lihat di majalah jenis kepiting ini termasuk yang paling mahal," kata Rainer, "Akan tetapi, dibayar berapa pun aku takkan ingin memakannya."


Gaea tertawa. "Aku juga takkan memaksamu memakannya, walaupun di sini lebih murah harganya karena di sini habitatnya."


Rainer ikut tertawa. "Syukurlah."


Mereka menunggu lagi, Gaea memeriksa daftar menu yang tertera di papan tulis hitam di samping mobil truk apakah ada menu baru juga serta harganya sudah berubah ataukah tidak, hingga akhirnya tiba giliran mereka memesan, ia bertanya, "Kau mau aku rekomendasi atau memesan sendiri?"


"Kau rekomendasikan, Gaea," Rainer menjawab cepat tanpa berpikir lagi.


Gaea mengangguk, melirik lagi daftar menunya, berpikir ada bagusnya memesan menu yang berbeda supaya bisa mencoba satu sama lain, "Aku pesan masing-masing satu smoked salmon mac 'n cheess dan long cod sandwich."


"Baik. Harganya ...."


Gaea segera mengeluarkan dompet di dalam tasnya, namun sebelum dapat mengeluarkan lembaran uang, Rainer menghentikannya.


Rainer menggelengkan kepalanya, "Biar aku yang bayar, kau cari tempat duduk saja."


"Kau yakin?" tanya Gaea.


Rainer mengangguk. "Aku kan lelaki, mana mungkin membiarkan wanita membayar makananku di kencan pertama kami. Pakailah uangmu untuk hal yang lebih penting."


Gaea tersipu malu, kemudian mengangguk dan keluar dari antrian dan mencari kursi yang kosong untuk mereka, jumlah kursi yang disediakan memang cukup terbatas apalagi sekarang ramai memang strategis bila ada yang mencari kursi sementara yang lain memesan makanan.


Gaea sempat mau putus asa karena kursinya penuh, namun harapannya naik ketika ada salah sepasang pengunjung yang lebih muda darinya bangkit dari kursi mereka dan pergi. Ia segera berlari ke sana sebelum ada yang mengklaim, sedikit menggerutu kesal harus membersihkan sisa makanan pasangan muda itu meletakannya di tong sampah, "Serius ... mereka belajar kebersihan tidak sih? Ingat untuk membuang sampah pada tempatnya, pisahkan yang bisa diurai dan tidak. Lalu sampah rumah tangga juga harus dipisah ...."


Suara Rianer membuat Gaea terkejut, ia terbatuk, "Tidak dengan siapa-siapa."


Rainer menarik kursi di samping Gaea dan duduk di sana, meletakan pesanan mereka di atas meja.


Gaea membuka pesanan mereka, menyadari Rainer memesan minuman juga, "Semuanya ikan, kau bisa mencobanya sedikit saja untuk melihat reaksi tubuhmu."


"Aku mau makan smoked salmon mac n' cheese, Gaea," kata Rainer, "ikan salmon termasuk favoritku."


"Baiklah," kata Gaea, lantas ia mengambil sandwich long cod miliknya dan memasukan ke dalam mulutnya, menggigitnya dalam ukuran kecil, kemudian mengunyahnya, "Ah~ ini masih sama enaknya seperti dulu~"


Rainer tersenyum melihat tingkah Gaea yang terlihat begitu polos di matanya, ia pun mengambil satu gigitan di makanan miliknya setelah berkata, "Itadakimasu," merasakan rasanya di setiap kunyahan lambatnya, "Enak sekali," katanya setelah menelan makanan di mulutnya.


"Rekomendasi aku pasti hebat," kata Gaea penuh rasa bangga bisa membuat Rainer menyukai makanan


"Aku mau mencoba punyamu juga," kata Rainer.


Gaea dengan senang hati menyodorkan makanan miliknya, memutar sandwich ke bagian seberang bekas gigitannya, "Ini."

__ADS_1


Rainer menerimanya, memutar kembali posisi sandwich tersebut barulah menggigitnya, mengunyahnya perlahan, "Benar katamu, ini enak," katanya sambil meletakan kembali makanan itu di meja.


Gaea sendiri tidak menjawab, syok melihat Rainer menggigit sandwich di tempat gigitan miliknya, pikirannya jadi liar, menilai mereka sudah berbagi ciuman secara tidak langsung, ia terbatuk gugup, dan mengambil sandwich miliknya, menatap gigitan bekas Rainer dan dirinya.


"Apa? Kau jijik denganku? Aku sehat Gaea, kalau tidak percaya kita bisa cek di rumah sakit sekarang," kata Rainer dingin melihat wanita itu tidak kunjung makan lagi.


"Bukan itu maksudku!" seru Gaea malu.


"Lalu?"


Gaea melirik malu-malu Rainer.


Mana mungkin Gaea bilang bahwa mereka secara tidak langsung berciuman? Bisa habis dirinya diejek oleh Rainer karena berpikir yang terlalu jauh soal hal sekecil ini.


Gaea akhirnya melanjutkan makanannya dengan rona merah di pipinya, menghabiskan langsung dalam satu gigitan.


"Hey, pelan-pelan makannya," kata Rainer memperingatkan.


Gaea tidak mendengarkan, sibuk memukul dadanya yang terasa sesak akibat makanan yang dikunyahnya berhenti di tenggorokan.


"Ini!" Rainer mengulurkan gelas plastik ke Gaea melihat wanita itu tersedak. "Kau ini makan yang benar."


Gaea menerimanya, menghabiskan minuman yang ternyata jus jeruk itu, menghela napas lega merasakan sandwich-nya tadi sudah tak lagi tersendat di kerongkongannya, "Maaf."


Rainer tidak menghiraukan, melanjutkan makannya.


Gaea yang sudah selesai makan pun merasa canggung, ia melirik ke truk penjual makanan mereka, sayang sekali yang melayani bukan orang yang dikenalnya jadi tidak bisa ngobrol, lalu melirik ke sampingnya, semuanya yang ada di sini ternyata pasangan! Bahkan ada yang sedang berciuman mesra, ia menjadi malu dan menatap Rainer lagi, tanpa sadar matanya terpaku pada bibir pria itu.


Bentuk bibir Rainer seimbangโ€”atas dan bawah berisi sungguh berbeda dengan Eryk yamg bagian atasnya agak tipis sementara bagian bawah bibirnya berisi. Mungkin yang sama hanya warna merah muda bibir mereka saja.


Gaea berpikir bagaimana rasanya bibir Rainer ... apakah selembut bibir Eryk ...?


Gaea cepat-cepat menggelengkan kepalanya.


Apa yang dipikirkan olehnya? Berciuman dengan Rainer? Seperti pria itu mau saja melakukannya.


Mimpi.


Gaea memilih tertunduk dalam memandang tangannya, berharap cepat selesai.


***


Jangan lupa like, komentar dan vote ya ๐Ÿ˜Š

__ADS_1


Aku sampe cari bahan referensi di google karna belom ke Sitka ๐Ÿ˜…


๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•


__ADS_2