
Gaea terbangun dengan kelapa yang sakit, "Apa yang terjadi?" gumamnya.
Gaea menyadari ia berada di kamar yang tidak dikenalnya, banyak rak buku-buku serta sebuah televisi di depannya. Ia tidak ingat kenapa bisa kemari, ia hanya ingat setelah pengumuman pertunangannya dengan Eryk, ia diam-diam minum-minum di ruangannya setelah lelah berakting di hadapan para rekan kerja Eryk.
Jika ada penghargaan aktor dan aktris terbaik pastinya ia dan Eryk akan mendapatkannya.
"Uh ..." Gaea mengerang pelan. Meskipun kamar tidur ini asing, ia tidak memungkiri ranjangnya begitu nyaman dan empuk. "Hm,"
"Bisakah kau berhenti mendesah? Aku sedang mencoba untuk tidur."
Suara berat di sampingnya membangunkan Gaea sepenuhnya dari rasa pusingnya, dengan perlahan ia menoleh ke sampingnya sambil berharap itu hanyalah khayalan saja.
Tetapi Dewi Fortuna tidak sedang memihak dirinya pagi ini, sesuai dugaan, suara yang tidak asing itu berasal dari Eryk yang juga sedang berbaring di sampingnya tanpa baju hanya bertelanjang dada. "Akkhhh!" serunya panik, tanpa berpikir panjang mengambil secara acak barang yang di dekatnya, bantal guling, kemudian mulai memukul Eryk. "Apa yang kau lakukan di sini, mesum!"
Eryk berusaha menahan serangan bantal Gaea di tubuhnya. "H-hey! Tenanglah, kau terlalu panik." bujuknya; niatnya tadi hanya iseng, mana ia tahu Gaea bakal mukul, tahu begini tidak usah saja.
Gaea berhenti memukul untuk tertawa, lelucon yang bagus di pagi hari, "Kau menyuruhku diam? Jelaskan ini!" serunya, ia terkesikap, mengecek bagian bawah tubuhnya yang tertutup selimut dan mengembuskan napas lega ternyata ia masih memakai baju tidurnya. "Siapa yang ganti!?" katanya, matanya langsung menatap tajam Eryk, pasti pria muda itu! Dengan kemarahan yang membara, ia memukuli lagi Eryk.
"Hey!" Eryk sudah tidak tahan dipukuli, segera bangkit duduk, mengambil bantal guling yang dipegang oleh Gaea. "Kau bisa tidak berpikir jernih soalku?" tanyanya, ia heran, haruskah Gaea berteriak setiap kali mereka bersama?
Gaea mengambil napasnya, ia sedikit tenang melihat Eryk ternyata memakai celana jeans. "Kau bisa bicara sekarang." katanya.
"Akhirnya," kata Eryk. "Kau tidur di kamarku, sebelum kau berkata kenapa, karena aku tak mau tubuhku ternoda makhluk yang berdiam diri di kamarmu."
"Makhluk?" Gaea bingung, sebelum kemudian mengerti maksud dari Eryk, wajahnya berubah jahil. "Maksudmu Bintang? Dia jinak kok Eryk, dia juga senang dipeluk loh~"
Eryk tak memperdulikan, memilih bangun dari ranjang, dan duduk di sofa, mengambil kopi yang memang sudah dibawanya tadi.
"Kau baru bangun tapi ada kopi?" kata Gaea kebingungan, tidak mungkin pelayan berani masuk ke kamar Eryk di kala pria muda itu tertidur, tak sopan kan?
Eryk tertawa. "Aku sudah bangun dari tadi," ia menyesap kopi miliknya. "Aku pura-pura tidur di sampingmu, walau aku tak menduga bakal dipukul." lanjutnya sedikit kesal, wajah syok Gaea yang diinginkan bukan pukulan bantal guling.
Gaea tidak menyangka Eryk mengerjainya, jantungnya terasa mau copot tadi, umur tak menjamin seseorang itu dewasa rupanya, dan berkata dewasa, matanya tanpa sadar tertuju pada dada bidang Eryk yang terekspos, dan ia dapat pastikan pria muda itu rajin olahraga.
Eryk yang merasa diperhatikan berkata. "Kau mau kopi juga pesan saja di bawah." katanya, namun Gaea tidak menjawab, tetap menatap dirinya, sebuah seringai muncul di bibirnya. "Atau kau mau di sini saja, terus mengagumi tubuh tunanganmu?" godanya.
__ADS_1
Gaea menepuk keningnya, pipinya sudah merona hebat ketahuan diam-diam mengintip dada Eryk, "Aku butuh kopi ..." katanya singkat, tanpa menunggu jawaban, ia keluar dari kamar Eryk. Walaupun Eryk memiliki apa yang lelaki dambakan tidak menjamin sifatnya idaman juga, "Aku benci dia "βdan juga mencintainya.
'Cinta begitu rumit.' kata Gaea dalam hati.
"Selamat pagi, tunangan Eryk." kata Rainer disertai tawanya.
Sekarang Rainer yang mengetes kesabarannya, tak adakah keluarga Enzo yang normal selain Lola?
"Maumu apa hah?" tanya Gaea, ia sedang tidak mood bergurau.
"Eryk pasti berbuat sesuatu padamu lagi, iya?" Rainer menebak.
Gaea memutar bola matanya. "Maumu?" ia bertanya sekali lagi.
Rainer tertawa; apa yang sudah dilakukan Eryk? "Aku ada urusan dengan Eryk, kau bisa menyingkir sebentar?"
Gaea dengan senang hati menyingkir bahkan berjalan menuju kamarnya tanpa berkata apa pun. Ia tidak ada urusan dengan Rainer lagi pula, masih kesal sudah dijadikan umpan tadi malam.
***
Ketika Rainer masuk ke dalam kamar, Eryk masih belum memakai pakaian membuatnya menduga-duga apa yang terjadi pada Eryk dan Gaea.
Rainer duduk dulu di seberang Eryk, lalu mengeluarkan ponselnya, "Aku punya kabar baik dan buruk untukmu."
Eryk menutup koran yang dibacanya, "Jelaskan padaku." katanya.
Rainer mengembuskan napasnya, ia sedikit tidak yakin sebab ini bersangkutan dengan Gaea, tetapi jika tidak diberitahu, ia tidak memiliki kekuatan untuk menyelidikinya sendirian, "Aizawa mencari identitas Gaea semalamβ"
"Apa!? Kenapa kau tidak bilang padaku dari semalam?" Eryk terkejut mendengarnya, ia kira Aizawa hanya menggoda Gaea, tetapi mencari identitas Gaea juga? "Hm ...," ataukah Gaea berbohong padanya? Tidak mungkin.
"Aku tidak ingin menghilangkan fokusmu." kata Rainer.
"Kau berpikir rendah padaku, Rainer," kata Eryk, lagi pula tujuannya menggelar lelang juga karena ia berharap Kervyn ada di sana tetapi ketika ia melihat list tamu tidak ada tanda kehadiran Kervyn bahkan ia sampai memastikan melalui kamera pengawas tetap tak ada, "Hm," bila dipikir-pikir ini bukanlah berita buruk juga. "Kau berpikir Aizawa ini bekerja dengan Kervyn?"
Rainer mengangguk, "Benar. Tetapi kenapa? Itu yang ada di pikiranku semalam. Kenapa Gaea? Ada apa dengan dia?"
Sekarang Eryk pikir-pikir juga kenapa Gaea, kenapa bukan dirinya yang memang memiliki hubungan dengan Kervyn, "Bukti belum kuat bahwa Aizawa bekerja di bawah Kervyn, mungkin Aizawa ingin tahu identitas asli dia karena tertarik padanya."βGaea sendiri yang bilang Aizawa merayu sampai meminta cium segala, darahnya mendidih mengingatnya.
__ADS_1
Rainer tertawa mendengarnya, "Kau percaya itu?"
"Maksudmu?" tanya Eryk bingung.
"Itu hanya alasan Gaea padamu," kata Rainer dengan nada jahil, "dia sungguh-sungguh saat meminta cium padamu, kau bisa dengar percakapan Gaea dengan Aizawa jika tidak percaya, Eryk."
Tubuh Eryk membeku seketika itu juga, jadi selama ini ia ditipu? Gaea sungguh-sungguh memintanya mencium? Wanita muda itu tak mungkin kan menaruh hati padanya? Tidak mungkin, seperti katanya tadi, Gaea itu selalu naik darah saat bersamanya. Kemungkinan besar adalah Gaea terbawa suasana ketika ia memuji wanita muda itu cantik, "Iy, sudah pasti terbawa suasana ...." gumamnya pelan.
"Jadi bagaimana Eryk?" tanya Rainer. "Rencana terbaik saat ini tentu membuntuti Aizawa atau kau ingin membuka lelang lagi?"
Eryk berpikir, membuka lelang tentu bagus, ia dapat untung juga dari sana tetapi ia tak yakin jikalau mengadakan lelang lagi Kervyn akan datang.
"Baiklah kita lihat gerakan rekan kerjaku satu ini." kata Eryk.
Tok. Tok. Tok.
"Masuk," kata Eryk, dan menaikan alisnya melihat Alex yang mengetuk pintunya, wajah Alex terlihat cemas. "Ada apa?" tanyanya.
Alex tertunduk sesaat, pikirannya berkecamuk apakah harus blak-blakan ataukah basa-basi terlebih dulu. Bagaimana ini?
"Alex ...," Eryk memanggil lagi setelah Alex masih diam saja.
Alex akhirnya berjalan mendekat, meletakan sebuah amplop yang sudah di buka ke atas meja, "Maaf aku membukanya duluan karena aku ingin memastikan itu bukan hal yang berbahaya," jelasnya.
Eryk tidak menjawab, mengambil amplop itu dan mulai membukanya, isinya sebuah kertas selembar serta satu foto bergambar seorang wanita muda yang tangan serta kaki terikat di kursi.
"Eryk ... tenanglah, jangan panik, man ..." kata Alex.
Rainer yang juga melihat gambar tersebut hanya bisa mengambil napas berat, merasa kasihan pada Eryk.
Eryk tidak membaca isi kertasnya, mata birunya langsung tertuju pada gambar di foto itu, gambar seorang wanita yang dicintainya, "Katherine!"
Note :
Mungkin ada yang tertarik dengan visual Eryk jadi saya kasih lihat π
Inspirasi Eryk dari model Amerika bernama Neels Visser πππ
__ADS_1
Please like, komentar dan vote sebagai bentuk dukungan novel ini πππ