Sweet Revenge

Sweet Revenge
Chapter 44 : Little Truth


__ADS_3

"Lama punah?" kata Eryk syok. Ini pertama kalinya ia mendengar ada golongan darah bernama rh-null, ia pernah dengar soal darah emas, namun tidak mengetahui bahwa itu rh-null. Ia emang tidak terlalu mendalami dunia medis.


Dokter Harry mengangguk, "Darah rh-null sesungguhnya hanya bisa dipakai di situasi darurat, kami sudah lama tidak menerima pendonor dari golongan darah rh-null jadi kami memastikan tidak ada lagi keturunan dari orang pemilik darah ini. Makanya saat tadi pengecekan kami terkejut menemukan masih adanya golongan darah ini."


Eryk melirik Gaea yang masih membatu syok, "Jadi jika terjadi apa-apa, akan sulit bagi Gaea mendapat donor?"


Dokter Harry mengangguk lagi, "Benar. Sungguh keajaiban bisa menemukanmu Nona Gaea dalam kondisi sehat. Aku meminta berbicara untuk menawarkan Gaea mendonorkan darahnya secara berkala, tentu kita tidak ingin sesuatu terjadi pada Nona Gaea, hanya ini sebagai antisipasi terburuk."


"Tetapi dia baru saja mendonorkan darahnya, masa mau diambil lagi?" kata Eryk heran.


"Aku tidak meminta sekarang, waktu yang baik adalah delapan minggu setelah hari ini." kata Dokter Harry.


"Lama sekali." kata Eryk.


"Memang sedikit lama, lagipula Nona Gaea juga mendonorkan darah banyak jadi masih ada sisa satu kantung." kata Dokter Harry.


Gaea tertunduk; pantas saja kepalanya masih pusing sekali sebab banyak yang diambil, ia tidak tahu apakah itu tindakan kriminal atau bukan mengambil banyak tanpa ijin darinya. Ia bangkit berdiri, "Maafkan aku Dokter, aku permisi dulu keluar, boleh?"


"Iya."


Setelah mendapat jawaban, Gaea keluar dengan wajah tertunduk, duduk di teras memandang ke depan kosong.


Apa yang harus dilakukannya? Ia terlalu syok mengetahui dirinya seorang pemilik golongan darah yang langka? Atau syok karena ibunya berbohong padanya selama ini?


Gaea berpikir memiliki darah spesial ini bukanlah hal yang patut diperbesarkan, lalu kenapa ucapan terakhir ibunya justru mengenai hal tersebut?


Apa ada yang tidak diketahuinya?


Apakah orang tuanya dibunuh juga karena menginginkannya?


Apa Kervyn mengincarnya karena mengetahui hal ini?


Gaea mencengkeram rambutnya frustrasi.


Kenapa Chief Charles tidak berbicara apa-apa padanya?


***


Flashback


***


Gaea mengayunkan tubuhnya di ayunan kecil. Ia akan pergi keluar kota hari ini jadi ia bermain di sini untuk terakhir kalinya.

__ADS_1


Begitu banyak kenangan di tempat bermain ini, yang kebanyakan kenangan tersebut berisi ia menghabiskan waktu bersama Rey dan Rai.


"Gaea."


Gaea menoleh, "Chief Charles."


"Masih suka bermain di sini?" tanya Chief Charles.


Gaea mengangguk, mengayunkan kakinya main-main, "Bagaimana tidak? Ini tempat kesukaanku dulu," katanya, tangannya yang berada di rantai ayunan mengerat, "dan juga tempat aku bermain dengan Rey dan Rai ..."


Yang dimana sudah menghilang selama dua tahun belakangan ini tanpa jejak, tanpa memberi ucapan perpisahan padanya sama sekali. Membuat Gaea terus menunggu yakin mereka berdua akan kembali.


"Aku mengerti. Tempat yang begitu berarti bagimu, huh?" tanya Chief Charles pelan.


Gaea bangkit berdiri dari ayunan, mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya yang berisi sebuah dua buah kotak kado yang masing-masing dibungkus pita biru, "Chief, aku ingin Chief Charles memberikan ini pada Rey dan Rai jika mereka kembali bisa kan?"


Chief Charles melirik kedua kado tersebut, "Gaea, kau tahu mereka takkan kembali."


"Kita tidak tahu masa depan, kan?" tanya Gaea. "Aku sama sekali belum berterima kasih pada mereka sudah menemaniku, kemungkinan mereka kembali kecil, aku mengakuinya, tetapi tidak salahnya kan menaruh ini? Aku tidak bisa memberikan kadoku karena aku akan tinggal di Sitka."


Chief Charles masih ragu.


Gaea memasang puppy eyes andalannya, "Tolonglah, hanya ini yang aku minta darimu, Chief Charles. Aku merasa berutang terima kasih pada Rey dan Rai."โ€”walaupun ia juga dikecewakan, namun ia tetap mengambil sisi positifnya.


Gaea tersenyum berbinar-binar, "Terima kasih, Chief Charles."


Chief Charle mengangguk, "Adakah yang kau tanyakan sebelum kau pergi ke Alaska?"


Gaea menggelengkan kepalanya, "Aku hanya perlu beradaptasi di sana."


Chief Charles menepuk bahu Gaea dengan penuh rasa bangga, "Kau akan baik-baik saja di sana, Gaea. Ibuku pandai memasak loh."


Gaea berbinar-binar, ia takkan bisa menolak jika berhubungan dengan masakan, namun masih ada yang mengganjal di hatinya, "Itu, apakah ada informasi lain yang mau Chief berikan padaku? Mengenai kasus orang tuaku misalnya?" tanyanya.


Sudah dua tahun berlalu, sudah dua tahun juga Gaea tinggal di sini dibawah perlindungan kepolisian, berharap memiliki perkembangan.


Chief Charles menggelengkan kepalanya, "Aku pasti akan memberitahumu jika memang ada, Gaea."


Gaea tertunduk dalam, "Begitu ..."


"Kau tidak usah cemas, kami sedang berusaha secepatnya. Setelah semua terungkap, kau bisa memakai nama keluargamu lagi." kata Chief Charles.


Gaea tersenyum kecil, "Iya."

__ADS_1


***


Flashback Selesai


***


Gaea mengembuskan napasnya.


"Kau baik-baik saja?"


Tanpa menoleh Gaea menjawab, "Aku baik-baik saja, Eryk."


"Jangan sok kuat begitu, aku tahu kau syok, aku pun sama bila di posisimu." kata Eryk.


Gaea tertawa pahit, "Aku tidak tahu, Eryk. Kalaupun aku mau marah, aku mau marah ke siapa? Aku tidak punya siapa-siapa, aku sendirian."


Eryk duduk di sampingnya tanpa peduli dengan lantai yang kotor, "Jangan berkata seperti itu, kau masih punya aku."


Mata hijau Gaea melebar; barusan telinganya tidak salah dengar? Masih ada Eryk? "Eh ...?" ia ternganga dengan pipi merona merah.


Eryk buru-buru menambahkan, "Dan tentu yang lain. Alex, Rainer, Lola, Sebastian, dan Katherine ..."


Gaea tersenyum samar.


Tipikal Eryk, selalu memutar balikan ucapan sendiri, takut akan perasaan peduli padanya.


Sayangnya Gaea sudah mendengarnya, jadi hatinya bahagia sekali akan ucapan Eryk tadi.


"Terima kasih Eryk, aku senang kau di sini." kata Gaea lembut.


Eryk justru tertunduk mendengarnya, "Kau tidak harus berterima kasih padaku, kau itu seharusnya marah padaku, akulah alasanmu bisa berada di sini sekarang," katanya pelan.


"Apa maksudmu Eryk?" tanya Gaea.


Eryk bangkit dari duduknya, membersihkan celananya dari kotoran, lalu berkata sendu, "Sudah saatnya aku melepaskanmu ..."


***


Jangan lupa tinggalkan like, komentar dan vote ya ๐Ÿ˜Š


Makin ke sini bakalan fokus ke romantisnya sebentar ๐Ÿฅบ tentu ada bumbu aksi lagi, saya ga lupa kok


๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•

__ADS_1


__ADS_2