
Hening ....
Gaea berusaha mencerna apa yang baru dikatakan Rainer.
Tinggal ....
Tinggal bersama ....
Bersama Eryk dan Rainer ....
Eryk dan Rainer ....
"Apa!?" seru Gaea syok. "Kau bergurau ya!?"
"Apakah aku terlihat sedang bergurau di matamu?" tanya Rainer balik.
"Um," Gaea jelas dapat melihat keseriusan di ekspresi wajah Rainer, namun tinggal bersama dengan pria muda itu terutama Eryk begitu abstrak. "Aku tidak mau!"
"Jangan egois, ini demi kebaikanmu," kata Rainer, "keselamatanmu sekarang ini jauh lebih penting." ia menambahkan sebelum Gaea sempat membalasnya.
"Tapi," Gaea masih belum bisa menerimanya.
"Kau tahu Ava dan Lola sedang berlibur ke luar negeri," kata Rainer, meyakinkan. "Aku dan Eryk takkan membiarkanmu di apartemen sendirian. Terlalu berisiko."
Gaea terdiam, ia tidak menyangkal bila ia tersentuh dengan keputusan Rainer dan Eryk hanya saja tinggal bersama mereka dengan ia hanya sebagai wanita membuat hatinya tidak nyaman.
'Aku bahkan pernah membaca majalah interview kalau Eryk suka bertelanjang dada di rumahnya.'
Gaea memang pernah melihat Eryk bertelanjang dada akan tetapi itu juga di dalam majalah, ia tidak tahu akan seperti apa ketika ia melihatnya dengan matanya sendiri tubuh Eryk, dan itu setiap hari.
Eryk memiliki tubuh yang bagus karena suka ke gym juga.
"Kau tinggal di sini. Titik," kata Rainer, "jika kau mau protes, protes pada Eryk bukan aku."
"Sungguh?" Gaea sulit untuk memercayainya, ia yakin Rainer juga turut mengambil bagian; pria muda itu tadi kan bilang: aku dan Eryk.
Rainer berusaha menahan diri tetap tenang. "Aku tidak tahu apa yang kau katakan," katanya. "Sudah. Ikut saja," perintahnya, tanpa menunggu jawaban Gaea, ia pergi keluar rumah.
Gaea menepuk keningnya.
'Kenapa dia jadi seperti Eryk?'
"Aku rasa itu ide bagus, Nona Gaea." kata Sebastian.
"Huh?" Gaea sedikit terkejut, ia lupa jika ada Sebastian, sekarang ia sedikit kecewa pria paruh baya itu tak melontarkan satu patah kata pun untuk membelanya, atau Sebastian tipe pelayan yang tak suka ikut campur urusan majikannya? "Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Rumah ini mungkin terlihat sepi tapi di sini juga memiliki keamanan bagus seperti di penthouse Tuan Eryk ..." kata Sebastian.
"Tunggu," Gaea memotong pembicaraan. "Kau bilang penthouse?"
Sebastian mengangguk, "Tuan Eryk sering tinggal di sana karena di tengah kota, aku kira kalian sudah tinggal bersama?"
Gaea tidak berkutik, apa yang harus dikatakannya? Ia bahkan baru tahu bila Eryk memiliki penthouse di tengah kota. Berbohong kepada orang tua apalagi ini Sebastian, ia merasa tidak enak, "Maaf, aku tidak tinggal berdua dengan Eryk, bahkan baru tahu dia punya penthouse, aku menyewa apartemen bersama Lola dan Ava."
"Begitukah?" Sebastian sedikit terkejut. "Maafkan aku, Nona."
Gaea menggelengkan kepalanya, "Tidak ada yang perlu di maafkan."
__ADS_1
"Aku pikir kalian akan tinggal bersama mengingat Tuan Eryk pernah mengijinkan Nona Katherine tinggal di sana." kata Sebastian.
"Kathrine?" satu nama asing lagi yang belum pernah Gaea dengar. "Siapa dia, Sebastian?"
"Maaf," Sebastian sadar apa yang dikatakan olehnya terlalu dalam, mata hitamnya melirik ragu pada Gaea. "Aku tidak seharusnya mengungkit dia."
Sikap Sebastian yang mencoba seakan menghindar menjelaskan soal Katherine membuat Gaea semakin penasaran; jika dipikir, Katherine nama yang feminim untuk lelaki, pastilah dia seorang wanita, dan yang membuatnya tidak nyaman mengetahui Katherine tinggal berdua di penthouse bersama Eryk.
Gaea yakin dengan petunjuk ini, Katherine pastilah spesial di mata Eryk.
'Tentu saja, lelaki seperti Eryk pasti punya kekasih.'
Perasaan Gaea bercampur aduk sekarang.
Jika memang benar apa yang dipikirkan olehnya bahwa Katherine adalah kekasih Eryk, ia tak dapat membayangkan betapa hancurnya perasaan Katherine ketika tahu Eryk melamar wanita lain di tempat ramai pula.
Tetapi kenapa hingga sekarang Gaea masih belum mendengar atau didatangi oleh Katherine? Ia yakin Katherine pasti sudah melihat lamaran Eryk mengingat lamaran tersebut viral di media sosial.
Kecuali ada sesuatu yang menghambat Katherine untuk bertemu dengannya atau Eryk. Mungkin mereka sedang bertengkar hebat atau semacamnya.
Gaea mengepalkan tangan di dadanya yang mulai terasa sesak.
Sekarang semuanya masuk akal, ucapan Eryk sewaktu lamaran palsu di bandara mungkin itu bukan ucapan yang spontan tetapi memang awalnya buat Katherine.
"Kepalaku sakit." keluh Gaea.
"Maafkan aku Nona Gaea," sesal Sebastian. "Terkadang aku memang berbicara tanpa berpikir."
"Tidak," sergah Gaea. "Ini bukan salahmu Sebastian. Aku hanya menyesal sekali ...."
Sebastian bingung, "Kenapa? Nona jangan terlalu memikirkan masa lalu, yang paling penting sekarang adalah perasaan kalian berdua."
Itulah yang dicemaskan, tidak ada yang harus diperjuangkan karena ia dan Eryk tidak memiliki perasaan, setidaknya dari Eryk.
Dan lagi ia bukanlah orang yang senang menghancurkan hubungan orang lain.
Sesakit apa pun hatinya saat ini, ia yakin ini tidak seberapa dibanding Katherine.
"Aku harus menyusul Rainer." kata Gaea.
Sebastian mengangguk, "Hati-hati, Nona Gaea."
"Ya." setelah menjawab, Gaea langsung bergegas keluar rumah dengan berlari kecil; percakapan tadi menyita waktu yang cukup lama, ia yakin Rainer akan marah.
'Aku tidak mood mendengar ucapan dingin dia.'
Gaea memelankan langkah kakinya, hingga akhirnya benar-benar berhenti ketika melihat Rainer berdiri di samping mobil masih sibuk dengan ponselnya.
Rainer menyadari kedatangan Gaea, dan menaruh ponselnya di saku celananya, "Akhirnya kau datang, aku kedinginan di sini."
Sesuai dugaan Rainer sedikit marah.
"Hm ..." Gaea merespon seadanya, benar-benar tidak mood berbicara.
Rainer bisa melihat ada sesuatu yang aneh pada Gaea, "Ada apa, ha?" tanyanya sambil membukakan pintu untuknya.
Gaea lebih memilih masuk ke dalam mobil dari pada menjawab.
__ADS_1
Rainer menyusul masuk ke dalam mobil, lalu menyalakan mesin, dan menjalankan mobil keluar dari rumah; ia menghargai Gaea yang menolak menjawab pertanyaan darinya.
Hening ....
Gaea melirik keluar jendela, di sedang luar turun salju, menyelimuti jalan serta pohon di sekitarnya, normalnya ia selalu senang bila turun salju sebab pemandangan jauh lebih indah baginya.
Gaea terpikir Lola dan Ava; jika bukan karena cincin berlian yang melingkar di jarinya ini, ia pasti sudah bercanda ria dengan teman-temannya di pesawat, tak memikirkan apa pun selain kebahagiaan.
Rainer menghentikan laju mobilnya saat melihat lampu lalu lintas berwarna merah.
Gaea memanfaatkan kesempatan ini, "Hey, Rainer." panggilnya pelan.
"Hm?"
"Apakah Eryk memiliki kekasih?" tanya Gaea.
Rainer mengembuskan napasnya, yang membuat Gaea tertunduk memandangi jari tangannya murung.
"Ini sudah terlambat," kata Rainer. "Eryk memang memiliki kekasih tetapi bagiku, aku tidak pernah suka pada dia."
"Kenapa?" tanya Gaea heran.
"Katherine memang wanita yang baik tetapi aku tidak bisa menemukan latar belakang dia." jelas Rainer.
Gaea memutar bola matanyaz "Sungguh Rainer? Kau menilai seseorang hanya dari itu?" tanyanya tidak percaya. Ia memang menemukan Rainer terkadang bersikap dingin tetapi kali ini di level berbeda.
Menilai seseorang pantas atau tidaknya hanya melalui identitas diri itu tidak bisa diterima apalagi Rainer juga menilai bila Katherine wanita yang baik.
Gaea sama sekali tidak mengerti cara berpikir Eryk dan Rainer.
"Sudah kubilang, aku dan Eryk bukanlah pria baik-baik," Rainer membela dirinya. "Aku berhak mengetahui itu, tetapi Eryk hanya menjadi Eryk yang dibutakan oleh cintanya pada Katherine bersikap keras kepala kalau dia wanita baik-baik."
Mendengar Rainer mendeskripsikan perasaan Eryk kepada Katherine membuat hatinya terasa ditusuk oleh sesuatu yang tajam. Ia tahu Eryk memiliki kekasih tapi mendengar betapa egoisnya pria muda itu mempertahankan seorang wanita yang bukan dirinya membuatnya sesak napas.
Sekarang Gaea harus tinggal bersama Eryk yang membuatnya mungkin akan sering bertemu Katherine dan menyaksikan Eryk menunjukan cintanya pada wanita itu di depannya.
Seakan luka yang di alaminya belum cukup dengan menambahkan garam di atasnya.
Rainer melihat Gaea yang berubah murung, lantas berkata pelan, "Kau menyukai Eryk?" tanyanya datar.
Gaea terkesikap mendengarnya; ekspresi wajahnya pasti terlalu terlihat patah hati hingga Rainer sampai bertanya seperti itu, "Aku ..." ia terhenti menjawabnya. "Tidak."
"Kau bukan pembohong yang pintar," kata Rainer, "menyangkal dengan wajah yang sesedih itu bukanlah pilihan yang bagus."
Gaea menepuk keningnya pelan.
Bagaimana bisa ia memasang wajah datar di saat hatinya terluka seperti ini? Dan lagi kenapa ia harus memilih berbohong?
Gaea butuh sesuatu yang bisa mengalihkan perhatiannya, dan ia tahu dimana itu, "Bisa kau berbelok ke kiri?"
"Tapi itu berlawanan dengan jalan menuju apartemen." protes Rainer.
"Aku tahu, aku ingin mengambil sesuatu yang penting bagiku." kata Gaea.
Rainer berpikir sesaat, dan akhirnya menuruti kemauan wanita muda itu.
"Memangnya kita mau ke mana?" tanya Rainer penasaran.
__ADS_1
Dengan senyum lebar, Gaea menjawab, "Pet shop."