
Gaea tersenyum berbinar-binar melihat sahabatnya, tanpa berpikir panjang ia langsung menuruni tangga, sudah siap-siap membentangkan tangannya ingin memeluk Lola, tapi sahabatnya itu justru mengulurkan tangan ke depan untuk menghentikannya.
"Berhenti." perintah Lola. "Reunian nanti saja. Mana Eryk?" tanyanya dingin.
"Huh?" kenapa sifat Lola jadi berubah drastis begini? Apa efek dari jet lag?
Eryk yang menuruni tangga dengan santainya berkata. "Ada apa siang-siang kau ribut-ribut? Baru sampai sudah menunjukan taringmu."
Lola mengepalkan tangannya, semua emosi yang ditahannya selama dua hari meledak juga. "Kau! Aku menghabiskan waktu selama tujuh tahun merahasiakan Gaea pada dunia, tetapi kau malah melakukan hal memalukan seperti itu!?"
Gaea terhenyak mendengar teriakan Lola.
Apa maksud dari ucapan Lola? Gaea tidak mengerti, menyembunyikan dirinya dari dunia? Ia memang menyembunyikan jati dirinya, tapi Lola tidak tahu jadi bagaimana bisa?
Kepalanya rasanya mau pecah dengan misteri ini.
Eryk sama sekali tidak terpengaruh akan emosi Lola, wajahnya tetap datar saja. "Nona Muda, kesalahan ini bukan cuma padaku saja loh, tanyakan pada sahabatmu di sana..."
Lola sama sekali tidak mau melihat Gaea, menjawab dingin. "Dia bukan sahabatku. Kau sendiri yang bilang aku hanyalah Bodyguard dia..."
Gaea merasakan hatinya teriris mendengar Lola berkata mereka bukanlah sahabat, bagaimana bisa sikap Lola berubah drastis setelah tidak bertemu selama dua hari?
"Aku tidak punya waktu akan celotehanmu Lola, simpan itu nanti, aku mau pergi ada urusan." kata Eryk dingin, ia melangkah tapi terhenti oleh Lola. "Jangan mengetes aku Lola."
Namun Lola tidak bergerak sedikit pun.
Eryk kehilangan kesabarannya. "Kau yang memintanya." katanya dingin. "Ferdinand, pegang dia."
Baru di saat itulah Lola bergerak, ia melompat, memeluk Eryk erat. "Aku takkan melepaskanmu sebelum kita selesai bicara."
Eryk mencoba membebaskan dirinya dibantu oleh Ferdinand. "Wanita satu ini..." keluhnya masih berusaha melepaskan, namun sulit karena kaki Lola mengunci pinggangnya jadi ia tidak bisa banyak bergerak. "Rainer, Alex bantu aku dong." ia yang kewalahan meminta bantuan juga.
Rainer dan Alex akhirnya bergerak membantu pelukan mematikan Lola.
Gaea yang melihatnya syok; dari mana kekuatan besar itu berada? Lola selalu menjadi wanita yang tidak berdaya! Ia tertunduk.
Ataukah semua itu hanyalah akting?
Gaea menggigit bibir bawahnya.
Berapa banyak orang lagi yang menyembunyikan rahasia darinya?
Apakah Ava juga termasuk? Sahabat paling polosnya?
Eryk merapikan pakaian serta rambutnya yang acak-acakan akibat ulah Lola. "Kau ini sudah aku bilang nanti masih nakal."
Lola yang ditahan oleh kurungan Ferdinand berusaha memberontak. "Kau sendiri yang membuatku seperti ini, bodoh! Aku berakting hanya untuk kau menghancurkan rencana demi sebuah cincin!? Waktuku selama sebelas tahun tersia-siakan, hargai usahaku sebelum melamar dia!"
Gaea terkejut bukan main; bahkan Lola tidak mau mengucapkan namanya, ketika mengomel pun terdengar begitu menjijikan saat berkata lamaran.
Eryk yang tidak tahan dengan teriakan Lola akhirnya membuka suaranya. "Ini bukan hanya tentangmu, aku juga merasa sia-sia, kau pikir berapa lama aku habiskan waktu demi Gaea, hah? Dua belas tahun, jadi Nona Muda sebelum mengomel berpikirlah secara luas terlebih dahulu."
Gaea menggaruk lengannya yang tak gatal; dua belas tahun? Padahal ia baru bertemu Eryk setahun yang lalu jadi bagaimana bisa dua belas tahun? Apakah ada yang salah? Ingatan Eryk ataukah dirinya?
Lola memandang tajam Eryk sebelum kemudian naik ke atas sambil menghentak-hentakan kakinya kesal.
Eryk mengembuskan napasnya. "Bajuku tidak ada yang robek Alex?" tanyanya memastikan sekali lagi setelah ia merasakan sesuatu yang perih di punggungnya.
__ADS_1
Alex segera mengecek semuanya baik-baik saja sampai ketika ia menyingkap jas Eryk dan menemukan sobekan punggung kemeja pria muda itu. "Kau harus ganti kemeja, man,"
"Bagus," gumam Eryk, dan dengan lesu kembali ke kamarnya untuk ganti baju.
Suasana hening seketika...
"Kau ingin tahu kenapa Lola seperti itu, kan?" Rainer membuka suaranya.
Gaea yang masih berasa bersedih, mengangguk.
"Sedihnya, begitulah sifat asli Lola, Lola yang selama ini kau kenal hanyalah sandiwara belaka," Rainer menjelaskan pelan agar Gaea tidak terluka.
Itu jati diri Lola yang asli? Seorang wanita yang kuat dan memiliki emosi meledak-ledak bukan seksi dan menggoda?
Gaea tidak percaya! Ia segera menyusul ke tempat Lola berada tanpa peduli teriakan Rainer dan Alex. Ia sedikit bingung sebab ruang tidur ada banyak di sini. Terpaksa memeriksa satu-satu mulai dari ujung.
Semuanya terkunci, hingga tiba di kamar kosong di sebelah Eryk, pintunya tidak terkunci.
Gaea pun mengintip ke dalam dan benar adanya Lola di sana, sedang duduk di dekat jendela bertopang dagu, menenangkan diri.
"Kau mau apa?" Lola bertanya tanpa melirik Gaea sama sekali.
Gaea masuk ke dalam dan menutup pintunya. "Aku ingin berbicara denganmu, Lola."
"Tidak ada yang mau aku bicarakan padamu," Lola menyahut dingin
Gaea meletakan tangannya di dadanya. "Aku ingin berbicara dengan sahabatku."
Suara tawa patah-patah Lola terdengar mengejek. "Belum jelas tadi? Aku bukan sahabatmu, aku hanya Bodyguard-mu."
Gaea masih menolak untuk mempercayainya. "Aku tidak percaya,"
***
Flashback
***
"Kenapa harus aku?" tanya Lola terheran-heran.
"Karena kau perempuan, Gaea perempuan," Eryk menjawab santai.
Lola menolaknya mentah-mentah. "Aku tidak mau hidup sebagai rakyat kecil! Dimana juga rumah kita? Kenapa kita tidak punya rumah begini sih?"
Eryk termenung, mana mungkin ia bilang semua hartanya dirampas Kervyn. Apa juga ini Lola bersikap bak Tuan Putri, dia kan baru diadopsi Ayahnya selama dua tahun, sebelumnya hidup biasa pasti sudah dijalani Lola kan? Kenapa harus protes? "Uang kita sudah diambil orang semuanya, hanya sisa satu surat wasiat itu pun uangnya baru bisa aku ambil ketika aku berumur dua puluh tahun."
Mata Lola melebar. "Empat tahun aku harus hidup di apartemen kotor yang Gaea tempati? Tidak mau."
"Kau terlalu melebihkan situasi," kata Eryk. "Kalian berdua bisa saling membantu Lola."
"Bagaimana denganmu?" tanya Lola.
"Aku? Aku juga sama tapi aku tidak mau dekat dengan kalian." kata Eryk—terutama Gaea, ia tak bisa melihat gadis kecil itu tanpa ledakan amarah di hatinya.
Lola terkejut; hidup dengan Gaea tapi jauh dengan Eryk? Ia jelas tidak mau! "Aku mau bersamamu!" ia mengakui malu-malu, dan mendekati Eryk. "Kita bisa bersama sampai uang kita kembali..." lanjutnya kemudian ia beranikan diri memeluk pemuda itu lembut agar Eryk tidak memberontak. "Di saat itu... mungkin kita bisa lebih... dari ini..."
Eryk langsung melepas pelukan Lola. "Kau dan aku saudara, apa yang kau pikirkan?" tanyanya dingin dan sedikit jijik memikirkan ia dan Lola bisa lebih dari saudara.
__ADS_1
Lola tertawa pahit, tentu saja Eryk akan menolak dirinya, tetapi ia tak mau menyerah. "Kita bukan saudara kandung, sejak melangkahkan kaki ke rumahmu, aku jatuh cinta padamu!" serunya emosi sebelum kemudian tertunduk sedih. "Aku mencoba menghilangkannya, karena kita bersama tinggal satu rumah membuatku sulit, aku tidak memanfaatkan kematian Ayahmu tapi ini kesempatan untuk dekat denganmu sebagai gadis bukan saudara..." ia mengakui sedih.
Eryk di lain sisi perasaannya bercampur aduk; kesal, jijik dan kasihan. "Ini juga bagus sebagai caramu melupakanku. Cepatlah ke tempat Gaea." katanya dingin, berbalik pergi meninggalkan Lola.
Lola menghentakkan kakinya frustasi, ia sudah menurunkan harga dirinya dengan mengungkapkan perasaannya namun Eryk justru bersikap seolah-olah perasaannya sebuah sampah, ia segera mengejar pemuda itu, membalikan tubuh Eryk dan menyatukan bibir mereka berdua—melakukan usaha terakhirnya.
Eryk yang dicium tiba-tiba membeku beberapa detik, hingga akhirnya mendorong paksa Lola hingga gadis itu terjatuh ke aspal, ia mengelap bibirnya dengan cepat. "Bibirku ternoda..."
Lola meringis. "Apakah aku sekotor itu di matamu, Eryk!?"
Eryk membuang pandangannya, sekarang ia tidak bisa melihat Lola tanpa rasa jijik. "Kau dan aku adalah saudara, menciummu sesuatu yang menjijikan bagiku bukan kau sendiri Lola." ia mengelap bibirnya lagi dengan sapu tangan kali ini sebelum kemudian melanjutkan langkahnya. "Hubungan kita takkan berubah sampai kiamat terjadi."
Kata-kata tersebut sukses membuat Lola menangis tersedu-sedu.
***
Flashback Selesai
***
"Habis itu, aku ke tempatmu dan melakukan tugasku." Lola menyudahi dengan hembusan napas kecil.
Gaea tidak mempercayai ini jadi selama ini Lola bersamanya atas perintah Eryk? Dan yang membuatnya sedih adalah apakah sikap dan perasaan Lola juga palsu? Hanya ada satu cara mengetahuinya. "Sikapmu selama ini juga palsu?"
"Tidak semuanya, lebih tepatnya aku hanya berperan sebagai sahabat terbaikmu, yang mendukungmu di saat suka dan duka." Lola menjelaskan dengan nada suara yang sinis. "Karena lamaran Eryk, aku selesai menjadi sahabatmu."
Gaea tidak dapat menerimanya. "Apakah kau sama sekali tidak menganggapku teman?"
Lola memutar bola matanya. "Kau masih temanku sebelum kau menerima lamaran bodoh Eryk,"
Gaea teringat Lola bercerita dia jatuh cinta dengan Eryk—"Kau masih menyukai Eryk?"
Untuk itu Lola berpikir sebentar. "Aku rasa aku tidak tahu, Eryk bersungguh-sungguh ketika dia bilang tinggal bersamamu akan melupakan perasaanku pada dia karena setelah kejadian itu kami tidak bertemu selama setahun, kami hanya berkomunikasi itu pun lewat Alexander." jelasnya. "Kau sudah puas bertanya? Ada lagi? Aku mau tidur. Aku tidak dibayar untuk ini." katanya ketus.
Gaea merasa Lola memperlakukan dirinya seperti orang asing padahal mereka sudah tinggal bersama selama sebelas tahun, ia yakin Lola tidak sepenuhnya membencinya hanya mungkin kesal ia yang bertunangan dengan Eryk. Mungkin. "Apakah kau tahu kenapa Eryk memerintahkanmu menjadi Bodyguard-ku?"
"Aku juga tidak tahu, aku tidak menanyakan masalah itu karena dulu aku berpikir dia hanya ingin ketenangan karena Ayah kami sudah tiada," kata Lola kalem.
Jadi Lola tidak mengetahui tujuan tersebut, jalan satu-satunya hanyalah bertanya pada Eryk langsung.
"Terima kasih dan beristirahatlah dengan tenang Lola." kata Gea berjalan keluar kamar Lola, menutup pintunya dengan berat hati.
Gaea berpikir dengan adanya Lola, suasana akan lebih baik, siapa sangka justru memburuk... ia juga menerima kenyataan pahit Lola bukanlah Lola yang ia kenal.
"Tampaknya ada yang tahu kebenaran..."
Gaea menoleh, ada Eryk sudah lengkap dengan pakaian barunya, sebuah ide muncul di kepalanya. "Aku boleh ikut?"
***
Note :
Silakan mampir ke novelku satunya sambil nunggu ini :)
The Lovely One
Menikah Kontrak
__ADS_1
Tinggalkan like, komentar dan vote ya :)
💕💕💕