Sweet Sin

Sweet Sin
Bab 1 Hot Man


__ADS_3

Bab 1 Hot Man


Niken gadis cantik yatim piatu yang berjuang sendiri untuk sukses, satu-satunya keluarga yang dimilikinya adalah Ibu tirinya. Namun Ibu tiri yang bagai ibu kandung nya itu tak lagi bisa mengikuti kemanapun Niken pergi.


Bunda Cintya sudah menikah lagi.


Niken tinggal sendirian, di apartemen sederhana dipinggiran kota.


Niken sangat ahli berdandan, dia memiliki kemampuan merubah wajah seseorang hanya dengan riasan.


Tidak ada yang istimewa di hidup Niken, sampai suatu ketika dia diundang seorang gadis ke apartemen mewah untuk mendandaninya. Niken bergegas membereskan meja kerjanya dan segera pulang, pekerjaan utamanya adalah staf acounting di sebuah perusahaan yang lumayan besar, namun dia bekerja freelance merias wajah diluar jam kerjanya.


Niken adalah sosok gadis yang memiliki trauma yang dia sendiri tak mengerti mengapa trauma itu ada di hidupnya. Ketakutan pada ruang sempit, takut pada gelap. Dia selalu menghindari menaiki lift dan memilih melewati tangga biasa.


Terkadang terlintas di alam bawah sadarnya seolah dia berada di ruang sempit, pengap dan menakutkan. Saat dia terbangun dari mimpi itu keringatnya akan membanjir.


Hari itu, Niken terpaksa menaiki lift karena klien nya meminta dia cepat, tidak mentolelir keterlambatan. Niken memejamkan mata dan menahan nafas, dia melangkahkan kakinya yang gemetar memasuki ruang sempit itu.


Di sana sudah berdiri seorang lelaki berwajah teduh. Lelaki itu seakan tidak menggubris kehadiran wanita di sampingnya, dia hanya fokus pada gawainya.


Sejenak Niken terpaku dengan tangan gemetar mencoba mencari kekuatan untuk menekan tombol di dinding lift, dia memilih lantai 10. Tidak disangka lelaki itupun menekan lantai yang sama.


Niken terdiam di sudut lift. Tubuhnya gemetar. Dia menahan perasaan hendak pingsan.


Lelaki di sampingnya melirik padanya dan bertanya.


"Kenapa? takut ketinggian, takut ruang sempit atau ...."


Niken mengangguk masih dengan wajah yang pias.


"Aku trauma pada ruang sempit dan juga kegelapan."


Lelaki itu mendekat dan mengulurkan sapu tangannya.


"Sapu keringatmu, dan berpeganganlah pada lenganku, mungkin akan sedikit membantumu."


Lelaki itu menggenggam jemari Niken tanpa permisi, seakan dia sudah mengenal Niken sejak dari kandungan.

__ADS_1


Niken merasa sangat risih, namun dia membiarkan lelaki itu menolongnya. Karena dia  merasa nafasnya mulai sesak.


Ketika sudah sampai di lantai 10 tiba-tiba lampu lift mati dan tidak bisa terbuka. Niken Semakin panik. Lelaki berlengan kokoh itu memeluknya erat dan berbisik.


"Tenangkan dirimu, aku sudah memencet alarm, sebentar lagi petugas akan membukanya."


Lelaki itu mencoba menenangkan Niken yang semakin gemetar ketakutan, nafasnya memburu tak beraturan.


"Namaku Ricard, panggil saja Rich, aku tinggal di apartemen dilantai 10 ini, tapi aku tinggal disini hanya sekali dalam seminggu, beristirahat dari kegaduhan dunia. Kamu tinggal dimana."


Richard mencoba berdialog dengan Niken untuk membuat gadis itu rilex. Niken tidak menjawab, dia semakin gemetar.


"Kamu memiliki trauma buruk dengan kegelapan dan tempat sempit? Aku akan menyisipkan memory indah di sela trauma ini, maafkan aku bila aku lancang, aku sempat melihat name tag yang tergantung di sakumu, namamu Niken. Aku selipkan kartu namaku di saku jas mu ya, agar kamu bisa mencariku saat kita sudah keluar dari lift ini dan coba pejamkan matamu.


Niken memejamkan matanya dalam kegelapan. Richard memegang wajahnya dan sedetik kemudian Niken merasakan bibirnya menyentuh bibir lelaki itu. Tubuhnya lunglai tak berdaya, namun dia merasakan ketenangan, pelukan lelaki itu membuat dia tenang dan ciuman bibir lembutnya membangunkan sisi feminin di hati Niken.


Mereka terus berciuman dan semakin membara di dalam lift itu. Bagi Niken ini adalah pengalaman pertamanya namun tidak bagi Richard.


Setelah ciuman membara itu berakhir, lampu di dalam lift kembali menyala dan pintu terbuka. Niken tersipu malu dan tanpa pamit dia berlalu meninggalkan lelaki tampan yang baru dikenalnya namun mampu membangkitkan sisi romantis dan hangat di relung sanubarinya.


Niken bahkan lupa bagaimana lelaki itu mampu membuat dia sejenak melupakan traumanya pada ruang sempit dan gelap. Yang saat ini dirasakannya saat meninggalkan lift itu hanya debaran hangat di dalam hatinya.


Niken terpana ketika dia menatap pada sosok tinggi besar itu, lelaki yang baru saja membuat debur jantungnya melebihi deburan ombak yang menghantam karang.


"Sudah selesai atau aku harus menunggu dulu? Kenapa kamu tidak pernah bosan memakai apartemen pribadiku ini. Ini satu-satunya tempat privacy yang kumiliki."


rutuknya kesal. Elfa tertawa renyah.


"Coba kamu terima cintaku, maka tempat ini akan menjadi privacy kita berdua." selorohnya.


Richard mendengus.


"Cinta tak bisa dipaksakan, dia datang saat tak terduga bukan direncanakan Fa, sudahlah besok akan kuganti password pintu apartemen ini."


Richard melemparkan tubuhnya di kursi sofa, sejenak dia tertegun menatap gadis cantik yang sedang merias Elfa, teman karibnya. Namun keterkejutan itu cepat disembunyikannya.


"Elfa, cepatan dong, aku mau istirahat."

__ADS_1


Elfa tertawa geli dan segera memberi isyarat pada Niken untuk segera menyelesaikan riasannya. Niken tersenyum gugup namun dengan cepat dia menyulap Elfa menjadi sangat cantik.


Elfa sangat bahagia melihat tampilan wajahnya di cermin.


Dia segera mengambil gawainya dan mentransfer uang pembayaran jasa Niken melalui M Banking. Elfa memperlihatkan bukti transfernya pada Niken dan dia sangat terkejut.


"Banyak sekali Mbak, itu tiga kali lipat dari tarif yang saya sebutkan."


Elfa menepuk bahu Niken.


"Aku sangat puas dengan hasil kerjamu. Aku duluan ya, begitu kamu kelar beberes peralatanmu cepat kamu tinggalkan tempat ini, ada buaya darat yang ganas di belakangmu." Elfa tertawa geli ketika Richard melemparnya dengan bantalan kursi. Dia segera menghilang di balik pintu apartemen meninggalkan Niken yang canggung berduaan dengan Richard.


Richard mendekati Niken dan menarik tangannya. Niken terkejut dan tak siap dengan tindakan Richard.


Dia terjerambab dalam pelukan kokoh dada lelaki tampan itu.


"Aku belum pernah memiliki getaran sehebat ini saat berdekatan dengan wanita manapun. Kamu begitu lembut dan seperti membutuhkan perlindungan."


Niken mendorong dada lelaki kokoh itu. Richard tertawa.


"Jangan takut Niken, aku bukan lelaki jahat yang mampu menyakiti wanita. Santai dan buat dirimu senyaman mungkin."


Niken terdiam, sambil mengemasi barangnya. Dia hendak meninggalkan Richard tapi kembali lelaki itu menyentak kan tangan Niken hingga tas rias Niken terjatuh dan Niken terjerambab kembali di dada kokoh itu.


"Tolong jangan begini, kita baru kenal kurang dari satu jam."


gigil suara Niken kentara di pendengaran Richard. Lelaki itu melonggarkan pelukannya.


"Cukup satu menit buatku untuk jatuh cinta denganmu, aku juga punya trauma yang tidak pernah diketahui siapapun, tapi hari ini aku ingin kamu tahu."


Niken melepaskan pelukan Richard.


"Trauma apa yang kamu derita?'


Cerita Richard memancing rasa ingin tahu Niken.


"Aku, aku tidak suka pada anak kecil. Aku muak melihat kemanjaan mereka. Setiap kali melihat kebahagiaan mereka aku teringat kepedihan hidupku dulu, ah sudah lah, aku hanya ingin kamu tahu Niken, aku jatuh cinta padamu pada menit pertama kita bertemu dan aku menyadari ketakutanmu pada ruang sempit dan gelap "

__ADS_1


To be continue ke BAB 2


__ADS_2