Sweet Sin

Sweet Sin
bab 15 Niken is Kinanti


__ADS_3

Richard mengendap kembali ke kamarnya sendiri. Perasaannya sedang sangat bahagia.


Ketika sebuah notif dari Samuel masuk di WA nya:


"Niken memiliki putra Rich, aku sekarang telah menemukan siapa yang menyelamatkan dia saat kecelakaan."


Richard terpaku, tangannya gemetar.


Dua tahun menghilang dan ternyata mereka memiliki putra, Richard menggigil di depan kamarnya. Matanya tampak kelam.


Seorang putra? sungguh sangat menakutkan, tiba-tiba dia memiliki seorang putra tanpa dia sempat membayangkannya. Dia tidak menyukai seorang anak kecil, tapi ini adalah buah cintanya dengan Niken.


"Ken, kemana kamu sayang, muncul dan temui aku."


desis suara Richard terdengar perih dan sakit.


Tiba-tiba Ibu muncul di hadapan Richard.


"Kenapa Rich? apa yang kamu lakukan di depan kamarmu?"


Ibu menyentuh bahu Richard yang duduk sambil memeluk lututnya di depan kamar, wajahnya berada di atas kedua tangannya. Richard menunduk dan menangis.


"Bu, kenapa hidupku terasa sangat melelahkan? Kenapa ayah tidak pernah menyukai aku?"


Ibu mendekat dan duduk di samping Richard yang masing menangis di atas lututnya, persis seperti anak kecil.


Ibu menyentuh bahu lelaki tinggi besar itu dengan haru.


"Karena dia berpikir ibu selingkuh saat kamu masih berada di rahim ibu, kamu mengingatkan dia kebenciannya pada ibu dan sahabatnya Barata. Tapi di dasar hatinya yang dalam dia menyayangimu Rich."


Richard terus menunduk sembari memeluk kedua lututnya, Niken tiba-tiba muncul di hadapannya.


Ibu menatap Niken lega.


"Natasya, bantu aku memasukkan Richard ke dalam kamarnya."


Niken mengangguk kemudian membatu memapah Richard ke dalam kamar dan membaringkannya di tempat tidur besar.


Ibu berlalu dengan wajah sangat mengantuk.

__ADS_1


"Nat, temani dia dulu sampai sadar. Kalau kamu mengantuk tidurlah di sofa itu."


Ibu menunjuk pada sofa besar di depan TV di kamar Richard.


Natasya mengangguk pelan.


Natasya tertidur di sofa dekat dengan tempat tidur Richard, tengah malam Richard terbangun dan mendapati Niken sedang menangis di dalam tidurnya. Richard tertegun. Dihampirinya Niken dan di dekatnya telinga pada mulut Niken. Dia terpana.


"Rich, pergi Rich, selamatkan dirimu, selamatkan dirimu."


Richard menepuk pipi Niken pelan. Mata Niken membuka dan dia terkesiap melihat Richard menatapnya dengan ekspresi wajah bingung.


Niken hendak beranjak meninggalkan Richard ketika tangan kokoh itu mencengkram bahunya.


"Kamu siapa Natasya? Kamu Kinanti 'kan?"


Richard mengguncang bahu Niken.


"Ucapan dalam mimpimu barusan sering terngiang di pendengaran ku saat terapi."


Niken terdiam tak mampu menjawab, apakah setidaknya dia mengaku saja pada Rich siapa dirinya. Dalam kekalutan telepon Rich berbunyi.


"Rich, aku minta kamu sedikit berhati-hati terhadap Natasya, aku punya info kalau dia sering menemui orang yang menolong Niken, sementara Niken sendiri menghilang tak tahu rimbanya, kami belum mampu menjangkau keberadaannya."


"Kamar ini kedap suara, pun pistol ini kupasang peredam suara, aku bisa membuang mayatmu tanpa ada seorang pun


yang tahu. Cepat kamu katakan


siapa kamu?"


Richard menarik pelatuk pistol dan menatap Niken dengan mata kelam dan rahang mengeras. Dia mulai menghitung mundur.


Namun Niken melompat ke depan dan menendang pistol sehingga terlempar ke tengah kamar. Richard memasang kuda-kuda namun Niken memilih menyerah.


"Aku Niken Rich, aku istrimu."


Richard terbelalak namun bingung. Dia tertawa menggelegar.


"Kamu hendak melucu di depanku? Niken sangat cantik dan ..."

__ADS_1


Richard menghentikan ucapannya ketika Niken melepaskan silicon di kaki, tangan, punggung bahkan perutnya. Niken melepaskan silicon di wajahnya perlahan, lalu melepaskan pipi dan hidung palsu dan terakhir rambut palsu serta seluruh make up nya. Richard terduduk di lantai wajahnya pucat, lalu pingsan.


Niken menunggui Richard dan merapikan semua alat penyamarannya. Dibawanya Richard dengan troli makanan menuju kamarnya. Hening di dalam rumah besar itu membuat tidak satu manusia pun menyadari apa yang tengah terjadi.


Hampir subuh ketika Richard tersadar dari pingsan. Dia hendak melompat namun langsung dipeluk oleh Niken.


Richard hendak mengucapkan nama Niken, namun Niken menutup mulutnya dengan jari. Niken menggeleng.


Mereka berdua saling berpelukan tanpa kata, air mata kedua insan yang saling merindukan itu deras mengalir. Hanya saling menangkup rindu dalam hening. Richard meraih wajah Niken dan menciuminya tiada henti.


Dalam kamar Niken yang juga memiliki system' kedap suara, lebih bagus karena Niken memodifikasi kamar itu sedemikian rupa untuk melindungi penyamarannya selama ini, mereka saling menceritakan segala hal.


Niken mengisahkan semua hal termasuk keberadaan  putra mereka. Niken juga menceritakan hasil penyelidikannya tentang rumah Pak Barata yang ternyata ayahnya, Niken juga mengisahkan bagaimana dia menemukan masa lalunya. Richard terpana dengan mata penuh air mata, dia mensyukuri ternyata istrinya tak lain adalah sahabat kecil yang dikiranya sudah mati dalam kebakaran. Sepanjang hidupnya Richard menyesali diri atas kematian Kinanti, karena dia memilih meninggalkan gadis kecil itu.


"Aku sangat mencintai kamu Niken, tolong tetap bersamaku, jangan pergi lagi." lirih suara Richard menyatu mesra dalam gurat rindu di himpun asa.


Niken mengangguk penuh keyakinan. Lara yang mengukung cinta mereka kini perlahan mulai  tersingkap.


Tak terperi bahagia merengkuh jiwa keduanya, hingga guliran waktu terasa begitu cepat memaksa mereka saling melepas tautan rindu itu.


Subuh telah merengkuh fajar,


Ketika Richard mengatakan bahwa Samuel menemukan Evan dan wanita yang menjaganya, Niken terperangah. Richard juga menceritakan dari mana dia tahu bahwa Natasya sosok mencurigakan.


Tanpa berpikir panjang Richard langsung menghubungi Samuel untuk membawa Evan ke rumahnya.


"Are you sure honey?"


Niken menatap lekat mata suaminya. Richard mengangguk.


"Akan lebih berbahaya kalau dia berada diluar, kamu juga segera cari cara untuk melepas penyamaranmu. Kalau Samuel bisa tahu tidak menutup kemungkinan orang yang menginginkan kamu musnah juga akan tahu. Kita hadapi secara terang-terangan."


Niken menurut. Dan hari itu Niken melanjutkan penyamarannya untuk berpamitan kepada Ibu Minati dan Tante Cyntia. Dia mengaku dipecat Richard. Ibu Minati menelepon Richard dan marah besar, karena Natasya sosok menyenangkan buat dia, bisa menjadi teman dalam kesepiannya.


Sedangkan Tante Cyntia tersenyum misterius saat Niken pamit. Dan ketika hendak mengemasi barang yang tersisa di kamar, Tante Cyntia menghampiri.


"Sorot matamu mengingatkan aku pada seseorang yang akan segera kembali dari mati suri." Niken diam dan hanya menggigit bibirnya.


"Berhati-hati Natasya, jangan ceroboh tentang apapun, kalau kamu tak ingin mati seperti Niken atau berakhir terluka sepertiku."

__ADS_1


Niken hanya menatap dengan sorot mata penuh tanda tanya.


To be continue Bab 16


__ADS_2