
Bab 4 Sweet romance in Paris
Di dalam suasana romantis kota Paris, Perancis, kelembutan dan kasih sayang Richard kian sempurna. Dia tidak tergesa untuk menyentuh istrinya ketika sampai di hotel, Richard mengajak Niken keluar hotel dan menaiki bus air menyusuri sungai Seine, Richard tak pernah melepaskan pelukan pada bahu istrinya.
Angin dingin berhembus di atas sungai, meniup rambut panjang, hitam dan tebal milik Niken. Saat bus air merapat ke menara Eiffel, hari mulai sore dan mendung seakan menggelayut di atas sungai Seine. Richard menuntun Niken turun dari bus air dan berjalan menyusuri jalan menuju salah satu sudut romantis di bawah menara, perlahan senja mulai membentang, lampu-lampu kuning mulai menyala dan sinarnya berpendar bagai cahaya gemintang.
Suasana romantis kental menyelimuti hati sepasang pengantin baru itu. Richard memperbaiki syal di leher jenjang istrinya. Mereka saling menatap satu sama lain dengan sendu, gemuruh jiwa Niken terpadu dengan getar cinta di mata elang kekasihnya. Richard mendekat ke wajah kekasihnya, Niken memejamkan mata ketika Richard mencium lembut bibir manis Niken. Niken membalas dengan sepenuh hati. Bukan hanya bibir mereka yang saling bertautan, namun juga hati mereka bagai lebur dalam sapuan angin dingin di bawah menara Eiffel.
Mereka menghabiskan senja di sepanjang sungai Seine. Sambil bercerita banyak hal, sementara jemari tak henti saling bertautan. Mereka menikmati makan malam romantis Sebelum kembali ke hotel dan memadu cinta penuh gairah di peraduan malam pertama.
Ditengah malam Niken terbangun ketika mendengar rintihan di sampingnya.
Lelaki yang kini berbaring dengannya di bawah selimut yang sama ini mengigau. Tubuhnya menggigil bagai mengalami ketakutan dan kesedihan secara bersamaan. Niken mencoba menyentuh pundak Richard namun urung ketika Niken mendengar ucapan dalam tidur suaminya.
"Maaf Pa, maaf Om, ampun, jangan ....!"
Niken menangkup wajah suaminya dengan kedua tangannya, membangunkannya dengan menciumi kelopak mata yang terpejam dalam balut air mata.
"Sayang, bangun, please, honey."
Niken mengguncang kan tubuh Richard yang mulai banjir keringat dingin.
Richard membuka kelopak matanya dan mendapati sosok wanita yang selalu mampu membuat luruh jiwanya berada di hadapannya dengan cucuran air mata khawatir. Richard memeluk Niken dan menangis dalam dekapnya.
"Maaf sayang, inilah aku, lelaki yang nampak kuat kamu lihat dari luarnya, namun rapuh dalam kenangan pahit yang memberangus jiwaku. Maafkan aku yang membuatmu khawatir."
Bisik Richard di telinga Niken. Niken melepaskan pelukan suaminya dan menyapu keringat di wajah Richard. Membelai wajah itu dengan lembut.
"Kenapa sayang, kamu bisa bercerita padaku di sini, aku akan mendengarkanmu."
__ADS_1
Richard menuturkan, dengan terbata bahwa sejak kecil ayahnya tidak menyukai kehadirannya, karena sosok Richard mengingatkan perselingkuhan istrinya dengan lelaki lain yang tertangkap basah berbuat mesum di kamar mereka justru saat mengandung Richard.
Walaupun hasil tes DNA menunjukkan Richard putranya
Namun kebencian Ayah pada Ibunya menciptakan kepedihan di masa kecil Richard. Deraan fisik, serangan verbal tak henti-henti mendera tubuh dan jiwa mungilnya. Richard tumbuh dalam trauma mendalam. Tanpa cinta dan kasih sayang. Ibunya tidak pernah berani membela Richard.
Ibunya pernah bilang saat Richard remaja, bahwa dia tidak pernah berzina dengan lelaki manapun, semua yang terjadi di malam itu adalah skenario besar yang sedang di setting seseorang untuk memisahkan ayah dan ibunya.
Apapun alasannya, rencana yang di susun orang tersebut tidak begitu saja mudah untuk berhasil, karena ibunya Richard memilih bertahan dalam kepedihan dan penderitaan di sisi suami yang di cintai dengan tulus.
Richard mengakhiri ceritanya dan memeluk erat istrinya.
"Stay with me forever honey, don't leave me alone." bisik Richard lembut.
Niken mengangguk.
Niken menciumi Richard dengan penuh cinta, dan malam itu mereka isi dengan saling memiliki, berbagi dan saling memberi.
Niken menatap lembut wajah suaminya yang masih tertidur pulas dengan hanya berselimut tanpa pakaiannya. Tubuhnya yang berotot dan mengkilat diterpa Surya pagi yang menembus kisi jendela kaca membuat Niken merasa tak percaya, bahwa lelaki mempesona ini memiliki hidup yang sangat menyakitkan.
Niken yang sudah mandi dan berdandan cantik duduk di sisi pembaringan suaminya, menelusuri lekuk wajah tampan itu dengan telunjuknya.
Niken tidak memahami mengapa hidup keluarga Richard yang nampak sempurna dan harmonis di hadapan publik namun ternyata menyembunyikan luka sedemikian dalam.
Niken terpikir, siapa lelaki yang dijebak bersama ibu Richard, siapa yang merancang skenario itu, apakah mungkin kelak dirinya juga akan mendapat perlakuan yang mengerikan seperti ibunya Richard? Niken menggeleng sendiri. Dia rela melepaskan apapun dalam hidupnya tapi dia bertekad tidak akan melepaskan lelaki ini selamanya.
Niken yang hidup tanpa kedua orang tuanya, hidup sendirian dan hanya bersama Tante Cyntia yang mengaku sebagai ibu sambungnya.
Niken tidak pernah tahu apa penyebab kedua orang tuanya meninggal. Dia pun tidak pernah tahu dimana kuburannya.
__ADS_1
Nasib Niken tidak lebih baik dari suaminya. Bahkan hingga detik ini Niken tidak pernah ingat masa kecilnya. Seperti hilang dan kosong. Dia tidak pernah tahu apa yang dia alami. Yang dia ingat hanya sebuah ucapan yang berulang di telinganya.
"Jangan bunuh anak saya, dia tidak berdosa, tolong ...."
Semua kenangan masa kecil yang terekam dalam ingatan Niken hanya dimulai di usia 7 tahun saat Tante Cyntia mengasuhnya.
Niken sudah mencoba sekuat tenaga mencari ingatannya yang hilang, namun jiwanya seperti tersekat oleh keinginan bawah sadar untuk melupakan.
Dalam keadaan penuh tekanan hidup dan perjuangan, Niken tumbuh menjadi wanita tangguh. Bukan hanya tangguh jiwanya tapi juga fisik. Walaupun secara kasat mata dirinya nampak lemah tak berdaya, tapi sesungguhnya Niken adalah gadis yang sangat tangguh.
Richard membuka matanya dan menangkap tangan Niken yang membelai wajahnya.
Di kecupnya jemari lentik itu dengan penuh cinta.
Disentakkannya tangan itu dan Niken terjatuh dalam pelukan dadanya. Richard menciumi leher jenjang istrinya.
"Bangun sayang, mandi, ayo kita sarapan dan jalan-jalan. Tunda dulu gairahnya." goda Niken sambil melepaskan pelukan suaminya. Richard tertawa bahagia. Niken menariknya untuk berdiri dan ketika Richard berdiri selimutnya terjatuh. Niken sontak menutup matanya dan berteriak kaget. Richard tertawa geli melihat reaksi istrinya yang belum terbiasa melihat suaminya di pagi hari.
Dengan santai Richard berjalan menuju kamar mandi.
"Honey, handuk dong, please handuk kita, aku ngga mau handuk dari hotel."
teriak Richard dari balik pintu kamar mandi.
Niken segera membawakan handuk, namun saat tangannya terulur, Richard menariknya masuk ke kamar mandi. Dan suasana pagi berubah penuh pelangi bahagia bagi kedua insan dengan trauma masa lalu yang hitam kelam.
Mereka tampak lebur dalam bahagia saat bersama.
To be continue ke BAB 5
__ADS_1