Sweet Sin

Sweet Sin
Bab 18 Bom


__ADS_3

Niken menatap curiga pada mobil Lexus LX570 yang sudah seminggu ini digunakannya, mobil hadiah dari Richard yang terparkir di pekarangan rumah megah keluarga Bramasta.


"Ada yang aneh?" Richard menyentuh bahu Istrinya. Niken mengangguk.


Niken memeriksa kendaraan itu, roda dan bawah mobilnya seperti ada yang ganjil. Niken meminta sopir pribadi ibu mertuanya untuk mencoba mobil itu, namun si sopir ragu dan mengatakan tidak terbiasa membawa mobil seperti itu. Niken menelepon Samuel dan meminta agar mobilnya di periksa oleh team ahli dari kepolisian. Dia merasa ada yang tidak beres namun tidak mampu menjelaskan detail keanehan itu.


Richard tidak ingin mengambil resiko kehilangan istrinya untuk kedua kali mengambil gawai Niken dari tangannya dan berbicara pada Samuel untuk tidak mengabaikan permintaan Niken.


Hanya setengah jam Samuel datang dengan team ahli detective swasta, bukan dari kepolisian resmi. Mereka meneliti mobil Niken dan hanya sepuluh menit berselang salah satunya menemukan bom detonator yang dipasang di rangkaian gas dan mesin mobil, yang seketika akan active dan meledak saat mesin mobil mencapai kecepatan tertentu.


Richard terlihat sangat geram. Kini bahkan pembunuh ini terang-terangan mengincar Niken. Dengan kerja cepat dan akurat, team khusus itu berhasil membersihkan bom dan membawa detonator berikut komponen lainnya untuk di teliti dari mana asal bom. Mereka juga memeriksa CCTV dan memeriksa semua anggota keluarga dan semua pekerja di dalam rumah megah itu tanpa terlewat satu orang pun. Kasus diserahkan secara resmi kepada pihak kepolisian.


Richard tidak mau mengambil resiko sekecil apa pun. Dia terus memeluk Niken. Namun wanita itu tampak lebih tegar daripada Richard. Dia terus mengawasi sekitarnya dengan mata waspada.


Setelah pengecekan CCTV diketahui rekaman selama proses pemasangan Bom itu telah disabotase. Tak ada rekaman saat itu terjadi, layar blank.


Richard meminta salinan CCTV seluruh sudut rumah dan pekarangan luas itu untuk mengamatinya.


"Sekarang semua penghuni di rumah ini adalah tersangka dengan kemungkinan 100% hendak mencelakai Richard dan terutama Niken.


Untuk jangka waktu tidak ditentukan semua anggota keluarga tidak diperkenankan meninggalkan Jakarta, dengan alasan apa pun.


Niken tidak mengijinkan semua orang menyentuh Evan. Terutama para pelayan. Evan berada dalam pengawasannya dan Richard. Bahkan keduanya saat bepergian menggunakan jasa pengamanan korban tindak kekerasan dan pengancaman. Bukan hanya dari kepolisian resmi namun dari team ahli detective swasta profesional.


Malam itu Niken dan Richard duduk di dalam kamar mereka dengan sebuah laptop yang memutar tiap sudut rekaman di rumah itu, sia-sia, hampir satu malam itu layar blank. Niken menutup laptop dan menatap Richard penuh kekhawatiran.


"Honey, ada satu rahasia besar yang akan aku katakan tentang Tante Cyntia, dia ..."


Richard menggeleng pelan.


"Bukan rahasia kalau yang kamu katakan dia mantan kekasih Ayah." sahut Richard acuh. Seakan pikirannya sedang tidak fokus.


"Bukan mantan honey, tapi masih istri siri ayah dan aku melihat mereka bermesraan di dapur saat semua orang terlelap tidur, bahkan mereka tidur bersama di kamar Tante Cyntia."


Mata Richard seketika kelam dan memerah.


"Kamu yakin honey?" tanya Richard.

__ADS_1


Niken mengangguk tanpa ragu.


"Kenapa pelaku ini ingin membunuhmu honey, bahkan saat kamu masih kecil dalam kebakaran rumahmu?"


Mereka berdua saling menatap seakan menemukan puzelle yang terhubung.


"Ada sebuah rahasia tentang kelahiranmu sebagai Kinanti dan aku yakin ini sangat erat kaitannya dengan masa lalu orang tua kita." ucap Richard yakin.


"Maksudmu? hubungan orang tuaku, Barata dan Ratih dengan Bu Minati dan ayahmu Bramasta.


Terus bagaimana dengan Tante Cyntia? dia yang membawaku lari dari kekacauan dan kebakaran hebat itu, dia membawaku bahkan mengaku sebagai ibu sambungku, dan dia juga berada di dalam lingkaran kekacauan itu karena ternyata dia istri ayahmu."


Richard tertegun.


"Honey, ini puzzele penting yang harus kita katakan pada  Samuel dan teamnya." Niken mengutarakan keinginan membawa masalah penting itu.


Namun Richard meminta untuk ditunda terlebih dahulu. Karena harus berhati-hati. Ini erat kaitannya dengan nama baik keluarga Bramasta.


Terlebih Richard harus mencari tahu catatan kepolisian tentang kasus kebakaran itu. Siapa yang di curagai saat itu. Namun ketika hal itu ditanyakan pada pihak terkait, kasus itu ditutup hanya dalam waktu satu Minggu setelah kebakaran dan dianggap sebagai konsleting listrik biasa.


Niken dan Richard saling menatap, kali ini mereka bergidik.


"Ayahmu masih hidup honey? lalu kemana beliau, yakinkah beliau masih hidup atau dibuat seolah masih hidup?"


Niken menyandarkan kepalanya di bahu Richard. Sebulir air mata menetes.


"Seseorang sudah mempermainkan hidupku sejak aku masih kecil. Saat aku kerumah itu ingatanku kembali dan kuingat Tante Cyntia menyelamatkan aku dengan pertaruhan hidup dan karirnya. Padahal bisa saja dia meninggalkanku di panti asuhan atau membuangku. Tapi dia melindungiku bahkan rela berpindah-pindah tempat."


Richard menghapus air mata Niken dan memeluknya.


"Aku berpendapat berbeda sayang, dia bukan sedang menyelamatkan kamu, tapi justru berlindung dari suatu hal yang kita tidak tahu dengan memeliharamu di dekatnya. Ada hal besar yang dia sembunyikan."


Richard mengingatkan Niken untuk tidak mudah percaya pada siapa pun di dalam keluarga dan lingkungan mereka. Akan sangat berbahaya kalau Niken menggunakan perasaan untuk menilai situasi.


Suami istri itu saling menatap lembut. Evan tiba-tiba menarik tangan keduanya.


"Mama, Papa Evan tidur di ranjang besar ini ya."

__ADS_1


Evan menunjuk ranjang Papa dan Mamanya. Richard mengangkat putranya dan memeluknya erat, kemudian mereka bertiga bercanda. Evan membuat keduanya sejenak melupakan keruwetan pikiran.


******************************


Mrs. Cyntia mendatangi kantor Mr. Bramasta, dia berjalan hati-hati ke ruangan Tuan Bramasta.


Setibanya di dalam ruangan itu


Mrs. Cyntia menghampiri lelaki yang sedang sibuk dengan gawainya.


Mr. Bramasta melirik ke arah Cyntia dan segera menutup percakapannya di gawai.


"Ayah Ersa? mau apa dia? Mengancam mu dengan kasus itu, bahkan dia bagai menepuk air di dulang, akan memercik kewajahnya sendiri."


"Sayang, apa kamu yakin, yang meletakkan bom di mobil itu bukan sendirian namun beberapa orang?"


Mrs. Cyntia mengangguk.


"Bukan kamu kan sayang, aku tidak akan memaafkan kamu andai itu kamu, bagaimana pun aku pernah merawat anak itu. Walaupun kamu benci Barata, tak semestinya kamu melakukan kebodohan itu!"


Mr. Bramasta beranjak dari kursinya dan mengelilingi meja, memeluk Mrs. Cyntia dan meletakkan kepalanya di bahu wanita itu.


"Aku lelah sayang, lelah dengan semua kenyataan dan lingkaran yang membelenggu kita, aku hanya ingin hidup tenang bersamamu, apa untungnya bagiku membunuh anak si sialan Barata itu, dia meniduri wanita yang tidak ku cintai, namun biar bagaimana pun, wanita itu tetap istriku hingga saat ini."


"Aku bahkan baru tahu hari ini kalau Niken adalah Kinanti. Aku pikir dia hanya anak yatim piatu biasa."


Walaupun dari raut muka Mr. Bramasta tampak terlukis seringai licik di hadapan kekasihnya, namun Mrs. Cyntia hanya membalas memeluk lelaki itu mesra.


"Aku tidak perduli tentang Niken sayangku, aku hanya ngga ingin kamu mengotori reputasimu hanya karena setitik debu masa lalu." ucap Mrs. Cyntia.


Mr. Bramasta ******* bibir istri sirinya dengan nafsu bergolak. Lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah dan berkarisma itu merengkuh Cyntia dalam pelukannya dengan ketat.


"Jangan di sini sayang." bisik Mrs. Cyntia mesra.


Namun Mr. Bramasta menelepon sekretarisnya untuk tidak membiarkan siapu pun masuk kalau tidak ingin dipecat. Mr. Bramasta mengunci ruangannya dan membawa Mrs. Cyntia ke sofa di tengah ruangan.


to be continue Bab 19

__ADS_1


__ADS_2