Sweet Sin

Sweet Sin
BAB 10 BIG SECREET


__ADS_3

Diam-diam Niken mengikuti Elfa yang tergesa masuk ke ruang kerja Pak Bramasta. Terdengar suara Elfa yang meninggi seakan kedua orang di dalam ruangan itu bersitegang.


"Cukup Om, jangan pernah mengancam saya dengan mempertaruhkan jabatan ayah saya. Semut saja kalau terinjak akan menggigit, apa Om siap kalau rahasia besar Om saya bongkar. Bukan cuma ayah saya yang memiliki kelemahan, tapi Om jauh lebih mengerikan!"


"Tidak mengapa, aku hanya akan kehilangan sedikit, tapi bagaimana nasib karir politik ayahmu? Tamat dan tidak akan mampu untuk bangkit lagi, hancur! Turuti semua perintahku, jangan coba-coba membantah!" Tegas Pak Bramasta.


Elfa terdengar menangis.


"Saya memang menyukai Richard, tapi saya tidak mampu menjerumuskan ...."


Belum selesai Elfa berbicara, terdengar suara telepon Pak Bramasta berdering.


Pembicaraan terputus. Di saat bersamaan telepon milik Niken bergetar. Niken meninggalkan tempat persembunyiannya. Diam-diam menyelinap pergi.


**************


Richard memasang wajah sangat marah ketika Natasya muncul.


"Kemana saja kamu Natasya! jangan lalai dengan tanggung jawab mu, cepat selesaikan semua yang harus kamu selesaikan sebelum ke Bali. Aku tidak menerima alasan apa pun dengan ketinggalan berkas, kelupaan file penting dan pastikan semua kebutuhanku sampai di sana harus sempurna!


Suara Richard dingin dan tak sedikitpun terlihat ramah.


Dia berjalan keluar ruangan kerjanya tanpa menoleh pada Niken yang menyamar menjadi Natasya.


Niken segera menyelesaikan tugasnya menyiapkan semua keperluan Richard, memesan tiket pesawat. Setelah semua pekerjaan kantor selesai Niken harus mempersiapkan juga keperluan pribadi Richard.


Saat menyiapkan pakaian Richard, Niken tertegun, menatap foto dirinya dan Richard saat di Menara Eiffel. Dia hendak menyentuh foto itu dengan jemarinya ketika gelegar suara Richard mengejutkannya.


"Siapa yang memintamu masuk ke kamarku, menyentuh barang-barangku! Terlebih foto itu, jangan sentuh dengan jari kotor mu!" maki Richard penuh emosi.


Niken berusaha menjelaskan, namun Richard menyeretnya keluar dari kamar.


"Kamu lupa, aku harus menyiapkan pakaian kamu Mr. Richard!"


Niken berusaha membela diri.

__ADS_1


"Tidak perlu! pakaian, kamar adalah privacyku, jangan pernah melampaui batas Natasya, sekali lagi kamu lakukan, kupecat!"


Richard membanting pintu kamar tepat di depan hidung Niken.


Tampaknya ada dua perasaan berkecamuk di relung hati wanita itu. Rasa bahagia karena lelaki itu begitu mencintai dan sangat kehilangan dirinya. Rasa sedih, karena kini kepergiannya menciptakan lubang besar di hati lelaki itu. Lubang yang dalam, dan entah bagaimana dia bisa bertahan dalan rasa kehilangan yang sangat menyakitkan.


Niken seperti merasakan kehancuran yang sama dengan Richard. Tampak sorot mata Niken menggelap dan kelam. Seakan tersaput mendung abadi yang mengukir sejuta luka karena menahan Rindu teramat sangat kepada sosok lelaki yang sangat dekat namun tak bisa di sentuhnya.


Niken berjalan meninggalkan kamar Richard dan di lorong ruang menuju taman antara kamar Richard dan dirinya, Niken dikejutkan dengan tepukan keras di bahu. Niken sigap memasang  kuda-kuda.


"Natasya, tidak sia-sia Richard membayarnu menjadi pengawal dan Assistennya. Kamu sangat sigap!"


Suara tertawa Bu Minati pecah dalam heningnya rumah besar itu. Nampak wanita paruh baya itu sedang tidak dalam kondisi baik. Niken mencium aroma anggur yang cukup keras dari nafas Bu Minati.


Ketika Niken menyadari ada yang tidak beres dengan kelakuan Bu Minati, Richard datang dan terkejut melihat Niken memapah ibunya.


"Kenapa dengan Ibu Natasya? Apa yang terjadi?"


Richard tampak kebingungan.


Niken menuntun Bu Minati untuk duduk di kursi.


Richard memeluk Ibunya, bahunya tampak terguncang.


"Maafkan Richard ya Bu, demi aku ibu rela menderita sepanjang hidup."


Tampak terlihat lelaki arogan itu ringkih saat memeluk ibunya.


Tante Cyntia muncul dan meminta Richard membiarkannya membawa nyonya nya pergi kembali ke kamar.


"Miss. Cyntia, apakah Ibuku sering seperti ini saat aku tidak di rumah?"


Wanita cantik dengan stelan blezer hitam itu mengangguk.


Dia bilang Bu Minati biasa menghabiskan sebotol anggur mahal dari stok di gudang lantai ground untuk diri sendiri, dan mabuk berat selama berhari-hari. Terkadang dia membawa sebotol anggur keluar rumah entah untuk siapa. Ayah  tidak perduli dengan tingkah laku ibu.

__ADS_1


Mereka masih sekamar namun saling tidak perduli satu sama lain


"Miss, tolong jaga Ibu ya, saya akan pergi lebih dari sebulan, dari Bali langsung pergi lagi ke beberapa kota besar di Indonesia, bahkan juga ke Korea Selatan. Tolong Miss kabari apa pun keadaan ibu pada saya."


Niken tertegun melihat kekhawatiran Richard pada Ibunya. Menurut pengamatan Niken ibu Minati bukan wanita lemah. Dia bahkan sangat kuat dan cerdas. Ada sorot mata kelabu terkadang terpancar di matanya.


Sebelum melakukan perjalanan bisnis panjang bersama lelaki yang di panggilnya Mr. Richard, Niken izin satu hari untuk pulang. Richard mengizinkan.


Niken sangat berhati-hati dengan penyamarannya, sebelum dia pulang, dia singgah dulu ke pusat perbelanjaan yang ramai, masuk ke toilet dan berganti wajah menjadi lelaki berkumis tipis dengan topi dan jaket kulit lengkap dengan ransel menggantung di belakangnya. Di takut ad orang yang akan mengikuti dia. Dan dugaan Niken tidak meleset, di depan pusat perbelanjaan itu ada mobil hitam dan seorang lelaki dengan tampilan  Persis yang pernah mengejar dia hingga jatuh ke jurang.


Lelaki itu berdiri gelisah dengan satu temannya, tidak menyadari Niken berjalan santai di samping mereka.


"Boy, bagaimana ini, bos bilang harus mengikuti Natasya, saat dia pulang kampung, tapi dia ngga keluar-keluar dari gedung itu."


Rutuk lelaki satunya lagi.


"Ya kita tunggu sampai dia keluar, kita harus cari info siapapun yang dekat dengan tuan Richard meskipun itu cuma Assistennya."


Niken tersenyum mendengar obrolan dua penjahat suruhan itu. Dia berlalu naik taxi online dan meninggalkan kedua penjahat yang kebingungan.


*****************


Niken memeluk buah hatinya yang baru berusia 1,3tahun itu. Balita cerdas yang sudah pandai berlari dan mampu berbicara dengan lancar itu memeluknya balik.


"Ambu, aku kemari cuma sekali ini untuk jenguk kalian, tolong jaga anakku baik-baik ya. Ini uang buat keperluan kalian."


Niken memberikan uang yang cukup untuk pengasuh balitanya. Wanita yang dipanggilnya Ambu adalah orang yang menemukan dirinya hanyut di sungai.


Sesungguhnya Mak Ema tidak memerlukan uang lebih, hasil sawahnya cukup untuk hidup dirinya, suami dan balita Niken yang di namai Niken dengan nama Evan. Namun Niken meminta Mak Ema tidak ikut ke sawah dulu, dan fokus  menjaga Evan. Niken membayar beberapa penduduk untuk membantu Ki Asep di sawah menggantikan Mak Ema. Walaupun baru mengenal mereka, namun mereka sangat menyayangi Niken dan Evan. Bagi mereka berdua yang tidak memiliki keturunan, kehadiran Niken dan Evan membuat Meraka sangat bahagia.


Niken kembali ke Jakarta dan sebelum kembali ke rumah Richard dia merubah kembali tampilannya menjadi sosok Natasya.


To be continue Bab 11


Tinggalkan like dan comen bagi yg membaca dan ingin melanjutkan

__ADS_1


__ADS_2