Sweet Sin

Sweet Sin
Bab 14 Still a Puzzles


__ADS_3

"I'am sorry Mr. Rich, don't fire me, and i promisse to never late again."


Niken mencoba menutupi perasaan yang bergejolak hebat, rasa takut berbaur dengan rasa rindu teramat sangat.


Richard mengangguk enggan, seakan masih menyimpan kejengkelan di hatinya.


"Don't repeat again!" ucapnya datar.


Kemudian lelaki bermata elang itu mulai sibuk dengan file di atas mejanya.


Sesekali Niken menatap dalam diam kepada lelaki di hadapannya. Namun sejurus kemudian Niken tenggelam dalam kesibukan.


"Nat, sampai dimana penyelidikan kamu untuk membantuku mengungkap kisah masa laluku."


Niken sedikit terkejut ketika menyadari Richard menyandar di tepian meja kerjanya.


Dengan sedikit tergagap dia berujar.


"Aku menemukan tempat yang kamu bilang rumah Sahabat kecilmu. Rumah itu belum dijamah renovasi, pemiliknya kenal dekat dengan keluargamu dan keluarga sahabat kecilmu."


Richard berjalan mendekati Niken lebih dekat.


"Ada titik terang?"


Niken sedikit menggeser kursinya mundur.


"Bantu aku akses ke dalam keluargamu lebih dari sekedar pengawal dan assistenmu. Aku ingin mencari tahu kebenaran yang terjadi hingga keluarga sahabatmu diperlakukan sangat tidak manusiawi."


Richard mengangguk pelan. Mata elangnya terlihat sangat lelah.


"Apakah menurutmu hilangnya Niken ada hubungannya dengan masa laluku Natasya."


Niken menatap Richard yang tampak kuyu dan lelah, bukan pada fisiknya, lebih kepada batinnya.


"Sepertinya sangat kuat korelasinya Mr. Rich. Saya sangat yakin, oh ya, orang-orang yang sering mengikuti saya bukan hanya anak buah ayahmu, tapi sepertinya ada orang lain yang juga lebih menakutkan, karena kalau ku cermati mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Antara suruhan ayahmu dan suruhan orang lain sering berada di lokasi yang sama saat menguntitku."


Richard diam tak bergeming dari raut wajahnya nampak sangat jelas mendung dan sangat kelam. Bahkan mata elang itu berubah sangat suram.


Sebuah ketukan halus terdengar di daun pintu ruang kerja Richard, Niken beranjak hendak membukakan ketika daun pintu terbuka dan sosok Ersa menerobos masuk bersama Bu Minati.


Gadis cantik itu melewati Niken,


Tatapannya agak sedikit tidak suka melihat Niken.


"Rich, sekretarismu ngga banget deh, biasanya standar kamu tinggi bahkan untuk assisten pribadi pun biasanya berkelas."


Richard hanya mengangkat bahu, terlihat cuek.


Sementara Ersa mengalihkan pembicaraan dengan Richard tentang paksaan orang tua mereka tentang pernikahan, namun lagi-lagi Richard tak menggubris, Ersa terlihat mulai kesal.


Sementara ibu Minati menghampiri Niken dan duduk di kursi tepat di depan meja Niken.


"Natasya, kamu di beri tugas apa oleh Rich?"


Tatapan mata Bu Minati seperti ingin menelanjangi.


"Hanya tugas sekretaris dan assisten pribadi sekaligus pengawalnya."


"It's oke kalau ngga ada tugas khusus, kamu malam ini temani aku minum anggur, mau ngga?"


Niken menggeleng pelan.


"Maaf Bu, saya tidak biasa."

__ADS_1


Bu Minati menggoyang telunjuknya.


"Bukan temani dalam artian ikut minum, tapi temani aku kalau-kalau mabuk tak terkendali, runyam nanti."


Bisik Bu Minati sembari matanya melirik pada Richard.


"Rich jangan sampai tahu ya." celetuknya sembari meletakkan telunjuk di bibir. Niken tersenyum melihat tingkah polah


wanita paruh baya itu.


"Baik Bu, jam berapa kita berangkat?"


Bu Minati tersenyum gembira mendengar Niken setuju menemaninya. Richard menatap Niken sorot mata sangat tajam.


Dan dengan kesal dia bertanya pada Niken rencana apa yang akan disusun Ibunya dengan assisten plus sekretarisnya.


Bu Minati hanya tersenyum pada Richard yang penasaran.


Ersa mengajak Bu Minati pergi setelah memberikan beberapa pilihan untuk Richard, beberapa WO ternama, untuk mengatur pernikahan paksa itu. Richard terlihat gelisah, tak terlintas di benaknya bakalan menikah dengan Ersa. Namun Richard juga tidak punya cara untuk membujuk ayah mereka agar tidak melanjutkan pernikahan itu.


Pikiran resahnya seperti menggunung di kepala. Di ingatannya hanya sosok Niken. Tak ada pernikahan apapun dan dengan siapa pun lagi.


** **** ****


Ketika Niken hendak mengikuti Bu Minati ke dalam mobil yang sudah menunggu, Cyntia mendekatinya.


"Jangan lepaskan kewaspadaan kamu Natasya, tak ada orang yang bisa dipercaya di dunia yang kejam ini."


Tante Cyntia menatap lekat pada Niken.


"Seperti Pak Bramasta yang anda cintai sepanjang hidup anda Tante? Bahkan anda rela mengotori tangan anda demi mencuci telapak kakinya yang penuh noda."


Kata-kata Niken sukses membuat wajah Cyntia bersemu merah. Matanya berkilat dan rahangnya mengeras.


"Jangan menilai ketika matamu hanya terbuka sebelah. Dan satu lagi, kamu tidak tahu apa-apa Natasya, bahkan Niken yang cantik dan malang itu tak pernah tahu dia berhadapan dengan siapa ketika nekad menikahi Richard."


Tante Cyntia berlalu dengan elegan, wajahnya mengukir senyum penuh mistery


Niken terpaku sesaat sebelum dikejutkan suara klakson mobil Bu Minati yang menunggunya di depan rumah.


Niken berusaha melarang Bu Minati mabuk parah, tapi gelas demi gelas mulai berpindah ke lambungnya.


Beberapa anak buahnya menunggui di depan night club mewah itu.


Rata-rata yang datang kaum borju yang ia uangnya mungkin sudah tidak berserie lagi.


Malam kian larut, Niken hendak memapah Bu Minati beranjak dari mejanya.


Namun niat itu diurungkannya.


"Richard anakku, maafkan Ibumu, maaf."


Niken tertegun. Tiba-tiba dia ingin menanyakan sesuatu pada Bu Minati mungkin Niken berpikir orang yang sedang mabuk mudah bicara jujur.


"Bu, siapa Tante Cyntia kepala pelayan di rumah besar itu."


Bu Minati mengangkat wajahnya dan menatap kuyu pada Niken


"Cyntia? Perempuan sundal ngga punya malu, dia harusnya enyah dari hidupku."


Sebelum Niken bertanya lebih detail, Bu Minati pingsan karena terlalu banyak minum.


Niken membawa Bu Minati pulang. Di taman luas yang dipenuhi berbagai macam bunga yang indah dan berwarna-warni, Niken berpapasan dengan Tante Cyntia. Dia tersenyum dingin pada Niken. Namun Niken membalas dengan anggukan.

__ADS_1


Setelah mengantar Bu Minati ke kamarnya dan berpesan kepada pelayan untuk merawatnya, Niken berlalu menuju kamarnya.


Puzelle kian acak, Niken mencoba menarik benang merah dalam kekusutan itu.


Namun terlihat dia pusing sendiri. Niken menghubungi Samuel, detektife yang menangani kasus pembunuhan dirinya. Seharusnya mereka sudah bergerak untuk menyelidiki liontin yang ditemukan di TKP.


"Kami sudah cek CCTV dari club malam sampai Bimo dan sakti itu pulang dan mati di tempatnya masing-masing, tapi tidak ada petunjuk berarti. Bahkan tidak ada wanita yang kita curigai itu terlintas di CCTV di depan pintu apartemen mereka.


"Mungkin wanita itu menyamar? Kalau bukan begitu, bagaimana bisa liontin itu ada di sana."


Samuel berjanji akan berusaha keras mengungkap kasus itu.


Niken mengakhiri panggilan teleponnya ketika alaram di handphonenya berbunyi.


Dia menelisik ke arah sensor kamera yang di pasangnya di tempat tersembunyi di depan kamarnya. Niken melihat dengan jelas ada seseorang sedang berusaha mencuri dengar. Tapi Niken terlalu pintar untuk tidak mempersiapkan segalanya. Dia memilih kamar kedap suara ini dengan sengaja.


Niken membuka pintu dan tercenung. Di depan kamarnya berdiri menjulang sosok Richard.


Tanpa berpikir panjang Niken menarik Richard masuk dan mengunci pintu.


"Ada apa Mr. Richard?"


Richard meletakkan kepalanya pada kedua telapak tangan.


Namun dia tidak sedang bersedih, wajahnya tampak bahagia.


"Natasya, ada berita bagus, jantungku seakan mau meledak mendengar berita ini."


Niken menanyakan maksud Richard, dan dengan gamblang Richard mengatakan kalau Niken masih hidup dan selamat dalam kecelakaan itu.


Samuel berhasil menemukan jejaknya, namun ini masih rahasia.


"Siapa yang sudah tahu Mr. Rich?"


Gundah suara Niken dan wajahnya terlihat pias.


"Hanya aku, kamu dan Samuel, tapi sebentar lagi aku akan ceritakan pada Ibu ..."


"Jangan!"


Niken reflex mencegah.


Richard kebingungan melihat reaksi wanita di hadapannya.


"Kenapa?"


"Untuk sementara jangan ada satu pun yang tahu termasuk Ibumu, takutnya ketika beliau di paksa penjahatnya untuk bercerita dia akan keceplosan."


Niken berusaha tidak memojokkan siapapun. Dia hanya tampak sangat khawatir.


Keselamatan putranya dengan Richard , mungkin terancam.


Richard mengangguk.


"Maaf ya Natasya, aku tidak mengerti kenapa aku bisa percaya pada kamu. Cuma kamu dan Ibu yang bisa ku percaya, Tapi aku merasa takut. Semoga Niken selamat di suatu tempat."


Keresahan membungkus wajah tampan itu.


Selang lima belas menit kemudian Richard keluar dari kamar Niken.


To be continue Bab 15


Don't forget your like for my story

__ADS_1


__ADS_2