
Semua anggota keluarga satu persatu berlalu. Hanya tersisa Mr. Bram dan Ny.Cyntia.
Wajah Ny. Cyntia terlihat sangat pucat, dia meremas jemarinya.
Mr. Bram meraih istri tercintanya kedalam pelukan.
"Jangan takut sayang, kamu harus kuat, tenang, sebentar lagi kekhawatiran kamu akan segera terjawab."
Mr.Bram menghibur istri sirinya dengan lembut, sungguh terlihat perbedaan perlakuan lelaki itu kepada dua istrinya.
"Kalau benar terbukti aku tak akan memaafkan pelakunya sayang, aku mau dia membusuk di penjara! siapa pun itu!" isak Ny.Cintya dengan wajah kian pucat.
Hening diantara keduanya ketika Richard datang membawakan sebuah map berwarna coklat kepada Mr. Bram. Dia duduk di sofa dan berhadapan dengan Mr.Bram yang enggan melepaskan pelukannya dari wanita di sampingnya.
"Ini Yah semua bukti tentang Rich bukan anak kandung Ayah, silahkan mengurus segala sesuatunya terutama tentang hak waris dam aset Rich, namun tentang kepemilikan saham di perusahaan itu murni hasil kerja keras Rich mengelola usaha sendiri tanpa modal dari Ayah. Usaha yang berada di bawah tangan Rich bukan bagian dari Bramasta holding Company."
Mr.Bram mengulurkan tangan dan mengambil amplop di atas meja, kemudian tanpa membuka isinya dia merobek amplop beserta isinya hingga potongan terkecil. Richard terperangah dibuatnya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun lelaki paruh baya itu meninggalka ruang keluarga tanpa menoleh sedikit pun kepada Richard.
Ny.Cintya memunguti amplop coklat yang dirobek hingga berkeping di lantai. Mengumpulkannya kemudian meletakkan di atas meja.
"Sudah sedewasa ini kamu belum mampu mengenali sosok dan kepribadian ayahmu Rich? kamu pikir cinta dan kasih sayang dia yang tak pernah kamu lihat itu hanya sebatas pertalian darah? renungkan Rich, bukannya kamu sudah mengikuti pengobatan psikiater kelas dunia? harusnya kamu tahu siapa yang tak menyukaimu, siapa yang tak ingin kamu sembuh dari trauma."
Ny.Cintya beranjak dari duduknya dan berlalu dari hadapan Rich, di pintu penghubung ruang tengah dengan ruang tamu dia tertegun ketika Evan datang bersama Ibunya. Dia berjongkok untuk memeluk bocah lelaki itu.
Evan berlari kepelukan Ny.Cyntia.
Niken tersenyum sembari mengelus kepala Evan yang berada di gendongan Ny.Cintya.
"Niken, aku bawa Evan bermain sebentar boleh ngga?" Niken mengangguk, namun sebuah suara dingin dan tak bersahabat terdengar membahana di ruang tamu mewah keluarga Bramasta.
"Lepaskan cucuku, kamu tak berhak menggendong dia, tangan kotornya tak pantas menyentuh cucuku."
Ny.Minati tiba-tiba muncul dengan stelan lengkap hendak keluar rumah. Dan dandanannya begitu berkelas dan elegan.
Ny.Cintya hanya melempar senyum dingin kepada madunya.
__ADS_1
"Kita lihat saja Ny.Minati siapa yang lebih berhak atas status nenek dari Evan. Sampai saat itu tiba berhati-hatilah dengan tindak tandukmu."
Richard berdiri diantara kedua wanita yang saling menatap dengan tatapan tajam.
Evan menggeliat dari gendongan Ny.Cintia dan meminta turun, kemudian berlari memeluk kaki Niken.
Ny.Minati berlalu tanpa menoleh lagi kepada madunya. Dia berjalan cepat dan terlihat wajah acuh itu kembali seperti sebelumnya.
Niken menggendong Evan kemudian berjalan menuju ke arah Richard.
"Sayang, aku mau bicara sebentar dengan Tante, jaga Evan dulu ya. "
Richard tersenyum sembari mengangguk lalu mengambil Evan dari gendongan istrinya.
"iya sayang."
Niken bergegas menyusul Ny.Cyntia yang telah menghilang di dalam rumah besar itu.
Ketika hedak mengetuk pintu kamar wanita yang sekarang menjadi salah satu mertuanya, tiba-tiba Niken mendengar suara halus dari dalam kamar itu. Ada Mr. Bramasta di dalam, sementara pintu itu tak begitu rapat.
Beberapa saat kemudian Niken terlihat sangat pucat. Tubuhnya seperti tanpa tulang yang menyangga.
Perlahan Niken beranjak meninggalkan kamar itu. Ekspresi yang ditunjukkan Niken seperti telah mendengarkan sesuatu yang membuatnya syok,
Niken berjalan goyah, menuju kamarnya. Sesampai di sana tak ditemuinya sosok suaminya.
Dengan tangan gemetar dia mengambil gawainya untuk menelepon Richard.
Namun tangannya seperti tak berdaya, wanita cantik itu menitikkan air mata, duduk lunglai sembari mendekap erat kedua lututnya.
Gawainya kembali terlepas. Dia seakan terlarut ke dalam kegelapan yang seakan menelan dirinya. Isak tangis itu perlahan terhenti. Niken kembali meraih gawai dengan tangan gemetar. Namun belum sempat gawai itu berhasil disentuhnya, pintu kamarnya terbuka. Sosok Richard berdiri menjulang di sana.
Niken mencoba berdiri namun kembali terjatuh. Richard bergegas mendekati Niken dan memeluknya erat.
"Kenapa sayang? ada apa?" seru Richard dalam keterkejutan.
__ADS_1
Niken hanya merangkul suaminya sangat erat, seakan tak ingin melepaskan.
"Menangislah sayang, sampai kamu merasa sedikit tenang."
Tiba-tiba gawai di kantong celana Rich berdering.
Richard mengangkatnya sembari tetap memeluk istrinya. Tangis Niken mulai reda.
"Kami akan segera menuju ke sana Sam." Richard menutup sambungan telepon itu.
Niken mengarahkan wajah kepada suaminya. Richard mengecup lembut keningnya.
"Bercerita sayang, kamu kenapa?" tanya Richard pelan.
"Aku mendengar kalau se ..."
"Ah ya, kita harus ke RS sekarang sayang, Pak Barata sadar dan ingin bertemu dengan kita berdua, kita sambil bercerita saat perjalanan menuju Rumah Sakit ya."
Richard menatap lembut meminta persetujuan Niken.
Niken mengangguk, beberapa saat setelah bersiap mereka bergegas berangkat.
Di mobil Niken tetap diam, menurutnya saat ini Rich harus konsentrasi untuk sampai dengan selamat ke Rumah Sakit. Baru setengah perjalanan, mobil mereka di hadang satu mobil berwarna hitam yang melintang di tengah jalan, sementara di samping mobil itu dua lelaki berbadan gempal memagari jalan.
Tanpa pikir panjang Rich tetap melajukan mobilnya, hingga yang berdiri di sisi mobil menjadi pagar betis lansung melompat.
Ketika terlepas dari hadangan mobil itu, di simpang jalan sebuah mobil hitam metalic lain mengejar. Rich menambah kecepatan. Hingga keluar dari jalan ramai dan masuk ke jalan yang lebih sepi.
Niken mengikat rambut panjangnya ke atas. Menggulung lengan bajunya. Menyelipkan. belati kecil pada sepatu boot ala tentara. Setelah berganti tampilan, Niken terlihat siap bertarung. Sementara Rich menghubungi Samuel dan mengatakan mereka di hadang di perjalanan menuju rumah sakit.
Mobil telah disalip, dan tak bisa terelakkan lagi, keduanya terpaksa turun.
Tanpa aba-aba beberapa lelaki berbadan besar dan memiliki tampang tak enak untuk dilihat, karena sangar, menyerang dentan membabi buta. Niken melawan de ngan santai, beberapa kali lelaki itu terpental. Richard tak sepandai Niken dalam berkelahi.
Ketika sudah hampir dimenangkan Niken dan Rich, salah satu penjahat itu menodongkan senjata api, tepat di kepala Richard.
__ADS_1
bersambung