
Suasana terasa begitu manis buat Richard dan Niken. Setelah menidurkan Evan, keduanya berjalan bergandengan tangan di sepinya balkon rumah di lantai dua. Richard memeluk erat Niken dari belakang, sentuhan rembulan menembus di sela dedaunan yang merambat di tali-tali yang dibentuk sangat rapi dengan beberapa lampu kecil temaram menghiasi diantara dedaunan dan bunga yang merambat, sehingga suasana indah jelas menyelimuti balkon itu. Richard menyampirkan dagunya di sela leher jenjang Niken, tangannya melingkari pinggang wanita yang sangat dirindukannya dengan teramat sangat.
Niken menolah ke samping dan Richard menyambut dengan ciuman hangat di bibir Niken, yang seakan tak cukup memberikan rasa rindu mereka pemenuhan. Richard membalikkan istrinya dengan cepat dan keindahan sketsa rembulan di atas sana merengkuh kehangatan malam itu dalam buaian cinta tak terperi. Bibir mereka saling menaut tak ingin mengakhiri.
Richard semakin terengah menahan keinginan yang sangat membara.
Rahangnya mengeras kemudian
Niken meletakkan kedua tangannya di atas dada bidang lelaki bermata elang itu.
Dan dia berbisik manja di telinga lelakinya.
"Aku menginginkan lebih, sayang, ayo kita kembali ke bawah." desis Niken penuh asa.
Richard tidak menunggu Niken Meminta dua kali, di gendongnya Niken menuruni tangga berliku yang di sisi-sisinya bersusun keramik mahal nan mewah. Niken mengalungkan kedua tangannya di leher Richard.
Mereka berdua menghilang di balik pintu kamar. Lampu kamar berganti temaram dan keheningan melingkupi malam itu dalam rengkuhan gairah tak terbendung dua insan yang terpisah selama lebih dari dua tahun.
Mereka berdua tak menyadari sepasang mata menatap dengan sorot mata penuh kemarahan dan mungkin kebencian. Kedua tangan itu mengepal keras dan berbisik tertahan.
"Tak akan lama kamu menikmati keindahan itu, aku akan merenggutmu selamanya dari dunia ini!"
Sosok itu berlalu menuruni tangga, melewati kamar Richard, berhenti sejenak di seberang kamar. Tatapan dinginnya seakan ingin merobohkan dinding kamar itu. Sementara di sisi taman di ujung dekat sebatang pohon mahoni, terlindung oleh sebuah patung ikan yang memancarkan air jernih dari mulutnya yang mengalir kedalam kolam, bersembunyi dengan sempurna sesosok lain yang memperhatikan dengan waspada, seakan memang dia mengintai sosok yang berdiri di seberang kamar Richard.
******""""""""*********
Malam merambat naik, ketika Ayah berteriak kepada Ibu untuk diseduhkan segelas kopi.
"Bangun, aku tidak bisa tidur, lebih baik aku ke ruang kerja, bawakan secangkir kopi dan ..."
Ibu menggeliat malas, wajahnya sedikit pucat. Karena terlalu banyak minum anggur.
Ayah melemparkan bantal ke wajah Ibu.
"Yang kamu bisa hanya mabuk Minati, layani suamimu ini."
Bu Minati bangun sebentar dan memeluk suaminya namun hanya tersenyum sesaat dan berujar.
"I love you dear." kemudian dia terjatuh lagi di atas ranjang dan terlelap dalam senyum innocent yang memang sangat manis.
Sendirian, Ayah pergi ke dapur yang mewah, namun lengang.
Tante Cyntia muncul dan bertanya apa yang diinginkan tuan Bramasta.
"Andai boleh, aku menginginkan kamu, untuk malam ini dan seumur hidupku Cyntia." Mrs. Cyntia tertawa dengan lelucon tak lucu lelaki di hadapannya.
__ADS_1
"Buatkan aku secangkir kopi." pinta Mr. Bram lembut.
*Aku tidak bisa tidur, banyak hal mengganggu pikiranku akhir-akhir ini."
Cyntia berjalan melewati Mr. Bram dan mendekati Coffe Maker. Namun tangan Mr. Bram meraihnya secepat kilat, dan tanpa mengatakan apa pun dia menarik pinggang Mrs.Cyntia, sebelah tangannya memegang kuat leher wanita itu, tanpa menunggu persetujuan, Mr. Bram ******* bibir itu intens, penuh penguasaan, Mrs. Cyntia memberontak meskipun pelan. Namun Mr. Bram terus menekannya ke pojok lemari makan berukir. Malam hening tanpa siapa pun yang tahu asmara di dapur mewah itu.
Perlahan Mrs. Cyntia melepaskan diri. Nafas Mr. Bram memburu.
"Cyntia, aku merindukanmu, andai dulu aku seberani Richard, kamu ..."
"Hentikan sayang, kumohon, kita sudah melewati masa muda. Kita sudah berumur sekarang."
Mrs. Cyntia berusaha menjauh.
"Tapi kamu istri siriku Cyntia, sejak dulu aku tidak pernah menceraikan kamu, sampai kamu kembali beberapa tahun lalu. Aku masih suami sah mu Cyntia, dan kanu tahu pasti cuma kamu wanita yang sangat kucintai."
Mrs. Cintia mengabaikan ucapan Mr. Bram. Tangannya sibuk membuat kopi dengan Coffee maker. Kopi kesukaan Mr. Bramasta adalah kopi buatan Mrs.Cyntia.
"Cyntia please, berapa lama lagi kamu berniat menyiksaku ..." desis Mr. Bramasta. Mrs. Cyntia tertegun menatap mata lelaki di hadapannya. Dia seakan merasa iba berbalut rindu.
"Habiskan kopimu sayang, ku tunggu di kamarku." ucapnya lembut. Mrs.Cyntia membelai rahang sampai dagu Mr.Bram yang ditumbuhi bulu jambang yang baru tumbuh. Di sentuhnya bibir lelaki itu dengan jempolnya. Mr.Bramasta mengangguk dengan senyum lega.
Sepasang mata terbelalak melihat adegan romantis itu, sepasang mata Niken. Dia sudah tahu dari penyelidikan Samuel tentang kalung itu kalau Tante Cyntia kekasih masa lalu Ayah mertuanya. Tapi dia tidak tahu bahwa mereka suami istri siri hingga saat ini.
Mr. Bram meletakkan gelas kopi yang sudah sisa separuh di atas meja bar tidak jauh dari dapur.
Dia bergegas menyelinap menuju kamar Mrs. Cyntia, kamar yang terlindung dengan sangat bagus di lantai dua rumah megah itu.
Mrs.Cyntia membuka pintu dengan hanya mengenakan piyama tidur, wajahnya terlihat sangat cantik dengan rambut tergerai, Mr. Bram menciumnya sembari sebelah tangannya menutup pintu.
Niken terpana menyaksikan pemandangan itu. Tak terperi rasa keterkejutannya.
Ketika kembali ke kamar. Tubuhnya gemetar. Bagaimana mungkin tak ada satu pun yang tahu keduanya adalah suami istri, walaupun hanya siri.
Niken menghampiri Richard yang tertidur sambil memeluk Evan yang terbangun di tengah malam dan menyeruak diantara mereka berdua. Keduanya tertidur lelap. Niken urung membangunkan suaminya. Tapi perlahan dia ikut berbaring di ranjang besar itu dengan Evan berada di tengah.
Niken enggan mengembalikan putranya ke ranjangnya sendiri. Dia begitu takjub menyaksikan kedua lelaki tampan itu tidur di sisinya. Sebuah kebahagiaan tak terbayangkan.
Untuk sesaat Niken melupakan pemandangan yang dilihatnya di dapur. Dia terlelap sambil sebelah tangannya ikut memeluk putranya.
******""*****************
Suasana ruang makan hari ini terasa lebih tenang. Mr. Bramasta sesekali menatap mesra ke arah Mrs. Cyntia. Sementara tak satu pun yang menyadari selain Niken.
"Kamu harus mulai belajar mengelola perusahaan, belajar dari Rich. Jangan hanya diam dan menjadi penunggu rumah tak berguna seperti ibu mertuamu!*
__ADS_1
Ayah menatap tajam pada Niken. Richard menggeleng.
"Aku membebaskan dia melakukan apa pun yang dia suka, aku tidak mau Niken terkekang di sini."
Ayah mendengus kesal dan mengatakan akan membiarkan Ersa mengambil posisi yang seharusnya di tempati Niken."
Niken terdiam, dan dia meminta pendapat Ibu mertuanya, namun wanita itu seakan tak acuh.
"Urus putramu Niken, itu lebih penting." ucapnya sembari menyuap makanan di hadapannya dengan lahap. Meskipun selalu makan dengan lahap tubuhnya tetap langsing.
Niken heran mengapa ayah Richard tak bisa mencintai wanita cantik ini. Wanita yang tak pernah lepas dari perawatan dan olah raga.
Ketika sarapan selesai, Niken menghampiri Mrs.Cyntia yang memberika beberapa instruksi pada pelayan anak buahnya
Sejenak Niken tertegun, apa yang dirahasiakan wanita yang selama ini akrab dipanggilnya Tante Cyntia.
Wanita sangat cantik dan cerdas ini pantas menjadi salah satu jajaran direksi di perusahaan Mr. Bram.
Namun sangat mengherankan dia rela menjadi kepala pelayan.
Niken menyentuh lengan Mrs. Cyntia.
"Tante, bisa bicara sebentar?"
Mrs.Cyntia mengikuti Niken menjauh dari anak buahnya.
"Apa yang Tante rencanakan sesungguhnya, andai menyakiti anak dan suamiku adalah bagian rencana Tante, tolong jangan lakukan Tante. Aku menyayangi Tante, rasanya ..."
Mrs. Cyntia menatap dengan sorot mata penuh tanya pada Niken.
"Apa maksudmu? Jangan menyimpulkan apa pun yang kamu tidak tahu." sahutnya tegas.
Niken mendekatkan mulutnya ke telinga Mrs.Cyntia.
"Aku melihat apa yang Ayah dan Tante lakukan tadi malam, kalau ini tentang perebutan har ..."
"Diam kamu Niken, tutup mulutmu, di rumah ini kamu tak akan luput dari bahaya. Sebaiknya kamu berpura-pura menutup mata dan telingamu sebelum ada yang mendengar ucapanmu."
Niken terdiam tak berkata apa pun karena Ibu Minati mendekati mereka berdua sembari menggendong Evan.
"Anakmu sangat lucu Niken."
Dan Mrs. Cyntia diam-diam berlalu meninggalkan Niken dan Ibu Minati yang membicarakan betapa lucu dan cerdasnya Evan.
To be continue Bab 18
__ADS_1