Sweet Sin

Sweet Sin
Stres


__ADS_3

Kinan lalu membantu suaminya untuk kembali merebahkan kepala di atas bantal dengan perlahan lalu ia memeluk suaminya dan sambil menepuk-nepuk pelan dada suaminya, Kinan bersenandung sampai ia merasakan napas suaminya kembali tenang dan tidur lelap barulah Kinan berhenti bersenandung dan bangun untuk keluar dari dalam kamar dan menenggelamkan diri di dalam galeri lukisnya yang berada di seberang halaman belakang rumah megah suaminya.


Kinan melukis mengikuti hatinya dan setelah satu jam menorehkan kuas dan dia macam warna yakni hitam dan putih di atas kanvas, Kinan tersentak kaget, "Sial! Kenapa aku melukis wajah Arya?" Kinan lalu mengambil kanvas itu dan menyembunyikan lukisan wajah Arya itu ke bagian paling belakang dan menutupi lukisan wajah Arya itu dengan hasil lukisannya yang lain.


Kinan kemudian memasang kanvas yang baru dan setelah menarik napas dalam-dalam ia kembali mengguratkan apa yang ada di pikiran dan hatinya saat ini di atas kanvas. Setelah satu jam berlalu, Kinan kembali dikejutkan dengan hasil lukisannya. "Kacau, nih! Kenapa aku melukis Arya dan Arkan saat mereka berenang di hotel yang ada di kota Malang?"


Kinan kembali bangkit, mengambil lukisan itu dan menjejalkan lukisan itu di barisan paling belakang dengan mendengus kesal.


Kinan kemudian melangkah keluar dari galerinya dan ingin keluar dari dalam rumah. Dia memutuskan untuk joging walaupun dia tahu di luar sana sudah gelap. Dia hanya ingin membuang semua rasa negatif di dalam dirinya yang membuatnya sesak napas. Setelah memakai jam tangan yang bisa memantau detak jantung dan pakaian joging lengkap, Kinan benar-benar mengeksekusi niatnya untuk joging di malam hari.


Setelah puas berjoging, Kinan masuk ke dalam rumah, membersihkan diri dan naik ke atas ranjang, barulah wanita cantik itu bisa tidur dengan nyenyak.


Keesokan harinya, seperti biasa Kinan disibukkan dengan mengantar Arkan ke sekolah, mengantar dan menunggui suaminya terapi di rumah sakit, setelah itu dia ke kantor suaminya dan di sore hari dia mampir ke galeri seni miliknya untuk memantau pemasukan dan mendengarkan laporan dari semua karyawannya. Kinan sampai di rumah sekitar enam di hari Senin sampai Jumat sedangkan di hari Sabtu dan Minggu dia menghabiskan waktu seharian penuh menemani suaminya berlatih sendiri gerakan yang diajarkan oleh dokter di rumah. Di hari Senin sampai Jumat setelah membantu suaminya minum obat, biasanya dia ke dapur untuk minum cokelat hangat dan jika Ayu belum pulang, ia mengobrol sebentar dengan Ayu sebelum Ayu dijemput oleh Arya. Dan di hari Sabtu dan Minggu Ayu tidak datang ke rumahnya karena Kinan seharian di rumah.


Di hari itu, Christian kembali membuat ulah. Dia mogok tidak mau bergerak mengikuti instruksi dokter.


Kinan langsung berjongkok di depan kursi roda suaminya, "Mas, ayo semangat! Aku ada di sini untuk menemani kamu. Ayo kita semangat bareng, Mas! Jangan seperti ini! Demi aku, demi Arkan, demi cinta kita"


Christian menatap dalam-dalam kedua bola matanya Kinan, lalu ia berkata, "Bagi orang sehat yang nggak cacat, melakukan terapi itu mudah. Tapi, bagi orang cacat kayak aku ini, melakukan terapi itu sangat berat, menyakitkan, dan sangat melelahkan. Setelah aku menjalani semua terapi yang berat, menyakitkan dan sangat melelahkan itu, tidak ada perkembangan, kalau itu kamu, apa yang akan kau lakukan?"

__ADS_1


"Anda bisa sembuh Tuan Christian. Anda masih bisa pulih seperti sedia kala, tapi Anda harus semangat dan rutin terapi. Memang terapi sangat menyakitkan, membosankan, dan melelahkan, tapi itu semua demi kesembuhan Anda. Anda pengen pulih seperti sedia kala atau tidak itu terserah pada Anda. Saya hanya bisa mendukung dan menolong Anda dan saya tidak bisa memaksa Anda, Tuan" Sahut Dokter yang menangani terapinya Christian.


"Tuh, kamu dengar apa kata Dokter, kan?" Kinan mengelus pipi Christian dengan lembut. "Ayo semangat, Mas! Aku akan menemanimu untuk sembuh. Ayo semangat bareng, Mas! Please?!" Kinan masih mengelus lembut pipi suami tampannya.


Christian lalu menarik Kinan untuk dia peluk dan dia berbisik di telinga Kinan, "Aku bosan dan capek menjalani terapi yang tidak membawa perkembangan ini. Biarkan saja aku lumpuh dan cacat selamanya. Aku menerimanya sebagai hukumanku karena aku sudah mengkhianati kamu. Lalu, kamu pergilah! Ceraikan aku dan menikahlah dengan pria gagah, tampan dan sehat di luar sana"


Kinan langsung menarik diri dari pelukan suaminya karena kaget dengan bisikan suaminya itu. Lalu, Kinan mendelik ke Christian, "Mau terapi atau tidak itu terserah kamu, Mas" Kinan bersedekap dan menatap Christian dengan sorot mata kesal.


Saat Christian melihat ada butiran bening turun di kedua pipi Kinan, pria tampan itu sontak mengumpat kesal untuk dirinya sendiri, "Sial! Jangan menangis, Sayang. Oke! Aku akan nurut sama dokter. Aku akan tetapi dengan penuh semangat hari ini. Jangan menangis, oke? Maafkan Aku! Maafkan aku, Kinan" Christian meraih tangan Kinan dan dia ciumi tangan itu dengan penuh perasaan menyesal.


Kinan sungguh-sungguh mulai merasa stres dan lelah menghadapi mood Christian yang naik turun. Namun, demi pernikahannya, demi Arkan, demi kesembuhan Christian, demi rasa cinta yang masih ia miliki untuk Christian, Kinan menguatkan diri untuk terus mendampingi Christian melewati masa sulit ini. Dia juga melakukan itu sebagai penebusan diri atas dosa termanis yang sempat ia lakukan bersama Arya.


Kinan pamit ke papanya untuk menghirup udara segar sejenak setelah ia menemukan Christian nekat hendak memotong urat nadi. Untuk itulah ia menelpon papanya.


"Baiklah. Pergilah mumpung Christian tidur lelap. Papa akan jaga dia" Sahut Papanya Kinan.


"Aku akan jaga Arkan, Kak. Lagian Arya juga belum menjemputku" Sahut Ayu.


"Terima kasih semuanya. Aku hanya akan menghirup udara segar di taman kota yang ada di dekat sini, kok. Nggak lama" Kinan tersenyum penuh rasa terima kasih ke Papa dan adik perempuannya.

__ADS_1


Kinan duduk di bangku taman yang menghadap ke danau buatan dan dia sontak menegakkan dirinya karena terkejut saat ia melihat Arya duduk di sebelahnya.


Kinan mencubit pipi Arya. Arya sontak berteriak, "Aduh! Kenapa kau cubit pipiku?"


Kinan tersentak kaget dan langsung bangkit berdiri sambil bergumam, "Ini bukan mimpi? Kamu bukan bayanganku? Kamu nyata?"


Arya menatap sendu wajah Kinan dan berkata, "Iya. Ini aku, Kinan. Aku nyata ada di depan kamu saat ini. Duduklah! Aku akan menemani kamu duduk di sini"


Kinan menatap Arya dengan ragu. Apa boleh aku duduk di sebelahnya? Aku wanita yang sudah bersuami dan memiliki anak. Aku juga sudah memutuskan hubungan dengannya. Batin Kinan.


"Duduklah! Aku rasa kalau hanya duduk berdua di bangku ini tidak apa-apa" Arya menyahut seolah dia tahu apa yang ada di dalam pikirannya Kinan.


Kinan kemudian duduk dan memilih duduk di pojok, jauh dari Arya.


Arya menoleh ke Kinan yang duduk jauh darinya sambil berkata, "Aku bukan kuman, Kinan. Kenapa kau duduk jauh-jauh dariku?"


"Lebih baik kita jaga jarak" Sahut Kinan tanpa menoleh ke Arya.


Arya langsung menggeser pantatnya dan saat bahunya menyenggol bahu Kinan, pria tampan itu berbisik di telinga Kinan, "Kenapa kita harus jaga jarak? Apa kamu mulai ada rasa sama aku, Kinan? Kamu juga bilang kalau kamu ragu aku ini bayangan kamu atau bukan? Apa selama ini kamu selalu membayangkan aku?"

__ADS_1


Kinan merinding mendengar bisikannya Arya dan wanita cantik bertubuh ramping dan berwajah lembut itu langsung membeku.


__ADS_2